
"Nama!"
"Amora, 22 tahun, tidak mempunyai pengalaman kerja." Terus terang Athena.
Uhukk uhukk
Bukan hanya Dante yang tersedak oleh ludah sendiri oleh ucapan Amora yang begitu enteng tapi Xavier bahkan berdehem pelan.Bagaimana ada orang yang dengan pedenya mengatakan dengan banggakan jika belum memiliki pengalaman kerja sama sekali.
Xavier membuka satu persatu lembar lamaran kerja yang di bawah oleh Amora dengan wajah datar. Setelah selesai Xavier langsung memberikan Dante memberi kode pada pria itu memberi pertanyaan kepada Amora.
“Ehem ehem,” Dante sengaja berdehem mulai membuka berkas di tangannya.
Namun baru membuka lembar kedua matanya melotot hampir keluar menatap ke arah Amora dan juga Xavier secara bergantian. Berulang kali Dante membaca biodata wanita itu tapi semua memang sudah seperti itu membuat Dante menelan ludah dengan kasar.
“Nona Amora, jika memang anda tidak memiliki pengalaman bekerja kenapa sangat yakin jika anda akan di terima di perusahaan ini?” Dante bertanya dengan suara datar dan dingin.
“Koreksi, aku tidak yakin jika akan langsung di terima di perusahaan ini. Aku bahkan sudah mempersiapkan untuk melamar kerja di perusahaan lain jika ditolak.” Balas Amora dengan santai tanpa tertekan jika dia saat ini sedang di tatap tajam 2 ekor singa yang kelaparan.
“Apa yang membuat anda yakin melamar kerja di perusahaan ini?”
“Aku butuh uang dan jika mau uang harus bekerja,”
“Apa anda yakin jika kami akan menerima orang seperti anda?”
“Jika di tolak cari perusahaan lain saja,”
Uhukk
Dante yang sedari tadi memberi pertanyaan dan di jawab dengan begitu santai oleh Amora hanya bisa mengelus dada. Entah kenapa di hari pertama melama kerja gadis itu begitu santai terlebih menjawab pertanyaan yang dia ajukan.
“Apa yang harus kami pertimbangankan untuk menerima anda?”
__ADS_1
“Otakku yang jenius.”
“Nona Amora saya serius.” Dante menatap tajam Amora karena merasa jika sedari tadi Amora hanya bercanda saja.
“Tuan, apa yang saya katakan tadi atau beberapa menit yang lalu adalah kebenarannya hanya saja berbalik lagi pada anda yang menganggap serius ucapan saya atau menganggapnya sebagai candaan.” Kata Amora dengan senyum manis.
“Orang seperti kamu apa yang perlu di harapkan…,”
“Lalu orang seperti apa yang anda harapkan Tuan yang Terhormat? Seseorang dengan pengalaman kerja yang besar dan memberi pujian di awal bertemu? Atau seseorang yang dengan pakaian yang rapi, rambut yang tertatah bagus dan juga wajah yang tampan atau bagus? Bisakah anda menjamin jika mereka tidak akan melakukan korupsi?” potong Amora yang membalas perkataan Dante dengan kata-kata yang menohok.
“Saya memang tidak memiliki pengalaman kerja tapi saya dimana pun saya pergi saya akan di butuhka dan mendapat pekerjaan karena saya yakin dengan kejeniusan otakku. Seseorang yang jenius tidak perlu memiliki pengalaman atau pun tidak harus memiliki guru. Karena guru mereka adalah diri mereka sendiri,” jeda Amora yang mengambil napas lebih dulu.
“Saya percaya dan yakin jika kepintaran saya akan bisa menciptakan hal yang baru. Diluar sana banyak orang yang berotak udang tapi begitu percaya diri dan juga sombong. Jika begitu saja sudah sangat sombong lalu apa denganku yang memiliki di atas rata-rata? Lebih baik memelihara anjing di bandingkan merawat seekor ular. Karena anjing bahkan bisa mengenal dan setia kepada pemiliknya dibandingkan ular yang bahkan pemiliknya bisa menjadi makanan untuknya..” Sarkas Amora dengan menatap datar ke arah Dante dan juga Xavier yang terdiam.
