Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 39 Tidak selamat


__ADS_3

"Freya tenang, kita akan kerumah sakit sekarang. Tenang ya kamu harus tenang "


Freya hanya menganggukan kepalanya, pikiran Freya sudah kacau bagaimana dengan keadaan Gea, apa yang terjadi padanya. Kenapa bisa dibawa ke rumah sakit lalu Ayahnya ke mana.


Saat sudah ada dirumah sakit Freya langsung berlari masuk dan menuju ruangan operasi, tadi Freya sudah diberi tahu lagi.


"Apa kamu keluarganya "


Freya menatap seorang laki-laki asing ada dihadapannya "Iya. Apa kamu yang menolong Gea "


"Iya aku yang menolong perempuan itu, keadaannya sungguh mengenaskan sekali. Dia ada di jalanan dan sepertinya dia sudah dilukai, ada pendarahan juga. Apakah dia sedang hamil ? "


"Hamil ? " Freya binggung, kenapa Gea hamil dia kan belum menikah.


"Ya, tapi syukurlah kamu sudah datang. Aku akan pulang ya semoga dia lekas sembuh "


"Baiklah, terimakasih Pak karena sudah membantu teman saya "


"Tentu, sama-sama "


Freya terduduk dengan lemas. Gea hamil oleh siapa, apakah Ayahnya yang menghamilinya ? Kenapa Gea tak bercerita padannya kenapa Gea tak bilang apa-apa tadi padannya.


"Sayang bagaimana "


"Dia pendarahan "


"Pendarahan ? Dia sedang mengandung bukannya belum menikah sayang "


Freya mengelengkan kepalanya, binggung dengan semua yang terjadi. Dimas mengambil ponselnya dan akan mengabari Ayahnya Gea.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama langsung diangkat "Halo Pak Dimas ada apa, apakah ada perkembangan tentang kerjasama kita ini. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan atau mungkin tanyakan padaku"


"Pak Erik aku hanya ingin memberitahu kalau Gea ada di rumah sakit. Gea ditemukan di jalanan oleh orang lain dan keadaannya sangat parah sekali, katanya sih sampai pendarahan tapi kami belum tahu pasti. Kami juga akan menelpon polisi untuk mengusut kasus ini sepertinya dia dilukai oleh seseorang"


Erik mengusap wajahnya dengan gusar, kenapa bisa Gea keluar, kenapa dia bisa ada dirumah sakit. Dasar anak bodoh Gea itu. Habislah uang yang baru saja dirinya dapatkan pasti akan habis, akan dikembalikan lagi.


"Apa anakku ada di rumah sakit, baiklah aku akan segera kesana, aku akan segera menyusul. Tadi Gea izin padaku untuk jalan-jalan bersama teman-temannya, tapi kenapa dia sampai bisa kecelakaan seperti itu. Aku akan hubungi temannya itu, Gea ini kadang suka nakal sudah aku bilang jangan main malam-malam tadi dia nekat dan pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan kata-kataku "


"Baiklah Pak kami tunggu, mungkin Bapak juga ke depannya harus lebih berhati-hati lagi katanya Gea hamil, Bapak harus lebih memperhatikan pergaulannya lagi, kasian kan nanti yang akan menjadi suami Gea "


"Anak itu, baiklah aku akan kesana. Aku nanti akan menasehati anak nakal itu"


Erik langsung mematikan sambungannya. Erik mondar mandir binggung harus melakukan apa. Apalagi sudah membawa-bawa polisi. Erik takut kalau Gea akan berbicara dan mengungkapkan segalanya pada polisi.


Kalau sampai semuanya terbongkar habislah dirinya ini akan dipenjara, mau disimpan dimana wajahnya ini. Apalagi dirinya ini seorang pengusaha.


Tok tok tok


"Kamu ini bagaimana Erik, perempuan itu malah kabur. Aku ingin uangku dikembalikan aku tidak mau tahu harus utuh dia itu membuatku kesal saja. Aku yang tadinya ingin bersenang-senang malah jadi marah-marah seperti ini kan. Aku muak dengannya" marahnya.


