
“Tolong lanjutkan pembangunan panti asuhan yang sanya bangun di lokasi kasih indah. Semua hal yang berkaitan dengan panti asuhan itu adalah uang bersih baik dari tanah dan semuanya. Tolong juga makamkan jasad saya ke samping putri saya yang berada di belakang panti asuhan itu. Semenjak putri saya pergi saya sudah tidak punya tujuan hidup lagi,” ungkap pria keempat.
Dor
Sebuah peluru dengan kecepatan tinggi menembus jidat pria itu hingga pria itu langsung ambruk dengan nyawa yang sudah menghilang dari badannya.
“Permintaan di terima,” kata Xavier datar.
Ketiga pria yang melihat jika teman mereka telah mati hanya bisa diam dengan badan yang bergetar ketakutan. Bahkan disaat mengatakan yang sebenarnya pun tak bisa lolos dari Xavier bagaimana dengan mereka yang jelas-jelas berbohong pada Xavier.
Dante hanya menatap datar mayat pria yang baru saja Xavier tembak mati itu. Terlihat jika pria itu tersenyum dalam kematiannya membuat Dante hanya menghela napas. Sekali berkhianat Xavier tidak akan pernah menerima apapun alasannya dan balasannya cuma satu yaitu kematian.
“Setidaknya kamu mati dengan hanya merasakan satu kesakitan saja bukan kesakitan yang berujung panjang. Semoga kau bisa beristirahat dengan tenang di alam sana bersama putrimu,” kata Dante dalam hati dengan mendoakan pria itu.
“Bagaimana dengan kalian? Sepertinya kalian sangat menyukai cara kerjaku hingga berani berbohong,” sinis Xavier yang menekan sebuah tombol di bawah meja.
Ceklek
Ruangan yang tadinya ruangan rapat kini berubah dalam sekejap mata menjadi ruangan yang penuh akan senjata tajam dan senjata api. Sontak saja hal itu membuat ketiga pria itu semakin ketakutan dengan apa yang dilakukan Xavier pada mereka bertiga.
‘‘Tuan ampuni kami…!” teriak mereka histeris dengan langsung bersujud meminta pengampunan.
Namun sepertinya mereka hanya perlu pasrah dengan keadaan karena sudah tidak ada ampun lagi untuk mereka semua. Semuanya sudah terlambat menyesal saja sudah tidak ada gunanya lagi karena sekarang sudah pasti nyawa mereka akan segera melayang.
“Kalian tahu, aku sangat tidak menyukai pengkhianatan tapi kalian berani mengkhianatiku. Jika sudah seperti itu kalian berarti siap untuk mati kan?” Xavier menyeringai dengan menunjukan sebuah seringaian yang menakutkan kepada ketiga orang itu.
“Tuan ampuni kami… Ka..kami berjanji akan mengembalikan jumlah nominal apa yang kami ambil. Ka..kami berjanji Tuan,”
__ADS_1
Jleb
AAAAAA
“Terlambat baby,” bisik Xavier yang sudah menancapkan sebuah pisau kecil di paha pria pertama.
“Tu…Tuan.,” ucapan pria itu tidak lagi lanjut saat sebuah benda kecil dan panjang menembus lehernya hingga membuatnya tak bisa lagi berbicara.
“`Aku tidak suka banyak suara saat aku bermain,” desis Xavier yang menatap tajam pria yang dia siksa.
Sret
Jleb
Xavier menyiksa pria itu dengan begitu lihai seakan-akan yang dia tusuk dan sayat adalah sebuah sayuran dan daging sapi yang dia potong-potong. Hanya hitungan menit target pertama langsung merenggang nyawa di tangan Xavier.
Selesai targey pertama lanjut ke terget kedua lalu ketiga penyiksa terus dilakukan Xavier dengan menusuk, menyayat, bahkan memotong bahkan mencincang daging mereka seperti mencincang daging sapi dan sayuran.
“Cih pakaianku di hinggapi oleh kotoran-kotoran orang-orang kotor ini. Benar-benar buruk setengah mati,” kata Xavier dengan nada yang kesal.
