Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 55 Bertengkar lagi


__ADS_3

Makan malam itu benar-benar diadakan, Gea sudah berdandan dengan sangat cantik sekali sedangkan Mamahnya Dimas sudah ada di sana, tinggal Freya dan keluarga yang belum datang tidak lama kemudian mereka pun datang, tapi Dimas murung sekali. Gea langsung menyambut keluarga kecil itu.


Gea senang sekali melihat mereka datang. Apalagi Dimas yang datang kemari, tadi saat dia pergi Dimas tidak ada kan, makanya Gea mengadakan makan malam ini sekalian dia juga ingin melihat Dimas untuk yang terakhir kalinya.


Setelah ini mereka tak akan bertemu lagi. Gea sekarang harus memanfaatkan semua waktu yang ada, Gea akan terus mengingat apa yang ada pada Dimas, dari perawakannya, wanginya, wajahnya semuanya akan dia ingat tak akan pernah Gea lupakan.


"Akhirnya kalian datang juga, aku menunggu kalian bertiga. Ayo aku sudah menyiapkan semuanya makan malam spesial kita akan segera dimulai " sambil tersenyum lebar.


Mereka langsung menuju ke meja makan, selama makan juga mereka banyak mengobrol banyak hal yang mereka bicarakan, lalu tiba-tiba saja Freya berkata seperti ini "Sepertinya nanti di rumah akan ada yang sangat merindukanmu Gea. Setelah Gea pergi pasti akan ada yang merasa sangat kehilangan sekali"


Pandangan Gea langsung tertuju pada Freya, senyum Gea langsung canggung "Memang siapa yang akan merindukan aku di rumah itu, kurasa hanya kamu saja yang akan merindukan aku Freya"


"Tentu saja Dimas, dia akan rindu dengan makanan yang kamu selalu masak, selama kamu di rumah kamu kan yang memasak terus-menerus. Pasti Dimas akan merindukan itu semua. Dia kan selalu memuji makanan yang kamu sajikan"


Dimas yang namanya disebut-sebut langsung menatap ke arah Freya dan juga Gea. Tiba-tiba saja emosi Dimas meluap-luap entah kenapa, rasanya Dimas ingin sekali marah dengan Freya kata-kata Freya itu seperti sedang menyudutkannya "Maksudmu apa Freya berkata seperti itu, jangan seenaknya denganku " bentak Dimas.


Irsyad langsung berteriak pada ayahnya" Kenapa ayah membentak Mama seperti itu, apa salah Mama "tatapan Irsyad dan juga Dimas langsung beradu


Yang ada di meja makan itu langsung diam hening, Astuti yang melihat perubahan sikap anaknya langsung memarahinya berani sekali dia membentak Freya di hadapan Gea dan juga Irsyad. Anaknya ini tak tahu tempat sekali.


"Maksudmu apa, kenapa kamu membentak Freya seperti itu. Memang pada kenyataannya seperti itu kan selama di rumah Gea yang masak selama Gea ada di rumah dia yang masak, lalu apakah salahnya dari kata-kata istrimu dia hanya sedang membuka suasana saja. Freya mengatakan kalau kamu akan merindukan makanannya, bukan merindukan orangnya jadi kamu tidak usah semara ini pada istrimu Dimas"


Dimas langsung salah tingkah setelah mamanya berbicara seperti itu, benar-benar pikiran Dimas ini kacau sekali. Dimas sudah tak bisa mengontrol perasannya dan juga emosinya "Maafkan aku, aku hanya pura-pura saja, aku tidak bermaksud untuk membentak Freya seperti itu aku hanya main-main saja seperti yang Freya katakan. Dia juga tadi pasti main-main saja kan. Maafkan Ayah juga Irsyad ayah hanya sedang main-main saja "


"Tidak lucu ayah perbuatan ini benar-benar tidak lucu" kesal Irsyad sambil mengusap tangan Mamanya. Freya langsung tersenyum pada anaknya. Agar anaknya tenang.


