
“Masalah selesai,” girang Adrian.
Adrian merasa aman karena sudah ada bantuan dari Mario selaku sang ayah Xavier. Pria paruh baya itu tidak menyadari jika apa yang menantinya di depan sana.
Sedangkan di tempat lain Athena mendapatkan kabar jika wanita yang menjadi mangsanya sudah kembali membuat dirinya langsung tertawa jahat.
“Sudah ku duga dia akan pulang,” guman Athena dengan senyum miring di bibirnya yang manis.
“Rania…!” panggil Athena pada Rania.
“Iya nona muda,” Rania langsung menghampiri Athena tak lupa membungkukan badannya sedikit juga.
__ADS_1
“Selidiki apa yang dilakukan calon mainanku…! Pastikan dia tidak mendapat masalah sampai aku mengambilnya,” ucap Athena dengan nada dingin sedingin salju.
“Lalu bagaimana dengan Nona?” tanya Rania yang tak ingin meninggalkan Athena karena itu memang adalah tugas utamanya.
“Apa aku anak kecil yang perlu dijaga Rania? Aku sudah dewasa bahkan jika aku mau kau bisa membunuh lawan ku hanya dengan satu kali perintah dariku. Jangan lupakan aku siapa,” balas Athena dengan menohok.
“Baik Nona, akan saya segera lakukan,” Rania berbalik lalu pergi meninggalkan Athena yang sedang menonton Tv.
Jika Athena sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Cleo maka berbeda dengan Xavier yang saat ini sedang mengerjakan pekerjaannya dengan cepat agar ia bisa pulang dengan cepat. Dia tidak sabar untuk memulainya semuanya dengan segera.
Xavier tentu tahu jika saat ini mungkin adalah ujian yangs angat berat untuknya. Dia tentu yakin Kaisar tidak akan mungkin memberikannya kelonggaran sama sekali sedikit apapun itu. Saat ini dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Xavier benar-benar hanya bisa mengandalkan diri sendiri karena uang dan kekuasaannya tidak akan berlaku jika lawannya orang sekuat Kaisar.
__ADS_1
“Aku harus menyelesaikannya dengan cepat agar aku bisa memulainya dengan segera. Waktu 1 bulan sebenarnya bukanlah waktu yang lama. Apalagi pelatihannya pasti sangat menakutkan tapi aku tidak akan menyerah aku pasti akan memenangkan pertarungan ini. Babe, tunggu aku, aku pasti bisa membawamu di istanaku sendiri,” kata Xavier dengan menatap potret Athena yang berada di atas mejanya.
“Tuan makan siangnya,” Dante masuk membawa makan siang untuk sang Tuan.
‘‘Taruh situ lalu keluarlah, bereskan dan selesaikan pekerjaanmu dengan cepat. Hari ini semua pekerjaan harus selesai karena besok aku akan langsung ke tempat itu,” kata Xavier dengan tegas dan mantap. Bahkan saking seriusnya dia sampai tidak menoleh ke arah Dante sama sekali.
Dante yang melihat keseriusan dari san Tuan sampai tertegun dan juga merasa bangga. Hanya karena ingin memperjuangkan wanita yang dia cintai sang Tuan sampai rela melakukan apapun. Walau pun harus lembur dan menyelesaikan semuanya malam ini juga.
“Saya yakin Tuan, Tuan pasti bisa memenangkan pertarungan ini. Jika pun Tuan tidak bisa memenangkannya saya yakin Nona Athena sendiri yang akan memilih Tuan. Walau di luar sana banyak yang lebih dari Tuan tapi tidak akan ada yang bisa seperti Tuan. Tidak akan ada yang bisa berjuang seperti Tuan, tidak ada yang akan setulus Tuan, dan tidak akan ada pria yang setulus Tuan mencintai Nona Athena,”
Ingin sekali Dante mengeluarkan semua isi hatinya itu. Akan tetapi melihat keseriusan dari sang Tuan membuat Dante urung mengeluarkan apa yang ada di dalam kepalanya.
__ADS_1
“Saya keluar dulu Tuan,” ucap Dante yang langsung berbalik keluar dari ruangan sang Tuan.