
Saat melihat anaknya Helena sudah masuk ke dalam kamar Freya segera menarik tangan Amar, sekarang adalah waktunya Freya berbicara dengan Amar, tak akan ada waktu lagi, takut Amar berubah fikiran juga.
"Bisa kita bicara sebentar Amar, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu "
"Tentu saja, apa yang ingin kamu bicarakan denganku. Sepertinya sangat penting Freya "
"Aku menerima lamaranmu. Aku mau menikah denganmu" Freya menatap Amar dengan serius, dia ingin melihat raut wajah Amar, Freya sangat takut sekali kalau Amar sudah berubah fikiran.
Amar yang masih tidak percaya, mencubit lengannya. Apakah Freya menerimanya, perjuangannya selama ini dirinya untuk mendapatkan Freya berhasil juga, akhirnya Amar benar-benar tak menyangka akhirnya mendapatkan jawabannya tapi Amar ingin memastikannya kembali.
"Boleh aku mendengarnya sekali lagi, apa aku tidak mimpi, apa ini benar-benar nyata "
"Kamu tidak mimpi, kita baru saja pulang dari restoran. Lalu kenapa tiba-tiba jadi mimpi aku benar-benar menerima lamaran kamu waktu itu yang sudah tertunda bertahun-tahun Amar. Aku ingin menikah dengan kamu "
Amar langsung memeluk Freya dengan erat, dia begitu senang dengan jawaban Freya ini tidak sia-siakan Amar menunggu Freya selama 6 tahun. Akhirnya semuanya akan bahagia pada waktunya juga.
Amar melepaskan pelukannya dari Freya. Freya hanya tersenyum canggung saja, Freya juga masih tak menyangka akan menerima Amar.
"Aku akan buatkan kopi untukmu dulu, kamu bisa tunggu di balkon ya"
"Tentu saja sayang. Aku tunggu kamu ya "
Freya segera pergi ke arah dapur, dia membuat kopi untuk Amar. Apakah keputusannya ini sudah benar atau tidak. Tapi Freya tidak bisa kalau terus sendiri, Freya ingin lukanya ini sembuh dengan utuh.
Ya dengan cara menerima Amar, mungkin selama ini lukanya hampir sembuh tapi ketika melihat dua orang yang menyakitinya luka itu yang baru saja kering kembali terbuka. Sungguh hebat kan mereka itu bisa membuka luka nya dengan sekejap saja.
Freya segera melangkah kearah balkon dan mendekati Amar, menyimpannya dimeja dan Freya berdiam diri disamping Amar. Freya merasa sangat canggung sekali dengan Amar.
"Aku begitu mencintaimu Freya, sampai-sampai aku tidak bisa melepaskanmu meskipun kamu berulang kali menolakku, tapi aku tetap bertahan karena aku memang ingin benar-benar denganmu. Aku ingin serius dengan kamu, tapi keputusanmu untuk menikah denganku sedikit agak mendadak. Saat Dimas datang kamu tiba-tiba menerimaku, mengapa saat Dimas baru datang kamu memberi aku jawabannya, apa semuanya ada sangkut pautnya dengan Dimas"
Freya langsung menatap Amar "Tidak ada hubungannya dengan Dimas ataupun Gea, aku ingin menjalani rumah tangga lagi. Aku ingin kembali bisa bahagia seutuhnya, aku tahu aku sekarang bahagia tapi aku ingin lebih bahagia lagi, agar ada seseorang disampingku yang bisa membantuku, yang bisa menyayangiku, yang bisa memperhatikanku dan bisa mengerti, aku juga ingin Ayah untuk anak-anakku untuk Irsyad dan juga Helena, apalagi Helena sudah menganggapmu sebagai ayahnya dari dulu kan Amar"
"Anak-anakku sudah sangat dekat dengan mu Amar, mereka tahu yang terbaik untuk Ibunya dan kamulah yang terbaik untuk aku laki-laki yang mau menerima keadaanku yang seperti ini "
"Aku senang keputusanmu ini bukan karena kamu bertemu dengan Dimas. Aku bahagia dengan keputusanmu ini Freya, aku akan membuatmu bahagia aku akan selalu ada disamping kamu dan aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Aku akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kamu dan juga anak-anak kita nanti, aku janji itu sama kamu "
Freya hanya bisa tersenyum mendengar semua itu, lagi-lagi Amar memeluk Freya dengan erat. Freya yang tadinya tidak membalas mencoba untuk memeluk Amar juga, dia harus segera membuka segalanya.
