
“TUAN AWASS!”
Jleb
“Amora,” Xavier yang melihat Amora memeluknya untuk menyelamatkannya tertegun sendiri.
Dor
Tanpa keraguan sedikit pun Xavier langsung menembak kepala pria yang ingin menusuknya tadi. Hingga pria itu terkapar tak bernyawa dengan kepala yang bocor karena peluru Xavier.
“DANTE CEPAT…!” Xavier membentak Dante yang sedang terbengon.
Dante yang tersadar dari lamunannya langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Dengan gerakan cepat Dante langsung menghidupkan mobil lau menarik pegal gas dan menuju rumah sakit.
“Amora jangan tutup matamu oke,” Xavier memangku Amora.
“Hehehe kamu seperti daddy ku saja,” Amora terkekeh lucu namun air mata gadis itu menetes keluar dari kelopak mata indahnya.
“Jangan menangis, aku mohon.” Bisik Xavier yang merengkuh tubuh Amora yang semakin lemas dan juga pucat.
“Dante cepatlah!” teriak Xavier dengan panik.
“Baik bos.” Dante berkonsentrasi mengemudi mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
Walau Dante ugal-ugalan tidak ada yang meneriakinya bahkan polisi pun tidak ada yang berani menghentikannya di saat mobilnya dengan santai melalui lampu merah.
“Amora buka matamu, kamu tidak boleh menutupnya. Jangan menangis sebentar lagi kita akan sampai, kamu tidak akan merasa kesakitan lagi.”
Xavier terus berusaha membuat Amora membuka mata dan mengajaknya berbicara. Sedangkan Amora sedang mengumpat dalam hati kepada orang yang telah menusuknya.
“Pria b4jing4n si4l4n, ternyata pisau itu beracun.” Umpat Amora yang menyadari jika pisau itu ada racunnya.
Gadis itu tidak akan merasa sakit dan lemas seperti sekarang jika pisau itu tidak beracun. Karena sejak kecil mereka, dia dan Kaisar telah di latih dengan keras oleh sang Daddy dan sang mommy yaitu Alisya dan Kenzo. Alisya dan Kenzo merasa takut jika sang anak bisa terluka memutuskan untuk mencari metode yang membuat Athena dan Kaisar sedikit kebal racun.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang di tujuh. Dengan gerakan cepat Xavier langsung membawa Amora keluar dari mobil. Ternyata pria itu langsung disambut beberapa perawat dan suster yang menunggu Xavier di depan pintu masuk rumah sakit.
Xavier meletakan Amora di atas brankar lalu mendorongnya menuju ruangan UDG. Sampai disana Xavier di tahan untuk tidak masuk ke dalam ruangan membuat Xavier hampir mengamuk syukur di tenangkan oleh Dante.
“Ingat, apapun yang terjadi selamatkan wanitaku. Jika tidak maka akan aku pecahkan kepalamu dengan peluruku.” Ucap Xavier yang mengancam Dokter wanita di depannya iu.
“Bos, anda harus tenang. Semua akan baik-baik saja, Nona Amora tidak akan kenapa-napa.” Dante mencoba menenangkan Xavier.
“Berhenti mengatakan semua akan baik-baik saja. Cari pelaku utama penyerangan itu, pastikan tidak ada satu pihak pun yang lolos.” Perintah Xavier yang tak ingin di bantah.
“Baik Bos,” Dante segera membungkukkan badannya pada Xavier lalu berbalik pergi.
“Amora ku harap kamu baik-baik saja, kamu tenang saja akan aku balas orang yang membuat kamu seperti ini.” Guman Xavier dengan suara rendah.
Sedangkan di tempat lain terlihat seorang wanita paruh baya yang menatap menatap kosong pigura potret seorang gadis cantik yang baru saja terjatuh.
“Apa yang terjadi? Kenapa perasaan aku tidak tenang seperti ini?” guman Alisya yang berjongkok memungut pecahan beling itu.
Perasaannya semakin tak karuan dengan perasaan yang was-was, gelisah, dan juga cemas secara bersamaan bercampur aduk menjadi satu. Alisya terlalu fokus melamun hingga tak menyadari jika tangannya telah terluka oleh pecahan beling.
Ceklek
Xavier yang baru pulang dari kantor langsung menuju kamar kedua orang tuanya saat mendengar suara sesuatu yang baru saja pecah di kamar Alisya dan Kenzo.
Namun baru saja masuk matanya langsung terbelalak melihat wanita yang di panggilnya mommy itu tengah terduduk. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi fokus kaisar melainkan warna merah di lantai yang berasal dari tangan Alisya.
“Astaga mom, kenapa seperti ini?” Kaisar langsung membantu sang Mommy untuk bangun.
“Mommy duduk saja disini, biar aku yang menyelesaikan pecahan beling itu.”
Kaisar langsung mendudukan Alisya di atas sofa lalu kembali membersihkan pecahan beling yang sedang di bersihkan Alisya tadi. Setelah selesai Kaisar kembali menghadap sang mommy yang masih betah terdiam kaku dengan menatap potret di tangannya.
Huhhhhh
__ADS_1
Terdengar Kaisar yang menarik napas dan mengeluarkannya dengan kasar. Tentu tanpa di beri tahu pun Kaisar tahu kenapa seperti ini.
“Mom..,”
“Athena…, Athena.., Kaisar!” Alisya mengguncang bahu putra semata wayangnya itu.
“Ada apa dengan Athena, Mom?”
“Pasti terjadi sesuatu, lihat bingkai foto ini terjatuh begitu saja. Bahkan…, bahkan perasaan mommy terasa gelisah. Kaisar cari adikmu, mommy mohon.”
Deg
Kaisar yang mendengar permohonan dari sang mommy sampai tertegun. Selama ini Kaisar melihat sang Mommy seperti terlihat santai seakan-akan tidak peduli pada hilangnya Athena. Namun, hari ini Kaisar bisa melihat dan merasakannya sendiri jika sang mommy sangat mengkhawatirkan keadaan sang adik.
Baru saja membuka mulut Kaisar kembali menutup mulutnya saat mendengar teriakan dari arah ranjang.
“ATHENAAAAAA!”
Kenzo terbangun dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Pria paruh baya itu sepertinya baru saja bermimpi buruk terbuykti dengan Kenzo yang mengusap keringat di dahinya.
“Byy…,”
Kenzo menoleh ke arah suara yang memanggilnya yang ternyata berasal dari sang istri wanita yang di cintainya.
“Baby.., tangan kamu kenapa?” Kenzo bertanya dengan nada lembut membawa Alisya ke dalam pelukannya.
“Tadi mommy terkena pecahan beling,” bukan Alisya yang menjawab melainkan Kaisar.
“Tidurlah baby, tidak perlu menjagaku, aku sudah sembuh.” Bisik Kenzo yang membaringkan Alisya ke atas ranjang.
Alisya yang memang sudah sangat mengantuk hanya bisa terdiam menuruti apa yang di katakan oleh Kenzo. Kenzo memberi tanda kepada Kaisar untuk keluar dari kamar dan menunggunya di luar.
Setelah beberapa saat akhirnya Alisya tertidur pulas dengan memeluk foto Athena. Kenzo yang melihat itu segera menyelimuti Alisya sampai dada. Kenzo bergerak pelan turun dari ranjangnya mengecup kening Alisya sebelum berbalik berjalan keluar dari kamar mereka.
__ADS_1
Ceklek
“Ikut daddy!”