
Amar masih belum pulang dari rumah Freya, dia benar-benar ingin menghabiskan waktunya dengan Freya sebelum tidak bisa bertemu dulu, karena harus pingitan dulu.
Padahal Amar ingin langsung saja, Amar benar-benar tak bisa kalau harus dipisahkan dari Freya. Rasanya berat sekali.
"Kamu lebih baik pulang sekarang Amar, ini sudah sangat malam sekali nanti saat hari kita menikah kita akan bertemu lagi dan tak akan dibatasi nanti, kita akan bebas bertemu. Kamu harus bisa ya jangan merengek seperti anak kecil nanti "
"Ya tapi kan kita harus tidak bertemu beberapa hari lagi, aku nanti akan rindu sekali Freya aku tak akan sanggup kalau harus rindu dengan kamu "
Amar malah memeluk Freya terus-menerus. Amar dari tadi sepulang mereka belanja Amar belum pulang juga, malah terus seperti ini menempel pada Freya. Tak mau lepas sama sekali. Freya sampai pegal karena tangannya terus saja dipeluk tak dilepaskan sama sekali.
Mama Astuti yang memang dari tadi sedang menonton TV segera mendekati dua orang yang akan menikah itu "Kamu nggak akan pulang Amar, ini sudah sangat larut malam sekali kalau terjadi apa-apa bagaimana pulang dulu ya. Nanti kalau sudah menikah kamu akan sepuasnya memeluk Freya, tak akan ada yang melarang dan menyuruh kamu untuk pulang "
Mau tidak mau Amar langsung melepaskan pelukannya, kalau sudah mama Astuti yang berbicara Amar malah jadi malu sendiri, apalagi dirinya terus saja menempel.
"Iya Mah ini juga mau pulang tapi sebentar lagi deh, beberapa menit lagi aku akan pulang "
"Ini sudah jam 11 malam loh. Memangnya kamu mau terus di sini orang tua kamu juga nanti khawatir belum lagi kamu juga besok harus kerja Amar, pulang dulu ya Amar "
Akhirnya Amar pasrah saja, dia berpamitan pulang pada Mama Astuti dan juga Freya sebenarnya engan pergi tapi ya mau bagaimana lagi. Amar harus menunggu beberapa hari, setelah itu Amar bebas untuk menghabiskan waktu dengan Freya selama apapun itu.
Mama Astuti juga mengusap rambut Freya dengan sayang "Kamu juga harus istirahat, kamu juga udah mulai cuti kan besok nggak kerja lagi dulu Freya"
__ADS_1
"Iya Mah aku udah mulai cuti, aku kan harus persiapin yang lain-lainnya juga. Masih ada yang belum aku persiapkan. Amar ini ingin menikah dengan cepat tapi dia lupa kalau persiapannya belum semuanya jadi ya begini kamu semuanya sibuk "
"Pengantin itu jangan terlalu capek. Kamu jangan terlalu maksain ya kalau apa-apa, masih banyak orang yang bantuin, banyak pengantin yang drop saat hari pernikahannya kamu jangan sampai seperti itu ya. Kamu harus terlihat fresh nanti "
"Iya Ma, Freya istirahat dulu ya "
Mama Astuti menganggukan kepalanya dan dia juga masuk kedalam kamarnya. Sudah tak ada lagi yang ditonton waktunya untuk tidur sekarang.
...----------------...
"Amar jam segini kamu baru pulang, kamu ini kan mau nikah jangan terus main dong kamu harus segera cuti jangan pergi kemana-mana dulu. Orang nikah itu suka selalu ada aja rintangannya "
Amar yang baru saja masuk dikagetkan dengan mamanya. Amar menghampiri mamanya dan memeluknya dari samping, Amar sangat suka kalau sudah memeluk mamanya seperti ini.
