Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 43 Semua seperti tak suka


__ADS_3

"Lihat, dengan cepat keluarga kita ini akan banyak masalah tetangga-tetangga tadi berkumpul seperti itu. Aku sungguh malu dengan mereka kita sudah lama di sini baru kali ini masalah terumbar begitu saja, aduh sangat memalukan sekali, pasti mereka akan berkata yang tidak-tidak tentang keluarga kita ini "


Dimas akan menyela kata-kata mamanya, tapi Astuti segera mengangkat tangannya "Kalau terus seperti ini keluarga kita akan tercoreng jelek dari yang keluarga baik-baik saja menjadi keluarga drama, jadi lebih baik kalian Dimas Freya fikirkan dulu sebelum mengambil keputusan. Nanti jika ada masalah seperti ini lagi fikir-fikir dulu ya. Membantu orang boleh tapi jangan sampai terbawa-bawa juga masalahnya "


Astuti langsung masuk ke dalam kamarnya. Gea merasa bersalah sekali dengan hal ini. Kenapa Ayahnya harus nekat datang kemari"Freya lebih baik aku pergi dari sini saja, aku akan pergi jauh dan ayahku tidak akan pernah tahu aku pergi ke mana. Tolong biarkan aku pergi ya. Aku hanya akan membuat masalah saja, aku tidak mau keluarga kamu malah hancur gara-gara aku. Lebih baik kamu jangan terus bersamaku "


Freya langsung meraih tangan Gea "Tidak aku tidak mau kamu pergi, jangan pergi begitu saja aku akan mengurusnya. Kita akan mengurus semua masalah ini sama-sama ya. Jangan kemana-mana tetap disini aku tak mau kehilangan kamu lagi "


"Aku tidak mau membuat keluargamu malah hancur, lihat saja kan Ayahku malah nekat datang kemari aku tidak mau membuat kalian dalam masalah. Aku tidak mau hal itu terjadi jadi tolong biarkan aku pergi, suatu saat aku akan kembali lagi sama kamu, tapi aku janji tak akan membawa masalah untuk kamu "


Freya menggelengkan kepalanya, Freya langsung membawa Gea masuk ke dalam kamarnya lalu membaringkan Gea dan menyelimutinya " Sebentar aku akan keluar dulu, jangan kemana-mana aku akan kembali lagi "


Freya keluar hanya untuk berbicara dengan suaminya Dimas, untuk hari ini dia akan tidur dulu bersama Gea setelah mendapatkan izin dari suaminya Freya masuk lagi ke dalam kamar dan ikut berbaring di samping Gea.


"Seharusnya kamu tidak mempertahankan ku terus-menerus seperti ini Freya. Kamu pasti akan dimusuhi oleh ibu mertuamu "


"Kamu ini temanku, jangan berkata seperti itu. Mama tak akan mungkin memusuhiku dia bukan ibuku Gea"


"Ya tapi aku malah membawa masalah kan dalam keluargamu ini. Padahal cita-citaku saat kecil sangat sangat mudah ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik, tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan jodoh malah aku diperlakukan tidak adil oleh ayah tiriku sendiri. Aku malah jadi takut nanti berumah tangga "


"Aku yakin suatu saat akan datang laki-laki yang bisa mewujudkan cita-citamu itu, aku tahu cita-citamu tidak pernah neko-neko atau aneh-aneh lebih baik sekarang kamu istirahat ya, ayo cepat istirahat ini sudah sangat malam sekali aku tahu pasti kamu sangat lelah sekali"


Gea mencoba untuk menutup kedua bola matanya, semoga saja dia bisa tidur setelah menghadapi masalah ini, masalah yang begitu rumit menurutnya. Masalah yang sangat memusingkan sekali.


Pagi-pagi sekali mereka sudah dibangunkan oleh Dimas, Dimas membawa bunga untuk istrinya dan juga untuk Gea.


Kedua perempuan itu langsung bangun. Gea yang menatap bunga yang diberikan ke arahnya langsung mengambilnya, senyum Gea langsung terukir diberi bunga oleh laki-laki yang dia cintai tentu saja dia senang.


Meski mereka tidak akan pernah bersatu sampai kapanpun. Gea juga mengerti kalau Dimas ini adalah suaminya Freya, mana mungkin dia akan tega merebut laki-laki ini.


Freya juga sama sekali tidak curiga dia juga tersenyum saat melihat Gea tersenyum "Baiklah para perempuan-perempuan lebih baik kalian segera bangun dan sarapan, aku sudah menyediakan sarapan untuk kalian ayo bangun dan segera mandi"


"Baiklah sayang aku akan segera bersiap, kamu tunggu aku ya "ucapan Freya sambil mengecup pipi suaminya.


