Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
bab 23


__ADS_3

“Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, pokoknya wilayah itu harus aku dapatkan. Lakukan apapun itu!” kata Xavier dengan penuh penekanan menatap tajam Dante seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.


“Tapi Bos, jika begitu kita akan berhadapan dengan aparat Negara.” Timpal Dante kaget.


Bagaimana tidak kaget Dante jelas tahu bagaimana Xavier yang tidak ingin bersinggungan dengan aparat Negara. Hanya saja jika kali ini Bos nya itu bersikukuh untuk mengambil wilayah itu. Maka, dapat di pastikan jika mereka akan bersinggungan dengan aparat negara. Namun, Dante juga mengetahui berapa banyak anggaran yang di keluarkan hanya untuk membangun sebuah bangunan di daerah itu.


Dante yang tak mendengar suara dari sang bos hanya bisa menganggukan kepalanya. Tanpa di beri tahu pun Dante tahu jika apa yang di mau oleh sang bos harus ia dapatkan. Jika Xavier bilang A maka A jika Xavier bilang B maka B tidak akan pernah berubah.


“Baik Bos, akan saya lakukan.”  Dante berdiri membungkukkan bada sang Bos.


Dante berbalik bersiap untuk pergi namun baru beberapa langkah Dante kembali duduk di depan Xavier.


“Ada apa?” Tanya Xavier dengan dtar seperti biasa.


“Barang yang kita kirim ke Vietnam mengalami masalah. Kata pihak dari sana bau dan rasan ya sudah sangat berbeda dari yang kita kirim 1 bulan yang lalu.” Lapor Dante dengan kepala menunduk.


“APA LAGI INI?” bentak Xavier dengan suara tinggi.


Xavier sudah cukup emosi dengan masalah yang terjadi pada pembangunan clubnya yang ternyata di tipu. Sekarang ada lagi masalah yang lebih serius.


“Sejak kapan?”


“,,,,”


Baru saja Dante membuka mulutnya untuk berbicara menjawab pertanyaan dari sang Bos. Namun munculnya orang lain di dalam ruangan itu membuat Dante bungkam.


Ceklek


Xavier yang mendengar suara di belakangnya dengan segera berbalik. Di lihatnya Amora yang baru keluar dari ruangan pribadi miliknya. Sedangkan Dante yang melihat Amora keluar dari ruangan pribadi sang bos hanya bisa membulatkan mata. Matanya menatap penampilan Amora dari ujung kaki sampai ujung rambut.


“Jangan pandanganmu Tuan, takutnya di detik berikutnya matamu telah keluar dari tempatnya.” Sarksme Amora yang berlalu pergi.


Namun sebelum membuka pintu gadis itu menoleh kembali ke arah Dante lebih tepatnya ke arah Xavier yang berada di belakang Dante.


“Terima kasih, suatu saat aku akan membalas kebaikan anda.” Ucap Amora dengan tenang membungkukkan badannya.


Amora sangat tidak menyukai jika harus berhutang budi pada siapapun. Oleh karena itu, sekecil apapun orang yang memberinya kebaikan akan dia kembalikan berkali lipat.


Amora keluar dari ruangan Xavier dengan wajah yang lebih tenang walaupun tatapan pancaran mata gadis itu terlihat sendu tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum dan juga ceria.

__ADS_1


“Lanjutkan!” perintah Xavier kepada Dante untuk melanjutkan apa yang ingin di katakannya tadi sebelum terpotong oleh kemunculan Amora.


Dante yang tersadar dari lamunannya segera berdehem lalu kembali menghadap Xavier karena tadi sempat mengikuti pergerakan Amora yang keluar dari ruangan sang Bos.


“Menurut laporan kejadian itu telah terjadi beberapa hari yang lalu. Namun, orang-orang kita disana beranggapan jika terjadi kesalahan dengan minumannya jadi mereka belum melaporkannya kepada saya. Mereka cuma berpikir jika minumannya yang telah tercampur dengan sesuatu hingga mereka diam. Namun tadi aku mendapatkan informasi jika semua kemasan yang kita kirim semuanya sama. Rasa dan baunya berbeda dari apa yang kita kirimkan 1 bulan lalu.” Terang Dante yang membeberkan informasi apa yang baru di dapatkannya.