Freya tidak bisa diam begitu saja dan membiarkan Amar yang mencintainya sendiri. Freya akan mencoba untuk mencintai Amar, mungkin selama ini Freya punya perasaan pada Amar, tapi Freya selalu menutup-nutupinya dan menganggap semua laki-laki sama saja.
Tapi Freya akan mengubah semua itu, laki-laki tak sama semuanya laki-laki berbeda, lihatlah yang ada dihadapannya ini, dari dulu mengejarnya dan Freya belum pernah melihat Amar pergi dengan perempuan lain selain dirinya saja.
Freya yakin Amar tak akan seperti Dimas, Amar berbeda, Freya yakin mereka akan bisa bahagia. Freya sudah membuka hatinya lagi sekarang.
...----------------...
Freya yang ada di kamar benar-benar tidak bisa tidur, terus saja terngiang-ngiang penghianatan Dimas dan juga Gea, dari tadi Freya terus membolak-balikkan badannya. Rasanya fikirannya ini tak bisa diajak kerja sama.
"Aku tidak boleh seperti ini, aku tidak boleh memikirkan mereka berdua kenapa juga Dimas dan Gea harus kembali, hidupku sudah bahagia aku sudah tidak memikirkan mereka berdua lagi tapi mereka malah datang lagi. Mereka benar-benar seperti penyakit yang datang tiba-tiba "
__ADS_1
Freya bangun dari tidurnya dia menatap cermin dan menguatkan dirinya "Kamu harus bisa Freya menghadapi semua ini. Dimas sudah menghancurkan masa lalu kamu dengan sangat dalam sekali dan di sana ada Gea yang ikut andil melakukan hal itu. Sekarang aku tidak boleh membiarkan mereka berdua menghancurkan aku lagi, mereka tidak boleh masuk ke dalam masa depanku lagi aku tidak mau sampai hal itu kembali terulang, aku tak mau mereka menghancurkan segalanya lagi "
"Mungkin Dimas adalah Ayah biologis dari anakku Helena, tetapi ayahnya sekarang hanya Amar saja, tidak ada yang lain. Aku tidak akan pernah memberitahu Dimas yang sebenarnya dia sudah mencampakkan aku dengan begitu dalam, dia begitu acuh dengan aku maka aku pun tidak akan pernah memberitahu semua itu padanya, jadi untukmu Dimas selamat tinggal kamu bukanlah ayah dari Helena dan kamu bukanlah bagian dari hidup kami lagi, bersenang-senanglah dengan perempuan pilihanmu itu"
"Menurutmu dia yang terbaik kan untuk kamu, maka habiskan waktu kalian berdua, aku tak akan menganggu kalian "
...----------------...
Dimas sama halnya tak bisa tidur, dia terus saja mengingat wajah Freya, apalagi Helena kenapa wajah mereka berdua terus saja terngiang-ngiang dalam pikirannya. Dimas segera bangkit dan mengeluarkan foto Freya yang selama ini selalu dia simpan di sebuah kotak rahasia, agar Gea tidak menemukannya.
