
"Hallo...,"
"APA...? BAIK AKU KESANA SEKARANG!"
"Dante pergi ke markas sekarang juga!" teriak Xavier dengan amarah yng membuncah.
"Ada apa Bos?" Dante bertanya karena melihat wajah sang Bos yang memerah seperti menahan amarah yang besar.
"Markas di serang!"
Dante yang mendengar itu tentu saja membulatkan mata hingga dengan kecepatan di atas rata-rata Dante segera menjalankan mobilnya menuju markas mereka.
Ckiiittttt
Saat mobil berhenti Xavier dan Dante langsung melompat turun dari mobil dengan pistol di tangan mereka satu persatu. Amarah Xavier semakin membuncah saat melihat jika ada banyak anggotanya yang terkapar tak berdaya. Mata elangnya menatap ke depan sana yang masih terjadi adegan saling menembak antara kubunya dan juga kubu lawan.
"BRENGS3K...! MATI KALIAN SEMUA...!"
Dor dor dor
Xavier dengan gila melepaskan tembakan pada setiap musuh dengan membabi buta. Sontak para musuh langsung banyak yang gugur di tambah mereka tidak menyangka akan adanya Xavier di tengah-tengah perseteruan mereka karena mereka berfikir Xavier tidak akan secepat itu hadir.
Dor
Bugh
Brak
Krekk
Xavier seperti orang kesetanan menyerang musuhnya dengan sebuah belati di tangannya yang terus di ayunkan ke titik vital sang musuh hingga setiap musuh yang di kenanya langsung tumbang baik masih hidup atau sudah mati.
"MUNDURR....!"
Orang-orang yang menyerang markas Xavier langsung berlari meninggalkan markas Xavier setelah mendengar teriakan pemimpin mereka.
__ADS_1
Slassssh
"Sialan! Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk kalian." Xavier mendesis penuh amarah saat melihat jika lawannya hanya bisa lari lantang lantung setelah membuat markasnya berantakan.
"Bos," seorang pria mendekat ke arah Xavier dengan wajah yang babak belur dan juga wajah pucat karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Xavier tidak menjawab namun menatap ke segala arah melihat anggotanya yang telah terkapar di tanah tidak tahu apa masih hidup atau masih hidup.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian sampai kalah dan kacau seperti ini?" tanya Xavier dengan nada datar dan dingin.
Xavier merasa aneh tidak biasanya anggotanya kecolongan seperti ini apalagi sampai mengalai kekalahan telak seperti ini. Andaikan saja dia tidak datang tepat waktu mungkin sekarang ini markasnya hanyalah bangunan yang tidak berpenghuni atau bisa juga sudah rata dengan tanah.
"Maaf Bos sepertinya kami di racuni sebelum penyerangan terjadi. Banyak anggota kita yang sakit dan butuh perawatan namun kelompok itu tiba-tiba saja menyerang. Tubuh kami lemah sehingga tidak bisa melakukan perlawanan yang maksimal." Terang pria itu dengan jelas.
"Maksudmu mereka semua keracunan?"
"Benar Bos,"
Mendengar hal itu Xavier mengepalkan tangannya dengan kuat. Siapa yag berani menyerangnya dengan cara curang seperti ini. Bahkan hanya untuk menjatuhkannya mereka sampai melakukan tindakan yang bodoh dan juga sangat curang.
"Tuan Roy berada di ruangan laboratorium Bos, hanya beberapa orang anggota kita yang tidak terkena racun itu salah satunya adalah anggota yang bekerja di bagian kesehatan karena mereka belum sempat makan."
Xavier hanya diam dengan wajah datar dan juga dingin melirik Dante yang berada di belakangnya.
"Dante bantu anggota yang lain,"
"Baik Bos."
Dante segera berbalik lalu mulai membantu anggota mereka yang masih hidup menuju ruangan yang aman. Sedangkan Xavier langsung menuju laboratorium di ikuti dengan pria yang melapor tadi.
"Roy...!"
Seorang pria yang sibuk dengan Mikroskop di depannya langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar suara orang yang sangat dia hormati.
"Bos." Pria yang bernama Roy itu langsung membungkukkan badannya di depan Xavier.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sudah ada penawarnya?"
"Sudah 50% Bos,hanya menunggu sempurna."
"Selesaikan dengan cepat anggota kita banyak yang gugur."
"Baik Bos,"
Roy langsung berbalik memerintahkan anggota yang berada di bawah kepemimpinannya untuk bekerja lebih keras lagi. Mereka semua mulai mempercepat pekerjaan mereka hingga waktu tak terasa sudah 2 jam berlalu bersamaan dengan sempurnanya penawar yang di buat oleh Roy dan anggota yang lainnya.
"Bos sudah selesai!" seru Roy.
"Bagus!"
Xavier langsung berbalik keluar dari ruangan kesehatan itu di ikuti oleh pria yang tadi mengikutinya juga. Ternyata Xavier kembali pada posisi dimana anak buahnya yang banyak sekarat. Xavier hanya bisa mengepalkan kuat-kuat tangannya menahan amarah yang meledak-ledak dirinya melihat anak buahnya yang terbaring tak berdaya.
"Kalian yang masih sanggup berdiri dan berjalan silahkan berdiri dan papah teman kalian yang lainnya menuju ruangan kesehatan!" ucap Xavier dengan lantang.
Beberapa orang langsung berdiri lalu memapah teman mereka yang sudah tidak bisa berjalan sendiri. Mereka semua segera menuju ke ruang kesehatan tempat Roy bekerja.
"Andre pantau semuanya!" titah Xavier kepada orang yang sejak tadi mengikutinya.
"Baik Bos." Andre yang menerima perintah dari sang Bos langsung berbalik mengikuti rombongan itu.
Setelah kepergian mereka Xavier segera berbalik menatap Dante dengan super tajam.
"Ikut ke ruanganku!" titah Xavier dengan suara rendah dengan mata yang mengawasi sekitar.
Dante yang mendengar perintah Xavier hanya mengikuti dalam diam. Tanpa di beri tahu pun Dante merasakan adanya keanehan dengan situasi ini. Dirinya juga merasakan dan memiliki pemikiran yang sama dengan sang Bos walaupun belum di ungkapkan. Xavier terus berjalan hingga mereka masuk di sebuah ruangan yang tingkat keamanannya sangat tnggi.
Ceklek
Saat pintu terbuka Xavier langsung masuk ke dalam ruangan itu di ikuti demngan Dante di belakangnya. Sampai di dalam kedua pria itu langsung mengawasi sekitar ruangan itu. Setelah merasa aman keduanya langsung duduk di sofa.
"Bagaimana?"
__ADS_1