Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 48 Ghibahan pagi pagi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Freya sudah memasak tentu saja kesukaan suaminya, anak-anaknya dan juga mertuanya. Hari ini Freya ingin membuat suaminya tenang kemarin malam suaminya sudah marah-marah dan membentaknya, tapi Freya sudah melupakannya mungkin Dimas sedang banyak pekerjaan makanya dia pusing karena Freya terus aja berbicara. Freya harus berpikir positif kan jangan sampai pikirannya ini mengganggu rumah tangganya.


Dimas menghampiri istrinya dan memeluknya serta mencium pipinya "Sayang kamu memasak apa. Kenapa begitu wangi sekali masakanmu ini boleh aku cicipi, aku rasanya tak sabar ingin segera memakannya sayang"


"Tentu saja, ayo kamu cicipi sayang pasti kamu akan suka "


Freya mengambil sendok lalu meniup dulu sup nya itu dan memberikannya pada Dimas. Dimas langsung mengacungkan dua jempolnya "Enak sekali. Memang istriku ini tidak pernah salah istriku ini memang benar-benar hebat dalam hal memasak ayo akan aku bantu sajikan makanan-makanan ini , pasti mereka akan suka sekali "


Freya menganggukan kepalanya dengan senang Dimas mengambil piring, mangkok, sendok semuanya dia tata dengan rapi di meja makan lalu mengambil masakan yang sudah selesai Freya masak. Irsyad dan juga Ibu mertuanya sudah ada di sana Gea juga sudah ada di sana.


Gea menatap Freya dan juga Dimas yang begitu kompak, mereka begitu bahagia sekali, Gea senang melihatnya kapan dia bisa seperti itu bisa mempunyai suami seperti Dimas yang perhatian mau membantunya. Intinya bisa melakukan hal bersama-sama seperti itu.


Sangat romantis sekali itu, Gea sampai tersenyum sendiri melihat kegiatan mereka yang begitu kompak. Semoga saja nanti ada laki-laki yang seperti Dimas yang bisa menjadi suaminya. Agar Gea juga bisa merasakannya bagaimana nanti menjadi Freya.


Mereka segera melangsungkan sarapan pagi itu. Dari tadi Freya terus saja menatap anaknya yang tidak berselera makan. Freya membawakan bekal anaknya dan memasukkan ke dalam tas, saat mengantar anaknya ke depan rumah Freya mengusap kepalanya.


"Ada apa Irsyad ada masalah apa, ceritakan pada Mama biasanya kamu juga selalu ceritakan sama Mama kalau sedang ada masalah seperti ini. Ayo coba kamu ceritakan sama Mama ada apa "


"Tidak ada, Mama kapan tante Gea pergi "pertanyaan itu lagi yang Irsyad tanyakan pada Mamanya. Freya sampai bingung harus menjawab apa. Freya belum mendapatkan tempat yang cocok untuk Gea. sedangkan anaknya terus menagih kapan Gea akan pergi dari rumahnya.


Freya takut kalau misalnya Gea berpisah ada Ayah tirinya, memang sih sekarang sedang dipenjara nanti kalau dia keluar bagaimana coba. Kalau misalnya dia datang tiba-tiba dan Freya tak ada disampingnya.


"Secepatnya tante Gea akan pergi dari rumah, dia akan tinggal di rumahnya sendiri. Kamu bisa tenang ya Mama sedang mengurus semuanya. Mama masih sedang sibuk di kantor jadi tolong sayang mengertilah, selama dirumah juga Tante Gea baik kan sama kamu, sama semua orang yang ada disini. Kamu mulai lah terbiasa sayang "


"Tetap saja aku tidak suka Ma, aku tidak suka ada orang asing dalam rumah kita. Aku tidak mau ada orang asing. Mungkin mama mengatakan kalau dia sahabat Mama tapi untuk Irsyad dia itu orang asing"


"Baiklah lebih baik sekarang kamu pergi ke sekolah ya "Freya mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya, tidak mau permasalahan ini terus-terusan saja berlanjut. Yang ada malah ada pertengkaran nanti.