Dimas menatap foto itu dan mengelusnya "Freya apakah semua pilihanku waktu itu salah, kenapa aku harus memilih sahabatmu padahal kebahagiaan sudah ada dalam hidup kita. Aku sungguh bodoh ya Freya. Padahal apa kurangnya kamu sampai aku mengkhianati kamu "
"Kenapa waktu itu aku bisa tergoda, kenapa aku bisa terjerumus sedangkan kamu begitu cantik banyak yang ingin denganmu, kamu juga pintar tapi aku kenapa bodoh mencari perempuan lain bahkan tertarik dengan sahabat kamu sendiri. Sungguh hidup ini membuat aku binggung Freya "
"Aku sekarang sadar cinta yang aku miliki pada Gea hanyalah cinta sesaat, seperti apa yang mama katakan waktu itu. Setiap kata yang Mama ucapkan memang benar aku memang mencintai Gea hanya sesaat, hanya tertarik saja, cinta ini tidak selamanya tidak seperti padamu Freya bertahan selama 10 tahun bahkan sampai sekarang aku tetap mencintaimu"
"Tak ada yang berubah sama sekali dalam hati ku ini Freya, kamu masih yang pertama dan bertahan "
"Tapi waktu tidak bisa terulang lagi, semuanya tidak akan bisa kembali lagi. Kamu tidak akan bisa menjadi milikku, kulihat kamu sudah bahagia dengan Amar apalagi kalian sudah punya anak Helena, aku yakin kamu juga tidak akan pernah mau bersamaku. Aku sudah tak punya apa-apa "
"Aku benar-benar bodoh laki-laki yang melepaskan perempuan yang benar-benar selalu ada untukku, bahkan disaat aku dulu tidak punya apa-apa kamu masih bertahan denganku Freya, kamu masih bisa tersenyum dan kamu tidak pernah marah-marah, kamu terus memberikan semangat padaku "
"Andai semuanya bisa terulang lagi, mungkin aku tidak akan mungkin mengikuti egoku, mengikuti hatiku aku akan terus mempertahankan kamu bagaimanapun caranya.Aku laki-laki yang tak bersyukur Freya "
Dimas mencium foto itu, lalu dia menyimpan kembali foto Freya di tempat semula. Dia tidak mau sampai foto ini ditemukan oleh Gea dan nanti akan malah jadi ada pertengkaran di antara mereka berdua.
Dimas pikir dulu Gea adalah perempuan yang lemah lembut, dia adalah perempuan yang bisa diatur tapi nyatanya apa Gea perempuan yang keras dan tidak mau mengalah dalam hal apapun.
Gea selalu ingin menang kalau mereka sedang berdebat, Gea juga tidak mau mendengarkan perkataannya jika Freya dia selalu mengikuti kata-kata Dimas, memang benar sesuatu yang dipilih terburu-buru akan seperti ini kan.
Sesuatu yang dipilih tanpa persetujuan orang tua memang akan seperti ini, apalagi Dimas juga sudah menyakiti mamanya demi bisa bersama Gea.
...----------------...
Pagi-pagi Freya keluar dari kamarnya, dia melihat Helena, Irsyad dan juga Mama sedang makan bersama. Freya segera menghampiri mereka dengan senyumannya.
"Sepertinya ada kabar baik nih "ucap Mama sambil mencolek tangan Freya, Mama sangat tahu bagaimana Freya.
Freya mengangguk setuju "Aku sudah menerima Amar. Aku akan menikah dengannya aku akan membuka lembaran baru bersamanya, aku yakin bisa bahagia dengan Amar "
Astuti tentu saja kaget mendengar itu, dia bahagia sekali dengan keputusan Freya inilah yang seharusnya dari dulu diambil oleh Freya, dia menikah lagi dan bahagia bersama laki-laki pilihannya. Amar adalah laki-laki yang akan bisa membuat bahagia Freya, Amar tidak akan seperti anaknya.
Anaknya adalah contoh yang buruk, jangan sampai ada yang mengikuti jejaknya benar-benar membuat orang tua malu saja.