"Tapi kamu juga sudah melukainya kan, aku tidak mau mengembalikan uangmu ini. Aku harus menggunakannya untuk berobat Gea , kamu jangan seperti itu. Kamu juga sudah membelinya kan maka tidak bisa kamu mengambil uangnya lagi"


Erik langsung didorong oleh laki-laki itu "Ya aku memang sudah melukainya, karena dia sudah melawanku. Sudah berani menolak aku, aku tidak peduli dia mau terluka ataupun mau mati yang terpenting kembalikan uangku. Karena aku belum mencicipinya sama sekali. Kamu bohong katanya anakmu berpengalaman, tapi nyatanya apa dia sama sekali tidak tahu apa-apa, maka kembalikan uangku apalagi dia sedang hamil"


Erik mengelengkan kepalanya, tapi laki-laki itu yang kesal langsung menghajar Erik "Baiklah baiklah aku akan mengembalikan uang itu padamu. Jangan terus pukul aku, sakit tahu "


"Bagus, kemari kan uang ku. Aku tak akan percaya lagi padamu Erik, kamu sudah membuatku kecewa dengan memberikan perempuan seperti dia, tidak punya pengalaman sedikitpun malah menyusahkanku saja kabur-kaburan seperti anak kecil "


Erik mengambil uang yang baru saja dirinya hitung, Erik memberikan uangnya dan orang itu langsung pergi dari rumah Erik. Sungguh hari ini, hari tersialnya.

__ADS_1


"Sialan kamu Gea, malah membuat aku rugi. Dasar perempuan tak berguna kamu Gea "maki Erik yang kesal uangnya sudah habis semuanya sudah tak ada yang tersisa lagi.


Bagaimana hidupnya kedepannya. Erik sudah tak punya uang lagi, semuanya sudah habis. Gea harus menganti semua uangnya itu, tidak mau tahu uangnya harus kembali banyak.


...----------------...


Operasi sudah selesai dan dokter juga sudah memberitahu Freya kalau mereka tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan Gea. Berarti benar kan Gea sedang mengandung.


Freya sampai menangis mendengar semua itu, padahal temannya belum menikah tapi dia sudah mengandung apa yang sudah terjadi pada temannya itu. Freya tahu betul kalau Gea tidak akan gegabah.


"Sayang sudah jangan terus menangis "


"Sudah aku bilangkan padamu kalau ada yang tidak beres. Aku bisa merasakannya sekarang kejadian kan"


"Iya sayang, maafkan aku meragukan kamu. Tapi sudah ya jangan terus menangis sayang. Aku tidak bisa melihat kamu terus menangis seperti ini "


Freya memeluk erat suaminya. Gea belum bisa di kunjungi. Freya dan Dimas jadi menunggu diluar "Pasti ini ulah Ayah tirinya Dimas, Gea tidak mungkin hamil karena kemauannya dia adalah orang yang paling menjaga kehormatannya, aku mengenal Gea "


"Iya sayang, aku mengerti nanti kalau sudah pulih kita tanyakan pada Gea. Sekarang kamu tenang dulu ya. Jangan menangis lagi sayang "


"Aku tak bisa, aku sedih sekali melihat teman ku seperti itu "


Dimas mengusap kepala sang istri, memberi kekuatan padannya. Dimas mengerti apa yang dirasakan oleh sang istri.


"Apakah kamu sudah menelfon Ayah tirinya itu "


"Sudah aku sudah menghubunginya pasti dia sebentar lagi akan kesini "


"Baguslah, aku sudah ingin memukulnya. Aku akan menghajarnya "

__ADS_1


Dimas kembali mengusap punggung sang istri, agar istrinya tak terus marah-marah. "Sudah sayang, jangan fikirkan itu, kamu hanya perlu fokus pada kesembuhan Gea saja ya. Sudah biarkan saja dia. Nanti juga akan ada polisi kan"


__ADS_2