Sedangkan di dalam rumah Dimas masih menatap Gea yang masih belum selesai makan. Astuti yang melihat gerak-gerik anaknya langsung menepuk bahunya "Dimas ada apa dengan kamu dari tadi kamu hanya diam dan fokus pada satu titik. Kamu tak sakit kan sampai seperti itu "


Dimas menatap Mamanya dengan gugup. Pasti Mamanya melihat Dimas yang menatap Gea seperti tadi "Tidak Dimas sedang memikirkan pekerjaan Dimas, Dimas kan mau buka klinik dan sekarang juga Dimas disibukan di rumah sakit, jadi Dimas agak sulit untuk membagi waktunya hanya itu saja Ma. Dimas sedang memikirkan bagaimana cara membagi waktu yang tepat saja di klinik bisa di rumah sakit bisa dan untuk keluarga pun Dimas bisa begitu Ma "


"Baiklah Mama mengerti. Tapi benar-benar itu kan yang kamu pikirkan tidak yang lain, siapa tahu ada sesuatu yang kamu fikirkan lagi. Mungkin memikirkan seseorang yang ada dirumah ini "


"Tentu saja apalagi yang harus Dimas pikirkan, Dimas memikirkan tentang keluarga Dimas saja, tentang Freya tentang Irsyad dan Mamah sudah itu saja tidak ada yang lain lagi kok Ma. Mana bisa Dimas memikirkan orang lain, cukup keluarga yang Dimas fikirkan "


"Iya semoga perkataanmu itu benar ya. Mama akan selalu berdoa untuk kelangsungan rumah tangga kalian, karena kita tidak tahu akan kapan badai menghampiri keluarga kita. Dalam rumah tangga pasti akan ada cobaannya pasti akan ada halangannya tapi mama berdoa semoga saja kalian bisa melewati itu semua ya. Terutama sih kamu bisa bertahan dengan Freya. Itu yang Mama harapkan sayang "


Dimas hanya menganggukan kepalanya, Dimas menundukkan kepalanya dan mengambil ponselnya mencoba fokus untuk melihat ponselnya dan tidak tertarik lagi pada Gea yang ada di hadapannya.


Dimas sampai ketahuan begitu kan oleh Mamanya. Mamanya pasti nanti akan banyak tanya. Dimas tak mau membuat Mamanya kefikiran. Dimas juga tak mau Mamanya berbicara sesuatu pada Freya. Sungguh nantinya akan panjang kalau berbicara pada Freya.

__ADS_1


...---------------...


Dimas terus saja merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan pada Freya, setiap hari kesalahan itu makin bertambah, sungguh menurutnya memikirkan perempuan lain termasuk dengan selingkuh. Dimas sangat-sangat menyesal sekali malam ini Dimas hanya diam di kamar saja dan Freya sekarang sudah masuk ke dalam kamar.


Freya tersenyum senang saat melihat suaminya itu, lalu Freya kembali membahas hal yang tidak mau Dimas dengar "Aku tadi sudah mengantar Gea ke rumah sakit dan mengecek perutnya yang dioperasi itu dan lukanya kering dengan cepat loh, hebat juga ya dia bisa pulih dengan cepat. Aku begitu senang sekali Dimas "


"Baguslah kalau dia cepat pulih. Aku senang mendengarnya kita harus cepat-cepat memberikan Gea rumah, aku tidak mau sesuatu nanti terjadi dalam rumah tangga kita. Aku selalu mendengar percakapanmu dengan Irsyad benar kata dia, kita tidak seharusnya memasukkan orang asing ke dalam rumah, aku benar-benar salah mengijinkan kamu untuk dia tinggal di sini. Dia itu orang asing untuk kami jika untukmu dia bukan, jadi tolong jangan hanya mau enaknya saja, kamu yang enak kami yang tidak Freya. Aku membangun rumah ini bukan untuk menampung orang asing "


Mendengar kata-kata suaminya Freya kaget, kenapa suaminya berkata seperti ini, kenapa suaminya tiba-tiba tak suka dengan keberadaan Gea. Awal suaminya terima-terima saja. Sekarang malah tidak.


