
"Apa yang sedang kalian bahas?"
Mendengar suara yang mereka kenali sontak saja membuat mereka langsung membalik badan ke arah sal suara.
"TUAN...!"
"Bagaimana penanpilanku?" tanya Xavier yang menunjukan pesonanya di depan anak buahnya.
Keempat orang itu baru menyadari jika sang Tuan akan dinner malam ini bersama dengan sang wanita pujaannya.
"Ayo jawab bagaimana penampilanku?" desak Xavier lagi.
Keempatnya langsung menatap Xavier dari ujung kepala sampai ujung rambut. Jaz hitam, jam tangan hitam, sepatu hitam, semuanya serba hitam membuat keempat orang di depannya itu meringis.
"Mau dinner atau mau berziarah?" batin mereka semua menatap aneh sang Tuan.
'Tuan, itu kan Taun mau Dinner tapi..., tapi pakaian Taun ini seperti ingin pergi ke kuburan," ungkap Rey yang terbata-bata karena bisa saja di detik berikutnya dia akan angsung di hajar. Akan tapi saat mendnegar respon dari Xavier membuat mereka langsung melotot.
"Hm ini memang seperti pergi di ruimah kematian. Baiklah aku akan ganti baju lain," ucap Xavier yang langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.
Ceklek
"Bagaimana?" Xavier keluar menggunakan pakaian serba putih.
"Tuan itu terlalu mewah,"
"Baiklah akan aku ganti,"
Ceklek
"Bagaimana?"
'Tuan itu seperti tukang kebun,"
"Kalau yang ini,"
"Tuan itu seperti ingin membunuh orang,"
"Kalau yang ini, bagaimana?"
__ADS_1
"Tuan itu terlihat seperti pria tua,"
"Lalu yang benar yang mana? Aku sudah mondar mandir sejak tadi tapi kenapa tidak ada yang pas dan bagus. Apa mata alian yang rabun atau mata alian yang katarak?" sindir Xavier dengan kesal.
Bagaimana tidak kesal saat dirinya harus mondar mandiri mengganti pakaian tapi tidak ada yang pas untuknya.
'Sudahlah kalian para jomblo mana ngerti ini itu," kesal Xavier yang kembali amsuk mengganti pakaiannya lalu keluar menggunaan pakaian Jaz Navi menggunaan dalaman putih.
"Tuan..,"
"Diam..! Aku tak butuh penilaian kalian," sinis Xavier yang langsung pergi dari hadapan empat orang pria yang sedang berdiri kaku itu.
"Padahal aku hanya ingin bilang jika itu cock ketimbang pakaian yang tadi," guman mereka berempat.
Bukan mata mereka yang rabun atau katarak tapi memang pakaian yang di gunaan oleh Tuan mereka tidak cocok untuk dinner. Bgaimana tidak Xavier menggunakan pakaian yang satu warna seperti merah serba merah, hitam serba hitam, hijau serba hijau, abu-abu serba abu, putih serba putih.
Sedangkan di tempat lain Xavier mengendarai mobilnya dengan senang. Hingga beberapa saat kemudian Xavier sampai di rumah tempat sewa Athena. Dengan penuh rasa percaya diri Xavier turun dari mobilnya lalu berjalan mendekat ke arah rumah Athena.
Tok
Tok
Ceklek
Xavier yang berdiri di depan pintu langsung mematung melihat Athena di depannya itu. Gaun putih dengan lengan pendek dan di bawah lutut di haisi dengan motif bunga-bunga. Jantung Xavier berdebar kenccang melihat kecantikan Athena yang begitu cantik dengan riasan yang sangat tipis bahkan jika orang tak jeli mereka akan menganggap jika Athena tidak menggunakan riasan apapun itu.
"Apa kamu hanya aan befdiri kaku seperti patung? Jika iya, maka aku akan masuk kembali ke dalam rumah," kata Athena yang hendak berbalik.
"Jangan, maadf tadi aku terpesona saja," ucap Xavier yang mencekal tangan Athena.