"Ya tapi kamu tidak boleh membentak istrimu di hadapan orang lain Dimas, benar-benar kamu ini ya di hadapan orang lain saja kamu berani membentak Freya, apalagi di belakang keluarga"


Freya langsung memberhentikan pertengkaran itu, Freya tidak mau kalau makan malam ini akan hancur. Sepertinya Freya salah bicara saja pada suaminya, seharusnya Freya tidak mengatakan itu dan memancing pertengkaran ini. Di sini Freya yang salah.


"Sudah Ma, mungkin Dimas sedang lelah saja tidak masalah aku juga tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan makan malam ini. Jangan sampai makan malam ini menjadi canggung, ayo aku tidak papa aku baik-baik saja ini salahku"


Makan malam ini sekarang benar-benar terasa canggung, karena ulah Dimas, dan seperti biasa Gea dan juga Dimas curi-curi pandang, mereka sama sekali tidak takut di hadapan mereka ini ada Freya, Mamanya Dimas dan juga Irsyad mereka seperti acuh saja.


Mereka seperti asik saja dengan tatapan mereka masing-masing, merasa kalau mereka ini sedang berdua dan tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Padahal ada tiga orang lagi disini.


Setelah selesai Gea langsung membereskan piring-piring kotor. Dimas mengikutinya dari belakang sedangkan Freya mengobrol dengan anaknya tidak terlalu mengawasi Dimas pergi ke mana, karena ini juga kan di rumahnya Gea lalu apa yang harus Freya awasi.


Freya masih percaya kalau temannya itu tidak akan mengkhianatinya, bahkan Freya sempat menyalahkan dirinya karena sudah terlalu keras pada Gea saat melihat Gea memeluk suaminya. Freya sudah meluapkan akan hal itu.


Dimas berdiri di samping Gea. Dimas benar-benar nekat bagaimana kalau ada yang melihatnya "Saat aku tadi pulang ke rumah kamu benar-benar tidak ada, aku kira kamu akan menungguku tapi ternyata tidak. Aku terlalu berharap lebih seharusnya aku tidak melakukan itu"


"Mana mungkin aku bisa menunggumu, sedangkan istrimu saja sudah mengajakku untuk pindah rumah. Aku tidak bisa berlama-lama di sana aku bukan bagian keluarga kalian, aku hanyalah orang yang kebetulan saja ditolong oleh Freya dan tinggal bersama kalian, aku ini tidak ada ikatan apa-apa dengan kalian semua"


"Aku ingin memberikan sesuatu untukmu, sebenarnya aku ingin memberikan ini dari kemarin-kemarin tapi aku baru bisa memutuskannya sekarang "Dimas mengambil barang itu dan memberikannya pada Gea, sambil membuka kotaknya di sana ada sebuah cincin yang cantik sekali.


Bahkan Dimas belum pernah membelikan barang ini untuk istrinya, baru Gea yang pertama dia belikan cincin semewah ini dan secantik ini.


Gea langsung mengambilnya dan tidak langsung memakainya "Cincin yang bagus, tapi tidak akan pernah bagus kalau tidak ada pasangannya, kamu tahu aku berharap akan ada seseorang yang datang padaku dan mencintaiku dengan tulus. Aku tidak mau cinta yang rumit aku ingin cinta yang biasa-biasa saja, kapan aku bisa mendapatkan itu ya"

__ADS_1


"Aku tidak suka kesepian, aku ingin seperti pasangan lain. Aku ingin bisa bahagia bersama pasanganku sendiri. Aku ingin bisa menghabiskan waktu bersamanya sampai tua nanti, aku ingin ada yang melindungiku aku ingin mempunyai anak juga. Banyak harapanku yang belum tercapai di sini, harus kemana aku mencari laki-laki tulus yang mencintaiku dan menerima masa laluku yang begitu kelam"


Dimas mundur beberapa langkah dan dia membalikkan badannya. Meninggalkan Gea sendirian di sana, sedangkan Gea sendiri masih menatap cincin cantik itu, dia tersenyum kecil lalu memakainya. Gea tidak menyangka kalau Dimas akan memberikannya sebuah cincin apakah ini termasuk lamaran dari Dimas.