Dimas kembali melanjutkan kata-katanya "Kita tidak mungkin terus menampungnya di rumah ini, kita tidak mungkin terus mendiamkannya disini seterusnya apa kata orang, meskipun dia berpisah dengan kita, kita masih bisa kok memberi dia makan, memberi dia uang untuk sehari-hari. Jadi tidak perlu membuatnya tinggal satu atap dengan kita Freya. Sungguh dia sudah dewasa dan bisa tinggal sendiri "


"Tapi aku ingin menghabiskan waktu dengannya, sudah lama aku tidak bersamanya lagi. Tolong beri aku waktu dulu untuk bisa memikirkan semuanya. Aku tidak mau tiba-tiba mengambil keputusan aku tidak mau nanti malah jadi menyesal "


"Ya sudah kamu pikirkan semuanya intinya aku tidak mau lagi satu atap dengan orang asing. Kamu tahu rumah tangga kita sudah baik-baik saja jangan buat masalah dalam rumah tangga ini, akan tidak baik juga nanti kalau dia terlalu lama disini apalagi tetangga pasti akan menggunjing kita nantinya, ayolah berpikir dewasa mungkin kamu ingin dia tinggal bersamamu tapi kamu tidak memikirkan suami anak kamu dan mertua kamu. Apakah mereka nyaman dengan kehadiran temanmu yang terus saja ada di dalam rumah ini. Dewasalah Freya kamu sudah berumur 30 tahun lebih "


Gea yang mendengar semua kata-kata itu langsung masuk ke kamar. Gea tak sengaja mendengar pertengkaran Freya dan juga Dimas. Gea langsung sedih ternyata selama ini apa yang dia pikirkan tidak seperti yang dia lihat, ternyata selama ini Dimas memang tidak mau ada dirinya di rumah ini.


Gea harus cepat memikirkan semua ini, Gea tidak mau kalau sampai Freya terus bertengkar, semenjak kedatangannya sepertinya keluarga Gea malah banyak bertengkar. Gea harus cepat-cepat pergi dari sini.


Gea kira selama ini Dimas suka dirinya tinggal disini. Dimas suka dengan masakannya, Dimas selalu memuji makanannya, tapi ternyata semua itu salah, Gea salah mengartikannya ternyata Dimas hanya berpura-pura baik saja agar dirinya nyaman disini.


Gea merenungi semuanya, harus pergi ke mana. Sedangkan dia tidak punya uang ataupun apapun itu untuk dijual. Gea harus bagaimana semua data dirinya ada pada ayah tirinya bagaimana.


Sepertinya itu ide yang bagus. Ya semua uang itu bisa Gea gunakan untuk membeli rumah dan juga untuk kebutuhannya kedepannya. Ayahnya tak ada jadi rumah kosong. Gea akan pergi kesana, mau apapun resikonya Gea akan pergi. Gea tak mau jadi beban hidup orang lain.


...----------------...


Pagi harinya Freya sudah memikirkan bagaimana keputusannya, suaminya sudah mengatakan itu anaknya juga ingin hal yang sama ingin Gea pergi dari rumah ini. Kenapa jadi rumit sekali ya.


Freya juga binggung harus mengatakan apa pada Gea takut dia malah tersinggung kan. Nanti bagaimana kalau Gea berfikir dirinya mengusirnya pertemanan mereka baru saja terjalin lagi, tak mungkin kan harus hancur lagi.


Freya yang sedang melamun malah dikagetkan dengan Gea yang duduk di sampingnya "Freya sepertinya aku harus pergi, aku akan membeli rumah. Aku akan kembali ke rumah ayah dan mengambil beberapa uangnya dan juga perhiasan yang ada di dalam kamarku, aku yakin itu akan cukup. Karena Ayah membelikan perhiasan cukup banyak untukku "


Freya kaget mendengar itu "Apa kamu mendengar pembicaraanku semalam bersama Dimas, kamu mendengar semuanya kan Gea "


Gea dengan perlahan mengganggukan kepalanya "Benar kata Dimas aku ini harus mandiri aku harus mulai menata hidupku sendiri, aku tidak bisa tergantung terus padamu dan juga suamimu. Aku pasti bisa kok hidup mandiri aku tidak harus terus didukung olehmu kan Freya, semua ini sudah cukup bahkan Ayah tiriku saja sudah dipenjara lalu apalagi yang aku takutkan. Lebih baik aku memang membeli rumah sendiri saja. Aku tidak mau kamu terbebani dengan adanya aku disini "


