Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 92 Gea punya ide


__ADS_3

"Irsyad "


Irsyad menatap orang yang memangilnya. Irsyad menatap orang itu dari atas sampai bawah, lalu Irsyad segera menggandeng tangan adiknya Helena untuk pergi dari sana.


"Irsyad kamu kenapa pergi ini Ayah kamu lupa dengan ayah, kamu sekarang sudah besar itu siapa ? Anak perempuan itu siapa Irsyad "


Dimas mendekati anaknya yang tak sengaja dia temui di taman. Dimas terus saja menatap anak kecil itu wajahnya begitu mirip dengannya.


"Maaf siapa ya. Aku tidak punya ayah, Ayahku sudah tiada aku permisi"


Irsyad kembali berjalan, tapi lagi-lagi Dimas memberhentikan langkah anaknya itu "Apa maksudmu Ayah ini masih hidup, Ayah ini masih ada kamu ini jangan gegabah mengatakan hal semacam itu, apa kamu mau menjadi anak durhaka Irsyad, ayahmu masih ada dan dihadapan mu sekarang"


Irsyad langsung menggelengkan kepalanya "Ayahku yang dulu sudah tiada dan yang sekarang ada di hadapanku adalah orang asing. Bahkan aku juga sudah bilang kan waktu itu kalau aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai Ayahku lagi, dan aku juga akan menganggapmu sudah tiada jangan ikuti aku dan jangan pernah panggil namaku lagi kita sudah tidak punya hubungan apa-apa. Jangan sok kenal dengan aku, bahkan kami semua untuk melupakan kesakitan yang kamu berikan itu sangat lama "


"Lebih baik fokus saja dengan keluargamu yang baru, tidak usah memikirkan tentang urusan keluarga yang lain. Kami sekarang lebih bahagia, ternyata menyenangkan juga hidup tanpamu kami lebih bahagia bahkan kami semua lebih stabil"


Irsyad sekarang mengendong adiknya untuk segera pulang. Irsyad tidak menyangka akan bertemu dengan ayahnya yang sangat dia benci, kenapa bisa bertemu padahal sudah 7 tahun lamanya mereka tidak bertemu.


Tapi sekarang malah bertemu seperti ini dengan keadaan ayahnya yang menurut Irsyad sangat memprihatinkan. Ayahnya tidak seperti dulu yang segar bugar bahkan badannya juga berisi tapi sekarang sangat kecil sekali.


Apakah hidup Ayahnya itu tak bahagia, tapi ya sudahlah Irsyad juga tak peduli, ayahnya mau bahagia atau tidak yang terpenting adalah hidup Mamanya kan yang baik-baik saja dan tentu saja bahagia.


Dulu juga apakah ayahnya kasihan dengan keadaan dirinya dan juga mamanya, tidak kan ayahnya malah pergi dengan orang ketiga itu, malah lebih mementingkan perempuan yang sudah menghancurkan mamanya. Ayahnya sangat jahat sekali, maka Irsyad juga akan jahat pada Ayahnya, Irsyad tak akan pernah mau memaafkan kesalahannya itu.


"Kakak laki-laki itu siapa kenapa seperti sangat mengenal Kakak, tapi kakak seperti tak suka dengannya. Apa kakak sedang punya masalah, seharusnya kakak bilang dengan Mama "


"Dia hanya salah paham saja, dia salah orang, sudah ya jangan memikirkan itu dan jangan bicara apa-apa dengan Mama ya "


"Lalu kenapa kita tidak jadi main. Kita kan akan main di taman lihat sudah banyak teman-temanku juga di sana, kenapa kita malah akan pulang Kakak "


"Kita pulang saja, nanti kita akan pergi ke sini lagi tapi di lain waktu. Kakak lupa kalau kakak harus mengisi sesuatu kita harus pulang dulu ya, nanti kalau kakak sudah ada waktu lagi kita main lagi. Kita habiskan waktu bersama-sama "


Helena dengan patuh akhirnya mengikuti apa kata-kata Kakaknya. Helena tidak mau membuat kakaknya nanti sibuk di malam hari, Helena tahu kakaknya itu selalu belajar dengan sangat tekun sekali.


Dimas yang melihat kepergian anaknya dengan seorang anak perempuan bingung siapa itu, tidak mungkin kan kalau misalnya waktu dia meninggalkan Freya, Freya sedang mengandung. Kalau Freya sedang mengandung pasti dia akan bicara Freya tidak akan mungkin bungkam.


"Kenapa wajah anak kecil itu sama denganku siapa dia, tak mungkin Freya mengandung lagi, Freya juga waktu itu sudah bilangkan padaku kalau dia tak mau punya anak lagi "


Dimas yang sedang melamun dikagetkan dengan ponselnya yang berdering, saat melihat siapa yang menelpon Dimas segera bergegas untuk pulang. Kalau tidak cepat-cepat pulang istrinya pasti akan memarahinya lagi dan akan terjadi pertengkaran yang hebat lagi.