Apakah Dimas akan menjadi laki-laki terakhirnya, akan menjadi cinta sejatinya, akan menjadi ayah dari anak-anaknya apakah Dimas bisa membahagiakannya dan menerima semua masa lalunya.


Satu jam berlalu Freya dan semua keluarganya pulang, Gea juga sudah lelah ingin tidur setelah mereka pulang Gea akan pergi ke kamar, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Dia kira itu Dimas tapi saat dibuka ternyata Ayah tirinya dia sampai kaget sekali.


"Kenapa kamu tahu rumahku, mau apa lagi ke sini aku tidak mau bertemu. Pergi dari sini kita tidak punya urusan lagi, kalau masalah harta yang aku bawa itu adalah hakku, kamu sudah menjual ku dan aku juga perlu uang aku juga berhak memiliki itu semua, jadi pergi dari sini dan kita tidak punya hubungan apa-apa lagi kamu hanya menikah dengan ibuku dan aku bukan anakmu. Tolong pergi dari sini sekarang juga"


"Jangan galak-galak Gea. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku saja, apa salahnya tidak ada yang salah kan aku juga ingin melihat rumah barumu sepertinya nyaman sekali bolehkah aku tinggal di sini agar kamu juga tidak kesepian. Aku tidak masalah harta itu kamu ambil aku tahu kamu juga perlu dan aku merelakan semuanya, anggap saja itu bayaran tubuhmu seperti yang kamu bilang tadi "


Gea yang masih takut dengan ayah tirinya itu mundur beberapa langkah, lalu menutup pintunya dengan keras, Gea tidak mau sampai terjebak lagi oleh ayah tirinya itu. Ayah terus saja menggedor-gedor pintu dengan sangat keras sekali.


Bahkan sampai-sampai Gea menutup telinganya saking tidak mau mendengar itu, belum lagi teriakan yang begitu melengking.


Tapi tiba-tiba saja dia mendengar suara yang lain, seperti orang itu menegur Ayah tirinya. Tak lama ada cekcok lalu hening tidak ada lagi pembicaraan, sepertinya ada yang mengusirnya Gea bernafas lega Gea benar-benar takut sekali. Kenapa bisa tahu rumah ini padahal ini rumah barunya apakah selama ini ayah tirinya itu mengikutinya.


...----------------...


Saat masuk ke kamar Dimas kaget, kamarnya sudah penuh lampu dan juga hiasan-hiasan yang menggantung. Lalu tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang Dimas tahu siapa lagi kalau bukan istrinya Freya.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini, ada perayaan apa aku rasa tidak ada yang harus kita rayakan. Kenapa tiba-tiba kamar dihias seperti ini "


Freya memutari tubuh suaminya dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya "Aku sudah lama tidak diberikan kejutan olehmu, maka sekarang aku yang akan memberikan kejutan ini untukmu. Sudah lama kita tidak berdansa kita tidak menari bersama. Aku rasa kamu perlu rileks sedikit dan tidak terlalu memikirkan pekerjaanmu, sekarang kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu Dimas. Bahkan kamu tidak ada waktu untukku. Hari Minggu yang akan selalu kita habiskan bersama pun tidak ada, semuanya terasa berumah Dimas "


Saat membaringkan istrinya dan menciumi seluruh wajah itu, barulah Dimas sadar kalau yang ada di hadapannya ini bukan lah Gea, tapi Freya istrinya Dimas langsung bangkit seperti kaget.


