
"Irsyad apa kamu sedang sibuk, apakah boleh nenek berbicara dengan kamu. Ada sesuatu yang ingin nenek bicarakan dengan kamu "
Irsyad yang sedang mengerjakan tugasnya langsung menatap ke arah pintu, lalu menganggukan kepalanya "Masuk saja nek. Aku nggak lagi sibuk kok cuma lagi ngerjain tugas aja ini juga sebentar lagi mau selesai"
Astuti dengan perlahan masuk ke dalam kamar cucunya itu, dia duduk di pinggir tempat tidur Irsyad, Astuti menatap Irsyad dengan lekat apakah harus sekarang. Dia berbicara tentang ayahnya Irsyad, tapi mau sampai kapan Irsyad membenci ayahnya.
"Apa kamu masih membenci Ayah kamu Irsyad, apakah masih sakit hari kamu itu " Astuti berbicara dengan sangat perlahan sekali.
Pandangan Irsyad langsung berubah matanya langsung berapi-api seperti marah "Untuk apa Nenek menanyakan hal itu, bukannya kita sepakat untuk melupakan dia. Kenapa nenek harus membuka luka lama. Aku sudah bahagia seperti ini, jangan pernah tanyakan hal tidak penting seperti itu nenek "
"Itu sudah berlalu sangat lama sudah 7 Tahun lamanya Irsyad, apa kamu tidak ada niatan untuk memaafkan ayahmu. Allah saja maha pemaaf masa kamu tidak bisa memaafkan kesalahan ayah kamu. Nenek tahu kesalahan ayah mu itu sangat besar sekali "
Irsyad mengepalkan tangannya dengan erat "Memang mungkin nenek bisa berbicara seperti itu, tapi aku lihat Ayah sedang berzina dengan perempuan itu, apakah aku bisa melupakan semua itu, apakah aku bisa melupakan saat Ayah membentak Mama, bahkan akan memukul Mamah, anak mana yang mau melihat itu bahkan Ayah menghajar aku hanya untuk membela perempuan itu, jadi jangan harap nek "
Irsyad segera bangun dari duduknya dan dia membelakangi neneknya "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan dia, kelakuan yang sudah dia buat sangat membuat aku sakit hati dan bahkan semua kejadian itu selalu saja terngiang-ngiang dalam kepala aku, membuat aku terus mengingat tentang masa lalu itu. Aku tidak bisa memaafkannya sampai kapanpun nenek jadi jangan pernah minta aku untuk melakukan itu, kalau nenek ingin dekat lagi dengannya silahkan aku tak pernah melarang "
"Iya nenek juga tahu itu sangat sulit, nenek mengerti akan hal itu "
"Kalau nenek tahu, lalu kenapa nenek tiba-tiba datang ke kamarku dan meminta hal yang seharusnya tidak nenek katakan tidak nenek bicarakan denganku, nenek sudah tahu kan alasan aku kenapa sangat membenci orang itu. Apa aku harus menjelaskan dua kali pada nenek apakah penjelasan 7 tahun yang lalu belum bisa membuat nenek luas, aku tak habis fikir saja dengan nenek "
Irsyad membalikan badannya lagi dan menatap neneknya itu terus, Irsyad ingin melihat sikap neneknya akan seperti apa, apakah neneknya akan merasa bersalah atau tidak setelah mengatakan hal seperti itu padannya.
__ADS_1
Tapi neneknya malah balik menatapnya dengan tatapan yang sangat iba sekali, Irsyad tidak akan terkecoh, neneknya ini pasti kembali dengan ayahnya Irsyad juga mengerti neneknya adalah seorang ibu. Mana mungkin bisa melupakan anaknya begitu saja.
Kalau memang neneknya mau bertemu lagi dengan anaknya silahkan, tak ada yang melarang bahkan mamanya juga waktu itu menyuruh neneknya untuk bertemu dengan anaknya.
"Nenek sudah mengerti tentang apa yang kamu jelaskan itu, tapi nenek hanya ingin kamu dan juga Ayah kamu itu baik-baik saja tidak ada pertengkaran lagi di antara kalian berdua. Nenek ingin kamu bisa akrab lagi dengan ayah kamu Irsyad, nenek mau kamu seperti dulu lagi dengan ayah kamu "
"Kamu kan sudah dewasa Irsyad, jadi kamu bisa lebih mengontrol emosi kamu nenek berpikir seperti itu tadinya, tapi ya sudah jika memang kamu tidak bisa memaafkan Ayah kamu, tidak usah dipaksakan nenek hanya ingin mengatakan itu saja, tidak ada maksud nenek untuk memaksa kamu memaafkan Ayah kamu itu"
"Ya sudah nenek sudah tahu kan jawabannya kalau Irsyad tidak akan pernah memaafkan laki-laki itu, sampai mati pun Irsyad tidak akan pernah memaafkannya, meskipun seperti yang nenek katakan Allah maha pemaaf tapi tetap Irsyad tidak akan pernah memaafkan kesalahannya itu, semua itu terlalu besar terlalu menyakitkan untuk Mamaku"
Astuti hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia segera bangkit dan menepuk bahu cucunya. Astuti tak akan memaksa yang nanti malah mengakibatkan pertengkaran saja diantar mereka semua.
