
Hari hari terus di lalui Amora bersama dengan Xavier. Lebih tepatnya Xavier yang terus menempeli kemana pun Amora pergi maka pria itu akan terus mengikutinya. Seperti sekarang Amora yang tidak ingin makan di luar memutuskan untuk makan di kantin perusahaan. Xavier yang tidak ingin jauh dari Amora tentu saja mengikuti kemana gadis itu pergi.
Alhasil kini Amora dan Xavier duduk tenang di kantin perusahaan dengan Xavier yang terus memainkan rambut Amora yang di ikat ekor kuda. Entah kenapa Xavier sangat menyukai aroma rambut Amora yang sangat wangi. Kehadiran mereka di kantin perusahaan sontak membuat para karyawan semakin banyak yang bergosip bahkan ada yang menatap Amora dengan tatapan iri.
"Lio, berhenti memainkan rambutku." Kesal Amora yang memanggil Xavier dengan panggilan Lio.
Satu minggu yang lalu Xavier yang terus merengek meminta sebuah panggilan lain dari Amora yang berbeda dengan orang lain. Hingga Amora memanggilnya dengan sebutan Lio nama yang berada di tengah namanya.
"Aku hanya memainkannya, Dear." Balas Xavier yang tidak memintahkan tangannya terus memainkan rambut Amora.
"Minggir!"
"Mau kemana, Dear?"
"Aku mau ke toilet Lio," kata Amora yang menahan kesal kepada Xavier.
"Aku ikut,"
"Diam dan duduk disini! Jika kamu mengikutku jangan salahkan aku jika kamu aku...," Amora menjeda kalimatnya dengan melempar senyum miring ke arah Xavier.
Glek
Xavier yang melihat tatapan dan senyum misterius dari Amora langsung menelan ludah. Pria itu dengan kepala yang patah-patah segera menganggukkan kepalanya.
"Aku akan diam dan menunggu mu disini, Dear." Kata Xavier yang kembali duduk di kursinya.
"Good boy," Amora langsung mengelus kepala Xavier sebelum beranjak pergi meninggalkan Xavier.
Haaaaah
Terdengar helaan napas dari Xavier menatap punggung Amora yang bergerak menjauh. "Ternyata untuk menaklukanmu butuh usaha yang lebih keras lagi," guman Xavier.
Sudah satu bulan Xavier berusaha untuk menaklukan dan meluluhkan gadis itu tapi sampai hari ini dan detik ini tidak ada perubahan pada gadis itu. Amora tetaplah Amora yang selalu sekenanya dan juga dengan sifat yang sulit di tebak. Namun, Xavier merasa cukup puas dengan A,ora yang tidak melarang kehadirannya disisi dan sekitarnya itu sudah cukup untuk Xavier.
Ceklek
"Ohhhh jadi ini j4l4ng yang berani menggoda Tuan Xavier?"
Amora yang baru keluar dari bilik langsung mengerutkan dahi mel;ihat 3 orang wanita yang berpakaian seksi dan riasan make up yang tebal sedang menghadangnya.
"Apalag ini? Apa mereka sedang menghadangku atau sedang melabrakku?" kata Amora dalam hati yang menatap ketiga wanita seksi di depannya dengan tenang.
"Apa yang perlu di banggakan dengan tubuh yang depan belakang lurus seperti ini?" ucap salah satu wanita itu.
"Ada apa? Kalian tahu aku tidak punya banyak waktu apalagi jika hanya meladeni kalian yang tidak ada manfaatnya. Sarkasme Amora dengan nada pedasnya.
"KAU..., BERANINYA KAU BERBICARA SEPERTI ITU..?" bentak wanita yang berada di tengah-tengah wanita seksi itu.
"Saya berani karena saya punya mulut Nona," balas Amora datar.
__ADS_1
Kali ini Amora sudah mulai terpancing emosi selama ini dia memang diam selagi mereka tidak menyerangnya seperti ini apalagi sampai membentaknya. Siapa yang berani membentaknya? Bahkan di umurnya yang sudah 22 tahun Amora tidak pernah di bentak oleh kedua orang tua dan kakak laki-lakinya. Lalu muncul dia yang hanya orang asing berani membentaknya.
"Apa yang perlu di banggakan dari gadis miskin dan buruk rupa sepertimu? Aku jadi bertanya-tanya, kamu saja sudah sejelek ini, entah sejelek apa Ibumu? Atau mungkin Ibumu bukan wanita yang baik lalu melahirkan anak haram sepertimu hingga menjadi buruk rupa."
Sontak ucapan wanita itu langsung di sambut gelak tawa oleh kedua temannya yang lain. Namun, berbeda dengan Amora yang wajahnya sudah memerah menahan amarah saat mendengar wanita itu menjelk-jelekan sang Mommy.
"Ulangi!" desis Amora.
