Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 161 Semua tegang


__ADS_3

"Aku berangkat dulu ke rumah sakit ya, kalau tidak ada pasien aku akan pulang lagi seperti ini. Aku akan menjaga kamu lagi dan juga anak kita ini "


Gea tersenyum senang dari tadi Dimas menemaninya, Dimas terus saja melayani apa yang dia mau bahkan dari makanan, minuman bahkan saat Gea akan memakai sandal Dimas membantunya, dia benar-benar melihat perubahan suaminya ini suaminya benar-benar ingin berubah untuknya kan bukan hanya karena dirinya sedang mengandung saja.


Ya semoga saja. Gea akan terus berubah dan berdoa, benar kata ibu mertuanya kalau dirinya ini tak boleh terus emosi, harus bisa tenang dan mengerti Dimas.


"Tapi malam ini kamu tidur di rumah kan tidak akan tidur di rumah sakit, kamu ga akan tinggalin aku lagi kan Dimas "


"Iya aku akan tidur di rumah, aku nanti pulang kalau semuanya sudah selesai tapi mungkin aku akan pulang larut malam. Makanya aku selalu membawa kunci agar tidak membangunkan kamu, jadi kamu kunci saja pintu dan jangan tunggu aku ya "


Gea lagi-lagi tersenyum, dia memeluk suaminya dengan erat sudah lama Gea tidak melakukan ini pada Dimas. Terakhir kali kapan ya Gea saja tak ingat sama sekali.


"Aku harap kamu akan terus seperti ini. Aku harap bukan karena aku hamil saja kamu berubah seperti ini Dimas. Memang karena kamu benar-benar mencintaiku benar-benar ingin hidup bersamaku sampai nanti Dimas, aku begitu berharap banyak sama kamu "


Dimas tidak menjawabnya Dimas hanya bisa memeluk istrinya saja, Dimas masih belum bisa menerima tentang masa lalu Gea sekarang yang hanya bisa Dimas lakukan perhatian dan membuat istrinya nyaman itu saja.


Dimas tidak bisa berjanji apa-apa ya semoga saja lambat laun Dimas bisa melupakannya dan mengikhlaskan serta menerima pilihannya ini meskipun akan sulit. Ini adalah pilihannya seharusnya Dimas bisa menerima setiap konsekuensinya.


"Ya sudah aku pergi dulu ya, aku harus bekerja dulu aku juga tidak akan lama kok. Setelah semuanya selesai aku janji akan langsung pulang "


Gea juga tidak mempermasalahkan Dimas yang tidak menjawabnya. Gea mengerti sulit sekali menerima dirinya yang serba kekurangan, pasti Dimas akan butuh waktu lama lagi, dan Gea tak tahu itu sampai kapan.


"Baiklah kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku "


Mereka melepaskan pelukannya Dimas langsung pergi ke rumah sakit. Dimas juga sedang menyelidiki segala hal yang terjadi pada anaknya. Ini benar-benar tak masuk akan sekali.


...----------------...


Irsyad yang baru pulang mendapatkan sebuah pesan dari Laila. Tapi belum sempat Irsyad buka. Saat Irsyad buka ternyata sebuah pesan yang sangat membuatnya kesal. Enak saja perempuan ini menyuruh-nyuruhnya untuk tanggung jawab.

__ADS_1


Laila


Tolong Irsyad kamu tanggung jawab. Aku ga mau jalanin ini sendirian, kalau ga kamu siapa lagi. Yang aku mau hanya kamu bukan orang lain. Tolong jangan egois datang kerumah dan aku tunggu.


Kamu ingin semua ini tersebar, tidak kan lebih baik datang kerumah dan akui semuanya. Pasti semuanya akan baik-baik saja saat kamu mengakuinya. Aku yakin itu, orang tua kita juga tak akan bertengkar.


Orang tua ku akan mengusut segalanya, mau kamu terus mengelak pun kamu tetap salah Irsyad. Mau kamu lari ke manapun kamu harus tetap tanggung jawab.


Irsyad yang sudah membaca pesan itu mengusap wajahnya dengan kesal. Irsyad langsung membalasnya, tak kalah pedasnya Irsyad membalas pesan itu.


Enak saja perempuan ini, ingin dirinya menanggung semuanya. Dasar tidak tahu malu lihat saja Irsyad akan membereskan semua masalah ini.


Irsyad tak akan diam saja dituduh seperti itu. Siapa juga yang mau tanggung jawab hasil orang lain, tak akan pernah ada yang mau.


...----------------...


Freya sedang banyak masalah dan tak mau menambah lagi. Sudah cukup hidupnya ini banyak masalah.


"Freya ayo kita turun, apakah kamu akan terus diam didalam mobil, sudah setengah jam kita disini. Apa kamu mau mengobrol dengan nenek di mobil saja "


Freya menelan ludahnya dengan susah payah. Freya membuka pintu dan menurunkan kakinya dengan perlahan Amar juga langsung ikut turun dan membantu Freya untuk keluar dari dalam mobil, mereka bergandengan tangan untuk masuk ke dalam rumah.