Freya yang mendapati tingkah suaminya seperti itu juga kaget kenapa seperti itu, kenapa tingkah suaminya seperti itu bahkan Freya sampai kecewa dengan suaminya yang tiba-tiba begitu.


"Maaf aku minta maaf, sungguh Freya aku minta maaf, aku tidak bisa aku tidak bisa Freya "


Freya segera bangkit dari tempat tidurnya dan menatap suaminya, bahkan air mata Freya sudah mengalir karena merasa kalau makin kemari tingkah suaminya itu makin berbeda.


Bahkan Freya makin tidak mengenal suaminya. Dimas bahkan sudah berani untuk membentaknya, selama ini Dimas tak pernah melakukan itu padanya.


"Kenapa kamu berubah. Kenapa kamu seperti sedang menghindari aku. Sebenarnya apa yang terjadi padamu Dimas, aku menjadi curiga sepertinya bukan hanya tentang pekerjaan saja ada hal yang lain. Kamu tidak pernah membentakku selama ini, tapi sudah beberapa kali kamu membentakku bahkan saat aku tidak salah pun kamu membentakku di depan orang lain. Kenapa kamu jadi berubah Dimas ada apa dengan kamu"


"Maafkan aku, aku tidak sengaja aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa Freya aku minta maaf. Aku sungguh menyesal " wajah Dimas sudah tak karuan Dimas sungguh pusing dengan dirinya ini, kenapa dirinya bisa begitu mencintai Gea, kenapa bisa seperti ini hatinya.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi, aku tidak bisa seperti ini terus Dimas aku butuh alasannya, kamu ini berubah dalam segala hal kamu itu sudah berubah, aku bisa merasakannya. Kita ini sudah hidup berdua lama aku jadi tahu saat kamu berubah, jangan bohongi aku Dimas. Aku bisa merasakannya aku ingin kamu jujur sama aku sebenarnya apa yang terjadi sama kamu, aku nggak mau rumah tangga kita ini hancur. Ayo bicara dengan aku "


"Tidak ada yang berubah dariku Freya, semuanya baik-baik saja aku masih Dimas yang sama aku masih Dimas yang dulu, tidak ada satupun perubahan dariku. Aku sama sekali tidak berubah. Kamu saja yang terlalu negatif padaku berpikiran yang tidak-tidak padaku, padahal aku masih sama tidak ada perubahan sedikitpun dari diriku ini"marah Dimas sambil melotot pada istrinya. Ini sesuatu yang baru lagi Dimas lakukan pada istrinya.


"Tidak ada yang berubah lalu sekarang apa, kamu berani membentakku, kamu berani menajamkan matamu padaku dulu tidak pernah seperti ini. Aku tidak mau membanding-bandingkan kamu yang sekarang dan yang dulu Dimas, tapi perubahanmu ini begitu cepat. Bahkan sampai-sampai aku tidak menyangka kalau kamu itu suamiku. Kamu benar-benar berubah Dimas, kamu bisa tanyakan pada orang-orang yang ada di rumah ini mereka juga pasti akan mengatakan hal yang sama sepertiku, kalau kamu mau benar-benar berubah"


Dimas malah menggebrak meja yang ada di sampingnya. Dimas begitu marah dengan kata-kata dari istrinya itu " Sudah aku bilang kalau aku ini tidak berubah, aku masih sama kamu saja yang berubah. Kamu saja Freya yang berubah kamu sibuk bekerja, kamu yang berubah selama ini bukan aku, aku selalu sama dan tak pernah berubah"


Dimas langsung pergi begitu saja. Freya langsung menangis dia tidak menyangka suaminya akan seperti ini, bilang kalau Freya sibuk bekerja sedangkan Freya selalu cuti hanya untuk bisa menemani suaminya, bahkan Freya mengurangi pekerjaannya tapi suaminya menganggap kalau Freya masih sibuk harus bagaimana menjadi dirinya ini.

