
Irsyad yang akan makan binggung melihat neneknya yang menangis. Irsyad yang khawatir segera menghampirinya.
"Nek kenapa nenek menangis, apa ada yang terjadi nek"
"Ayah kamu Irsyad, dia kecelakaan, tolong antarkan nenek kesana"
"Hah kecelakaan ? "
"Iya ayo antar nenek Irsyad, kali ini saja tolong "
Irsyad sebenarnya tak peduli dengan ayahnya yang kecelakaan tapi melihat neneknya yang seperti ini menjadi tak tega juga.
Irsyad langsung mengambil kunci mobil dan memangil Helena juga untuk ikut, tak mungkin Irsyad meninggalkan adiknya itu dirumah.
Mama Astuti sendiri sudah ada didalam mobil, mama Astuti benar-benar lemas mendengar kabar ini. Padahal baru saja Dimas menemuinya dan mereka mengobrol tapi sekarang anaknya sudah ada dirumah sakit.
Mama Astuti akan terus berdoa untuk anaknya itu, mama Astuti tak mau sampai terjadi apa-apa dengan anaknya itu, meskipun Dimas sudah membuatnya kecewa tapi mau bagaimana pun dia adalah anaknya.
...----------------...
Freya kembali membuat coklat hangat, satu untuknya dan satu untuk suaminya. Freya mencoba tidak memakai sandal tapi dinginnya itu makin menusuk saja, Freya benar-benar tak kuat sekali.
Freya kembali memakai alas kaki lagi, dinginnya seperti kita menginjak es saja. Freya kembali fokus membuat coklat hangat. Freya tak mau suaminya yang bergerak membuat kan ini itu, Freya dari tadi tak diperbolehkan memasak lagi atau melakukan hal lain sekali diatas tempat tidur saja.
Mereka sekarang duduk di balkon kamar, Freya terkesima dengan lampu yang menerangi perkebunan. Seperti bintang jatuh saja, Freya suka melihat ini kalau Freya rumahnya disini pasti ini akan menjadi rutinitas hariannya, untuk menenangkan fikirannya.
Amar terus merangkul istirnya agar hangat, mereka juga sudah memakai selimut tapi tetap saja terasa dinginnya ini. Keduanya memegang coklat panas sambil menatap pemandangan malam yang indah ini.
Amar mencium puncak kepala istirnya, lalu mencium pipinya juga, Freya langsung menatap suaminya, tapi Amar langsung menyatukan bibir mereka. Amar sama sekali tak memberi jeda pada istrinya itu.
Padahal mereka baru saja selesai melakukannya tapi Amar sudah kembali memulainya, Amar juga sudah mengambil alih gelas istrinya dan menyimpannya sembarangan, Amar langsung memangku istirnya dan membawanya masuk kedalam kamar, Amar kembali memulai olahraga di tempat tidur lagi, dia benar-benar ketagihan dengan olahraga ditempat tidur sangat enak dan hangat.
"Ahh Amar "
"Hemm sayang, kamu hanya perlu menikmati saja ya, aku akan pelan tak akan seperti tadi "
Amar kembali menyatukan bibir mereka, bahkan Amar juga lupa untuk menutup pintu balkon. Dia benar-benar membiarkannya saja begitu saja.
...----------------...
__ADS_1
"Bagaimana Gea dengan keadaan anak mama. Kenapa dia bisa kecelakaan "
Gea langsung berdiri, Gea juga langsung memeluk Mama mertuanya itu, Gea kembali menangis dan belum menjawab pertanyaan dari mamanya itu. Setelah cukup tenang Gea melepaskan pelukannya dan menatap Mama mertuanya itu.
"Aku juga tidak tahu Ma kenapa bisa kecelakaan, orang yang menolong Dimas sudah pulang tadi, polisi juga belum ada yang datang kemari, aku hanya diberi kabar kalau Dimas kecelakaan dari tadi Dimas belum keluar juga, operasinya begitu lama sekali"
Mama Astuti berpegangan pada cucunya, mama Astuti tak pernah berfikir kalau anaknya akan kecelakaan seperti ini.
"Apakah tadi saat Dimas pulang dari rumah Mama kalian tak bertengkar, apakah ada yang memicu Dimas melamun ma. Dimas itu kalau banyak fikiran akan seperti ini "
"Tidak kami tak bertengkar, untuk apa kami bertengkar. Kamu tak salah memberikan sebuah pertanyaan hah " Mama Astuti tentu saja marah, kenapa berkata seperti itu.
Gea langsung menundukan kepalanya, padahal hanya bertanya saja tak lebih.
"Ya maaf Gea hanya takut saja kalian bertengkar dan membuat Dimas kefikiran kan, Gea sekali lagi minta maaf "
Mama Astuti menutup wajahnya dia terus saja menangis, takut anaknya itu kenapa-napa Dimas adalah anaknya satu-satunya.
