
“Kamu cantik Babe, apalagi jika sedang malu seperti ini. Kamu membuatku hampir gila,” bisik Xavier dengan suara beratnya mendekati bibir tipis Athena.
“Babe…,”
“Jangan berbisik bo hmpppp…,’
Ucapan Athena terpotong saat bibir Xavier menabrak bibirnya. Xavier mencium Athena dengan lembut hingga Athena yang awalnya diam kini mulai mengikuti permainan Xavier.
Merasa jika permainannya di sambut balik membuat Xavier tersenyum dalam ciumannya lalu mulai mencium Athena dengan sedikit menuntut. Xavier mengangkat Athena menggendongnya ala koala lalu berjalan ke arah ranjang dengan bibir yang masih saling sibuk masing-masing. Dengan penuh kehati-hatian dan penuh kelembutan Xavier membaringkan Athena di tengah-tengan ranjang dengan mengurung tubuh mungil gadis itu di bawah kukungan tubuh besarnya.
Suara decakan dan lum4t4n terdengar ambigu di dalam kamar itu dengan Xavier yang sepertinya mulai kehilangan kendali. Pria itu mencium dan menghis4p bibir Athena dengan rakus bergantian atas bawah hingga Athena menjadi kewalahan menghadapinya. Puas bermain dengan bibir tipis merona menggoda itu Xavier mulai menurunkan ciumannya ke arah dagu, rahang hingga berakhir di leher jenjang sang wanita pujaannya itu.
Hummpp
Xavier menghirup rakus bau mawar dari ceruk leher Athena. Xavier jelas tahu sabun atau shampo di dalam kamar mandinya tidak ada aroma dari aroma mawar. Akan tetapi wanita pujaan hatinya itu justru menciptakan aroma mawar di dalam dirinya sendiri.
Cup
Xavier mengecup lembut leher jenjang Athena hingga mulai menggigit dan memberi beberapa tanda di leher putih sang wanita.
Shhhh
Athena yang tak tahan langsung mengeluarkan suara ambigu namun terdengar merdu di telinga Xavier. Tangan Xavier yang tadinya berada di pinggang sang wanita mulai merambat naik dan menurunkan sedikit jubah mandi yang dikenakan oleh Athena. Hingga bahu mulus Athena terpampang di hadapan Xavier.
__ADS_1
Ah
Satu ******* itu tak bisa di tahan Athena hingga keluar dari mulutnya membuat Xavier semakin menggila. Namun dia sadar jika yang dilakukannya itu salah. Dengan menghirup aroma mawar dari tubuh Athena membuat Xavier menjauhkan wajahnya dari leher jenjang Athena.
Di tatapnya wajah cantik yang sedikit memerah itu dengan tatapan sayu dan juga berat. Rasanya ingin sekali dia terkam wanita yang sudah berpasrah diri di depannya itu. Akan tetapi mengingat bagaimana dia mencintai wanita itu membuat Xavier menarik napas dalam-dalam memaksa dirinya untuk sadar dan berhenti sampai disini saja. Dia mencintai Athena jika cinta maka bukan merusak tapi menjaga.
“Tidak Xavier…! sadar Xavier…! Jika kamu merusaknya sekarang kamu benar-benar tidak mencintainya. Kamu hanya akan menunjukan nafsu dan seberapa brengs3knya dirimu pada Athena. Dia adalah Ratu untuk Ayah dan kakaknya bagaimana bisa kamu merusaknya hanya mengatasnamakan cinta? Tak ada cinta jika masih juga merusak,”
Xavier menggelengkan kepalanya dengan keras menatap lembut penuh cinta Athena yang masih berada di bawahnya. Dengan perlahan Xavier mendekat mengecup dalam dan lama kening Athena seakan menyalurkan perasaan tulusnya kepada Athena lewat ciuman itu. Berharap Athena bisa merasakan ketulusannya.
“Maaf,” bisik Xavier yang langsung memeluk Athena dengan menahan berat badannya agar tidak menimpah Athena seutuhnya.
“Mulai sekarang kau wanitaku, milikku..! Tanpa ada penolakan. Aku tidak terima penolakan Babe,” ucap Xavier dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
“Aku akan keluar,” lanjut Xavier yang langsung keluar dari kamarnya.
Deg
Deg
Deg
“Jantungku…!” guman Athena yang meraba dadanya yang dimana jantungnya berdebar kencang membuatnya deg-degkan.
__ADS_1
“Ada apa dengan jantungku? Aku tidak punya penyakit mematikan kan? Jangan-janga…,’
Athena tidak lagi melanjutkan kalimatnya hanya bisa melototkan matanya dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus meraba bibirnya yang sedikit tebal karena bengkak.
“Aaaaa mommy anakmu jatuh cinta…!” teriak Athena tertahan dengan menggelamkan wajahnya dengan bantal hingga suaranya tidak terdengar jelas.
Tak ingin mengingat kejadian tadi Athena langsung bangun dan berjalan mengambil bungkusan warna biru yang berada di atas meja nakas itu. Melihat isinya Athena tersenyum puas karena warnanya adalah warna kesukaannya yaitu hitam. Athena dengan wajah yang berseri-seri masuk ke dalam kamar mandi kem,bali.
Sedangkan di sisi Xavier pria itu sepanjang jalan berjalan dengan bersiul-siul tak lupa juga dengan senyum dan wajah yang berseri-seri membuat wajahnya terlihat semakin tampan. Bahkan saat lewat di ruangan yang biasanya mereka gunakan untuk berbincang Xavier tidak menyadari jika di dalam ruangan itu ada empat pasang mata yang menatap aneh ke arahnya.
“Susst apa dia memang benar Tuan Xavier?” bisik Rey kepada ketiga temannya yaitu Roy. Dante dan terakhir Tara.
“Lalu kau pikir siapa bodoh…! Si keparat Elio tidak mungkin. Kamu tidak lihat jika jasadnya tadi habis di bungkus dengan pakai pita rapi,” jawab Roy yang menatap kesal saudara kembarnya itu.
“Siapa tahu kan itu memang bukan Tuan Xavier. Lagian sejak kapan Tuan Xavier tersenyum dan sebahagia itu hingga wajahnya sampai berseri-seri seperti itu?” kesal Rey karena kepalanya di pukul oelh Roy sang kembaran.
“Em benar juga, Selama ini Tuan Xavier tidak pernah tersenyum dan sebahagia itu. Lalu kenapa tiba-tiba seperti itu?” timpat Tara juga yang ikut merasa heran dengan perubahan yang di alami oleh sang Tuan.
“Nah karna itu aku bilang itu Tuan Xavier atau bukan? Jika Tuan Xavier kenapa sampai sebagaia itu?” kata Rey dengan mengetuk-ngetuk dagunya.
“Lagian apa yang bisa membuat Tuan Xavier sampai sebahagia itu?” lanjut Rey dengan wajah herannya.
“Dasar bodoh…! Apa kalian benar-benar bodoh atau tidak punya otak?” sinis Dante yang menatap mereka dengan sinis.
__ADS_1
“Hey kau…!