
Freya yang sedang melamun dikagetkan dengan suaminya itu yang menginjak rem dengan mendadak, tapi motornya masih melaju karena tadi juga Amar menjalankannya cukup kencang sampai-sampai Freya seperti terbang, untung saja tak jatuh dan Freya masih memeluk erat suaminya itu.
"Maaf sayang jalannya tidak kelihatan banyak kabut, aku juga kurang hati-hati "
Freya melihat ke arah depan ternyata benar di depannya banyak kabut, Freya yang memang dari tadi melamun dan menatap posisi kiri saja, kapan mereka ini sampai Freya sudah benar-benar jenuh sekali. Freya rasanya sudah ingin pingsan saja belum lagi punggungnya yang pegal, mereka dari tadi tidak sampai-sampai kata suaminya sebentar lagi tapi ini sudah satu jam berlalu.
"Kapan kita akan sampai Amar, aku rasa kita tidak akan sampai-sampai kita malah sekarang ada di dalam kabut, sungguh aku sudah lelah sekali "
"Sebentar lagi kita juga sampai sayang, sabar ya emang di daerah sini selalu banyak kabut aku akan pelan-pelan tidak akan terlalu kencang menjalankan motornya seperti tadi, tenang ya aku jamin nanti kamu akan menyukai tempatnya dan tak akan menyesal menempuh jarak yang begitu panjang seperti ini "
"Hemm, benar kamu harus memelankan nya, jangan terlalu kebut-kebutan aku takut malah akan kecelakaan nanti "
"Iya iya maaf ya sayang"
Freya menyandarkan kepalanya ke punggung suaminya, Freya sudah sangat lelah dan tasnya ini yang makin membuatnya tidak enak, karena berat sekali Freya rasannya punggungnya seperti patah.
...----------------...
Freya langsung turun dari motor, dia langsung meregangkan otot-ototnya pegal tasnya ini benar-benar berkali-kali lipat menjadi sangat berat, Freya langsung melepaskannya daripada punggungnya ini sakit.
Freya menatap sekitar villa, akhirnya mereka setelah melewati berjam-jam lamanya sampai juga ditemani dengan rintik hujan dan mentari yang sebentar hangat dan sebentar tidak dan digantikan dengan rintik-rintik hujan lagi.
Freya menatap sekitar rumah-rumah warga sangat jauh, villa ini benar-benar terpencil suaminya ini apa tidak salah menyewa villa yang sangat terpencil, perkebunan di sini sangat banyak rumah mereka dekat dengan perkebunan, tapi ya tetap saja ngeri kalau villanya terpencil seperti ini. Suaminya ini pasti sengaja.
"Kenapa kamu menyewa villa yang terkecil seperti ini Amar, kalau misalnya terjadi apa-apa bagaimana tidak akan ada yang menolong, seharusnya yang dekat dengan pemukiman bukannya perkebunan seperti ini"
__ADS_1
Amar yang baru saja menyimpan motornya mendekati istrinya " Kenapa di sini nyaman, ini aku biasanya sewa villa ini. Tidak akan ada orang jahat di sini juga warga-warga lokal biasa tidak mungkin mereka melakukan sesuatu pada tamunya, kamu tenang saja aku sudah menghitung segalanya dan kamu juga tidak perlu takut karena ada aku "
"Ya tapi tetap saja seharusnya kamu mencari villa yang dekat-dekat rumah warga agar lebih enak saja, agar tenang saja akunya "
Amar mengambil tasnya dan membawa istrinya untuk masuk ke dalam villa, villa itu sepertinya baru saja dibereskan. Masih tercium juga wangi lantai yang baru di pel.
"Cukup bagus juga tempat ini"
Amar dan juga Freya duduk terlebih dahulu di teras, mereka belum masuk ke dalam rumah. Masih ingin menikmati suasana pedesaan yang begitu sejuk sekali.
