Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 113 Berbicara dengan Helena


__ADS_3

Gea terbangun dengan keadaan mual, Gea meraba tempat sebelahnya tapi Gea tak menemukan suaminya. Gea langsung berlari ke arah kamar mandi yang ada diluar, Gea memuntahkan cairan bening, sungguh melelahkan sekali Gea membasuh mulutnya dan berkumur-kumur juga.


Dimana coba suaminya seharusnya suaminya ada disini dan menenangkannya bukannya malah seperti ini tak ada di pagi hari.


Gea mencari keberadaan suaminya ke mana dia, pagi-pagi seperti ini tidak mungkin kan suaminya tiba-tiba sudah berangkat bekerja, tapi dugaannya ternyata benar ada sebuah surat kenapa tidak langsung memberikannya pesan di ponsel malah menulis surat seperti ini, memangnya masih zaman menulis surat-surat seperti ini.


Gea mengambil surat itu dan tertulis di sana kalau Dimas sudah pergi bekerja, karena ada keadaan darurat dia meremas surat itu dan membuangnya begitu saja.


"Makin hari Dimas malah makin dingin denganku, dia sepertinya tidak peduli dengan kehamilanku kalau aku sekarang mengganggu suamiku yang ada dia akan dipecat dari pekerjaannya, tidak aku tidak mau jangan sampai Dimas tiba-tiba marah dengan aku karena dipecat "


Gea menuangkan air hangat dan meminumnya secara perlahan, Gea harus segera membeli susu ibu hamil dan kebutuhan yang lainnya. Gea harus segera bersiap sekarang.


...----------------...


Gea yang melihat sebuah taman segera pergi ke arah sana. Gea sudah berbelanja berbagai macam makanan untuknya dan juga camilan buah-buahan, banyak lagi yang dia beli. Gea melihat anaknya Dimas Helena ada di sana. Dengan perlahan Gea mendekati anak kecil itu dan menarik tangannya tapi tangan Gea langsung dilepaskan begitu saja.


Gea sampai tersentak kaget dengan respon anak kecil ini. Apakah sekasar itu anak kecil, Gea sungguh tak terima bosannya anak kecil akan suka dengannya.


"Ya ampun kenapa kamu begitu kasar Bibi hanya ingin bertanya denganmu, apakah memang seperti ini yang diajarkan oleh orang tua kamu nak "


"Maaf aku tidak sengaja aku hanya takut saja dengan orang asing ada apa, bibi ingin bertanya apa. Makannya kalau ingin bertanya itu panggil dan tepuk saja bahunya jangan tiba-tiba menarik tangan seperti culik "


"Bibi hanya ingin bertanya ke mana orang tuamu, seharusnya kamu sekolah kan sekarang bukannya main disini di taman, atau mungkin kamu sedang bolos sekolah ya makannya ada disini "


"Ini sudah jam pulang sekolah, aku sedang menunggu sopir. Memangnya Bibi tidak tahu ya jam sekolah. Memangnya bibi belum punya anak sampai-sampai bertanya hal itu "


"Iya bibi baru saja akan punya anak, bibi sedang mengandung sekarang. Kenapa tidak mamamu saja yang menjemput, masa supir sih, harusnya orang tua yang menjemputmu bukannya sopir. Kamu kasihan sekali ya nasibnya "

__ADS_1


"Mamaku sedang bekerja makanya yang menjemput ku sopir. Memangnya ada yang salah tidak ada yang salah kok, Mamaku sedang mencari uang mamaku sangat pintar sekali mencari uang, dia adalah perempuan hebat yang aku kagumi, tak ada perempuan yang sehebat mamaku "


"Namamu siapa sih"


Gea berpura-pura saja menanyai nama Helena, meskipun dia sudah tahu namanya siapa Gea tidak mau membahas tentang sehebat apa Freya, di sini Gea hanya ingin menjatuhkan mental Helena saja, agar membenci mamanya yang gila kerja tapi anaknya malah kagum dan bangga pada mamanya, ini sungguh jauh di luar prediksinya.


"Helena"


"Nama yang bagus, ya kalau misalnya Bibi jadi ibu kamu ya Bibi akan mengantar jemput kamu ke sekolah, bibi akan selalu menemani kamu setiap harinya "


"Terima kasih, tapi aku tidak mau mempunyai Ibu seperti Bibi, Mamaku sangat baik penyayang dan sabar sekali, ayahku juga baik hati jadi aku tidak perlu orang tua lain. Jadi Bibi tidak usah repot-repot sampai-sampai berbicara kalau misalnya bibi menjadi mamaku, karena tidak ada Mama yang terbaik selain Mamaku itu"


Gea kesal dengan jawaban anak ini, kenapa menyebalkan sekali seperti Freya, anak ini begitu berani seperti Freya tidak ada takut-takutnya padahal kan dia ini orang asing. Padahal Gea bisa saja melukainya kan. Tapi anak ini seperti tak peduli saja. Ist kalau tak ada orang Gea rasannya ingin menyakitinya, disini terlalu banyak orang yang ada dia malah akan dimarahi dan dibawa kekantor polisi.