Tangan Freya juga sudah sangat berkeringat waktu itu mungkin Freya datang kemari sendirian, tapi sekarang bersama Amar tapi rasa gugupnya lebih parah lagi.


"Jangan takut seperti itu, ada aku kan di sampingmu. Jangan pernah takut. Aku akan terus membela kamu apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kamu ditindas oleh nenek"


"Aku hanya takut nanti malah akan ditolak. Aku tidak siap untuk ditolak aku benar-benar tidak sanggup Amar. Aku takut sekali aku tidak mau bertengkar lagi dengan nenekmu, Aku benar-benar menghormati nenekmu. Aku tidak mau masalahnya makin panjang dan pernikahan kita akan makin dipersulit saja"


"Tidak akan, aku janji semua ini tidak akan terjadi lagi. Kamu tidak akan bertengkar lagi dengan nenek. Jika aku ada di samping kamu nenek tidak akan berani mengatakan apa-apa padamu, nenek pasti akan hanya bertanya beberapa saja "

__ADS_1


Mereka langsung masuk ke dalam rumah, mamanya Amar langsung memeluk Freya dan mengatakan kata-kata rindu pada Freya. Freya juga sama rindunya pada mamanya Amar biasanya mereka akan mengobrol di telepon lama sekali. Tapi semenjak ada masalah ini mereka jadi jarang bertukar kabar.


Freya langsung dituntun masuk ke dalam rumah. Freya juga melihat di sana ada nenek yang sedang minum teh dengan tubuh yang tegak dan juga tatapan yang begitu tajam menatap ke arah Freya.


Tatapannya selalu sama tidak pernah berbeda pasti tajam dan seperti membenci Freya saja, itu lah yang selalu Freya pikirkan karena memang seperti itu tatapannya bahkan saat pertama kali mereka bertemu juga tetap saja seperti ini tak pernah ada yang berubah dari tatapan nenek.


Setelah menyalami neneknya Amar. Freya segera duduk bersama Amar, mereka duduk bersampingan. Mereka belum berbicara apa-apa mereka masih menunggu nenek yang mau minum tehnya itu, nenek juga sepertinya belum mau berbicara apa-apa. Nenek seperti sedang mencari sesuatu dari Freya dan juga Amar.


"Nenek ini Freya sudah ada di sini sebenarnya apa sih yang nenek ingin bicarakan sampai-sampai harus membawa Freya kemari. Amar sudah membawanya tapi nenek masih mendiamkannya, ayo cepat nek segera bicara"


Neneknya tidak menjawab. Dia menyimpan gelasnya dan berdehem lalu menatap Freya lagi.


"Apakah kamu yakin dan benar-benar ingin bersama cucuku ini, apakah kamu tidak akan menyakitinya nanti suatu saat Freya, dan satu lagi apakah kamu tidak akan mengungkit tentang masa lalu kamu"


"Nek kenapa kamu bertanya hal seperti itu, mana mungkin Freya akan menyakitiku, dia tidak akan pernah mungkin melakukan hal itu, nenek ini selalu saja asal bicara kalau apa-apa. Jangan bertanya yang tak penting nek"


Amar aku ini sedang berbicara dengan Freya bukan dengan kamu, nanti juga saat ada waktunya aku akan berbicara dengan kamu Amar, jadi diam aku sedang berbicara dengan Freya jangan ikut campur, tutuplah dulu mulutmu itu "


Freya menepuk tangan Amar, agar Amar bisa tenang Freya akan mencoba menjawab sebisanya dia saja. Freya akan menghadapi neneknya Amar ini dengan fikiran yang tenang dan juga tak tegang.


"Jadi jawab Freya apa jawabanmu itu, aku ingin tahu dari mulutmu langsung makanya aku sengaja menyuruh Amar untuk menjemputmu dan datang kemari. Ayo cepat jawab "


Freya menarik nafasnya terlebih dahulu lalu segera berbicara "Aku tidak akan pernah mungkin menyakiti Amar, untuk apa aku melakukan itu aku juga ingin rumah tangga aku baik-baik saja, aku tidak mau mengulangi terus rumah tanggaku ini, aku ingin menikah dengan Amar dan tidak berganti-ganti lagi, aku tak akan mungkin melakukan hal itu aku tahu bagaimana disakiti maka aku tidak akan pernah menyakiti orang lain apalagi nanti suamiku sendiri"


"Aku juga tidak akan pernah mengungkit-ungkit tentang masa laluku, biarlah masa lalu menjadi sebuah pelajaran untukku ke depannya. Aku tidak akan mungkin menyamakan Rumah tanggaku dengan Rumah tanggaku yang dulu, aku akan selalu mengikuti apa kata Amar aku akan patuh pada suamiku"


Neneknya Amar malah mengetuk-ngetuk meja dia masih menata Freya dengan tatapan tajamnya itu, belum bicara apa-apa dan sekarang pandangannya terarah pada cucunya. Semuanya tegang bahkan mamanya Amar juga ikut tegang.


Nenek itu memang pintar membuat orang-orang yang ada dihadapannya jadi ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2