
Orang-orang yang membantu Freya untuk berdandan tadi ada di ujung, mereka begitu terharu dengan pembicaraan anak dan ibu mereka awalnya tidak menyangka kalau yang masuk ke dalam ruangan ini adalah anak dari orang yang akan menikah.
Karena pengantinnya sangat terlihat muda. Ya maksudnya mereka tidak menyangka kalau pengantinnya ini mempunyai anak sebesar ini, mereka kira hanya yang anak perempuan saja.
"Maaf menyela nona "ucap salah satu orang perempuan yang memakai kalung bertuliskan namanya, ini adalah orang yang bekerja di wedding.
Amar benar-benar sudah menyesuaikan segalanya, bahkan di sini yang bekerja kebanyakan perempuan sampai yang meriasnya pun adalah seorang perempuan.
"Iya ada apa "jawab Freya sambil melepaskan pelukan dari putranya ini.
"Ijab kabul akan segera dilaksanakan Nona, sebentar lagi Pak Amar akan segera melakukannya"
Ijab kabul hanya dilakukan oleh Amar dan ayahnya saja Freya hanya menunggu di sini. Nanti setelah selesai baru Freya keluar, memang ingin seperti itu saja Freya tidak mau duduk di samping Amar saat Amar melakukan ijab kabul.
Bukan apa-apa Amar itu selalu gugup kalau di sampingnya, jadi lebih baik setelah nanti ijab kabul Freya baru keluar bersama anaknya ini. Freya juga akan sama gugupnya kalau ada disamping Amar.
"Iya baiklah terima kasih ya sudah memberitahuku"
Perempuan itu tersenyum dan segera kembali ke tempatnya, seperti memberitahu pada temannya. Freya sekarang sangat gugup sekali dia akan mendengar Amar melakukan ijab kabul. Untuk kedua kalinya lagi Freya mendengarkan nya, tapi yang ini rasanya sangat berbeda sekali.
Saat bersama Dimas tidak segugup itu. Saat bersama Amar gugupnya sangat terasa sekali bahkan Freya sampai kepanasan, padahal di sini ada AC dan menyala.
__ADS_1
Freya menarik nafasnya, dia akan mendengarkan Amar berbicara, ruangannya tidak terlalu jauh hanya tersekat oleh sebuah pintu saja jadi Freya juga bisa mendengarnya, apalagi nanti juga memakai mic kan jadi akan terdengar jelas sekali.
Jantung Freya sudah berdegup kencang. Freya takut nanti Amar malah mengulangi sampai tiga kali, kalau sampai seperti itu tidak jadi kan Freya merasakan tangan anaknya yang memegang pundaknya.
"Mama tenang jangan tegang kayak gini. Mama jangan pingsan nanti Paman Amar malah jadi lebih gugup lagi kalau misalnya Mama pingsan. Mama harus tenang ya, aku yakin semuanya pasti berjalan dengan lancar "
Freya mengganggukan kepalanya, meskipun disuruh tenang tetap saja rasanya tidak bisa. Freya benar-benar takut, takut Amar salah menyebut atau Amar malah mengulangnya terus-menerus.
Freya memasang telinga dengan baik-baik, dia mendengarkan Amar sudah melakukan ijab kabul dengan satu tarikan nafas dan satu kali tidak diulang. Freya menjadi tenang, badannya lemas Freya tidak menyangka saja kalau dia akan secepat ini menjadi istrinya Amar.
Irsyad langsung memeluk mamanya dengan erat, Irsyad juga sampai menangis mendengar Paman Amar melakukan ijab kabul, Irsyad begitu bahagia bukan tangis penyesalan tapi ini adalah tangis kebahagiaan.
Akhirnya Ibunya bisa bahagia, akhirnya ibunya akan menjadi perempuan yang paling bahagia di samping Paman Amar. Irsyad yakin Paman Amar bisa melakukan itu. Paman Amar adalah laki-laki yang yang paling Irsyad percaya sekarang untuk membuat mamanya bahagia, untuk membuat mamanya selalu tersenyum kapanpun itu dimanapun dan dengan siapapun.
