
“Tabrak saja pagarnya..!” kata Xavier enteng.
“OH God…! Rasanya aku mau gila,” umpat Dante yang langsung menarik pegal gas dan menabrak gerbang kokoh markas mereka.
Brukk
Dor
“Mau mati…!” Xavier menatap tajam yang melepaskan tembakan pada mobil kesayangannya. Syukur mobil itu mobil anti peluru jika tidak mungkin kepala Xavier sudah di lubangi oleh peluru itu.
“Ma..maaf Tuan,” pria itu langsung bergetar ketakutan.
Xavier yang melihat itu hanya tersenyum sinis sebelum kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas. Bersamaan dengan itu Tara dan si kembar Roy dan juga Rey tiba. Terlihat ketiga orang itu sudah dalam posisi siaga dan lengkap dengan senjata karena mendengar bunyi tembakan tadi.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin berperan dengan siapa?" Tanya Xavier dengan nada sinis.
"Tadi kami mendengar suara tembakan Tuan oleh karena itu kami memakai ini," jawab Tara dengan kepala yang celinguk sana sini memastikan keadaan.
Tara mengerutkan dahinya saat melihat semua baik-baik saja seperti tidak ada masalah. Lalu matanya melirik pagar yang penyok membuat Tara menatap Xavier dan juga Dante.
"Jangan bilang ini ulah mereka berdua?" Batin Tara dengan menatap curiga ke arah Xavier dan Dante.
“Kenapa menatap kami seperti itu?” tanya Dante pada Tara yan masih diam menatap mereka satu persatu.
“Ini ulah kalian kan? Kalian yang nabrak gerbang kan?” tanya Tara dengan memicingkan mata.
“Dante yan tabrak bukan aku…!” jawab Xavier ketus.
__ADS_1
Dante yang mendengar jika sang Tuan menjadikannya kambing hitam hanya bisa menghela napas saja sebelum membuang muka. Mau protes juga percuma dengan keadaan Sang Tuan yang sedang dalam mood yang buruk.
“Ada apa dengan si Tuan Xavier?” bisik Tara dengan menatap Dante.
“Sttt kamu diam saja, jika tidak kamu akan menerima ocehan sampai malam,” balas Dante dengan berbisik pula.
Mendengar akan hal itu Tara langsung terdiam dengan mulai menjauh dari Xavier.
“Roy ikut aku ke ruangan aku,” kata Xavier yang langsung pergi berjalan ke arah ruangannya di ikuti dengan Roy.
“Kasihan Roy, dia akan menjadi sasaran empuk Tuan Xavier selanjutnya,” kata Dante yang tersenyum miris.
“Emang kenapa?” tanya Rey yang menatap Dante penuh tanda tanya.
“Mood Tuan Xavier sedang tidak baik-baik saja karena Nona Athena sedang mengamuk alias mengambek dengan Tuan Xavier,” terang Dante.
“Malang sekali nasibnya,” kata Taea dan Rey bersamaan yang tertawa senang di atas penderitaan Roy.
Sedangkan di sisi Xavier duduk di atas kursi kebesarannya dengan menatap Roy dengan tajam.
“Ada apa Tuan?” tanya Roy dengan gugup.
“Sebenarnya ada apa lagi dengan Tuan Xavier? Dia tidak mungkin memakanku kan? Apa lagi yang membuat Tuan Xavier marah sampai sekesal ini? Aku lupa bertanya kepada Dante tentang kondisi awal Tuan Xavier.” kata Roy dalam hati.
“Roy apa kamu tahu apa itu datang bulan?” tanya Xavier dengan gamblang.
‘Tentu saja saya tahu Tuan, memangnya untuk apa?” tanya Tara penasaran.
__ADS_1
“Athena datang bulan dan dia sangat galak jika sudah datang bulan. Bagkan singaku saja tidak segalak dia. Aku mau kamu membuat wanitaku tidak datang bulan saja,” kata Xavaier dengan datar.
“WHATTTTT…!” Roy mrnatap tak percaya pada Xavier.
“Kenapa berteriak? Aku meminta kamu untuk membuat obat agar Athena tidak datang bulan lagi bukan malah berteriak,” kesal Xavier yang semakin menjadi-jadi.
“Tuan, datang bulan adalah siklus yang akan di alami setiap wanita yang sudah dewasa. Siklus itu akan datang setiap bulan tanpa bisa di cegah,” terang Roy dengan sabar.
“Kecuali kalau hamil, namun tidak mungkin aku menghamili Nona Athena bukan? Bisa mampus aku di bunuh sama Tuan Xavier,” lanjut Roy dalam hati.
“Kamu kan ilmuwan Roy masa begitu kamu tidak bisa? Selama ini soal racun kamu sangat hebat masa cuma obat untuk menghentikan datang bulan tidak bisa menciptakannya,”
“Astaga Tuan, saya ini ilmuwan bukan Tuhan. Jika anda ingin saya menghentikan datang bulan Nona Athena oke akan saya lakukan tapi jangan menyesal,” ucap Roy dengan kesal.
“Memangnya kenapa?” tanya Xavier dengan enteng.
“Satu-satunya cara untuk membuat Nona Athena berhenti mengalami siklus datang bulan hanya bisa membuatnya dia hamil agar tidak datang bulan lagi,”
Tak
Sebuah pulpen melayang dan mendarat sempurna di atas jidat keren Roy yang berasal dari Xavier.
Xavier menatap Roy seperti ingin mengulitinya hidup-hidup saja.
“Apa maksudmu ha…? Kau ingin menghamili wanita ku begitu?” teriak Xavier.
“Mampus aku,” guman Roy dengan membuang muka.
__ADS_1