Dimas tidak mau kalau sampai itu terjadi lagi, sudah lelah rasanya bertengkar setiap hari dengan Gea tidak pernah ada hentinya pertengkaran itu. Hidupnya benar-benar berantakan, apa selama ini yang dia ambil salah, apakah selama ini keputusannya itu salah.

__ADS_1


...----------------...


"Nah ini pulang juga suaminya, bagaimana ini hutang-hutang kalian itu sudah sangat menumpuk. Aku sudah lelah terus datang kemari untuk meminta uangku dikembalikan, tapi apa nyatanya sudah 1 tahun lamanya kalian belum membayar juga bunganya sudah besar bisa-bisa aku mengambil rumah kalian ini" teriak rentenir itu.


Dimas yang baru saja sampai sudah diceramahi oleh ibu-ibu penagih hutang itu, kalau tahu begini Dimas tak akan pulang saja, biarkan saja Gea yang menghadapinya. Yang pinjamkan Gea yang pakai juga Gea bukan dirinya.


Dimas sungguh bingung harus bayar dengan apa, uang saja tidak punya makan saja sulit mau bagaimana bayar hutang. Kenapa sih orang-orang tak mengerti keadaannya, seharusnya mereka itu mengerti keadaan Dimas yang seperti ini.


"Jadi bagaimana ini aku tidak mau ya terus saja kalian banyak alasan. Aku sampai menunggumu untuk pulang kemari mana tanggung jawabmu untuk mengembalikan uangku lagi, aku sudah terlalu baik pada kalian, makannya kalian seperti ini "


"Tolong beri aku waktu Bu, aku juga sedang mencari uang, aku sedang mencari pekerjaan lagi aku sedang melamar kembali ke beberapa rumah sakit tapi belum ada yang memanggilku. Jadi tolong beri kami keringanan, kami janji akan bayar semua hutang kamu itu "


"Alah alasan saja, terus aja seperti itu tak pernah ada berubahnya. Apakah aku harus menunggu 1 tahun lagi 2 tahun lagi atau berapa tahun lagi pusing rasanya aku ini. Orang lain tak pernah aku beri waktu sepanjang ini tahu "


Dimas apa lagi lebih pusing dia selalu saja diomeli oleh istrinya. Dimas harus bekerja apa lagi, sudah coba lamar ketempat lain tapi hasilnya apa, tidak ada tak ada yang menerimanya sama sekali.


"Bagaimana ini pak aku sedang butuh uang itu dan harus segera dikembalikan. Kalian ini enak-enak saja tidak membayar kalau mau cicil pun tak masalah untukku, cicil setiap minggu lah jangan seperti ini "


Gea langsung maju, percuma suaminya datang karena suaminya itu tak akan bisa bicara apa-apa hanya akan diam seperti itu terus, suaminya ini benar-benar tak berguna sekali, pantesan dulu Freya yang selalu kesana kemari, ternyata Dimas ini tak ada gunanya. Cuman modal tampang saja.


"Mulai minggu depan aku akan menyicil Bu, aku janji akan melakukan itu. Tapi tolong untuk hari ini kami tidak bisa membayar, kami juga sedang berusaha Bu, kami janji akan melunasi semua hutang kami itu, kami tak mungkin lepas tangan begitu saja "


"Apa dua juta Bu, kami hanya meminjam sedikit kenapa tiba-tiba satu minggu kami harus bayar dua juta. Tolonglah Bu jangan seperti itu, ibu lihat sendiri kan keadaan keluarga kami seperti apa, tolong beri kami keringanan Bu "


"Sudah satu tahun kalian punya hutang denganku. Jadi wajar kalau aku memberikan bunga yang besar, jangan mengeluh seperti itu, kita sudah sepakat dari awal ya, jangan merasa kalau aku ini jahat, aku sudah berbaik hati seperti ini membiarkan kalian menunggak padaku selama 1 tahun lamanya "


Ibu rentenir itu langsung pergi meninggalkan rumah Gea dan juga Dimas. Gea langsung mondar-mandir mendengar nominal yang sangat besar untuknya sekarang, mungkin nominal itu dulu sangat kecil tapi saat keadaannya seperti ini dari mana.


Bahkan kadang 1000 rupiah saja sulit, apalagi sampai berjuta-juta. Harus mencari uang dimana Gea ini, harus minta bantuan siapa juga dirinya ini tak punya teman satupun. Punya teman Freya tapi tak mungkin kan sekarang minta bantuannya gila saja kalau Gea melakukan itu.


Mau disimpan dimana harga dirinya ini. Yang ada ibu mertuanya akan mencaci makinya dan juga menyumpahinya lagi, sudahlah Gea mungkin harus berjuang sendiri.


