
“Italy bukannya kamu ke California?” tanya Rania yang tidak mengerti kenapa Athena sampai ada di Italy.
Setahu Rania dan beberapa anggota inti yang dulu mencari Athena mereka hanya tahu jika Athena di California bukan Italy.
“California hanya pengecoh untuk kalian semua Kak, aku berada di Italy,” ucap Athena yang terkekeh lucu.
Rania yang mendengar apa yang dikatakan oleh Athena selaku adik dari Ketua Black Demon itu hanya bisa menggelengkan kepala. Rania tahu bahkan sekuat apapun anggota Black Demon tak akan mampu melacak dan mencari keberadaan gadis itu jika bukan dia yang memunculkan dirinya sendiri.
“Baik saya akan terbang besok pagi Nona,” kata Rania dengan tegas.
“Baik aku akan menunggu,” balas Athena yang langsung mematikan sambungan telponnya.
“Rania sudah, saatnya Kaisar,
Athena mengotak atik ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada saudara kembarnya itu jika Rania dia ambil.
Di sisi lain Xavier yang sedang makan siang bersama dengan Dante tiba-tiba ponselnya berdering membuat pria itu langsung mengangkatnya.
“Ada apa?”
“APA…?” Xavier langsung berdiri dari duduknya dengan wajah datar dan dinginnya hingga terlihat semakin menyeramkan.
“Tunggu disana, saya akan segera sampai..!” Dante mematikan sepihak sambungan telponnya menatap datar Dante yang masih makan.
“Berhenti makan dan ikut aku sekarang juga, jika tidak ingin aku tinggalkan disini..!” sentak Xavier yang langsung pergi.
Dante yang tak ingin di tinggalkan dengan segera berdiri mengikuti langkah kaki sang bos walau dengan tidak rela karena makanan-nya belum di habiskan.
“Ada masalah apalagi hingga Tuan sampai semenyeramkan ini? Kelinci mana yang membangunkan predator ini?” Dante hanya bisa geleng-geleng kepala karena tahu apa yang kan terjadi pada orang yang membuat Xavier semarah ini.
__ADS_1
Brak
\Xavier masuk ke dalam mobil dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah. Andaikan bisa di lihat mungkin saat ini di kepala Xavier sudah ada tanduk dan kedua telinganya sudah berasap.
Brummmm
Xavier langsung menginjak gas dengan keras saat melihat jika Dante sudah berada di dalam mobil. Sedangkan Dante yang baru duduk langsung kaget saat tiba-tiba mobil melaju seperti sedang terbang saja membuat Dante langsung berubah berwajah pucat pasi.
“Aku hanya berharap semoga sampai disana nyawaku masih ada di badan…!” teriak Dante dalam hati yang tak bisa membuka matanya dengan sempurna karena melihat bagaimana Xavier dengan gilanya mengendarai mobil mewah harga milyaran itu.
Akibat dari Xavier yang menyalip beberapa kendaraan membuat kemacetan tiba-tiba. Akan tetapi, apa Xavier merasa bersalah? Jawabannya tentu saja, tidak.
Brakkk
Xavier dengan gelap mata menabrak gerbang markas mereka yaitu Markas Mafia Tiger miliknya. Penjaga yang tak sengaja melihat wajah dingin dari Xavier langsung bergetar ketakutan di buatnya. Mereka takut sampai rasanya nyawa mereka di cabut paksa dari badan mereka itu.
Xavier turun dari mobil berjalan masuk ke dalam markasnya dengan memasang wajah datar dan dinginnya. Hingga Tara yang ada di depan pintu langsung tertegun di buatnya.
“Dimana mereka?” tanya Xavier dengan datar dan dingin.
“Mereka ada di aula belakang Tuan,” jawab Tara dengan kepala yang tertunduk.
Xavier yang mendengarnya langsung berjalan menuju ke aula belakang yang berada di belakang markasnya. Tara yang melihatnya hanya bisa mengikutinya dengan Dante yang berjalan dengan di sampingnya.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa Tuan terlihat sangat marah seperti ini?” tanya Dante yang berbisik kepada Tara.
“Kamu akan tahu sendiri, jangan berisik. Aku tidak mau kena amukan dari Tuan Xavier,” bisik Tara yang tak ingin mencari masalah.
Dante yang mendengarnya hanya bisa pasrah saja. Lagipula apa yang dikatakan oleh Tara itu benar adanya. Saat ini lebih baik mereka mencari aman karena bisa saja mereka juga akan kena imbasnya karena sang Bos yang sedang sangat marah.
__ADS_1
Setelah berjalan akhirnya mereka sampai di aula belakang yang berada di belakang mension. Di sana sudah ada si Kembar Roy dan Rey yang duduk tenang di sebuah kursi. Xavier tanpa bertanya langsung menghampiri Roy dan Rey.
Sedangkan Roy yang menyadari kedatangan sang Tuan langsung berdiri di ikuti Rey.
“Tuan..,”
“Apa mereka semua penghianat?” Xavier bertanya dengan nada rendah menahan amarah.
“Be..benar Tuan, mereka adalah pengkhianat yang memang mengikuti si Elio si4l4n itu…!” jawab Roy dengan kesal.
Mendengar jawaban kepastian dari Rey semakin membuat wajah Xavier terlihat lebih menyeramkan. Xavier berjalan mendekat ke arah orang-orang yang berada di tengah-tengah aula itu. Tanpa menghitung pun Xavier tahu jika jumlah pengkhianat kali ini benar-benar sangat banyak.
Dor
Dor
Dor
Tiga buah peluru meluncur hingga melubangi kepala 3 orang barisan paling belakang. Xavier tak menyangka jika dia memelihara seekor ular selama ini. Anak buah yang selalu ia percayai bagaimana bisa mengkhianatinya seperti ini. Sedangkan para penghianat itu sekarang benar-benar berkeringat dingin melihat 3 rekan mereka yang langsung tewas hanya dengan sekali tembakan.
“Dasar pengkhianat…! Sudah saya pungut di jalanan berani sekali berkhianat…!” umpat Xavier dengan meludahi mereka.
“Dante ambilkan mainan kesayanganku..!” titah Xavier tanpa melirik ke arah Dante.
“Baik Tuan,” Dante segera masuk ke dalam markas mencari mainan kesukaan dari sang Tuan.
“Saya sekali, anggota sebanyak ini harus meregang nyawa. Akan tetapi mau bagaimana lagi? Bukankah itu pilihan mereka sendiri? Dari awal Tuan Xavier juga sudah mewanti-wanti mereka untuk tidak berkhianat tapi lihat sekarang. Mereka berkhianat karena gelap mata dengan uang yang di berikan Elio pada mereka. Andaikan mereka tidak buta dan serakah terhadap uang mereka tidak akan berakhir seperti ini,” kata Tara dalam hati yang menatap iba kumpulan orang-orang yang berkhianat itu.
“Tuan ini mainan anda,” Dante datang menyerahkan sebuah koper kecil kepada Xavier.
__ADS_1
“Saatnya bermain,” dengan senyum menyeringai Xavier mengambil koper itu.