
`Ceklek
Pintu ruangan Athena terbuka membuat Xavier yang sedang duduk langsung berdiri dari duduknya.
“Bagaimana keadaan Athena dok? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak apa-apa bukan?” cerca Xavier pada sang Dokter.
‘’Keadaan Nona Athena baik-baik saja Tuan, lukanya tidak terlalu dalam,” terang sang dokter.
Mendengar akan hal itu Xavier langsung masuk ke dalam ruangan Athena tanpa peduli lagi dengan dokter itu.
“Kenapa dia menutup matanya?” tanya Xavier pada salah satu perawat itu.
“Itu hal biasa Tuan, kami menyuntikan obat bius tadi jadi Nona Athena belum akan bangun. Namun Tuan tenang saja, Nona Athena akan bangun dua jam lagi,”
“Baiklah,”
Xavier langsung duduk di kursi samping yang berada di brankar Athena. Tangannya terulur dengan lembut menggenggam tangan Athena.
“Babe, kamu baik-baik saja bukan?” bisik Xavier namun hanya ada keheningan di dalam ruangan itu karena Athena yang belum sadarkan diri jadi tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Xavier.
Ceklek
Pintu terbuka hingga masuklah Dante di dalam ruangan itu. Pria itu langsung berjalan mendekati Xvaier yang masih senantiasa memandang wajah tak sadarkan diri Athena.
“Tuan,” Dante membungkuk di depan Xavier namun pria itu juga tidak menatap ke arahnya.
“Mengenai Nona Cleo, apa yang akan kita lakukan dengan wanita itu Tuan?” tanya Dante dengan suara sedikit tinggi karena jika suara seperti biasa maka sang Tuan tidak akan dapat mendengarnya.
“Cari wanita itu sampai ketemu..!” perintah Xavier dengan suara dingin dan juga datar.
“Baik Tuan,” Dante langsung berbalik keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sedangkan Cleo wanita itu kini baru saja menaiki kereta api untuk emnuju tempat persembunyiannya. Dia bukan wanita bodoh yang hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun.
“Wanita j4l4ng tunggu pembalasan dariku, aku akan kembali membalaskan dendamku padamu,” guman Cleo yang menggenggam ponselnya dengan sangat erat.
Cleo berjanji pada diri sendiri jika dia pasti akan kembali membalaskan dendamnya pada Athena. Karena Athena dia kini harus hidup seperti seorang buronan. Penampilan cantik dengan rambut yang tergerai indah kini Cleo harus rela mengganti semua stylenya. Rambutnya yang panjang harus dia gunting sebahu dengan warna rambut dari pirang berubah hitam. Tak hanya itu wajah yang biasanya full make juga kini dia hapus dan rela terlihat jelek demi bisa menghindari polisi dan juga anak buah Xavier nantinya.
“Aku yakin jika pun Xavier menyewa polisi maka mereka akan mencariku di apartemen lalu menuju bandara. Begitu pula juga dengan anak buah Xavier yang lain. Aku yakin saat ini tidak akan ada yang berfikir jika aku naik kereta api. Dengan keadaan seperti ini aku berarti masih bisa aman. JAdi aku istirahat saja dulu,” guman Cleo yang langsung menyandarkan badannya ke sandaran kursi.
Sedangkan di tempat lain Dante baru saja sampai di markas besar Tiger atau markas besar Xavier. Saat masuk di dalam ternyata Dante langsung di sambut oleh si kembar Roy dan Rey lalu Tara bersama Rania. Dante hampir lupa jika masih ada Rania di markas mereka.
“Kalian bertiga ikut aku…!” kata Dante yang menunjuk si kembar dan juga Tara.
“Baik,”
Dante berjalan di ikuti ketiga orang itu namun baru beberapa langkah suara Rania menghentikan langkah mereka.
“Tunggu…!”
Terdengar Dante yang mengumpat kesal karena wanita itu namun Dante tidak berbalik melainkan kembali melanjutkan jalannya.
“Tuan, saya harap Tuan melihat saya disini,” sarkas Rania yang mendekati Dante.