"Mama akan menikah dengan paman Amar. Benarkah ini Irsyad tidak sedang bermimpi kan, tapi Irsyad akan selalu mendukung keputusan Mama, Irsyad yakin Mama akan bahagia bersama paman Amar, dia baik dari dulu dia yang telah menggantikan semuanya, bahkan Paman Amar yang sudah membuat aku sadar kalau laki-laki itu tidak sama semuanya"
Irsyad begitu senang mendengar kabar itu, Irsyad ingin mamahnya bahagia, dan paman Amar adalah pilihan yang sangat bagus, paman Amar pasti akan bisa membuat Mamanya bahagia sekali.
"Terima kasih Irsyad karena kamu sudah mau mendukung Mama, Mama sudah memutuskan semuanya mama akan membuka kembali sesuatu yang sudah mama tutup"
__ADS_1
Irsyad mendekati mamanya dan memeluknya dari samping. Helena yang memang belum mengerti apa-apa hanya diam saja, dia senang-senang saja mamanya bersama ayahnya bahagia, dari dulu Helena hanya tahu kalau Amar lah ayahnya.
"Jadi ayah nanti akan tinggal di sini, dirumah ini bersama Mama, tak akan pulang-pulang lagi kan Ayah "
"Iya nanti ayah akan tinggal di sini, kita akan sama-sama, kita akan bisa sarapan bersama-sama dan makan malam bersama sama juga "
"Akhirnya ayah bisa tinggal di sini juga, jadi Ayah tidak pulang ke rumahnya lagi Ayah akan bisa tidur sepuasnya dengan Helena, aku senang sekali mama. Ya ampun kabar ini membuat aku makin bersemangat"
Freya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Astuti sampai meneteskan air mata rasanya bahagia sekali penantiannya dari dulu akhirnya tercapai juga, kebahagiaan Freya akan datang lagi dia akan bahagia.
Setelah cukup lama mereka mengobrol dan makan bersama Irsyad dan juga Helena pergi ke sekolah bersama-sama, sedangkan Freya dan juga mama masih ada di rumah, Freya mendekati mama dan menepuk bahunya.
"Ada apa Freya"
"Aku tahu waktu itu mama menangis kan saat Dimas datang kemari, jika Mama ingin memperbaiki hubungan Mama dengan Dimas dan juga Gea aku tidak keberatan, kalian berhak bahagia Mama dari dulu membelaku sedangkan Dimas Mama tinggalkan begitu saja, lebih baik Mama perbaiki saja semuanya mau bagaimanapun Dimas tetap anak Mama kan"
Astuti diam saja, Astuti tidak mau membuat Freya sakit hati dengan dia kembali menerima Dimas. Mau bagaimanapun Dimas sudah sangat salah sekali dan Astuti juga tidak mau menerima Gea sebagai menantunya sampai kapanpun.
Gea tak akan pernah bisa mendapatkan hatinya sampai kapan pun itu. Gea hanya akan menjadi perempuan tidak berguna dimatanya. Memang dari awal juga Astuti tak menyukai Gea.
"Aku tidak yakin kalau aku bisa menerima anakku kembali Freya, aku tidak bisa menatap wajah istrinya ataupun menatap wajahnya. Luka yang mereka berikan padamu terlalu dalam sampai-sampai aku bisa merasakannya. Aku tidak mau membuatmu sakit hati lagi. Aku tidak mau kamu berpikir yang tidak tidak, aku lebih baik seperti ini saja Freya "
Freya menggenggam kedua tangan Mamanya itu "Tapi kamu dulu sudah memilihku, kamu membela menantumu ini. Mama juga harus memberi maaf pada Dimas aku sudah mulai melupakan segalanya, aku sudah punya Amar, aku punya Helena, Irsyad jadi apalagi aku sudah punya segalanya mah. Mungkin Dimas butuh bimbingan Mama ke depannya, dia sangat membutuhkan Mama "
Astuti tidak menjawabnya, memang Astuti sangat berat sekali untuk menerima kembali anaknya, tapi dalam hati kecilnya Astuti ingin memeluk Dimas dengan erat. Ingin merangkul Dimas dan memberitahu Dimas kalau selama ini yang dia pilih ya salah.
