Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 197 Temui dulu sebentar


__ADS_3

Irsyad yang mengantarkan makanan untuk neneknya hanya diam saja saat mendengarkan semua cerita dari neneknya, Irsyad juga tidak peduli ayahnya mau seperti apa, tapi neneknya tadi sudah memohon-mohon padanya untuk bertemu dulu dengan ayahnya.


Irsyad tidak mau bertemu dengannya, Irsyad benar-benar marah dengan tingkah ayahnya yang dulu, rasanya muak saja untuk apa juga mau bertemu dengannya. Tak ada gunanya.


"Tolong ketemu dulu dengan ayahmu sekali ini saja, dia benar-benar ingin bertemu dengan kamu dia terus menanyakan kamu Irsyad, kamu ga boleh egois dong"


"Kenapa sih nek Irsyad gak mau, Irsyad mau kuliah. Banyak tugas yang harus Irsyad kerjakan, Irsyad mau cepet-cepet lulus biar bisa bantu Mama, Irsyad juga nggak mau masuk dalam kebohongan nenek ini seharusnya nenek bicara yang sesungguhnya saja sama dia, kalau mama dan juga dia itu udah nggak ada hubungan apa-apa mereka udah bercerai kalau misalnya nenek sekarang umpetin semuanya yang ada masalahnya semakin besar, nanti bakal ga ada penyelesaiannya, apakah nenek ga mikirin perasaan ayah Amar "


"Tapi kata dokter Ayah kamu jangan terlalu banyak pikiran. Nenek nggak mau kalau misalnya nanti kondisinya malah drop lagi gimana kalau nanti terjadi sesuatu dengan ayah kamu, nenek nggak mau itu sampai terjadi Irsyad tolong mengertilah, ini demi kebaikan semuanya "


"Iya Irsyad tahu, dokter bilang kayak gitu tapi nanti ke depannya akan makin runyam apalagi sama ayah Amar. Mama itu baru nikah nek. Keluarga Ayah Amar bagaimana mama itu pernah ditolak oleh keluarganya. Terus nanti ada masalah ini mereka akan memandang Mamah seperti apa lagi nek, Irsyad itu memikirkan perasaan Mama, Irsyad itu ingin melihat mama senang tersenyum bukan malah sekarang jadi pusing memikirkan bagaimana keadaan orang yang baru saja kecelakaan "


Mama Astuti malah jadi menangis mendengar kata-kata dari cucunya ini, bahkan cucunya ini tidak mau memanggil anaknya dengan sebutan Ayah, Irsyad benar-benar masih memendam rasa benci itu pada ayahnya. Begitu besar rasa bencinya itu.


"Lihat dulu saja keadaan ayahmu yah, lihat dulu kasihan dia, dari tadi dia ingin bertemu denganmu Irsyad mau bagaimanapun sebenci apapun kamu dia tetaplah ayahmu bukan orang asing, ingat kalian dulu pernah dekat dan saling menyayangi, jangan benci terus ayahmu Irsyad, suatu saat kamu akan membutuhkan ayah kamu itu "


Irsyad yang memang tidak tega dengan neneknya yang menangis seperti ini akhirnya masuk ke dalam ruangan itu. Irsyad melihat ayahnya sedang berbaring, ayahnya mengerutkan keningnya seperti tidak mengenal dirinya dia berkata"Irsyad, kamu udah besar udah berubah banget ya"

__ADS_1


Irsyad menganggukan kepalanya dia duduk dan menatap ayahnya itu "Kenapa kamu jadi pendiam Irsyad, kamu udah besar Ayah sampai lupa kamu udah segede ini ya sekarang"


"Iyalah aku gede namanya juga manusia pasti akan bertumbuh, ga mungkin akan terus jadi anak kecil"


"Irsyad kenapa kamu kayak gitu bicaranya sama Ayah, kamu lagi ada masalah ya di sekolah apa ada yang bikin kamu kesel kayaknya kok tatapan kamu itu kesel banget sama ayah"


"Enggak kok semuanya baik-baik aja, Irsyad selalu baik-baik aja dan nggak ada yang kejadian tuh di sekolah juga nggak ada masalah apa-apa"


"Gitu ya, Ayah lihat kamu itu berbeda sekali dari sebelumnya, kita selalu dekat dan sekarang kamu kayak yang benci sama ayah Irsyad, apakah ayah punya salah sama kamu sebelumnya "


"Oh kelihatan ya, aku kira ga kelihatan "


"Ya udah Irsyad mau kuliah dulu ya nek, Irsyad harus cepat-cepat pergi sekarang, Irsyad udah temuin kan sesuai permintaan nenek "


Irsyad langsung keluar dari dalam ruangan, Irsyad bahkan tidak berpamitan pada ayahnya. Irsyad hanya menemuinya saja benar-benar menemuinya saja, tidak merubah sikapnya pada ayahnya itu. Irsyad melihat wajah ayahnya tetap saja kesal.