__ADS_1


Freya disini serba salah Freya merasa kalau Dimas sedang mencari-cari kesalahannya saja, Dimas tidak mau disalahkan Dimas di sini mau dianggap benar dan dirinya yang salah.


Freya sampai mengingat tadi bagaimana Dimas yang sudah mau menyentuhnya tapi tidak jadi, Dimas juga seperti kaget melihat wajahnya. Sebenarnya apa yang dibayangkan suaminya, sebenarnya siapa yang dibayangkan oleh suaminya saat tadi bersamanya. Kenapa suaminya bisa berubah seperti ini.


"Aku tidak menyangka kamu akan seperti ini Dimas. Kenapa kamu berubah padaku. Aku harus melakukan apa Dimas. Supaya kamu menjadi Dimas yang dulu lagi menjadi Dimas yang peduli lagi dan tidak marah-marah terus seperti ini padaku"


...----------------...


Freya melihat suaminya ada tidur di sampingnya, Freya segera membersihkan dirinya, Freya harus segera bersiap Freya tidak bisa berleha-leha semalaman dia menangis, tapi suaminya tidak muncul tapi saat tidur tiba-tiba dia ada di sampingnya.


Bahkan suaminya tidak sama sekali membujuknya meminta maaf padanya. Biasanya kalau Dimas sudah membuatnya menangis, Dimas akan datang padanya dan meminta maaf lalu membujuknya dengan berbagai hal apapun itu tapi sekarang tidak ada.


Setelah selesai mandi berpakaian dan merapikan dirinya Freya pergi ke dapur untuk menyiapkan teh, untuk suaminya. Dengan langkah perlahan Freya masuk lagi ke kamar dan membangunkan suaminya dengan perlahan juga "Dimas bangun aku sudah membuat kamu teh. Sudah pagi kamu juga harus segera pergi bekerja, jangan sampai nanti pekerjaanmu menumpuk dan kamu akan melampiaskan semua kemarahan mu itu padaku"


Tidak butuh waktu lama Dimas langsung bangun dan menggenggam tangan Freya dengan erat "Maafkan aku, aku kemarin membentak mu seperti itu. Aku sungguh minta maaf aku tidak bisa mengontrol emosiku kemarin, aku sedang lelah sekali Freya. Aku sangat lelah sekali sampai-sampai aku melakukan itu padamu. Aku janji tidak akan seperti itu lagi. Tolong Kamu maklum dengan sikapku yang itu, aku sedang banyak pekerjaan dan aku malah membawa pekerjaan itu ke rumah. Maafkan aku ya aku janji tidak akan membentak mu lagi"


Freya hanya menundukkan kepalanya, Freya tidak percaya kalau suaminya tidak akan membentak lagi pasti nanti akan muncul bentakan-bentakan yang lainnya, akan ada yang lainnya juga tapi untuk sekarang Freya hanya ingin berdamai dengan suaminya dan tidak mau ada masalah lagi.


Sudah cukup masalahnya ini, Freya lelah kalau harus terus ada masalah setiap harinya Freya punya pekerjaan, Dimas punya pekerjaan dan Freya juga tidak mau membuat Irsyad mendengar semua ini dan memikirkan tentang orang tuanya. Irsyad harus fokus sekolah tidak dengan orang tuanya.


"Iya tidak masalah aku tahu kamu lelah tapi tolong kendalikan lagi emosimu, kamu tidak mungkin kan terus membentakku. Bagaimana kalau di depan Irsyad, kemarin saja sampai kaget saat kamu membentakku di rumah Gea, bagaimana nanti ke depannya tolong pikirkan bagaimana mental anak kita dan perasaannya"


"Dimas tidak boleh mendengar kata-kata kasar dari kamu Dimas. Cukup aku saja yang kamu bentak jika kamu ingin marah padaku maka jangan di hadapan Irsyad. Jangan membuat dia membencimu aku tidak mau Irsyad membenci Ayahnya sendiri kamu bisa mengerti kan dengan apa yang aku inginkan"