“Dante bersihkan semua ini…!” titah Xavier yang dengan entengnya pergi begitu saja masuk ke dalam sebuah pintu rahasia.
Dante yang melihat bagaimana Xavier meninggalkannya hanya bisa menghela napas saja. Sang Tuan yang buat masalah tapi dia juga yang harus menyelesaikan semuanya.
Dengan napas yang berat Dante tak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan oleh sang Tuan. Jika dia sampai tidak melakukannya maka dia juga akan mendapatkan masalah yang lebih serius dari masalah ini. Seperti di kirim di Afrika misalnya atau bisa saja juga di kutub utara.
“Tuan Tuan, Tuan yang bermain, Tuan yang bersenang-senang, Tuan yang membuat kekacauan, tapi aku juga yang akan kena batunya. Tidak di kerjakan akan dapat masalah di kerjakan juga membuatnya lelah,” kata Dante yang mulai berbalik mencari peralatan untuk memasukan mayat-mayat itu.
__ADS_1
Sedangkan Xavier baru saja masuk ke dalam ruangannya setelah melalui pintu rahasia tadi. Ternyata pintu yang di lalui oleh Xavier tadi adalah pintu yang langsung menuju lift. Sampai di ruangannya Xavier langsung menuju ruang pribadintya untuk membersihkan diri karena saat ini dia benar-benar penuh akan darah.
Sedangkan di tempat lain terlihat Athena yang baru saja bangundari tidurnya setelah jam 10 : 00.
Terlihat gadis itu yang menatap keadaan sekitar sebelum melirik jam dinding di kamar Xavier.
“Pantas saja aku lapar ternyata sudah waktunya makan siang,” guan Athena dengan bangun dari tidurnya.
Athena masih berada di markas Xavier karena selesai sarapan Athena langsung saja tidur kembali membuat Xavier tak ingin memmbangunkan wanita yang di cintainya itu. Alhasil Xavier hanya memerintahkan anak buahnya yang berjenis kelamin wanita untuk menjaga Athena saat terbangun nanti.
Ceklek
Pintu kamar Xavier terbuka lalu keluarlah Athena dengan rambut yang masih acak-acakan. Gadis itu sepertinya benar-benar kelaparan karena terus memegang perutnya.
“Selamat siang Nona, kami di perintahkan Tuan Xavier untuk memenuhi semua kebutuhan Nona. Apa Nona ingin mandi? Jika ia akan kami siapkan,” ucap wanita yang memiliki tinggi badan yang sama seperti Athena.
“Daripada mandi, ambilkan aku makanan..! Jangan lupa panggilkan Rania temanku yang datang tadi malam,” kata Athena dengan duduk di lantai.
Sontak saja apa yang dilakukan oleh Athena membuat kedua penjaga itu langsung kaget bukan main. Bagaimana bisa Nona muda mereka itu duduk di lantai tanpa adanya pengalas.
“Nona silahkan masuk ke dalam kamar atau setidaknya Nona bisa menunggu di meja makan. Jangan duduk di lantai yang dingin itu,” kata wanita itu lagi dengan panik.
“Tuan Xavier benar-benar akan membunuhku jika sampai Nona Athena sakit,” kata wanita itu dalam hati.
Ingatan wanita itu kembali pada apa yang di katakan oleh Xavier sebelum pergi tadi.
“Jaga wanitaku dengan baik, jika sampai dia kenapa-napa bahkan hanya karena rambutnya yang jatuh maka kalian berdua yang akan aku ambil nyawanya sebagai bayarannya…!
__ADS_1
Kedua wanita itu langsung bergidik ngeri mengingat ultimatum apa yang diberikan oleh sang tuan terhadap gadis di depan mereka itu.
“Nona ayo saya antar di ruang tengah saja, mungkin Nona Rania yang anda maksud ada di ruang tamu,” kata wanita kedua yang langsung menarik lembut lengan Athena membawanya menuju ruang tamu.