Mamanya itu tersenyum melihat tingkah anaknya yang sedang jatuh cinta, tak pernah Amar sebegininya pada seorang perempuan. Dulu saja saat dijodohkan Amar tidak pernah mau bahkan kadang Amar suka kabur, tapi sekarang dengan Freya Amar begitu lengket.
Nenek saja sampai pusing dengan tingkah Amar dulu yang sulit untuk dijodohkan. Pasti saja Amar menghilang kalau dijodohkan.
"Awas aja nanti kamu tiba-tiba 1 tahun, 2 tahun udah berubah nggak kayak gitu lagi sama Freya. Malah jadi acuh nanti kamu "
Amar melepaskan pelukannya dan menarik Mamanya untuk duduk di ruang tengah, tak mungkin kan mereka terus berdiri seperti ini, yang ada malah pegal saja.
__ADS_1
"Mama ini Amar aja ngejar Freya sampai 6 tahun, masa tiba-tiba udah Amar nikahin Amarnya berubah nggak mungkin. Amar nggak akan pernah mungkin berubah semua itu masih akan tetap sama, Amar akan tetap mencintai Freya sampai nanti. Amar tidak akan pernah ada yang berubah, mama nanti bisa lihat. Kalau sampai Amar berubah mama bisa menegur Amar dan memarahi Amar sepuasnya "
"Iya Mama tahu, mama hanya memberitahu saja kadang kalau sedang mengejar kita itu selalu ingin mendapatkan, tapi setelah didapatkan suka merasa kalau ya sudah begitulah mama hanya tidak mau sampai kamu seperti itu Amar "
"Mama tidak usah khawatir Amar tidak akan seperti itu. Amar akan selalu menyayangi Freya, Irsyad dan juga Helena, Amar akan selalu menjaga keluarga kecil Amar itu"
"Mama tidak menyangka anak yang dulu Mama kejar-kejar sekarang sudah menjadi dewasa, akan menikah pula rasannya kamu tumbuh terlalu cepat Amar "
"Masa Amar mau tetap kecil sih mah. Amar juga harus besar dong, Amar pasti akan banyak berubah Mama ku sayang "
Mamanya tertawa mendengar itu. Mamanya Amar mengusap tangannya Amar dengan perlahan, memang sebenarnya belum siap untuk ditinggalkan Amar menikah tapi mau bagaimanapun anaknya itu harus berumah tangga.
Dirinya tak boleh egois, anaknya nanti masih bisa datang kerumahnya.
"Kamu harus sering-sering main ke rumah mama ya, jangan lupa sama Mama mentang-mentang nanti udah nikah kamu lupa sama mama, nenek dan keluarga yang lain"
"Ya nggak akan mungkin lah ma, mana mungkin aku lupain Mamah dan semua keluarga. Kalian itu sangat berarti dalam hidup Amar, Freya juga nggak akan mungkin tiba-tiba nyuruh Amar untuk nggak ketemu sama keluarga, yang ada Freya akan terus menyuruh Amar untuk ketemu sama kalian semua "
"Iya Freya itu udah pilihan terbaik untuk kamu, kalian harus selalu akur-akur ya kalau ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin jangan dulu mengambil keputusan yang tidak benar, jangan sampai terucap dari mulut kalian kata pisah "
"Tentu mah tidak akan, mau dipeluk oleh Amar"
__ADS_1
Tanpa disuruh untuk kedua kalinya Mamanya itu langsung memeluk Amar dengan erat. Amar juga sama memeluk mamanya dengan erat pula. Memang Amar sebenarnya tidak mau kemana-mana.
Tapi Amar tidak akan tinggal bersama Mamanya lagi nanti, mamanya sudah mewanti-wanti kalau menikah Amar jangan tinggal bersama mertua ataupun dengan mamanya, bukan apa-apa kadang-kadang kan suka ada perselisihan atau cemburu cemburu dari menantu atau ibu mertua jadi lebih baik dipisah saja seperti itulah kata ibunya.