"Begitu yam Memangnya pekerjaan lebih penting ya daripada anak, padahal menurut bibi anak lebih penting loh "


Helena langsung berlari lagi ke arah teman-temannya, di sana juga banyak teman-temannya yang menunggu jemputan jadi Helena tidak perlu takut, Helena kesel dengan bibi-bibi itu kenapa coba tiba-tiba berbicara seperti itu padahal kan mamanya sangat baik sekali.


Bibi itu hanya orang asing tidak mengenal mamanya, tapi seolah-olah dia sangat tahu mamahnya. Menyebalkan sekali nanti akan Helena bicarakan pada mamanya tentang hal ini, pasti Mamanya juga akan kesal.


Gea masih diam di sana menatap Helena dengan tatapan tajam, sama saja ternyata anak dan ibu tidak ada bedanya mereka benar-benar dilahirkan dengan watak yang sama.


Apakah nanti anak Gea akan kalah dengan anak-anaknya Freya. Lihatlah Irsyad saja sama seperti Freya keras kalau sekarang yang perempuan Helena sama kerasnya seperti Freya bisa-bisa anaknya nanti kalah dan tidak kebagian harta dari Dimas dan dari neneknya juga.


Gea harus mengambil hati mamanya Dimas, Gea harus mendapatkan apa yang dia mau. Anaknya juga harus mendapatkan warisan yang paling besar.


...----------------...

__ADS_1


Jordi menepuk bahu Dimas, Dimas yang sedang melamun tentu saja kaget dan menatap Jordi yang ada di hadapannya sekarang mereka sedang istirahat dan ada di kantin.


"Kenapa sih Dimas dari tadi aku lihat kamu melamun saja seperti banyak pikiran, kamu sudah mendapatkan pekerjaan lalu apalagi. Jangan sampai gara-gara kamu terus melamun kamu melakukan sebuah kesalahan pada pasien"


Dimas mengusap-usap wajahnya "Maaf aku memang sedang tidak terlalu fokus. Tapi untuk pekerjaan tenang saja aku akan selalu fokus dalam bekerja, hanya saat istirahat saja aku melamun seperti ini aku memang benar-benar sedang banyak pikiran"


"Kalau mau cerita, cerita saja aku pasti akan mendengarkannya kamu pasti butuh sekali orang untuk bisa mendengarkan ceritamu, aku akan mendengarkannya dan aku juga akan memberi kamu solusi "


Dimas menghela nafas lelahnya dia merilekskan tubuhnya dan menyandarkan tubuhnya di kursinya "Entah kenapa aku sekarang malah baru sadar ternyata Gea bukanlah perempuan baik seperti yang aku pikirkan dulu, rasanya ingin lepas tapi dia sedang mengandung. Aku jadi serba salahkan, aku jadi binggung sendiri"


"Sedang mengandung kamu yakin itu anakmu ? Bagaimana kalau misalnya anak orang lain yang dikandung oleh Gea, kamu malah akan mengurus anak orang lain sangat rugi sekali "


"Yakin sih, karena selama ini juga dia ga main-main sama laki-laki lain, dia hanya dirumah kerja dan kerja. Kamu tahu sendirikan waktu itu aku ga kerja jadi dia yang kerja "


Jordi mengangguk-anggukan kepalanya"Ya tapi tetap aja kamu harus selalu mengawasinya, siapa tahu aja sekarang dia malah sama cowok lain perempuan yang pernah menjual dirinya pasti akan melakukan hal yang sama lagi, jangan percaya deh pokoknya. Kamu harus selalu hati-hati "


"Hemm, iya Jordi aku akan terus mengawasinya. Aku juga takut kalau dia seperti itu lagi, aku juga sekarang malah merasa jijik karena dia pernah menjual diri, entah kenapa dulu aku tak merasakan itu malah sekarang "


"Ya karena memang dulu kamu sangat mencintainya kamu masih sedang mengejar-ngejarnya, jadi kamu tidak memikirkan apapun itu yang terpenting kamu mendapatkannya. Itu yang kamu pikirkan waktu itu Dimas makanya aku pernah mendatangimu dan berbicara padamu untuk memikirkan semuanya, tapi apa jawaban kamu, kamu malah terus mempertahankannya dan malah marah-marah sama kita sama temen-temen yang lain yang ngasih tahu kamu"


"Hemm iya aku minta maaf "


Dimas memijat keningnya yang sakit. Dimas tak tahu dengan dirinya yang dulu kenapa seperti itu, Dimas sekarang harus bertahan dengan Gea, tapi bukan karena cinta karena mereka akan punya anak.


"Sudahlah sekarang kamu jalani saja semuanya, jangan terlalu difikirkan, kamu kan yang sudah memilihnya jadi ya kamu harus terima semuanya, mau bagaimanapun keadaannya sekarang semuanya tidak akan pernah bisa dirubah"


"Iya kamu benar, aku tak akan pernah bisa merubahnya sampai kapan pun. Mungkin ini adalah sebuah hukuman untuk aku "

__ADS_1


Dimas memakan, makan lagi makan siangnya, kalau terus mengobrol tak akan ada ujungnya Dimas juga harus segera bekerja.


__ADS_2