"Hm, jadi gimana mau jalan apa tidak?"
'Jadi Babe, ayo..,"
Xavier menarik lembut tangan Athena berjalan ke arah pintu mobilnya. Tak lupa juga Xavier membukakan pintu untuk Athena yang dengan senang hati Athena masuk ke dalam mobil mnewah Xavier.
Xavier menjalankan mobilnya menuju restoran yang tadinya sudah di persiapkan oleh Xavier. Sepanjang jalan Xavier tidak melepaskan tangan Athena dari genggaman tangannya hingga mereka sampai di tempat tujuan.
Xavier turn dari mobil lalu berjalan ke arah sisi Athena membukakan pintu mobil untuk Athena.
__ADS_1
"Silahkan My Queen," ucap Xavier yang mengulurkan tangannya ke arah Athena.
Athena dengan senang hati menerima uluran tangan dari Xavier hingga turun dari mobil. Matanya langsung di suguhkan pemandangan restoran mahal di depannya itu yang di dekor dengan begitu indah.
"Ayo kita masuk," Xavier langsung menggenggam tangan Athena membawanya masuk ke dalam restoran itu dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
"Kamu yang menyiapkannya?" tanya Athena setelah duduk di depan meja yang sudah di hiasi dengan indah.
"Iya aku sengaja mempersiapkannya untukmu," jawab Xavier yang langsung menjetikan jari.
Beberapa pelayan keluar lalu berjalan ke arah meja Xavier dan Athena dengan nampan di atas tangan mereka. Para pelayan segera menyajikan makanan yang super mewah untuk kedua orang itu.
"Makanlah," Xavier menyodorkan piring yang sudah dia potong-potong daginya menjadi kecil ke arah Athena.
"Terima kasih," baas Athena yang menarik piring pemberian Xavier.
Terdengar alunan musik yang begitu indah dan lembut membuat suasa di restoran itu semakin romantis. Xavier makan dengan sesekali akan menatap ke arah Athena yang sedang menikmati makannya setiap gigitannya.
"Aku bukan pria yang setangguh Ayahmu, bukan pula pria yang sekuat kakakmu, aku juga bukan Raja namun demi dirimu aku akan menjadi Raja ayngv mengratukan Ratu-nya," kata Xavier dalam hati dengan penuh keyakinan dan tekad yang kuat.
Beberapa saat kemudia acara makan mereka selesai Athena dan Xavier serentak meminum minuman mereka berdua. Hingga tiba-tiba Xavier berdiri lalu mengajak Athena untuk berdansa.
"Nona Athena maukah kau berdansa denganku?" ucap Xavier yang mengulurkan tangannya ke arah Athena.
Athena yang mendengarnya tersipu malu lalu menyambut tangan Xavier lalu berdiri dan berjalan di tengah-tengah ruangan. Alunan musik yang lembut membuat gerakan Athena dan Xavier terlihat lembut namun juga mesra. Di akhir alunan musik Xavier berlutut satu kaki pada Athena.
"Athena maukah kau menjadi kekasihku? Eh salah jangan kekasih aku ingin kau menjadi istriku. Bagaimana apa kau mau?" tanya Xavier dengan membuka kotak cincin di tangannya.
Terlihat Athena yang tertegun di tempat dengan apa yang dilakukan oleh Xavier padanya. Gadis itu berusaha menenangkan getaran di hatinya sebelum menjawab pertanyaan Xavier.
"Maaf, tapi aku tak bisa," ucap Athena dengan lirih namun sorot mata yang tegas.
Deg
Jantung Xavier seperti tertimpah beban ribuan ton hingga seperti berhenti berdetak. Matanya menatap Athena namun Xavier tahu jika wanita di depannya itu sedang tidak bercanda apalagi bermain-main dengan ucapannya.
"Athena ini..," Xavier tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena suaranya seperti tercekik di tenggorokan.
"Maaf Lio tapi aku benar-benar tak bisa," ucap Athena dengan tegas.
__ADS_1
"A...apa aku di tolak?"