Meskipun waktu itu pernah ayahnya membelanya saat masalah dirinya itu Tapi tetap saja rasa bencinya ini tidak akan pernah hilang sampai kapanpun sulit, menyakitkan sekali masa lalu yang pernah terjadi itu. Ayahnya sudah sangat menyakiti hatinya dengan dalam sekali. Makannya sulit sekali sembuhnya.

__ADS_1


"Mah kenapa Irsyad seperti itu dia punya masalah dengan aku. Dia seperti benci padaku, apakah ada kesalahan yang aku buat sampai Irsyad seperti itu, apakah aku punya salah padannya ma. Apakah sebelum aku kecelakaan aku bertengkar dengan Irsyad ma "


"Kalian tidak punya masalah, dia sepertinya sedang banyak masalah sudah jangan dipikirkan ya nanti juga dia tidak akan lagi begitu. Dia sedang pusing sepertinya dengan pelajaran yang ada di perkuliahannya, makannya Irsyad bersikap demikian sama kamu "


"Aku tidak menyangka Irsyad sekarang sudah kuliah Rasanya baru saja kemarin aku mengambil raport ke sekolahnya, tapi sekarang dia sudah berkuliah aneh mah seperti ada waktu yang hilang dalam kepalaku ini, Irsyad juga sudah berubah banyak. Aku sampai lupa tadi dengan anakku sendiri kalau aku tidak melihat dengan lebih teliti mungkin aku tidak akan mengenalnya ma"


"Iya kan kamu baru aja sembuh dari koma. Kamu makanya kayak gini. Irsyad emang udah kuliah kok, dia emang jadi lebih pendiam sekarang emang kan kadang anak-anak itu suka berubah. Apalagi kalau sudah dewasa seperti itu, banyak rahasia yang dia sembunyikan dari keluarganya, tapi yang terpenting Irsyad tak melakukan hal fatal saja"


"Iya Mah Dimas mengerti kok, Dimas hanya sedikit aneh saja. Apakah tadi mama udah telepon Freya Dimas mau bicara mah, Dimas ingin cepat-cepat bicara dengannya. Dimas juga ingin bertemu dengannya "


"Tadi Mama udah coba untuk telepon Freya, tapi dia belum aktif nomornya kayaknya emang masih banyak kerjaannya, tapi Mama janji nanti akan telepon lagi Freya pasti dia lagi sibuk banget. Kamu harus ngerti ya kerjaan istri kamu itu kan banyak banget "


"Iya deh mah setelah ini Dimas akan menyuruh Freya untuk keluar saja dari pekerjaannya itu. Dimas ingin Freya lebih menghabiskan waktu dengan Dimas, Dimas tidak mau terus seperti ini. Dimas rasanya kesepian kalau Freya terus saja bekerja padahal kan gaji Dimas juga cukup untuk menghidupi kita bertiga dengan Mamah berempat, kita tak akan kekurangan sedikit pun "


"Ya udah sekarang kamu makan dulu nanti minum obat biar cepat sembuh, biar kamu juga bisa ketemu sama anak-anak bisa ketemu sama Freya dan kalian bisa berkumpul lagi ya. Mama ingin melihat kalian bersama lagi seperti semula "


Dimas tentu saja langsung mengangguk dengan semangat, dia langsung dibantu untuk duduk oleh mamanya dan menyantap makanan yang sudah disediakan oleh suster tadi.

__ADS_1


Mama Astuti menyuapinya dengan telaten Mama Astuti tidak memikirkan bagaimana nanti kedepannya akan sehancur apa nanti kedepannya. Dia hanya memikirkan kesembuhan anaknya dulu.


Tanpa memikirkan perasaan orang lain, tanpa memikirkan rumah tangga orang lain nanti akan bagaimana.


__ADS_2