Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 142 Trauma


__ADS_3

"Jangan pernah ikuti aku sana pergi, aku begitu risih dengan kamu "


"Irsyad kenapa kamu sangat jutek sekali, padahal aku sudah beberapa kali mengutarakan perasaanku ini padamu. Tapi kamu sama sekali tidak menerimaku, apa sih kekurangan aku dimata kamu "


Irsyad menatap perempuan itu "Jangan berharap lebih padaku karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau denganmu, carilah laki-laki yang mau denganmu jangan harapkan aku. Aku ini bukanlah laki-laki yang pantas kamu pertahankan "


"Tapi kenapa apa alasannya sampai-sampai kamu terus menolakku, aku sudah melakukan berbagai macam cara, tapi apa yang aku dapat tak ada. Jangan seperti ini terus Irsyad "


"Tidak pernah ada alasan, dan kamu juga tidak berhak tahu apa alasannya jika ada"


Irsyad kembali berjalan meninggalkan perempuan itu. Tapi tangan Irsyad langsung ditarik olehnya, Irsyad sangat kesal dengan perempuan ini dari semenjak SMA perempuan Ini terus saja mengejar-ngejar Irsyad.


Padahal Irsyad tidak suka padanya Irsyad tidak mau menjalin sebuah hubungan dengan siapapun. Irsyad masih trauma dengan kejadian orang tuanya, Irsyad tak akan pernah bisa memulai apapun dengan siapapun itu.


Irsyad tidak mempercayai siapa-siapa lagi selain keluarganya. Irsyad takut apa yang pernah terjadi pada mamanya akan terjadi juga padanya juga. Irsyad tak akan pernah siap sampai kapanpun, saat melihat mamahnya yang begitu histeris lalu memikirkan semuanya Irsyad tak mau menjalin sesuatu yang akan menyakitinya nanti Irsyad akan menjauhkan semua itu dari hidupnya.


Biasakan Irsyad hidup sendiri saja seperti ini. Irsyad sudah nyaman seperti ini. Tak ada yang Irsyad fikirkan dan takutkan lagi.


"Apalagi jangan sampai aku berbuat kasar padamu, aku tak mau malah disalahkan orang-orang karena berbuat tidak baik dengan kamu. Mulai sekarang lupakan aku, lupakan segalanya "


"Ya tapi aku suka denganmu Irsyad, beri aku kesempatan dan akan aku buktikan kalau aku ini benar-benar mencintaimu tidak hanya sekedar ucapan saja. Apa yang kamu mau akan aku lakukan Irsyad"

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Mau kamu mencintaiku atau tidak aku tidak akan pernah peduli. Jangan pernah membuatku malu di sini, kamu malah mengikuti ku kuliah di sini. Untuk apa coba kalau memang ingin kuliah ya sesuai keinginanmu bukan mengikuti aku seperti ini, aku tidak mau ada masalah lebih baik kamu pergi saja. Aku malah jadi risih tahu dengan kamu yang seperti ini menyebalkan sekali kamu ini"


Perempuan itu langsung menggelengkan kepalanya. Matanya sudah berkaca-kaca tapi Irsyad tidak peduli. Irsyad langsung melepaskan genggaman tangan perempuan itu dan masuk ke dalam mobil.


Irsyad juga dengan cepat langsung melajukan mobilnya tidak mau sampai dia masuk ke dalam mobil, seperti waktu itu dan akhirnya tidak mau turun keras kepala sekali perempuan itu. Irsyad bukannya suka malah ilfil jadinya.


Irsyad melihat dari kaca spion kalau perempuan itu mengejarnya, tapi ya sudahlah Irsyad tidak peduli, mau dia mengejarnya sampai rumah pun Irsyad tidak akan pernah memberikan kesempatan padanya.


Mungkin mamanya tidak tahu kalau selama ini Irsyad memendam semuanya, memendam rasa trauma yang begitu dalam atas kehancuran rumah tangga orang tuanya.


