
"Ada apa Nona?" tanya Tara dengan memasang wajah datar.
"Kamu tanya ada apa? Lihat...! Tuanmu itu sudah seperti patung. Sedari tadi aku bertanya tapi dia hanya diam seperti orang idiot." Kesal Amora.
"Eh"`
Tara yang mendengar apa yang di ucapkan Amora langsung menatap ke arah sang Tuan. Namun saat melihat Mr X yang hanya terus menatap Amora dengan pandangan yang sulit di artikan membuat Tara merasa heran dan juga bertanya-tanya secara bersamaan.
"Tuan..,"
Tara segera mendekati Mr X lalu menepuk bahu pria itu dengan sedikit kencang. Mr X yang sedang menatap Amora langsung tersadar lalu menatap ke arah Tara.
"Ada apa?" tanya Mr X dengan menatap tajam Tara karena berani mengganggunya.
"Tuan sejak tadi anda terus diam seperti bingun membuat Nona Amo.., Nona ini bingung harus apa," kata Tara yang hampir keciplosan mengatakan nama Amora.
'Aku berharap Nona Amora tidak menyadari akan hal itu,' kata Tara dalam hatinya menatap was-was pada Amora.
"Apa Tuan baik-baik saja? Harusnya Tuan Tuan tidak lewat di tempat ini jika sedang dalam keadaan seperti ini. Disini memang rawan perampokan Tuan jadi lain kali jangan lewat di sini lagi." Kata AMora yang mengatakan jika jalan yang mereka lalui itu tidak aman untuk di lalui orang apalagi orang yang hanya berpergian sendiri.
"Saya baik-baik saja, terima kasih karena anda telah menyelamatkan saya Nona." Ungkap Mr X dengan suara yang lemah lembutk
Glekk
Tara yang mendengar nada suara lemah lembut Mr X langsung kaget melototkan mata dengan menatap sang Tuan bergantin menatap Amora.
"Sama-sama Tuan, lalu anda Tuian baju biru harusnya anda tidak membawa orang seperti ini di situasi seperti ini. Kau tahu membawanya bukan meringankan beban tapi menambah beban kamu tahu..! Bersyukur saja aku lewat dan menolang Tuan ini dengan cepat jika tidak mungkin Tuan ini sudah di alam lain." Omel Amora yang menyalahkan Tara.
__ADS_1
Sedangkan Tara hanya bisa diam dengan wajah yang pusat pasi karena ulah dari ucapan Amora yang sangat blak-blakan mengatakan jika Sang Tua hanyalah beban untuknya.
'Kenapa mulut gadis ini sangatlah cerewet seperti rel kereta api, apa dia tidak tahu jika saat ini nyawanya sedang dalam bahaya hanya karena ocehan mulutnya itu.'
Tara hanya bisa menyeka keringat dingin yang menetas di dahi karena saat ini dirinya benar-benar berdisko ria karena ulah dari Amora. Perlu di katahui Mr X sangat tidak di sukai jika di katakan sebagai beban.
"Saya benar 'kan Tuan?" tanya AMora yang menatap ke arah Mr X yang sejak tadi terus memperhatikannya.
Sontak saja Mr X yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung kaget dan gelagapan sendiri karena tidak tahu apa yang di tanyakan oleh Amora barusan.
"Anda hanya beban saja untuk Tuan ini bukan?" tanya Amora lagi.
Mr X yang mendengar pertanyaan itu meluncur dari Amora langsung membuat wajah Mr X langsung berubah menjadi datar. Namun hanya beberapa detik saja karena di detik berikutnya Mr X kembali dengan wajah awalnya`.
Tara yang mendengar balasan Mr X bukannya tenang justru semakin panik. Wajahnya langsung berubag pucat pasi saat melihat tatapan tajam dari sang Tuan yang di arahkan padanya.
"Nona anda...," Tara menatap tajam Amora yang hanya memasang wajah datar.
"Dengar Tuan, di dunia ini tidak ada yang gratis jika aku menolong maka harus ada balasannya. Aku tidak matre tapi di dunia ini memang serba ada harga," kata Amora dengan santai melipat tangannya di dada menatap tenang Tara dan Mr X.
"Berapa yang Nona inginkan?" tanya Tara dengan suara datar dan Dingin.
"Bagaimana jika Nona menjadi istriku," hcap Mr X tiba-tiba.
Sontak hal itu membuat Tara san Amora kaget karena apa yang dikatakan oleh Mr. sangat jauh dari eskpetasi.
"Apa yang akan Tuan berikan untuk saya?" tanya Amora yang penasaran dengan apa yang akan di tawarkan pria di depannya nya itu untuk menjadi istrinya.
__ADS_1
"Semuanya, `apapun yang kamu inginkan akan aku berikan. Asal kamu mau menjadi istriku maka duniaku akan alku berikan padamu," jawab Mr X dengan sungguh-sungguh karena itu memang dari dalam hatinya.
"Sayangnya aku tidak bisa menerimamu,"
Deg
Dada MR seperti tertimpa batu mendengar penolakan mentah-mentah Amora yang dilakukan secara terang-terangan.
"Kenapa? Apa karena wajahku yang tidak tampan? Apa karena wajahku seperti monster? Atau karena aku lumpuh hingga kau tak sudi menerimaku menjadi suami mu?"
Mr X memandang Amora dengan pandangan yang sulit di artikan matanya memancarkan kesedihan dan juga sayu ke arah Amora.
Sedangkan AMora yang mendengar apa yang di tanyakan oleh Mr X langsung terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu hanya bisa memasang wajah bodoh dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku menolakmu bukan karena itu, Wajah jelekmu bisa kita sembuhkan dengan melakukan operasi plastik misalnya sedangkan kedua kakimu kita bisa melakukan pengobatan agar kakimu bisa normal kembali. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima mu." Kata Amora dengan wajah yang tersenyum kaku.
'Astaga bagaimana bisa Nona ini berani sekali menolak Tuan secara terang-terangan seperti ini?' Tara tak habis pikir dengan wanita di depann6ya itu yang menolak langsung sang Tuan.
"Tapi kenapa?" tanya Mr X yang sangat penasaran alasan Amora menolaknya.
'Jangan sampai hanya karena Xavier br3ngs3k itu Amora menolakku jika terjadi akan aku bunuh dengan segera si kepara4t itu,' batin Mr X yang meremas tangannya menahan gugup dan amarah secara bersamaan.
"Tunggu sebentar," Amora langsung berlari di tempat persembunyiannya tadi lalu kembali dengan membawa bunga di tangannya.
"Bungai itu?" guman Tara dan Mr X yang saling melirik satu sama lain.
"Tuan lihat bunga ini, bunga ini ada pemiliknya dan pemiliknya itulah yang sedang aku tunggu untuk segera menjemputku,"
__ADS_1