Prang…


Gelas yang berada di tangan Xavier pecah dengan Xavier yang membanting gelas itu di hadapan Dante.


Xavier benar-benar marah dengan level tingkat tinggi. Bagaimana bisa dirinya kecolongan parah seperti ini? Pria itu dulu tidak mendapatkan hal seperti ini namun, semenjak kelompoknya mulai naik hingga menjadi di kenal oleh kelompok lain. Kelompoknya mulai mendapatkan masalah puncaknya saat kelompoknya dari sebuah gangster menjadi Mafia dan menjadi penguasa Negara Italia. Sejak saat itu banyak musuh yang selalu mengintai selalu menyerangnya kapanpun dan dimanapun.


“Siapkan semuanya! Kita akan berangkat sebentar malam.” Kata Xavier yang penuh penekanan setiap atanya.


“Baik Bos,” Dante segera berdiri beranjak pergi dari ruangan Xavier.


Namun, baru beberapa langkah Dante melangkah kembali Xavier menghentikan langkah Dante.


“Tunggu!”


“Ada apa, bos?” tanya Dante dengan menghadap sang Bos.


“Akan saya lakukan Bos.”


Walaupun sempat bingung dengan apa yang di perintahkan sang bos. Namun, Dante tetap mengiyakan.


Sedangkan di tempat lain Amora masuk ke dalam ruangannya setelah makan siang di kantin. Wajah gadis itu terkesan daar dan cuek tanpa adanya wajah ceria ataupun tetapan ceria seperti biasanya.


Sampai di dalam Athena langsung mencari ponselnya yang ternyata berada d dalam laci mejanya mungkin Xavier yang meletakkannya. Amora mengambil benda persegi itu dengan mulai mengotak atik benda itu.


Bersyukur karena Amora tidak menjadikan foto keluarga besarnya sebagai wallpaper ponselnya jika memasang foto keluarga besar ada kemungkinan Xavier akan mengetahui penyamarannya.


“Hallo Queen,”


“Lakukan tugas A!”


“Baik Queen.”


“Patikan keberadaanmu tidak terhendus dan mereka juga tidak mengetahui keberadaanku. Pastikan kunci ruanganku dengan rapat dan suruh beberapa mutan yang telah sempurna untuk menjadi pelayan di dalam mansion daddy.”

__ADS_1


“Akan saya lakukan Queen.”


Amora mematikan sambungan teleponnya setelah memberi perintah pada anak buahnya yang berada di sebrang sana.


“Akhirnya selesai, dengan begini aku tidak perlu khawatir dengan keadaan daddy ke depannya.” Guman Amora yang berbalik ke belakang.


“Shit, CCTV.”  Amora mengumpat dalam hati melihat CCTV yang berada di sudut ruangan.


Tak punya pilihan lain Amora berpura-pura berjalan mendekati CCTV yang terpasang pada sudut ruangan yang berada di sebuah vas bunga.


“Ini apa?” guman Amora yang berbalik tak sengaja kakinya tersandung oleh kakinya sendiri.


Aaaaaa


Brakk


“Tanganku..!” Amora memekik kesakitan saat punggung tangannya terbentur dengan lantai.


“Sakit sekali,” ringis Amora yang meniup-niup tangannya.


Amora melihat CCTV itu yang sudah rusak karena pecah. Tak hanya itu Amora bahkan tambah merusaknya.


“Sial, hanya karena menghilangkan barang bukti aku sampai melakukan ini. Jika daddy tahu pasti ia akan mengomeliku.” Gerutu Amora yang berwajah sendu.


Tak mau ambil pusing Amora segera berdiri lalu berjalan keluar dari pintu menuju ruangan Xavier.


Tok


Tok


Tok


“Masuk!”


Amora langsung masuk kedalam ruangan Xavier dengan napas yang ngos-ngosan.


“Tuan ini apa?”


“KAU…”

__ADS_1


__ADS_2