"Baiklah kamu kerjakan lagi semua tugas kamu, nenek akan pergi ke kamar. Nenek akan istirahat saja "
"Tak akan aku memberikan kesempatan apapun pada laki-laki itu. Aku tidak akan pernah rela dengan apa yang pernah dia lakukan pada Mamaku. Kesakitan itu terlalu dalam dan terlalu mudah kalau aku memaafkannya, dia akan besar kepala dan menganggap seolah-olah perselingkuhannya itu tidak ada apa-apanya"
Kebencian Irsyad sama sekali tak berkurang masih sama, bahkan makin besar saja. Apalagi saat melihat ayahnya sudah menikah dengan perempuan itu. Irsyad kira ayahnya tak akan sampai menikah tapi nyatanya mereka malah menikah.
...----------------...
"Mama akhirnya kamu pulang juga "teriak Helena dengan senang melihat mamanya yang sudah datang, yang sudah Helena tunggu tunggu dari tadi. Helena tak sabar ingin bercerita dengan mamanya.
__ADS_1
"Iya kan ini sudah jam pulangnya Mama, bagaimana senang menonton film dengan ayah"
"Tentu saja senang Mama, kami benar-benar bersenang-senang kalau saja mama bisa cuti mungkin kita bisa bersenang-senang bertiga, Ayah sangat baik sekali "
Freya mendekati anaknya dan memangkunya "Lalu apa saja yang kamu lihat di sana, Mama ingin tahu apa saja sih yang dilakukan Helena dan juga Ayah. Mama begitu penasaran sekali"
"Banyak sekali Mama setelah menonton film di bioskop, kami berdua pergi membeli ice cream lalu makanan dan juga bermain di Timezone. Ayah juga memberikan aku boneka baru ayah begitu baik sekali, bonekanya begitu besar sekali mama "
"Wah Mama jadi ingin, kapan-kapan kita pergi bertiga deh mama juga pengen ikut dengan kalian berdua"
"Harus Mama, kita itu harus pergi bertiga kalau nggak ajak Kak Irsyad dan juga nenek, kita pergi aja satu keluarga senang banget pokoknya Helena jalan-jalan sama ayah, ayah juga terus membuat Helena tertawa"
"Lalu Ayah sekarang di mana, kenapa ayah tak ada biasannya dia selalu ada saat mamah pulang"tanya Freya sambil melihat ke arah sekitar, biasanya Amar akan ada di balkon depan tapi tidak ada sekarang.
"Ayah katanya harus pergi ke rumah sakit dulu, ada sesuatu yang harus diurus, nanti malam Ayah akan kemari lagi menemui Mama katanya. Baru saja Ayah pergi tadi sepertinya pekerjaannya itu sangat penting sekali, makanya Ayah tadi buru-buru dan tidak sempat menunggu Mama pulang "
"Baiklah tidak masalah boleh mama lihat bonekanya sekarang, boneka apa sih yang diberikan oleh ayah pada Helena"
"Boleh Mama, ayo cepat Mama ikut ke dalam kamarku akan aku perlihatkan boneka apa yang diberikan oleh ayah. Mama juga pasti akan mau bonekanya karena ini bonekanya sangat besar sekali, bahkan lebih besar dari tubuhku. Aku saja tidak bisa membawanya tadi ayah yang membantuku membawanya, saking besar dan beratnya mama"
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar Helena untuk melihat boneka yang Amar belikan. Sebenarnya Freya ingin bercerita tentang tadi dia bertemu dengan Dimas pada Amar, karena Freya tidak mau ada sesuatu yang disembunyikan dari Amar.
__ADS_1
Freya ingin semuanya selalu dibicarakan dan jujur tidak ada yang disembunyikan sama sekali, tapi ya sudahlah kata Helena kan nanti malam Amar akan kembali lagi, sekarang lebih baik Freya main bersama anaknya dulu melihat boneka yang dibelikan Amar untuk anaknya.
Freya kan sedang memulai sesuatu hubungan baru, jadi kejujuran untuknya adalah nomor satu, jangan sampai hubungan mereka berdua ini dibangun dengan sebuah kebohongan karena kedepannya tak akan pernah benar.