
Ceklek
Xavier yang tidak tahan dengan rasa penasarannya terhadap Amora memutuskan untuk ke ruangan gadis itu. Sampai di dalam ruangan Xavier hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat orang yang membuatnya gelisah sedari tadi dengan entengnya tidur di sofa ruangan itu seperti kamarnya sendiri.
"Dia tidur di jam seperti inni?" guman Xavier yang berjalan ke arah meja Amora.
Xavier dapat melihat jika banyak tumpukan berkas yang belum di kerjakan oleh Amora bahkan tak tersentu sama sekali. Xavier tak marah melainkan berjalan mendekat ke arah Amora. Xavier masih bisa melihat sisa-sisa air mata di kelopak mata Amora.
"Ada apa denganmu, Dear? Apa kamu lari dari keluargamu atau karena apa? Kenapa kamu selalu menarik perhatianku?" Xavier dengan lembut menghapus jejak air mata di kelopak mata Amora dengan penuh kelembutan dan juga kehati-hatian agar sang gadis tidak terbangun dari tidurnya.
Tak hanya itu Xavier bahkan sampai membuka jasnya lalu di pakaikan pada Amora sebagai selimut gadis itu.
"Daddy,"
Deg
Xavier yang beranjak menjauh sampai tertegun saat mendengar gumanan Amora yang begitu jelas terdengar di pendengarannya. Xavier yang sudah berdiri kembali duduk di depan wajah Amora.
"Jika kamu rindu kenapa tidak pulang?" tanya Xavier namun hanya ada keheningan.
Tak mendapatkan jawaban Xavier kembali berdiri lalu berjalan ke kursi kerja Amora. Pria itu bahkan dengan suka rela terus mengerjakan pekerjaan Amora. Waktu terus berjalan tak terasa jam makan siang sudah tiba namun Amora belum juga bangun.
Xavier yang melihat jika AMora belum ada tanda-tanda bangun langsung berjalan mendekati gadis itu.
"Dear. Ayo bangun."
" Amora...!" panggil Xavier dengan suara yang agak tinggi.
"Iya kenapa?"
Amora terbangun dengan langsung berdiri membuat Xavier sampai melongo. Mana ada orang yang bisa langsung berdiri kokoh seperti itu saat dia di bangunkan dengan cara yang tiba-tiba.
"Tuan, maaf saya ketiduran." Amora langsung meminta maaf karena ini memang kesalahannya.
__ADS_1
"Sudah ayo kita makan siang," Xavier langsung menarik lembut pergelangan tangan Amora membawanya keluar.
"Tunggu Tuan, Tuan bisa makan lebih dulu saya akan mengerjakan pekerjaan saya dulu." Tolak AMora yang melepaskan tangan Xavier.
"Lalu kamu mengabaikan atau bahkan tidak akan maka siang begitu?" tanya Xavier dengan datar dan dingin.
Amora yang mendengar itu langsung terdiam kaku karena apa yang di katakan oleh Xavier akan di lakukan oleh Amora. Amora tidak mungkin mengabaikan pekerjaannya begitu saja.
"Jangan pernah coba-coba untuk melakukan hal apa yang aku katakan tadi. Jika itu sampai terjadi aku akan benar-benar menghukum-mu Dear." Pesan Xavier yang melototi Amora.
"Tapi itu juga tugasku Tuan, ini memang murni kesalahanku yang karena tertidur di jam kerja. Saya akan mengerjakannya sekarang juga, Tuan tidak perlu takut akan mengalami kerugian atau merasa saya makan gaji buta."
Amora langsung berbalik namun lagi-lagi tangannya langsung di cekal dan di tarik oleh Xavier. Tentu saja AMora yang tidak siap akan serangan itu langsung terbalik menghantam dada kokoh Xavier.
"Dear, dengar, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Tapi tidak untuk mengabaikan maka siangmu. Aku tidak ingin terjadii apapun padamu. Jadi, ikut aku makan siang sekatrang juga! Untuk pekerjaanmu semua sudah aku selesaikan." Kata Xavier dengan menatap manik mata Amora yang memiliki warna keabu-abuan.
"Mata ini terasa tidak asing," guman Xavier di dalam hati menatap mata Amora dengan lekat.
"Ayo."
"Tuan,"
Xavier yang baru saja keluar dari ruangan Amora langsung di sambut oleh Dante. Namun, Xavier hanya acuh dengan terus menarik Amora menuju lift khusus untuk mereka.
"Dasar Bos bucin, belum apa-apa aku sidah dui lupakan. Nanti kalau sudah jadi kekasih atau nyonya Argantara mungkin semua pekerjaan kantor akan di serahkan padaku." Gerutu Dante.
Ting
Xavier keluar dari lift dengan terus menarik tangan Amora. Hingga mata karyawan yang melihat itu hampir saja keluar dari tempatnya karena Xavier bukan menarik pergelangan tangan Amora melainkan menggenggam tangan gadis itu tanpa memakai sarung tangan seperti biasa.
"Itu Tuan Xavier?"
"Kamu pikir siapa? Kamu tidak lihat mereka keluar dari lift khusus."
__ADS_1
"Tapi kenapa gadis jelek itu juga ada disana bahkan Tuan Xavier sampai menggenggam tangannya tanpa memakai sarung tangan seperti biasa."
"Apa menurutmu jika Tuan Xavier dan gadis itu menjadi sepasang kekasaih?"
"Cih itu tidak mungkin,"
"Apanya yang tidak mungkin? Kamu lupa jika Tuan Xavier tidak pernah berdekatan dengan seorang wanita nanapun?"
"Yah itu benar jangankan bergandengan tangan seperti itu itu, menyentuh saja tidak pernah."
"Tapi bagaimana bisa Tuan Xavier yang maha sempurna bisa jatuh cinta pada gadis buluk dan miskin sepertinya?"
Xavier yang endengar para karyawannya terus menghina dan memojokkan Amora langsung menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke arah para karyawan yang sedang menggosipkan wanita yang dia cintai.
"Apa kalian di gaji untuk membicarakan orang lain? Apa perlu aku memecat kalian dengan cara yang tidak terhormat?"
Glek
Sekumpulan orang-orang itu langsung terdiam dengan wajah pucat. Mereka tak menyangka jika sang Tuan akan sampi membel gadis yang mereka hina itu.
"Maafkan kami Tuan," mereka semua langsung membungkuk meminta maaf kepada Xavier.
"Berlutut dan minta maaf pada Amora!"
Semua orang langsung kaget dengan apa yan g di katakan oleh Xavier yang sangatlah berat.
Terlihat-lihat orang-orang itu yang salimng melirik satu sama lain lalu menatap Amora dengan tatapan kesal dan juga benci sekaligus.
"Berhenti menatapnya seperti itu atau aku congkel mata kalian!" bentak Xavier yang menatap mereka dengan tajam.
"Minta maaf sekarang!"
"Maafkan kami Sekretaris Amora!" Mereka dengan setengah relah langsung berlutut meminta maaf pada Amora.
__ADS_1
Xavier yang melihat itu tentu saja tersenyum penuh kemenangan. Xavier sudah berjanji akan melindungi Amora dengan caranya sendiri. Selagi dia masih hidup tak akan dia biarkan satu orang pun untuk menghina Amora.
"DENGAR! MULAI HARI INI JIKA AKU MENDENGAR ADA YANG MENGHINA KEKASIHKU MAKA TANGGUNG SENDIRI AKIBATNYA!"