"Kenapa jalannya begitu jauh sekali. Apakah tidak ada jalan yang lain saat kita mau kemari tempatnya sangat bagus, tapi sangat jauh juga sampai-sampai punggungku ini sakit dan pantatku juga rasanya kebas tahu, aku benar-benar tak kuat kalau harus melakukan perjalanan sejauh ini lagi "
"Tidak ada, tidak ada jalan lagi sayang tapi kamu senang kan di sini. Lihat pemandangannya begitu indah sekali, aku suka sekali kesini karena pemandangannya ini yang bisa memanjakan mata kita"
"Iya memang sudah terbayar lunas dengan pemandangan yang sangat indah ini, tapi ya tetap saja pegal-pegal, kapan-kapan kalau memang mau ke tempat seperti ini cari yang lebih dekat Amar, jangan yang terlalu jauh apalagi menggunakan motor seperti itu. Soalnya tak enak saja belum lagi punggungku ini sakit membawa tas yang banyak sekali isinya "
"Ya sudah nanti kalau kita kemari lagi kita pakai mobil ya jangan pakai motor, kita juga ajak anak-anak untuk datang kemari, pasti mereka akan senang sekali "
"Hemm, iya pasti mereka akan suka dengan tempat ini"
Akhirnya Amar membawa istrinya untuk masuk ke dalam rumah, Amar juga menunjukkan kamar mereka di mana. Sedangkan Amar sendiri pergi ke arah dapur untuk membuat coklat hangat dan juga kopi untuknya, di sini sangat dingin sekali apalagi kalau mereka tidak memakai kaos kaki lantainya sangat dingin.
Amar juga tidak melihat orang-orang yang selalu bersih-bersih di sini, mungkin sudah selesai semuanya jadi tidak perlu ada yang dibersihkan lagi karena ya rumahnya bersih sudah tidak ada debu sedikitpun.
Freya mendekati suaminya "Aku mau keliling ya nggak apa-apa aku pengen lihat-lihat sekitar, aku pengen tahu "
__ADS_1
"Iya tapi hati-hati kalau ada apa-apa langsung teriak atau enggak kamu bawa ponsel. Jangan sampai ponsel ketinggalan ya, itu menjadi barang terpenting sekarang disini sayang "
Freya mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan memperlihatkannya pada suaminya "Aku bawa ini, aku hanya ingin berkeliling di sini saja sebentar. Tak akan lama kok "
Amar yang setuju langsung mengganggukan kepalanya, membiarkan istrinya untuk melihat-lihat dulu, agar istrinya juga tahu tata letak di mana-mananya agar tak usah bertanya-tanya lagi nantinya. Karena vila ini juga cukup besar.
Freya langsung saja berjalan ke arah tempat yang sangat ingin dia lihat, setelah mendapatkan izin dari suaminya. Freya juga memakai sandal karena tetap saja sudah memakai kaos kaki dingin, Freya melihat ada tiga kamar kosong rapi-rapi semuanya sudah dibereskan dan juga ada kolam renang yang sepertinya kalau kakinya dicelupkan kaki kesana akan beku dingin sekali.
Freya masuk ke dalam salah satu kamar, dia membuka pintu balkon dan udara sejuk langsung menerpa wajahnya sungguh ini adalah sesuatu yang cukup baru untuknya.
Sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini, dia hanya fokus bekerja bekerja dan bekerja dan sekarang saat jalan-jalan seperti ini Freya selalu saja terkagum-kagum, kalau saja dulu dia tidak terlalu fokus bekerja mungkin akan selalu jalan-jalan, tapi Freya kembali teringat dengan kedua anaknya. Freya harus membesarkan mereka tanpa memikirkan bagaimana dirinya.
Baru saja Freya akan berbalik, dirinya di kagetkan dengan Dimas yang membawa secangkir coklat hangat dan juga di tangan sebelahnya ada kopi, untung saja Freya tidak berteriak atau memukul Amar kan, kalau sampai itu terjadi pasti sudah berantakan.
"Kami kenapa sayang " tanya Amar dengan polosnya.
Freya langsung mengambil alih coklat panas itu "Kamu ini membuat aku kaget saja, untung saja aku tidak melakukan sesuatu padamu jangan lakukan hal seperti itu lagi ah "
Amar malah tersenyum, lalu dia berdiri di samping istrinya itu.
"Bagaimana semuanya sudah terbayarkan tidak sia-sia kita datang kemari kan sayang, semuanya bagus dan memanjakan mata kita ini, biasannya kita melihat kemacetan tapi sekarang yang hijau-hijau dan sejuk "
"Iya cukup terbayar, di sini tempatnya enak, apa kamu sengaja memilih tempat seperti ini Amar, apakah rencana ini sudah tersusun rapih di otak kamu dari jauh-jauh hari "
Amar langsung tersenyum lebar"Kamu tahu aja, nggak apa-apa dong kita kan udah sah jadi suami istri jadi bebas sayang "
__ADS_1
Freya hanya bisa memukul bahu suaminya saja, sudah menebak pasti ujung-ujungnya suaminya itu ingin di tempat yang dingin seperti ini, memang ada-ada saja tapi ini juga sesuatu yang baru untuk Freya ya mungkin ini bisa membuat Freya selalu menempel di samping suaminya karena kedinginan.