
"Cih kau tahu ini," Amora menunjukan sebuah gelang yang memiliki marga Keano membuat pria tua itu pucat pasi.
"Ti..,"
Dor
Dor
"Amora...!"
Brukk
Tubuh gadis itu terjatuh lemas di pelukan Kevin yang bahkan hanya bisa terpaku dengan memeluk Amora.
"Brengsek beraninya kau melukai wanitaku..!"
Xavier yang melihat wanita yang dia cintai terluka sontak mengamuk. Sedari tadi ia menahan keinginannya untuk tidak mengeluarkan sifat kejinya tapi melihat Amora yang bersimpah darah membuat amarah Xavier tidak bisa lagi ia tahan.
"Kalian semua harus mati!"
Xavier dengan amarahnya langsung menembak pria tua itu dengan membabi buta. Sedangkan sang penembak yang menembak Amora langsung di tangani oleh Dante yang baru masuk di ruangan itu. Tanpa perintah sekalipun Dante tahu jika sudah seperti ini maka sang bos tidak akan melepaskan dengan mudah orang yang melukai Amora.
Dor dor dor
Xavier terus memuntahkan semua isi peluru pistolnya ke arah pak tua itu hingga pria tua uitu tewas dengan di isi peluru oleh Xavier.
"Baby...," tangan Kevin terangkat membelai kepala Amora yang masih menatapnya dengan wajah tenang.
"Jangan menangis Ayah, Amora baik-baik saja. Amora tidak akan mati hanya dengan satu peluru saja." ucap Amora dengan tersentyum tipis.
"Tuan ayo kita bawah Amora ke rumah sakit," Xavier langsung menyadarkan Kevin.
Kevin yang tersadar langsung menggendong Amora membawanya turun dari antai 2 itu. Terlihat Xavier yang khawatir berusaha menutupnya dengan wajah datar. Xavier tahu jika keadaan ini pasti akan membuat beberapa pihak curiga padanya. Syukur sebelum masuk ke dalam Bar ini, Xavier sudah mengambil kulit palsu sehingga wajah aslinya tak terlihat.
"Tuan Xavier...," Xavier menghentikan langkah kakinya dengan menutup mata menahan amarah saat orang itu menghentikannnya.
Dengan membuka matanya dengan pelan Xavier langsung berbalik menghadap pria yang memanggilnya iotu.
__ADS_1
"Maaf Tuan Ryuga saat ini kondisi lagi ada masalah jadi kita lanjutkan nanti saja di lain waktu," ungkap Dante yang langsung membawasang Bos pergi karena bisa saja Xavier meledak disana.
Xavuier dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil dengan duduk di jok depan bersama Dante.
"Cepat Dante...!" titah Xavier yang menatap cemas ke arah Amora yang berada di jok belakan.
"Amora sayang buka matamu Nak, jangan membuat ayah cemas." Kevin mengelus kepala Amora.
"Aku tidak apa-apa Ayah, aku kan gadis kuat Ayah."
"Tidak kamu pasti berbohong, harusnya kamu membiarkan saja peluru itu mengenai Ayah,"
Tanpa malu Kevin menetaskan air matanya menatap gadis kecilnya yang bersimpah darah. Kevin menyesal kenapa tidak bisa menjaga dirinya sendiri hingga membuat Amora seperti ini.
*Kejadian beberapa menit yang lalu
Amora yang ingin menembak pria tua di depannya langsung membulatkan mata saat matanya tak sengaja mendapatkan seseorang yang ingin menembak sang ayah angkat. Tak ingin membuat sang ayah angkat dalam bahaya Amora langsung berlari memeluk Kevin hingga peluru yang di arahkan kepada Kevin bersarang di punggung Amora*.
Sepanjang jalan Kevin terus mengajak Amora berbicara agar Amora terus membuka matanya. Kevin masih ingat dengan jelas jika Amora adalah awal ia tidak membenci Kenzo karena kematian sang adik. Hanya Amora yang menghiasi hidupnya selama 22 tahun terakhir ini.
Mobil berhenti di depan salah satu rumah sakit yang berada dekat dengan Bar itu. Kevin langsung menggendong Amora membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Dante perintahkan anak buah kita untuk menjaga Rumah sakit ini dari para kecoak itu." perintah Xavier.
"Baik Bos," Dante segera berjalan menjauh dari Xavier.
Xavier menatap ke arah sekelilingnya, Xavier tahu jika parah musuhnya akan segera kemari atau bahkan mencari tahu latar dan siapa Amora baginya. Namun, untuk masalah itu Xavier tidak terlalu pikirkan karena saat ini dia punya 3 identitas sekaligus.
Pertama sebagai ketua Mafia Tiger, kedua sebagai tangan kanan organisasi Mafia Tiger. Kenapa menjadi tangan kenan karena dia menyamar menjadi orang lain saat menjadi tangan kanan organisasi Mafia Tiger miliknya sendiri.Sedangkan yang ketiga adalah Prisider atau pemilik perusahaan Argantara GRoup.
"Amora," Xavier langsung berlari masuk ke dalam mencari keberadaan pria paruh baya yang membawa Amora ke dalam rumah sakit tadi.
"PASTIKAN KEADAANNYA BAIK-BAIK SAJA, JIKA TIDAK AKU AKAN MEMBLACKLIST KALIAN SEMUA!"
"Kami akan melakukan yang terbaik Tuan,"
"Cepat masuk dan tangani putri kecilku...!" teriak Kevin yang menatap tajam kelima dokter di depannya itu.
__ADS_1
Kelima Dokter itu segera masuk ke dalam ruangan ICU, mereka tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan sang pemilik Rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya?" tana Xavier yang baru datang.
"Siapa kau?"
"Aku...,"
Bugh
Belum menjawab Xavier langsung di hadiahi dengan pukulan mentah di wajahnya hingga sudut bibirnya terluka. Dante yang melihat dari jauh hanya bisa terpaku melihat sang Bos di pukul oleh pria paruh baya yang tak mereka kenal.
"BERANINYA KAMU MEMBAWA BABY-KU MASUK DI TEMPAT HARAM ITU? APA KAMU TIDAK TAHU JIKA ITU ADALAH TEMPAT TERKUTUK YANG SANGAT DI BENCI DAN DI LARANG KEDUA ORANG TUA AMORA?"
"Aku hanya...,"
"Kenapa semua pria zaman sekarang semuanya brengsek! Aku benar-benar harus mencarikan pria yang baik untuk baby-ku,"
"JANGAN...!" teriak Xavier panik saat mendengr jika pria di depannya itu ingin menjadikan jodoh Amora.
"APANYA YANG JANGAN? BABY-KU HARUS MENDAPATKAN PRIA YANG BAIK BUKA PRIA BRENGSEK SEPERTIMU!"
"Brengsek? Aku tidak brengsek,"
"Jika tidak brengsek untuk apa kamu ke tempat terkutuk itu ha...,?"
"Aku hanya...,"
"Tuan-Tuan jangan berisik...,"
"JANGAN IKUT CAMPUR ATAU AKU TEMBAK KAMU...!"
Xavier dan perawat yang menegur mereka langsung terlonjat kaget saat melihat Kevin dengan entengnya menyodongkan pistol ke arah perawat itu.
Perawat itu langsung bergetar ketakutan saat melihat jika yang dia tegur adalah sang pemilik Rumah sakit. Lebih parahnya lagi adalah melihat moncong pistol itu membuat Perwat itu tambah takut.
"Jadi dari orang ini Wanitaku mendapatkan sifat yang bar-bar?"
__ADS_1