"Tapi aku minta satu hal padamu mah, aku tidak mau sampai Dimas tahu tentang Helena. Aku ingin Helena tetap menganggap Amar adalah Ayah kandungnya. Aku tidak mau sampai Dimas tahu tentang siapa Helena sebenarnya, Helena akan tetap menjadi anak Amar dia tidak akan pernah menjadi anak Dimas sampai kapanpun mama bisa kan melakukan itu, mama bisa kan menjaga semua rahasia itu "
"Tentu Mama akan melakukannya. Mama tidak akan membocorkan tentang masalah itu. Helena akan tetap menjadi anak Amar, Mama tidak akan pernah membahas tentang Helena sampai kapan pun itu"
"Terima kasih mah, jika nanti Dimas datang kemari lagi Mama harus bicara dengan dia lagi, bicara dari hati ke hati jadi siapa tahu kalian berdua bisa mendapatkan solusi terbaik"
"Aku tahu semuanya sangat berat mah, bahkan untukku juga sama beratnya tapi mau bagaimanapun Dimas adalah darah daging Mama. Dimas adalah anak mama, ke samping kan dulu saja masalah Gea anggap saja dia tidak ada mama harus berbaikan dengan Dimas. Sepertinya hidupnya sudah tidak terarah lagi mah. Dia tidak punya tujuan hidup yang pasti, dia seperti hilang jalan saja "
"Aku kemarin malam bertemu dengan mereka berdua. Sekarang Dimas bekerja di Rumah Sakit Amar dan juga Jordi" jelas Freya
"Apa kenapa kamu tidak bilang, kenapa kamu baru bilang sekarang sayang, kalau tahu begitu Mama ikut, rasannya mama ingin menghajar perempuan itu lagi "
"Aku juga awalnya tidak tahu, aku tidak tahu akan bertemu Dimas dengan Gea, tapi setelah bertemu dengan mereka berdua rasanya tidak buruk, di sampingku ada Amar dan ada Helena yang bisa menguatkan aku, jadi apalagi yang perlu aku takutkan. Semua yang terjadi antara aku Dimas dan Gea adalah sebuah masa lalu. Jadi aku tidak mau terjerumus lagi dalam masa lalu itu"
"Aku memang masih membenci mereka berdua tapi aku tidak mau membuat hubungan mama dan juga Dimas menjadi kacau bahkan semakin kacau, mamah bisa bertemu dengan Dimas kapanpun dan jangan memikirkan perasaanku, karena aku sudah baik-baik saja aku sudah melupakannya aku sudah mantap akan menikah dengan Amar. Mungkin kami akan bertunangan dulu karena kami juga harus menyiapkan apa saja saat nanti untuk pernikahan"
"Yang terpenting aku dan juga Amar ada ikatan dulu, kemarin malam juga Dimas serta Gea mengetahui aku bersama Amar adalah suami istri dan Helena adalah anak kami berdua, jadi biarkanlah mereka berpikir seperti itu sampai nanti "
Astuti tidak bisa berbicara apa-apa, dia memikirkan masukan dari Freya apakah dia harus menemui anaknya, apakah dia harus berbicara dengan Dimas baik-baik tapi kalau melihat wajah Dimas pasti masa lalu itu terus saja terngiang-ngiang.
Di sini bukan hanya Freya saja yang disakiti Dimas, banyak orang yang disakiti Dimas. Dimas memang sudah membuat semua orang kecewa dengan pilihannya, dengan apa yang dia lakukan kalau Dimas dulu tidak berselingkuh mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, mungkin keluarganya akan utuh dan tidak akan pernah tercerai-berai seperti ini.
Sungguh perempuan itu memang benalu, perempuan itu seharusnya dari awal tak usah dikasihani biar saja akan terjadi apapun padanya. Seharusnya Astuti juga bertindak tegas pada Freya untuk tidak membawa seorang perempuan ke dalam rumah dan pada akhirnya kacau kan.
__ADS_1