"Apa yang mau di ulangi? Kamu yang anak haram? Atau ibumu yang seorangt p3l4c..., uhukkk uhukkkk"
"Rupanya kamu sedang mengantarkan nyawamu pada Dewi kematian," bisik Amora yang langsung mencekik leher wanita di depannya itu.
"Hey lepaskan teman kami...!" Kedua wanita itu langsung mencoba untuk menyerang Amora namun dengan mudah Amora membalik keadaan.
Bugh
Brakkk
Kedua wanita itu langsung tersungkur saat Amora menendang kepala mereka masing-masing.
"Uhukkk le-lepas-kan!"
"Lepaskan? Tentu saja...," balas Amora. " Tapi setelah nyawamu melayang." Bisik Amora yang merkuat cekikkannya pada leher wanita itu.
"J4l4ng si4lan lepaskan teman kami...!"
"Kenapa kamu marah? Jika kamu bukan anak haram kamu tidak akan marah tetapi jika kamu marah seperti ini itu menandakan jika kamu benar-benar anak haram."" Teriak salah satu kedua wanita itu.
Brak
Mendengar hal itu sontak AMora langsung membanting wanita yang dia cekik tadi hingga kepalanya terbentur tembok.
"KAMU SUNGGUH BERANI!" Amora menatap tajam wanita yang mengatainya anak haram itu.
"A-apa yang kamu lakukan? Me-menjauh dariku!" teriak wanita itu yang panik.
Sreeet
AAAAA
Amora langsung menarik rambut wanita itu dengan kencang menariknya menuju salah satu cermin yang berada di dalam ruangan itu.
"LEPASKAN SIALAN...!"
Bughh
AAAAAA
Wanita itu berteriak kesakitan saat Amora dengan tanpa ragu langsung membenturkan kepala wanita itu di cermin. Melihat jika cerminya belum pecah Amora langsung membenturkan lagi kepala wanita itu di cermin.
__ADS_1
Bugh
Bugh
Bugh
"Hahahaha ini sangat menyenangkan," Amora tertawa terbahak-bahak saat melihat jika cermin itu telah pecah.
Tak hanya itu kepala dari wanita yang di benturkannya itu sudah luka. Darah segar keluar dari luka dan kepala wanita itu tapi tak membuat AMora merasa iba.
"Ampun..., ampuni aku hiks... Aku tidak akan mengganggu kamu lagi hiks... Aku janji." Sosok itu terus meminta maaf dan meminta ampun kepada Amora agar dia di lepaskan.
"Tenang saja aku akan melepaskanmu kok tapi...," Amora menjeda kalimatnya dengan sebuah senyum dingin mendekat ke arah telinga wanita itu. "Aku akan melepaskan kamu kok tapi tunggu dulu aku puas bermain ya? Mungkin dengan membuat kamu koma bagaimana?" bisik Amora.
Wanita itu semakin terisak dengan terus menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang semakin deras. Dia sunggu merasa menyesal kenapa harus mencari masalah dengan Amora.
Tak ada yang menyangka di balik wajah yang terlihat cupu itu ternyata tersimpan sebuah kepribadian yang mengerikan. Wanita itu hanya bisa menangis dan terus meminta ampunan membuat Amora kesal.
"BERHENTI MENANGIS SI4LA4N!" bentak Amora yag merasa kesal dan muak dengan suara tangisan yang membuat telinganya sakit.
Bukannya berhenti menangis wanita itu justru semakin menangis sehingga membuat kesabaran Amora habis. Tanpa ragu Amora langsung membenturkan kembali kepala wanita itu.
Braaakkk
AAAAAAA
"Sudah aku katakan berhenti menangis, tangisanmu membuat telingaku sakit!" sentak Amora yang menatap tajam wanita yang sudah sekarat itu.
Tanpa Amora sadari jika dua wanita yang lainnya sedang berusaha untuk melarikan diri. Namun, Amora yang tak sengaja melirik mereka langsung melepaskan rambut wanita yang sekarat itu lalu menuju kedua wanita itu.
Srettt
AAAAAAA
Amora sengaja menarik rambut wanita yang pertama tadi ia serang sedangkan yang satunya Amora biarkan untuk melapor.
"Ampun No-nona saya minta ma-maaf,"
Brakkk
AAAAA
Wanita itu langsung berteriak kesakitan saat Amora tanpa ampun membenturkan dahinya di lantai toilet itu.
"Siapa kamu berani menghinaku dengan sebutan anak haram he...? Apa hak mu mengatai mommy ku dengan sebutan kotor itu? Kamu berani menghina Ratuku maka kamu juga harus siap menyerahkan nyawamu padaku." Desis Amora yang membenturkan kepala wanita itu di lantai demngan membabi buta.
Dugh dugh dugh
"Dear.....!"
__ADS_1