“Apa maumu? Jangan ikut campur ini urusan Tuanku dan juga kami semua..!” sentak Dante yang menatap tajam Rania.
‘‘Jangan hanya karena Tuan Xavier membiarkan kau tinggal di markas dan juga tidak mengizinkan kami untuk mengusikmu. Bukan berarti kamu berkuasa disini. Disini kamu hanya orang asing,” timpat Tara.
Tara tidak menyukai Rania karena wanita muda itu terlihat sok jago dan juga selalu berkuasa.
“Lalu kenapa kalau orang asing? Saya memang orang asing untuk kalian tapi Nona Queenzi Athena Amora Keano adalah Matahari Keano jangan lupa jika dia adalah Nona muda saya. Jangan kalian pikir aku datang sendiri disini sendiri, bahkan jika aku mau hanya hitungan detik ke tuaku bisa menghancurkan markas kecil kalian ini. Hanya satu laporan yang aku katakan maka Ketua ku tak akan berpikir dua kali untuk datang dan menjemput Nona Athena kembali. Kalian pikir kalian mampu untuk melawan kekuasaan Keano dan juga Black Demon? Baik di dunia bisnis maupun dunia bawah kalian tetap masih tertinggal jauh dari apa yang Keluarga Nona Athena dapat. Menurut kalian apa ada ampun bagi orang yang berani menyakiti MATAHARINYA KEANO?” sarkas Rania dengan senyum sinisnya.
Bukan merasa sok jago atau merasa paling berkuasa tapi memang tugasnya untuk melindungi Athena karena itu adalah perintah dari ketua dan juga permintaan semua orang. Terlebih Athena memang sedari kecil sudah sangat dekat dengan Athena membuat wanita itu menganggap Athena sebagai adiknya walau dalam keseharian dia layaknya hanya akan menjadi pengawal menjaga Athena.
__ADS_1
Sedangkan Dante dan Tara yang mendengar nada sindiran dari Rania hanya bisa diam mematung. Mereka sampai melupakan satu fakta itu.
Melawan Black Demon adalah sesuatu hal yang mustahil karena kelompok itu adalah kelompok yang sangat di takuti. Jangankan untuk melawan mereka bahkan untuk berhadapan langsung saja mereka akan berpikir dua kali. Baru saja Dante membuka mulutnya untuk membalas apa yang dikatakan oleh Rania tiba-tiba earphone yang terpasang di telinganya terdengar suara yang sangat ia kenali.
“Dasar bodoh…! Kalian menggertaknya?” teriak Xavier dari earphone.
“Ma…Maaf Tuan,”
“Biarkan dia ikut bersama kalian..! Dia bukan penghianat,” kesal Xavier sebrang sana.
“Baik Tuan,”
‘’Jangan lagi mencari masalah dengannya, aku tidak mau karena mulut kalian yang suka mengoceh seperti beo itu calon kakak iparku mengamuk. Belum lagi jika calon mertuaku yang mengamuk maka aku akan jadi sate panggang,” kata Xavier yang mematikan sambungannya.
Huhhhh
Dante menarik napas dalam-dalam menatap
Rania yang hanya memasang wajahd datar dan cuek bebek saja.
“Kamu dengar apa yang dikatakan oleh Tuanku bukan?” kata Dante dengan dingin.
“Earphone,”
Dante yang mendengar itu hanya bisa menganggukan kepalanya saja. Dia lupa jika tadi dia menggunakan Earphone.
“Masuklah dan ikuti kami,” kata Dante yang langsung berbalik pergi.
Sedangkan di rumah sakit Xavier menggerutu dengan kesal karena apa yang dikatakan oleh Dante benar-benar menguji nyalinya.
“Dasar asisten buntung, bagaimana bisa dia menggertak wanita itu? Jika Athena tahu ada yang menggertak wanita itu mati benar aku. Belum lagi jika Calon kakak ipar dan calon daddy mertua tahu bisa di goreng hidup-hidup aku,” gerutu Xavier dengan menggigit jari-jari tangannya.
__ADS_1