“Berikan berkasku!” Amora mengangkat tangannya meminta untuk berkasnya di kembalikan.
“Untuk apa?” Dante bertanya dengan bingun kepada gadis di depannya itu yang meminta berkasnya kembali.
Tak
Dante yang sudah tidak tahan menahan kekesalannya langsung meletakan berkas di tangannya dengan keras di atas meja. Matanya menatap tajam Amora yang menatapnya dengan polos tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun.
“Anda di terima!” ucap Xavier tiba-tiba membuat Amora menatap ke arah pria itu dengan mata polos.
"Aku di terima?"
"Hm"
"Yeeeh bilang kek dari tadi," ucap Amora yang kembali duduk di depan Xavier tak lupa menatap Xavier dengan pandangan aneh.
"Dante, bawa wanita ini ke ruangan yang berada di depanku!" Perintah Xavier dingin.
__ADS_1
"Amora, namaku Amora bukan Wanita." Kata Amora yang tak terima hanya karena di Katai dengan julukan wanita.
Melihat jika sang Bos sepertinya marah dengan apa yang di katakan oleh Amora barusan. Dante degan gerakan cepat mengeluarkan suaranya sebelum gunung berapi itu meledak.
"Nona mari ikut saya!" Ucap Dante yang penuh penekanan.
Dante menatap tajam Amora lalu berjalan keluar ruangan Xavier dengan hati yang menggerutu. Sedangka Amora dengan langkah ringan mengikuti Dante tanpa menyadari jika Xavier sejak tadi terus menatap ke arahnya.
“Gadis ini..,? Apa dia tidak takut mati? Bagaimana bisa dia memancing amarah singa yang sedang tertidur? Benar-benar gila. hanya saja dia cukup unik, Jika biasanya wanita akan langsung terpesona dengan Xavier tapi gadis ini justru biasa saja.” Batin Dante yang melirik Amora dengan ekor matanya.
Ceklek
“Ini ruangan yang akan menjadi ruangan Nona dan berkas-berkas di atas meja sana adalah berkas yang harus anda selesaikan selama 1 jam ke depan. Setelah satu jam aku akan datang mengambil berkas-berkas itu dan semua harus sesuai dengan data asli yang berada di dalam komputer.” Terang Dante yang langsung berbalik pergi meninggalkan Amora sendirian.
Sedangkan Amora yang di tinggal sendirian lngsung menatap ke sekeliling ruangan yang akan menjadi ruangannya itu selama ia bekerja.
Setelah beberapa saat Amora segera menuju meja kerjanya dan duduk di kursi kerja miliknya dengan memutar-mutar kursi itu.
“Haaah dulu aku selalu menghindar jika Daddy ataupun Kaisar jika mereka sudah mengajak aku ke perusahaan. Sekarang aku bahkan harus bekerja dan jauh dari mereka semua. Aku harap semuanya baik-baik saja, aku hanya butuh waktu untuk hidup sendiri dan bebas. Jika aku sudah merasa cukup aku akan kembali.” Guman Amora dengan pelan.
Tak mau memikirkan lagi yang membuatnya sedih Amora segera mengambil berkas-berkas itu membacanya lalu membaca data yang ada di dalam komputer di depannya.
“Ck.., mereka terlalu meremehkan aku. Baiklah mari kita buat mereka bungkam hingga tak bisa bicara lagi tentang kamu Quenzi Athena…, ups aku lupa disini tidak aman.” Guman Amora yang menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya.
Amora dengan tenang mengambil berkas di depannya dan mulai mengerjakannya dengan santai. Sedangkan di tempat lain Xavier dan Dante berada di sebuah ruangan yang bernuansa hitam. Ruangan itu tak lain adalah ruangan pribadi Xavier.
“Bos,” Dante memanggil pelan sang Bos dengan ragu-ragu.
“Hm” Xavier hanya berdehem dengan terus memutar dan menyesap wine yang berada di tangannya.
“Genk Lion…,”
__ADS_1
"Bicara yang jelas atau aku potong lidahmu!"