Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
Bab 64


__ADS_3

"Apa tidak ada petunjuk?" tanya Dante yang mengharap semoga ada harapan.


"Itu..., tidak ada sama sekali Tuan," jawab pria itu lagi.!"


Mendengar akan hal itu bukan hanya Xavier yang panik tapi Dante juga bertambah panik. Jika sudah seperti ini maka dapar di pastikan kondisi ini menunjukan jika peretas itu lebih pintar di bandingkan mereka.


"Dnte kerjakan!" perintah Xavier kepada Dante.


Mendengar akan hal itu Dante dengan segera duduk di salah satu komputer itu lalu mulai mengerakkan jari-jari tangannya di atas keybord. Hingga beberapa menit kemudian Dante langsung berdiri dengan wajah yang berseri-seri.


"Bos!" seru Dante yang memanggil nama Xavier.


"Ada apa? Apa kamu menemukan petuntuk?" tanya Xavier kepada Dante.


"Bos aku menemukan jejaknya," seru Dante dengan keras.


Xavier yang tadinya acuh segera berdiri lalu berjalan menghampiri Dante lalu melihat tanda merah yang berada di komputernya.


"Kamu yakin ini lokasinya?" Xavier kurang percaya kepada tanda titik merah yang di perlihatkan oleh Dante.


"Saya yakin Bos, karena memang dia tidak menggunakan komputer itu. Walaupun dia menghapus jejaknya namun jika dia tidak mematikan komputer itu lebih dulu maka jejaknya masih bisa di cari." Terang Dante dengan tenang.


"Kita berangkat, bawah 4 orang anggota untuk menyelusuri tempat itu dan sekitarnya."


"Baik Bos,"


Xavier segera bergerak berjalan keluar dari ruangan itu bersama Dante di belakangnya. Xavier bertekad untuk menemukan orang itu dengan cepat karena jika tidak maka identitasnya akan langsung di ketahui oleh pihak luar.

__ADS_1


Drettt


Xavier yang baru masuk ke dalam mobil merasakan jika ponselnya berdering segera mengambilnya dan membukanya membiarkan Dante yang menjalankan mobilnya.


Ternyata yang mengirimkannya pesan adalah Roy yang berisi rekaman CCTV terhadap Amora. Xavier dengan gerakan cepat menekan kata Play di ponselnya hingga terl;ihat Amora yang keluar dari ruangannya lalu keluar dari Rumah sakit dengan menggunakan motor besar berwarna hitam dan sedikit corak biru di bagian tertentu motor itu.


"Gadis nakal itu, dia baru keluar dari rumah sakit dan luka tembakan di punggungnya belum kering tapi dengan seenak jidatnya duia mengendarai motor besar seperti itu." Omel Xavier yang melihat dengan nekatnya Amora mengendarai motor besar di saat kondisi luka di punggungnya belum sembuh.


"Ada apa Bos?" tanya Dante yang melirik sang Bos yang sepertinya bertambah kesal setelah menerima opesan yang entah darimana.


"Mengemudi saja yang benar!" ketus Xavier.


Dante yang mendengar itu tidak lagi bertanya karena dia tahu jika saat ini keadaan sang Bos sedang tidak baik-baik saja. Daripada menjadi sasaran kemarahan sang Bos lebih baik diam pikir Dante.


Dante dengan fokus menghadap ke depan menjalankan mobilnya dengan penuh konsentrasi yang penuh dan juga mata yang tidak melirik kanan kiri. Tanpa Dante sadari jika di belakang Xavier berulang kali berdecak kesal karena memikirkan kelakuan gadios pujaannya itu yang sangatlah nakal.


Dante memberhentikan mobilnya di depan warnet yang sering di gunakan oleh anak remaja dan juga warnet yang di duga sebagai peretas data Xavier. Dante dan Xavier saling melirik satu sama lain dengan memegang sebuah pistol masing-masing.


Keduanya turun dari mobil lalu menatap keadaan sekitar yang terlihat aman seperti pada umumnya dan juga aktivitas sehari-hari yang tidak mencurigakan. Dante segera memberi kode kepada anak buahnya untuk bergerak sendiri-sendiri.


Xavier dan Dante masuk ke dalam Warnet itu mencari pemilik tempat itu. Hingga akhirnya mereka bertemu dan di bawah ke ruangan khusus.


"Ada perlu apa Tuan-Tuan datang menemui saya? Apa saya melakukan kesalahan apa...,?"


"Kami hanya ingin mencari seseorang," potong Dante dengan datar dan dingin.


"Si...,apa Tuan?" tanya sang pemilik warnet dengan gugup dan juga gemetar.

__ADS_1


Bagaimana tidak gemetar dua orang yang duduk di depannya itu adalah pengusaha terbesar di Neghara itu. Jika dia tanpa sadar mengusik kehidupan kedua orang itu maka kini dia dalam bahaya.


"Ada yang meretas keamanan data Bos ku, aku datang kesini untuk mencari peretas itu...," jeda Dante yang menatap sang pemilik warnet


Sedangkan sang pemilik warnet sudah ketar ketir duluan mendengar apa yang dikatakan oleh Dante sang pemilik Warnet itu sudah paham apa yang di inginkan oleh Dante dan Xavier. Akan tetapi, dari banyaknya orang yang sering datang di warnetnya mana dia tahu siapa yang meretas data orang di depannya itu.


"Tadi di dalam ruangan itu aku melihat adanya CCTV bisakah kami melihatnya? Tuan tidak perlu panik atau khawatir kami hanya menontonnya saha. Kami akan menjadi sendiri target itu," kata Dante dengan dingin namun masih terdengar sopan.


"Ah..., itu silahkan Tuan-Tuan." sang pemilik warnet itu segera memberikan mereka akses untuk melihat langsung rekaman yang ada di CCTV di ruangannya.


"Dante mulai dari parkiran!" perintah Xavier kepada Dante.


Walaupun bingun kenapa harus di mulai dari parkiran tapi Dante tetap menuruti apa yang di katakan Xavier padanya.


"Rekaman 30-1 jam lalu." Perintah Xavier lagi yang hanya di turuti Dante.


"STOP!" seru Xavier saat melihat sileut motor yang dia kenali.


"Mundur sedikit,"


Dante dengan penurut segera memundurkan sedikit rekaman CCTV itu hingga sampai Xavier memberikan intruksi berhenti.


"NONA AMORA!" seru Dante yang melihat jika yang di lihat Xavier adalah Amora yang masuk ke dalam warnet itu.


Xavier terus memperhatikan Amora hingga Amora masuk ked alam warnet dan duduk di salah satu kursi lalu mulai menghidupkan Komputer/. Bersyukur karena Amora duduk di dekat CCTV sehingga mempermudahkan mereka untuk mengawasi pergerakannya.


"Itu...,"

__ADS_1


__ADS_2