"Iya aku mengerti. Maafkan aku, aku benar-benar salah di sini. Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan Freya. Aku menyesal kemarin malam aku menenangkan diriku dulu, aku tidak mau sampai marah-marah lagi padamu makanya aku tidak menemuimu sampai saat kamu tidur baru aku masuk ke dalam kamar"


Freya menganggukan kepalanya, dia mencoba untuk mengalah dan mencoba untuk mengerti. Kalau dia ada di posisi Dimas mungkin dirinya juga akan seperti itu. Maka Freya harus bisa mengontrol emosinya jangan sampai dia tersulut dan ikut-ikutan marah pada suaminya ini, semoga saja ini untuk terakhir kalinya Dimas membentaknya.


Dimas masih diam menatap raut wajah istrinya. Dimas sangat takut sekali kalau istrinya mengetahui semuanya tentang perasaannya pada Gea, akan bagaimana nanti sikap istrinya pasti Freya akan sangat marah besar padanya, sebenarnya kemarin malam Dimas ada di kamar Gea dia mencoba untuk menenangkan diri.


"Sayang kenapa kamu melamun, jangan seperti itu dan membuat aku khawatir "


"Tidak aku tidak apa-apa. Segeralah bersiap kita sarapan sama-sama. Mama dan Irsyad sudah menunggu kita di meja makan, jangan sampai mereka menunggu lama"


Freya keluar dari dalam kamar. Sedangkan Dimas masih diam saja menatap istrinya yang keluar. Dimas mengusap wajahnya dan mengambil handuknya. Dimas harus segera bersiap bekerja tak boleh terus seperti ini.


...----------------...


"Freya mana suamimu, biasanya dia akan mengikuti dari belakang " tanya ibu mertuanya yang sedang menyiapkan segalanya, ibu mertuanya ini selalu tak mau diam dan tak membolehkan Freya menyiapkan sendirian.


"Dimas sedang bersiap dulu mah, dia baru saja bangun, dia sangat kecapean sekali. Pekerjaannya sedang menumpuk sekali entah sampai kapan pekerjaannya itu akan selalu menumpuk, aku juga tidak tahu kapan selesainya sepertinya pekerjaannya akan tambah menumpuk lagi, menumpuk lagi dan menumpuk lagi tidak akan pernah ada habisnya Ma pekerjaannya itu"


"Sepertinya kalian berdua harus menghabiskan waktu bersama mungkin bulan madu lagi. Itu pasti akan sangat menyenangkan dan itu akan membuat kalian kembali untuk dekat seperti dulu lagi. Mama lihat kalian berdua malah sibuk dengan pekerjaan masing-masing tidak ada waktu untuk berdua"


"Aku selalu meluangkan waktu mah di hari Minggu untuk Dimas, tapi sepertinya dia selalu menghindariku dia hanya fokus pada pekerjaannya. Aku juga bingung harus berbicara seperti apa pada Dimas. Aku tidak mau dia tersinggung dengan kata-kataku aku mendekatinya dia menjauh, entah sedang ada masalah apa sampai-sampai Dimas melakukan itu padaku mah. Tapi aku minta Mama biarkan saja Dimas dulu seperti itu. Aku tidak mau dia nanti marah-marah pada mama"


Astuti mengusap bahu menantunya ini, mencoba menyalurkan semangatnya untuk menantunya ini. Astuti juga merasakan bagaimana perubahan anaknya itu. Memang selama ini Astuti baru melihat kalau Dimas seperti ini.


Astuti juga seperti tidak mengenal anaknya sendiri, berbeda saja Dimas tidak seperti dulu yang selalu membutuhkan Freya apapun itu keadaannya Dimas selalu membutuhkan istrinya, tapi sekarang dia seperti sibuk sendiri ke sana kemari.

__ADS_1


__ADS_2