"Aku akan menunggu di luar sayang "


Dimas keluar dari kamar, Gea masih tersenyum dan menatap bunga itu. Diberi bunga di pagi hari membuatnya ceria kembali, bahkan senyumnya sangat lebar sekali bunganya wangi dan ini untuk pertama kalinya diberikan bunga oleh seorang laki-laki dengan sang romantis menurutnya, bangun tidur dan langsung disuguhi bunga dan laki-laki tampan di hadapannya.


"Kamu memang beruntung Freya, karena mendapatkan suami seperti dia jarang sekali loh ada suami seperti Dimas, dia begitu perhatian sekali "


Freya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengiyakan kalau Freya ini memang beruntung mendapatkan Dimas, Dimas itu laki-laki yang baik perhatian dan juga romantis jarang kan ada laki-laki yang seperti itu.


...----------------...


Freya dan juga Gea keluar ternyata di sana sudah ada ibunya Freya dan juga adiknya. Freya langsung mendekati ibunya itu dan memeluknya dengan erat. Terakhir kali mereka berbicara saat itu saat mereka bertengkar gara-gara adiknya itu tentang pekerjaan.


"Ibu kamu ke sini" tanya Freya dengan senang.


"Yah Ibu kemari untuk melihat keadaanmu dan kenapa dia ada di sini" sambil menatap Gea dengan sangat sini sekali.


"Dia tinggal di sini Bu"

__ADS_1


"Apa tinggal di sini, kamu tidak salah. Kamu gila memasukkan seorang perempuan ke dalam rumahmu otak kamu ini di mana Freya. Untuk apa aku menyekolahkanmu tapi kamu malah bodoh seperti ini"


"Tolong Bu jangan ajak berdebat aku disini, malu ini masih pagi-pagi. Lihatlah ada juga Mamanya Dimas, ibu tidak malu jangan membuat masalah kita baru saja bertemu Bu"


Ibunya Freya langsung melengos mengikuti Gea yang masuk ke dapur. Tangan Gea langsung ditarik oleh ibunya Freya, bahkan Gea hampir terjatuh untuk saja Gea langsung berpegangan pada tepian meja.


"Kenapa kamu harus datang ke kehidupan anakku lagi. Kamu sudah menyakitinya kan bahkan kamu sudah membuat Freya menangis berhari-hari dan menyalahkan dirinya sendiri. Untuk apa kamu kembali lagi kepadanya, apa kamu ingin menghancurkan lagi anakku, apa belum cukup yang kamu lakukan pada Freya"


"Seharusnya kamu tidak pernah muncul lagi di hidup Freya, dia sudah bahagia dia sudah punya suami dan jangan sampai nanti suaminya kamu rebut juga. Perempuan seperti kamu ini tidak akan pernah ada berubahnya Gea, kamu itu akan terus seperti itu tinggalkan anakku dan jangan pernah tinggal lagi di sini. Jangan ganggu rumah tangganya biarkan dia bahagia"


"Freya sudah bahagia sekali tanpa kamu, tapi kamu malah datang kemari kalau aku tahu dari awal mungkin aku sudah menyingkirkan mu dari dulu. Kamu ini pembawa sial untuk anakku, perebut apapun yang anakku punya bisa saja nanti kamu merebut suaminya aku tidak akan diam, aku akan bertindak ingat itu. Aku tidak akan sebaik anakku Freya"


"Ibu, Gea kalian kenapa ada di dapur ayo kita makan, yang lain sudah menunggu ayo "


Mereka berdua segera menganggukan kepalanya dan pergi ke meja makan , Freya menatap wajah Gea yang murung tapi Gea sebisa mungkin menghindari pertanyaan dari Freya.


Mereka sarapan pagi bersama "Maaf ya besan aku tiba-tiba datang pagi-pagi seperti ini. Aku hanya ingin melihat keadaan anakku saja, rasannya sudah lama aku tak bertemu dengannya "


"Tidak masalah kenapa harus minta maaf, malahan aku senang kamu datang kemari. Aku senang ada teman bicara "


"Iya maaf ya aku tidak memberitahu kalian dulu, kamu tahu sendiri kan hati seorang ibu kadang tahu apa yang akan terjadi pada anaknya "sambil menatap Gea.


Ibu Freya seperti seolah-olah memang menyindir Gea. Freya yang mengetahuinya langsung mengganti topik pembicaraan, dia tidak mau kalau Gea sampai sakit hati dengan kata-kata ibunya itu. Memang ibunya tahu tentang semua cerita yang terjadi pada Freya tentang hidup Freya, karena ya Freya cerita pada siapa lagi kalau bukan pada ibunya.


...----------------...