Apalagi setelah melihat ayahnya melakukan hubungan suami istri dengan perempuan lain selain Mamanya di depan matanya sendiri, apalagi mereka belum punya ikatan apa-apa ayahnya sudah membuat luka yang begitu dalam untuk mamanya dan juga untuk dirinya.


Diam-diam Irsyad juga suka pergi ke dokter untuk memulihkan semuanya, agar Irsyad tidak trauma lagi. Tapi tetap saja masih saja ada yang tertinggal Irsyad tidak bisa melupakan segalanya. Irsyad pura-pura kuat di hadapan mamanya dan juga neneknya, Irsyad tidak mau terlihat lemah Irsyad adalah laki-laki satu-satunya di keluarga mereka.


Mungkin Irsyad juga tidak akan pernah menikah. Irsyad benar-benar takut, dan entah harus bagaimana nanti dia berbicara dengan mamanya dan juga neneknya dan harus memberikan alasan apa, tapi karena Irsyad tidak mau membuat mamanya sedih ataupun neneknya sedih Irsyad akan terus menjauhkan pembicaraan itu.


...----------------...


Irsyad melihat adiknya yang melambaikan tangan di sebuah taman. Taman yang sering mereka datangi, Irsyad segera memberhentikan mobilnya dan sang adik langsung berlari dan masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa jam segini belum pulang, harusnya kamu sudah ada di rumah kalau mama tahu kamu main-main di taman sendirian seperti ini pasti Mama akan marah, mama pasti akan sangat khawatir "

__ADS_1


"Iya iya maaf, tadi aku jenuh di rumah Kak makanya aku main ke sini. Lagian dekat juga kan sama rumah, hanya terhalang beberapa rumah saja Kakak "


"Ya tetep saja, kamu ga bisa main sendirian kayak gitu. Lain kali jangan kayak gitu lagi ya, harus ada temen kalau mau main "


"Iya lain kali aku ga akan kayak gitu lagi. Ga biasanya kakak pulang sore-sore kayak gini, biasanya juga Kakak siang pulangnya"


"Iya lagi banyak tugas nih. Kamu kakak lihat ga pernah ngerjain pr, apa ga ada tugas dari sekolah"


"Kata siapa, aku sering kok ngerjain PR cuman kakaknya aja yang sibuk di dalam kamar, makanya ga pernah tahu sekarang itu yang bantuin aku kerjain PR itu Mama sama nenek, karena kata mama aku ga boleh ganggu Kakak yang lagi fokus belajar"


"Ya udah nanti kalau kakak udah ga sibuk lagi kakak yang akan ajarin kamu. Asal kamu jangan nakal lagi kayak tadi "


"Iya iya aku ga akan nakal. Lagian tadi juga aku udah bicara sama nenek kok kalau aku mau main di taman depan dan udah dibolehin sama nenek juga "


"Iya iya tapi pokoknya nggak boleh ulangi kayak gini lagi, kalau nggak ada orang nggak ada temen main gak usah main. Gimana kalau ada penculik emangnya kamu mau diculik dan orang rumah pada nggak tahu, kamu pengen orang rumah pada sedih "


"Ist Kakak ngomongnya kok ke mana-mana sih, mana ada sih orang yang mau diculik ya ga ada lah "


"Ya udah, sana turun "


Helena menatap ke depan ternyata mereka sudah sampai rumah. Helena langsung mengikuti apa kata-kata Kakaknya dia langsung turun dan meninggalkan kakaknya sendirian.

__ADS_1


Saat Helena masuk ke dalam rumah ternyata Mamanya sudah ada di dalam, yang sedang mengobrol dengan nenek tentu saja Helena langsung menghampiri mamanya dan duduk di pangkuannya.


Sudah lama Helena tidak seperti ini pada mamanya, tidak bermanja-manja seperti ini. Mamanya selalu saja sibuk.


__ADS_2