"Tidak jangan seperti itu, itu adalah simpananmu jika suatu saat kamu ingin membuka usaha. Jangan jual apapun itu, aku akan memikirkan semuanya tenang aku akan memikirkan solusi yang baik. Kamu jangan dengarkan kata Dimas, dia hanya sedang pusing dengan pekerjaan jadi dia berbicara kemana-mana sudah jangan fikirkan itu ya "


"Itu adalah solusi yang baik Freya. Aku baik-baik saja aku tidak masalah, aku mengerti dan aku juga sama sekali tidak sakit hati. Sudah saatnya aku berpisah dari kalian, kamu juga nanti kan bisa main ke rumahku tidak usah takut aku tidak tersinggung sama sekali. Aku juga tidak seharusnya ada dalam keluarga ini. Apa kata tetangga kalau aku terus ada di antara kalian berdua. Aku tidak mau dianggap sebagai orang ketiga ataupun apapun itu pasti di luaran sana tetanggamu banyak yang membicarakan aku"

__ADS_1


"Ya kamu tidak usah mendengarkan kata tetangga. Ini hidupku dan aku yang pilih, kamu harus tetap bersamaku Gea, kalaupun kamu ingin pisah ya nanti aku akan cari solusi dulu. Tidak bisa gegabah seperti ini, jangan mengambil keputusan yang bisa membuat aku khawatir dengan mu Gea. Biar aku fikirkan semuanya. Kamu tenang ya jangan pergi begitu saja. Aku yang membawamu kemari berarti aku juga yang harus bertanggung jawab atas hidupmu "


Freya menatap suaminya baru keluar dari kamar dan segera menghampirinya "Lihat sekarang Gea ingin pergi gara-gara kata-katamu semalam, dia mendengar semuanya. Kamu ini gimana sih dia itu masih butuh dukungan kita loh. Kamu kenapa membuat Gea sedih Dimas. Lihat sekarang dia mau mau menjual perhiasannya apa kamu tidak kasihan dengannya "


Freya malah marah pada suaminya. Dimas hanya diam saja, Freya melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya kesal dengan tingkah suaminya yang kemarin marah-marah tidak jelas dan menyuruh Gea untuk pergi.


Maksudnya kan harus memikirkan dulu bagaimana solusinya tidak harus gabah seperti ini. Freya tidak mau membuat sahabatnya ini sakit hati. Suaminya ini memang tak mengerti dirinya. Dimas ini menyebalkan sekali.


"Dimas sarapan dulu, jangan sampai kamu nanti lapar. Kamu kan dokter harus selalu sehat dan jangan lemas" Gea segera mencairkan suasana karena merasa canggung saja mereka berdua saling diam seperti ini, biasannya tak seperti ini.


"Tidak "Dimas langsung pergi begitu saja keluar dari dalam rumah. Gea yang memang sudah menyiapkan bekal untuk Dimas segera mengejarnya. Sudah Gea buatkan masa tidak dimakan akan sayang sekali.


"Dimas tunggu dulu ini bekal untukmu, aku sudah menyiapkannya dari tadi. Jangan ditinggalkan begitu saja"


Dimas mengambil kotak bekal itu lalu Dimas menatap Gea dan merasa bersalah. Saat Dimas ketus padannya tapi Gea masih peduli "Maafkan aku semalam, karena telah berkata seperti itu seolah-olah aku memang ingin kamu pergi dari rumah. Maaf kamu bisa tinggal di rumah kapan saja sampai kapanpun, aku tidak akan melarang lagi. Silahkan "


"Tidak usah meminta maaf seperti itu, memang seharusnya aku pergi dari rumah kalian, anak kalian juga tidak suka kan aku ada di rumah kalian. Aku tidak mau keluarga kalian malah jadi berantakan cuman gara-gara aku ada di antara kalian, tidak masalah aku baik-baik saja memang aku juga sudah memikirkan ingin berpisah dari Freya. Maksudnya berpisah rumah kalian masih bisa main-main ke rumahku nantinya, aku juga ingin mandiri aku tak mau tergantung pada Freya terus "