Gea hanya diam termenung di rooftop rumah Freya. Semua orang sudah tidak ada Freya sudah bekerja, Dimas juga lalu ibu mertuanya Freya sedang belanja dan ibunya Freya juga sudah pulang. Apa yang dikatakan oleh ibunya Freya benar dirinya hanya membuat masalah saja untuk Freya.


Gea mengusap air matanya. Mungkin kalau dia mati semua orang akan bahagia kan mungkin semuanya akan baik-baik saja kan. Ayahnya juga tidak akan meneror lagi Freya ayahnya akan puas.


Gea melangkah lebih dekat dan melongok ke bawah. Gea langsung mundur tiba-tiba saja kepalanya pusing melihat ke bawah seperti itu. Kalau Gea bunuh diri di sini yang ada Freya akan dapat masalah lagi kan, kenapa sih hidupnya ini selalu membuat hidup orang lain menjadi rumit.


Gea terduduk begitu saja, menangisi dirinya sendiri, meratapi nasibnya yang tidak pernah bahagia. Kapan dirinya bisa bahagia seperti Freya kapan dia akan mendapatkan suami seperti Freya juga.


Kenapa kebahagiaan itu tidak pernah datang dalam hidupnya, apakah kesalahannya sangat fatal sekali sampai-sampai tak ada sedikitpun kebahagiaan yang datang dalam hidupnya. Selalu saja masalah yang selalu datang.


...----------------...


Ternyata ibunya Freya tidak benar-benar pulang, dia malah mengikuti Ibu mertuanya Freya pergi ke pasar di sana ibunya Freya memanas-manasi mertuanya Freya itu.


Agar ibu mertuanya Freya itu mengusir Gea dari rumah anaknya, sungguh dia tidak mau kalau rumah tangga anaknya hancur cuman gara-gara perempuan itu, cuman gara-gara Freya yang terlalu baik pada penghianat itu.


"Aku sebenarnya ingin membicarakan ini dari tadi bersamamu, tapi rasanya tidak enak kan kalau terdengar oleh orangnya langsung. Kamu membolehkan Freya dan juga Dimas membawa Gea, kenapa apa alasannya besan "


"Awalnya aku tidak setuju tapi makin hari aku makin kasihan dengan keadaannya. Sepertinya dia sangat terpuruk sekali stres dengan kelakuan Ayah tirinya, permasalahannya ini cukup rumit sekali ya "


"Iya aku tahu tapi dari kecil memang dia itu selalu membawa masalah untuk orang tuanya, untuk siapapun yang dekat dengannya. Untung saja Freya juga mau menemaninya. Saat remaja dia pernah merebut pacar Freya sampai-sampai Freya di sana terpuruk menyalakan dirinya sendiri apa kekurangannya. Aku sangat kasihan dengan anak itu tapi Gea dia tidak ada datang ke rumah untuk meminta maaf atau apapun itu dia acuh sekali"


Ibu Freya diam cukup lama lalu melanjutkan kata-katanya lagi "Saat dia terpuruk seperti itu Freya menyibukkan dengan kuliah, Freya mencoba untuk melupakan laki-laki itu dan juga sahabatnya itu Gea. Bahkan sampai Freya tidak percaya dengan seorang laki-laki. Tapi Dimas datang seperti pahlawan dan bisa membuka hati Freya lagi, aku senang sekali dan bahagia sekali"


Astuti yang baru mendengar itu langsung menatap ibunya Freya, jadi selama ini firasatnya benar kan kalau di antara mereka berdua pernah ada pertengkaran seperti itu "Hatiku juga berkata tidak enak, aku takut dia malah nanti menghancurkan rumah tangga Freya dan juga Dimas, tapi mau bagaimana lagi kamu tahu sendiri kan Freya dan Dimas itu keras kepala. Mereka pasti akan terus menampung dia di rumah, entah kapan akan di pindahkan Gea itu "

__ADS_1


"Yah aku tahu karakter mereka berdua itu seperti apa, terlalu baik pada orang lain. Tapi menurutku kamu pikir-pikir dulu ya jangan terlalu baik padanya maksudku jangan terlalu memberikan hatimu itu padanya, dulu saja aku seperti itu kasihan sekali padanya sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri, tapi nyatanya dia malah menyakiti anakku makanya aku tadi sangat kaget saat dia ada di rumah kalian"


"Nanti aku akan berbicara lagi pada Freya dan Dimas semoga saja mereka berdua mengerti ya dan mau mengikuti kata-kataku. Aku juga dari awal sudah mengatakan pada mereka untuk memisahkan Gea"


"Ya itu ide yang bagus, daripada dia terus di rumah itu. Nanti juga tidak akan pernah baik takutnya dia malah jadi simpanan tetangga-tetangga yang lain yang ada di sana. Yang tercoreng adalah keluarga kalian juga kan"


Astuti menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang besannya itu katakan, harus dengan cara apa ya dia berbicara dengan menantunya dan juga anaknya agar mereka mengerti. Gea tidak mungkin terus ada di rumahnya.