Irsyad mengambil tempat duduk yang cukup jauh sambil membawa adiknya. Irsyad juga binggung harus melakukan apa. Irsyad tak peduli dengan keadaan ayahnya itu.
"Kakak ada apa ini, kenapa paman Dimas, nenek menangis dan Tante Gea juga menangis "
"Hemm, begitu ya kenapa kakak tak menangis "
Irsyad mengerutkan keningnya "Kenapa kakak harus nangis, apa urusannya dengan kakak. Kamu juga kenapa ga nangis coba "
"Ya kan mereka semua menangis, aku kira kakak juga akan menangis "
"Udah ah diem, kita lagi di rumah sakit"
Helena menganggukan kepalanya dan mengikuti apa kata kakaknya. Helena menatap neneknya, Helena jadi khawatir dengan keadaan neneknya yang terus saja menangis.
Helena turun dari pangkuan kakaknya dan menemui neneknya. Helena langsung mengusap-usap tangan neneknya itu.
"Nenek jangan menangis "
Mama Astuti langsung memeluk cucunya itu, mama Astuti mana bisa tak berhenti menangis setelah diberitahu Dimas kritis rasannya dunianya ini runtuh.
...----------------...
__ADS_1
Amar menatap istrinya yang sudah tertidur dengan lelap. Amar tersenyum senang akhirnya mereka bisa melakukan bulan madu. Amar sebenarnya masih mau tapi saat melihat istrinya kelelahan Amar jadi berfikir dua kali.
Amar mengusap rambut istrinya dengan perlahan" Tidur yang nyenyak sayang, aku sangat mencintai kamu "
Amar mencium kening sang istri dan turun dari tempat tidur, Amar mengambil laptopnya yang selalu dia bawa kemana-mana. Lalu Amar mengerjakan tugasnya, pekerjaannya. Meskipun Amar disini sedang bulan madu tapi Amar tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Ponsel Amar tiba-tiba saja berdering dari Jordi, Amar langsung mengangkatnya tapi dia juga menjauh dari istrinya itu.
"Kenapa Jordi "
"Dimas kecelakaan dan dia koma, aku baru saja mendapatkan kabarnya dia dirawat dirumah sakit kita"
"Hah kecelakaan, ya udah aku akan pulang sekarang,"
"Gila ya pulang jangan kemana-mana udah diam aja disana, aku hanya ingin kabarin kamu. Jangan kasih tahu Freya, kalian itu harus bahagia jangan mikirin orang lain, aku hanya kasih tahu kamu saja "
"Ya tetap saja, tapi dia kan karyawanku dia juga yang sudah membantu aku bisa dekat lagi dengan Freya bahkan sampai menikah seperti ini "
"Jangan pulang dulu nanti saja, habiskan saja liburan kalian, aku benar-benar takut saat kalian pulang nanti malah ada masalah, karena Dimas tak hanya koma "
"Hah maksudnya, apalagi yang terjadi dengannya"
"Ah pokoknya gawat banget, jadi kalian disana senang-senang aja sebelum nanti datang kesini banyak masalah, kamu Amar harus kuat nanti, ujian kalian ini selalu saja ada "
"Kamu ini kenapa membuat aku khawatir sebenarnya apa sih yang terjadi "
"Sudah ah jangan fikirkan, aku hanya ingin kasih tahu kamu agar kamu nanti pulang tak kaget kalau Dimas ada dirumah sakit dan mengalami sesuatu, aku juga baru tadi dapat kabar, pokoknya kalian berdua disana happy happy dulu saja, aku matikan awas jangan pulang ya, ini sudah malam dan kalian naik motor Freya tak akan kuat aku jamin"
Setelah mengatakan itu Jordi langsung mematikan sambungannya. Amar malah jadi penasaran kan, sebenarnya apa yang terjadi kenapa bisa Jordi berkata seperti itu.
"Kenapa aku jadi binggung dan khawatir ya, sebenarnya apa yang akan terjadi jika aku pulang nanti bersama Freya, apakah aku harus pulang sekarang saja agar tahu ? "
Amar mengetuk-getuk ponselnya, keputusan apa yang harus dia ambil, Amar menatap istrinya yang tertidur dengan lelap, kasian juga kalau membangunkan istrinya dan mengajaknya pulang sekarang.
istirnya pasti akan sakit, perjalanan mereka juga akan sangat jauh sekali. Amar masuk kembali kedalam kamar, Amar yang akan bekerja juga jadi tak fokus. Memikirkan perkataan Jordi.
Sialnya Jordi hanya berkata setengah-setengah saja, memang dia itu kurang ajar, memberi informasi yang kurang lengkap dan hanya membuat penasaran saja. Awas saja nanti kalau dirinya sudah pulang akan dirinya tegur.
Amar membaringkan tubuhnya dan menatap istrinya "Akan apa lagi yang kita hadapi sayang, sepertinya ujian kita ini akan dimulai kembali, aku berdoa jangan yang terlalu berat saja aku tak mau kehilangan kamu"
__ADS_1