"Lihat kamu, aku harus cari uang sebesar itu dari mana, karena aku tidak mungkin mengandalkan mu, kamu ini tidak bisa diandalkan Dimas kamu ini tidak becus jadi suami, kamu ini memang tidak pantas untuk aku sebut suami. Aku muak denganmu aku kesal denganmu, kenapa aku harus hidup seperti ini dan kenapa juga aku dulu mau dengan dengan kamu Dimas"


"Memangnya kamu saja yang kesal, aku juga sama kesalnya, aku juga pusing dengan semua ini jangan seenaknya dong dengan aku. Mau bagaimana pun aku ini adalah suami mu "


Gea langsung saja masuk ke dalam rumah, rasanya kalau bertengkar dengan suaminya ini Gea ingin pergi saja tapi mau pergi ke mana. Dia tidak punya tujuan, saudara saja tak punya juga.


"Emm bagaimana ya, apakah aku harus menyuruh Dimas untuk menggugat harta ibunya saja, siapa tahu kan ibunya akan memberikan Dimas warisan ibunya itu kan orang kaya aku harus bicara dengan Dimas nanti"


"Siapa tahu juga ibunya sudah mati, jadi akan lebih mudah mengambil semua harta itu dari Freya, Freya hanya menantu saja kan waktu itu. Dimas adalah anaknya pasti dia mendapatkan semua harta dari ibunya. Aku pasti akan bahagia sekali nanti "

__ADS_1


...----------------...


"Ayah ayah"


Amar yang sedang mengobrol dengan Freya mengalihkan pandangannya ternyata Helena. Helena langsung memeluk Amar dengan sangat erat memang dari dulu Helena memanggil Amar dengan sebutan ayah, Freya juga sebenarnya tidak enak.


Freya tidak pernah mengenalkan anaknya itu dengan foto Dimas atau memperlihatkannya atau memberitahu nama ayahnya. Freya tidak mau Helena tahu saja, yang terpenting Helena tahu siapa ibunya.


"Kamu dari mana kenapa tidak ajak ayah, padahal Ayah mau ikut sama kamu "


"Ya karena Ayah belum datang ke rumah makannya aku pergi bersama kakak untuk ke taman, tapi tidak jadi katanya Kakak ada yang harus dikerjakan. Aku tak mau membuat kakak kerepotan nanti "


"Ya sudah nanti kita pergi ke taman sama-sama bagaimana"


"Tentu boleh, sekarang Helena mau masuk kamar dulu ya ayah, Helena mau ganti pakaian gerah sekali"


"Baiklah ganti dulu sana pakaianmu"


Helena langsung menganggukkan kepalanya dan pergi ke arah kamarnya. Irsyad juga hanya tersenyum saja pada Amar, Irsyad senang melihat mamahnya yang bisa kembali dekat dengan seorang laki-laki.


Ya meskipun status mereka hanya seorang teman saja, tapi Irsyad berdoa semoga saja mamanya bisa membuka hati dan bahagia lagi dengan nanti pasangannya.


Irsyad tidak akan melarang mamanya untuk menikah lagi, dilihat-lihat juga Paman Amar baik dan dari dulu Paman Amar yang selalu membantu keluarganya ini. Jadi Irsyad tak akan ragu lagi.


Irsyad juga tadi sudah sedikit mengobrol dengan paman Amar dan sekarang Irsyad akan menemani adiknya saja, karena sebenarnya Irsyad juga tidak punya pekerjaan apa-apa, kalau saja tadi tidak ada laki-laki itu mungkin Irsyad tidak akan pulang, Irsyad akan di taman bersama adiknya bermain di sana.


Freya menatap Amar "Maaf ya Helena sampai sekarang menganggapmu kalau kamu itu Ayahnya, aku binggung harus memberitahu Helena bagaimana"


"Tidak masalah, aku tidak keberatan sama sekali Freya, ya meskipun kita tidak menikah tapi aku senang dipanggil Ayah oleh Helena aku merasa masuk dalam keluarga ini, kamu masih belum bisa membuka hatimu ya "


Freya langsung menundukkan kepalanya, ingatan-ingatan itu kembali lagi tentang suaminya pengkhianatan, tentang bagaimana Dimas mencampakkannya semuanya terbayang lagi dalam kepalanya ini.


"Aku aku tidak bisa maaf bukan apa-apa, aku tidak mau membuat orang kecewa. Aku benar-benar tidak bisa kembali jangan paksa aku, aku tidak bisa"


"Iya aku tidak akan memaksamu aku akan menunggumu Freya. Aku akan menunggumu siap sampai aku nikahi, aku benar-benar mencintaimu Freya. Aku tak main-main dengan semua ini "


"Tapi jangan terlalu berharap lebih padaku Amar, aku tidak bisa menjalani pernikahan lagi aku tidak bisa membuka hatiku lagi aku takut"


"Aku akan tetap menunggu mu Freya sampai kapanpun, aku akan tetap ada di sampingmu dan aku yakin suatu saat kamu juga akan mencintaiku, kamu juga akan menerima aku"


Freya menatap Amar lalu mengalihkan pandangannya, Freya tak bisa kalau harus kembali berumah tangga rasannya kegagalan yang terjadi dengan rumah tangannya waktu itu, sangat membekas sekali didalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2