...----------------...


Dimas dan Freya kembali makan siang bersama, itu sudah menjadi rutinitas mereka berdua. Dimas sudah memesankan makanan kesukaan Freya, mereka duduk berhadapan.


"Sepertinya dia sangat terpuruk sekali Dimas, apakah perlu kita mengajaknya jalan-jalan mungkin untuk menenangkan pikirannya aku takut dia malah terus terpuruk dalam masalahnya ini terlalu banyak masalah yang datang dalam hidupnya ini kan. Bahkan bertubi-tubi datangnya "


"Itu ide yang bagus, sangat bagus sekali membawa Gea jalan-jalan tapi kita harus mengatur waktunya, kita ajak juga Irsyad sekalian dia juga sudah lama kan tidak jalan-jalan bersama kita "


"Iya kamu benar juga. Tapi ke mana aku benar-benar kasihan dengan dia. Kenapa dari sekian banyak wanita harus dia yang tersakiti seperti ini, padahal kan masih banyak wanita-wanita yang lainnya "


"Sayang sebenarnya di luar sana lebih banyak lagi dan ada yang lebih parah dari Gea. Hanya saja karena kita hanya mengenal dia saja dan melihat masalahnya saja, jadi kamu menganggapnya kalau Gea saja yang punya masalah seperti ini, kalau kamu melihat keluar kamu juga pasti akan mengerti dan kamu juga akan melihat ada yang lebih parah dari ini dari masalah Gea"


"Iya juga sih, tapi kenapa juga dia tidak mau melaporkan tentang kekejaman ayahnya ini malah terus saja disimpan sendiri olehnya, kalau aku jadi dia aku akan melaporkannya aku tidak akan pernah tinggal diam aku akan bertindak dengan cepat "


Dimas mengusap tangan sang istri "Kamu dan juga dia berbeda, dia terlalu lemah untuk melaporkan semuanya. Kamu itu perempuan hebat kamu itu perempuan kuat. Jadi kalian itu sangat berbeda jauh. Aku yakin sampai kapanpun temanmu itu tidak akan pernah melaporkan kasus ini"


"Benar kamu benar sekali"


"Ayo kita makan sayang"


"Tentu ayo "


...----------------...


Gea yang sudah cukup tenang turun ke lantai bawah. Gea melihat anaknya Freya yang sudah pulang ke rumah, tapi ibu mertuanya Freya dari tadi belum pulang-pulang juga. Gea mencoba untuk tersenyum pada anak laki-laki itu tapi tidak ada balasannya. Dia hanya acuk saja.


"Kamu membenciku ya "tanya Gea tiba-tiba saja.


Irsyad langsung membalikan badannya dan menatap Gea "Untuk apa aku membenci tante. Memangnya ada alasannya aku harus membenci tante, tidak ada kan "


Gea menggelengkan kepalanya "Tidak hanya saja kamu seperti membenciku, kamu seperti tak menyukai aku ada disini "


"Mungkin itu hanya perasaan tante saja, tapi aku minta tolong Tante jangan pernah rusak kebahagiaan orang tuaku ya. Aku lihat Ayah mulai perhatian pada tante. Aku tidak mau sampai Mamaku menangis jadi tolong Tante bisa menjaga sikap ya"


Gea menundukan kepalanya tak percaya anak Freya bisa mengatakan ini "Tenang saja aku tidak akan merebut ayahmu, aku juga tidak akan mungkin menyakiti temanku sendiri"


"Baguslah Tante kalau begitu aku tenang.. Aku takut hal seperti ini terjadi Mamaku tidak boleh menangis, aku tidak akan pernah sanggup melihat itu dan juga aku tidak akan pernah rela kalau itu sampai terjadi"


"Iya aku mengerti Irsyad kamu tenang saja aku tidak mungkin melakukannya"


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi"


"Tidak ada"

__ADS_1


Irsyad langsung membuka pintu kamar dan masuk. Gea berjalan dengan gontai ke arah kamarnya. Sepertinya memang orang-orang di sini mencurigainya, apakah tatapannya ke arah Dimas terlalu terlihat atau bagaimana di sini dia hanya tertarik saja pada Dimas.


Tidak ada niatan untuk merebut Dimas dari Freya, Gea juga berpikir dua kali untuk melakukan itu, dia tidak mau menyakiti Freya lagi. Sudah cukup apa yang pernah dia lakukan pada Freya.


__ADS_2