Tapi semua ini memang kenyataan, kalau dirinya sudah menikah dengan Amar, kalau dirinya sudah menjadi istri seorang Amar laki-laki yang selama ini selalu setia dan selalu sabar menghadapi sikapnya yang kadang-kadang seperti anak kecil, kadang-kadang tidak mengerti situasi dan kadang-kadang tidak pernah mau dimengerti.
"Mama sekarang menjadi istrinya Paman Amar, aku senang sekali. Helena pun pasti akan sangat bahagia sekali. Dia begitu menyayangi paman Amar "
Irsyad melepaskan pelukannya dan mengusap air mata mamanya. Irsyad tidak mau saat hari pernikahan ini mamahnya menangis, di sana juga perias langsung mengatakan selamat pada Freya.
"Selamat ya akhirnya kalian sah menjadi suami istri, aku ikut senang mendengarnya "
__ADS_1
"Terima kasih"
Riasan Freya dibenarkan sedikit, agar bekas air matanya ini tidak berbekas. Freya hanya diam saat dibenahi riasannya itu sebelum dia keluar dan menemui suaminya Amar.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu Mama Astuti yang membuka " Sayang ayo keluar kamu harus segera menemui suamimu, semuanya sudah selesai. Mama begitu senang sekali akhirnya kamu dan juga Amar sudah menjadi suami dan istri "
Freya memegang dadanya saat mendengar kata suami yang diucapkan oleh Mama Astuti, rasanya jantungnya ini tidak bisa diam jantungnya ini terus saja berdegup dengan kencang, rasa bahagia begitu menyelimuti dirinya sekarang.
Freya tak henti-hentinya tersenyum, Freya harus memasang senyum bahagia, ini adalah hari bahagianya dan Freya harus selalu tersenyum di hadapan semua orang apalagi Amar, Freya sangat beruntung dinikahi oleh seorang Amar.
Irsyad dan Mama Astuti memapah Freya keluar dari dalam ruangan itu, semua pasang mata langsung tertuju pada Freya. Tidak ada yang tidak menatap kearah Freya.
Freya begitu gugup saat dia melihat dekornya, memang sesuai apa yang dia mau. Amar benar-benar mengikuti apa kemauannya, memang didominasi dengan warna putih tapi sekarang Freya suka dengan dekor ini ternyata pilihan Amar memang tidak pernah salah.
Amar benar-benar hebat memilih segalanya agar menjadi cocok, tambahan warna bunga juga tidak terlalu mencolok dan cantik sekali.
Semua tamu yang datang sekarang memusatkan penglihatannya pada Freya, malu tapi dia terus saja mencoba untuk menatap ke arah depan. Freya juga tadi sedikit melihat kanan ke kiri banyak temannya yang datang dan juga ada Gea di sana.
Freya hanya bisa tersenyum ke arahnya, tidak ada lagi alasan sekarang untuk Freya membenci Gea kan. Semuanya sudah selesai, mereka juga sudah bahagia sekarang tinggal Freya yang bahagia dengan Amar.
Mungkin dulu Freya yan terpuruk dan Dimas serta Gea yang bahagia, tapi sekarang ada gilirannya yang merasakan hal itu.
__ADS_1
Freya juga melihat ada Amar yang berdiri dengan jas berwarna putih, yang senada dengan gaunnya Amar begitu tampan berdiri dengan gagah menatapnya. Amar juga tersenyum ke arahnya, Freya jadi malu sendiri. Freya seperti orang yang baru pertama menikah ini benar-benar berbeda rasanya sangat-sangat berbeda sekali.
Amar begitu menawan sekali, di sampingnya juga ada Helena yang cantik memakai sebuah gaun berwarna putih dengan Gigi ompong nya Helena tersenyum ke arahnya. Helena ini memang tak bisa dipisahkan dari Amar.