Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
bab 132


__ADS_3

“Tara..! Dante..!” panggil Xavier.


“Iya Tuan,” jawab Tara dan Dante serentak.


“Ikat dan bakar mereka semua hidup-hidup…!”


“Baik Tuan,”


Xavier langsung berlalu setelah memberi perintah kepada kedua orang kepercayaannya untuk melanjutkan mengeksekusi para pengkhianat itu.


Sedangkan Tara dan Dante langsung menjalankan perintah dari sang Tuan. Kedua pria itu tentu tak ingin mendapatkan masalah dengan adanya kemarahan sang Tuan saat ini. Jika sampai terjadi maka tak ada yang menjamin apa mereka masih bisa melihat matahari esok atau tidak seperti sekarang ini.


Para pengkhianat itu hanya bisa pasrah dengan menundukan kepala bersama bayang-bayang penyesalan karena berani mengkhianati sang Tuan yang sebenarnya.


Di sisi lain Xavier sampai di kamar langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan kumpulan darah di tubuhnya itu.


Srekkkl


Xavier membuka kemejanya dengan sekali tarikan membuat kancing kemejanya terbuka dan berhamburan di lantai.


“Brengsek..!” umpat Xavier dengan napas yang memburu.


Xavier menyalahkan slower membiarkan dirinya berada di bawah aliran air dari slower itu dengan harapan bisa membuatnya sedikit lebih tenang.


Brukkk


Xavier memukul tembok kamar mandi dengan keras karena merasa sangat marah dengan apa yang terjadi ini. Pria itu memukul tembok tanpa peduli jika tangannya berdarah dan terluka.


“Aku memungut mereka di jalanan, menghidupi mereka dengan layak, tapi apa balasannya? Beraninya mereka mengkhianatiku..!” geram Xavier yang mengepalkan tangannya menahan emosi.`

__ADS_1


Setelah merasa kedinginan Xavier segera keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja. Pria itu dengan langkah tegas berjalan ke arah ranjangnya lalu mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil di tangannya. 


Ting


Xavier yang mendengar nada dering ponselnya hanya diam namun saat melihat siapa nama pengirim pesan itu dalam satu kali gerakan cepat Xavier langsung meraih ponselnya.


“Athena…,” guman Xavier yang dengan senyum ceria di wajahnya.


Dengan wajah berseri-seri Xavier membuka pesan itu namun dahinya langsung mengernyit bingung melihat pesan yang di kirimkan oleh wanita yang dia cintai itu.


Berhati-hatilah Elio Lostanzo akan menyerang kalian dalam waktu 3 hari lagi di bantu oleh Ryuga ketua Yakuza dari jepang


Athena


Xavier langsung menegang melihat apa yang telah di kirimkan oleh Athena. Jika seperti ini berarti apa yang diketahui Athena lebih dari apa yang mereka pikirkan. Xavier menegang bukan karena takut atau tak siap menghadapi Elio dan Ryuga tetapi pria itu lebih takut jika Athena juga akan terkena dampak dari hal ini.


Xavier merasa bangga karena wanita yang dia cintai memiliki otak yang sangat jenius dari yang lain. Akan tetapi karena otak jeniusnya itu pula membuat Xavier merasa selalu bergerak di belakang Athena. Di saat dia masih ingin mencari tahu di Athena sudah mengetahui semuanya secara lengkap.


Tak ingin berdiam diri terus di dalam kamar Xavier segera berdiri lalu berjalan menuju walk in close mencari pakaian yang akan digunakan olehnya. Hingga beberapa menit kemudian Xavier keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi tak lupa juga membawa ponselnya.


Xavier berjalan menuju aula belakang tempat ia mengeksekusi para pengkhianat itu. Sampai disana terdengar teriakan kesakitan orang-orang yang berada di dalam kobaran api itu. Namun Xavier hanya bersikap acuh berjalan menuju Tara dan Dante.


“Tuan kami sudah menjalankan apa yang anda perintahkan,” lapor Tara dengan datar.


“Kalian berempat ikut aku ke ruang kerjaku..!” ucap Xavier penuh akan penekanan pada setiap katanya.


“Baik Tuan,” jawab mereka berempat dengan serentak.


Xavier kembali berbalik menuju masuk kembali dalam markasnya itu. Sedangkan keempat pria di belakang Xavier hanya bisa mengikuti langkah dari sang Tuan. 

__ADS_1


Keempat pria itu tahu jika saat ini pasti akan ada yang lebih serius untuk mereka hadapi terbukti dengan wajah datar dan dingin Xavier saat ini. Walau wajah itu tak ada lagi kemarahan tapi tetap saja mereka yakin ada yang tidak beres dengan semuanya.


“Tutup pintunya..!” perintah Xavier tanpa menoleh ke arah mereka.


Dante yang masuk terakhir segera menutup dan mengunci pintunya hingga tak akan ada yang bisa menguping pembicaraan mereka itu.


“Ada apa Tuan? Kenapa Tuan mengumpulkan kami semua disini?” tanya Dante yang sedikit lebih berani dari ketiga orang itu.


“Apa masih ada penghianat yang belum kalian tangkap?” tanya Xavier dengan datar dan dingin.


“Sudah semua Tuan, hanya saja yang sedang kita eksekusi di lapangan aula belakang tadi adalah penghianat dari kelompok kita,” terang Tara karena itu memang tugasnya.


“Apa maksudmu dengan anggota kita?” bentak Xavier dengan marah.


“Mereka hanya anggota kita biasa Tuan, sedangkan masih ada beberapa mata-mata dari kelompok lain yang di kirimkan di markas kita,” terang Tara dengan keringat dingin membasahi wajahnya.


Xavier yang mendengarnya sontak saja mengepalkan tangan dengan kuat menahan amarah. Dirinya ingin sekali saat ini untuk memenggal kepala mereka semua tapi Xavier sadar ada yang lebih mengkhawatirkan dari semua ini.


“Bunuh mereka semua lalu kirimkan kepala mereka pada kelompok itu..!”


“Baik Tuan akan saya lakukan nanti,” 


“Sekarang dengarkan aku baik-baik ada hal penting yang harus kita lakukan,”


“Baik Tuan,” keempat pria itu dengan patuh duduk tenang memasang telinga mereka dengan baik.


“Elio Lostanzo dan Ryuga akan menyerang kita dalam waktu 3 hari lagi..!” ucap Xavier dengan lantang.


“A…APA..?”

__ADS_1


__ADS_2