Dimas hanya menganggukan kepalanya saja "Baiklah aku harus pergi, aku tidak bisa lama-lama "


"Silakan hati-hati di jalan Dimas, semangat ya bekerjanya "


Dimas langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi membawa bekal yang Gea berikan tadi. Dan para tetangga yang memang sedang belanja melihat keakraban Gea dan juga Dimas, mereka langsung berbisik-bisik karena tingkah Gea dan juga Dimas yang mencurigakan menurut mereka.


Siapa yang tidak curiga dengan tingkah Gea yang seperti itu, memberi bekal pada suami orang. Apakah ada yang siap kalau suaminya diberi bekal oleh orang lain yang bukan siapa-siapa.


Setelah Gea masuk barulah para tetangga itu membicarakan Gea dan juga Dimas "Apakah Freya tidak berpikir memasukkan seorang perempuan ke dalam rumah dan lihat perempuan itu memberikan bekal makanan pada Dimas, apa tidak aneh. Seharusnya kan Freya istrinya yang memberikan itu, aku sungguh aneh dengan keluarga mereka sekarang"


"Iya juga sih aneh ya, Freya terlalu membebaskan mereka sampai-sampai kalaupun mereka selingkuh Freya tidak akan tahu. Memang ya seharusnya Freya itu kita beri tahu dia terlalu membebaskan suaminya dan temannya itu, sudah berapa bulan perempuan itu tinggal di rumah Freya. Lama sekali kan apa dia juga tak malu diam dirumah orang lain "


"Ya cukup lama, mungkin saja Dimas dari yang tidak suka tiba-tiba jadi suka perasaan itu kan biasanya datang tiba-tiba. Freya itu benar-benar bodoh, dia itu pintar dalam bekerja tapi dalam urusan rumah tangga sepertinya dia tidak pintar kita harus bilang pada Bu Astuti, jangan sampai menyimpan perempuan lain dirumahnya dengan alasan apapun itu "


"Benar sekali kita harus bilang sama bu Astuti, jangan sampai disini ada orang ketiga, memalukan sekali kan kalau itu sampai terjadi. Nanti bapak-bapak yang lain malah ikutan lagi kan kita yang rugi ibu-ibu"


"Iya bener, Bu Astuti juga pasti akan usir perempuan itu. Ga baik sekarang aja udah berani menampakkan diri terus ngasih bekal sama suami orang lain, kalau saya nih ya Bu ya yang jadi Freya mungkin saya udah marah besar lihat itu. Mungkin saya udah jambak tuh perempuan, malah jadi gemes sayanya tahu "


Tukang sayur yang ada di sana langsung memberhentikan ghibahan ibu-ibu itu "Udahlah ibu-ibu jangan ghibah terus itu kan masalah keluarga mereka. Ya nggak apa-apa lah jangan ikut campur, mungkin Freya sudah mau dimadu oleh suaminya makanya membiarkan perempuan lain untuk memberikan bekal makanan atau mungkin Freya tadi tidak sempat untuk memberikan pada suaminya dan menyuruh perempuan itu. Sudah jangan diambil pusing lah ibu-ibu biarkan saja itu kan urusan mereka jangan ikut campur ah "


"Ah kamu mah mang, ya tetep aja sebagai tetangga kan kita nggak mau ya ada tetangga kita yang disakitin. Kasihan aja pernikahannya tuh udah lama apalagi udah punya anak siapa lagi yang nanti jadi korban anak juga kan mang "


"Iya iya ngerti ngerti deh, ngerti. Jadi ini gimana belanjamu jadi ga atau mau terus ghibah di sini nih, aku juga harus keliling ke tempat yang lain ibu-ibu pasti yang lain juga lagi tunggu aku "

__ADS_1


"Ya jadi mang tunggu dulu lah, kita juga tadi cuman sebentar bicara nya "


Ibu-ibu itu segera menyelesaikan ghibah nya dan membayar semua belanjaan yang mereka ambil.


__ADS_2