Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 114 Selalu saja bertengkar


__ADS_3

Freya yang baru saja sampai dirumah, kaget dengan kedatangan mamanya Amar. Apakah mamanya Amar akan menolaknya. Memang saat bertunagan mamanya Amar absen untuk tak datang karena kakek Amar sedang sakit.


Baru saja Freya melangkah mendekat mamanya Amar langsung memeluknya dengan erat. Freya sampai kaget sekali. Tak menyangka Mamanya Amar akan memeluknya. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Tapi Amar sudah pernah melihat foto mamanya Amar.


"Akhirnya Amar akan menikah juga dan pilihannya adalah kamu Freya, Freya Mama begitu senang, dari dulu Amar sangat sulit untuk mama suruh menikah dan sekarang dia mendapatkan kamu, perempuan yang luar biasa Mama sudah tahu dan mendengar cerita kamu, mama senang sekali Amar memilih kamu"


Freya bernafas lega, Freya kira mamanya Amar akan marah padannya. Tapi ternyata tidak. Freya senang sekali dengan sikap mamanya Amar.


Pelukan mereka terlepas, Freya membawa mamanya Amar agar duduk, dengan mama Astuti juga yang selalu ada untuknya dan disampingnya.


Freya menatap Mama Astuti, dan mama Astuti menganggukan kepalanya seperti memberinya semangat.


"Aku senang mama akhirnya datang kemari, seharusnya aku yang datang pergi kerumah mama untuk meminta restu"


"Tidak masalah sayang, seharusnya mamah yang kemari. Maaf ya waktu kalian tunangan Mamah malah tidak datang, Mama harus mengurus dulu kakeknya Amar. Tapi mama berdoa untuk pertunangan kalian nah sebentar lagi kalian juga akan menikahkan. Mama bahagia sekali dengan pilihan Amar "sambil menggenggam tangan Freya.


"Tapi mama sudah tahu kan kalau Freya ini seorang janda, Freya sudah punya anak dua. Apakah Mama tidak akan keberatan dengan status Freya itu"


Mamanya Amar langsung tersenyum "Tentu saja mama tidak keberatan, kenapa Mama harus keberatan dengan status kamu. Memangnya status janda itu kenapa, Mamah akan menerima setiap keputusan Amar, apalagi mama sudah tahu bagaimana kamu, kamu itu sangat baik sekali Mama tahu bagaimana kamu mengurus anak-anakmu sampai mereka bisa sebesar ini, apalagi Irsyad dia sudah kuliahkan lalu Helena Mama tahu tentang kamu sayang. Kamu jangan pernah takut dengan Mama karena Mama akan selalu menerima kamu, kamu adalah pilihan Amar yang terbaik"


Freya sampai terharu mendengar kata-kata dari mamanya Amar, dari dulu Freya sangat takut, Freya ketakutan sekali kalau mamanya Amar tidak akan pernah menerimanya dengan keadaan seperti ini.


Bukan apa-apa seorang janda selalu dipandang sebelah mata kan oleh orang lain, makanya Freya sangat ketakutan dan selalu menolak setiap ajakan dari Amar untuk menikah apalagi dia belum membuka hati untuk siapapun.


"Terima kasih karena mama sudah mau menerima aku, aku begitu bahagia aku sekarang tenang. Aku takut kalau mama tidak suka dengan Freya"


"Jangan pernah pikirkan itu Mama tidak mungkin tidak suka dengan kamu, kamu baik kamu akan sangat cocok bersama Amar, Amar begitu mencintaimu bahkan setiap dia pulang Amar akan selalu menceritakan kamu "


Freya yang mendengar itu sampai tersipu malu dia tidak tahu kalau selama ini Amar selalu menceritakannya pada orang tuanya, sekarang Freya harus membuka lebar hatinya untuk Amar. Keluarga Amar sudah menerimanya maka Freya harus bisa melupakan semua masa lalunya melupakan tentang penghianatan itu.


Freya sekarang akan membuka lembaran baru lagi, dengan laki-laki yang berbeda dan yang pasti berbeda sifat dan juga sikap. Mereka tak akan sama Freya yakin itu.


...----------------...


Dimas yang sedang bekerja ditelfon oleh istri bawelnya. Dengan malas Dimas mengangkatnya. Kalau tidak diangkat nanti malah datang kemari dan membuat masalah seperti kemarin.

__ADS_1


"Ada apa Gea, aku masih bekerja jangan ganggu aku ya. Nanti juga aku akan pulang, tak usah menganggu waktuku, aku tak melakukan hal aneh-aneh aku hanya bekerja saja"


"Kamu kapan pulang sih, kenapa kamu kerjanya lama sekali. Aku sudah sangat ingin dimanja kamu, jangan buat istrimu menunggu, tadi pagi kamu sudah pergi tak menunggu aku bangun dulu. Seharusnya kamu tunggu aku dulu sebelum pergi, tadi juga aku muntah-muntah Dimas"


"Aku ini seorang dokter kamu itu harus mengerti jangan seperti ini. Aku juga bekerja untuk keluarga kita. Memangnya kamu mau seperti dulu lagi tidak mau kan, jadi jangan terus telepon aku, masih banyak pasien yang harus aku tangani. Itu sudah biasa untuk ibu hamil, kamu mulai sekarang harus terbiasa dan jangan banyak mengeluh "


"Memangnya tidak ada dokter lain selain kamu, kenapa harus selalu kamu saja yang bekerja hampir 24 jam, masih banyak kan dokter disana"


"Begini saja, kalau kamu tidak suka dengan pekerjaan aku maka kita bercerai saja setelah anak itu lahir, anak itu akan aku yang mengurusnya. Kamu tidak usah terbebani olehnya, aku akan membawanya pergi jauh dari kamu "


"Kamu ini apa-apaan sih, tiba-tiba bahas-bahas cerai aku itu nggak mau ya cerai sama kamu. Aku cuma tanya aja memangnya salah kalau seorang istri tanya kayak gitu, nggak ada yang salah kan Dimas. Kamu itu sangat sensitif sekali sih sama kamu, saat kamu tahu aku hamil kamu malah seperti ini cuek "Ucap Gea sambil berteriak.


Dimas sampai menjauhkan ponselnya karena suara itu begitu melengking dan membuat telinganya sakit, benar-benar ya Gea ini. Bagaimana kalau telinganya nanti bermasalah.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerai denganku maka biarkan aku bekerja dengan tenang. Aku ini banyak sekali pekerjaannya. Aku ini bukan lagi pengangguran yang bisa kamu recoki setiap hari aku harus mengecek pasienku dulu. Aku matikan dulu dan nanti aku akan menghubungi kamu "


Dimas langsung mematikan sambungannya dan kembali mengecek pasien mana yang belum dia cek, lebih baik Dimas gila kerja saja daripada harus pulang dan bertengkar dengan Gea. Dimas akan tidur di rumah sakit saja di ruangan ini. Dimas juga sudah membawa beberapa pakaian ganti untuknya.


Agar Dimas tak usah bolak balik dan melihat istrinya yang mulai manja, bukanya senang Dimas malah tak suka saja.


Jangan lupakan lagi teriakan teriakan yang akan selalu Gea teriakan padannya.


Gea sampai melempar ponselnya saat suaminya mematikan sambungannya begitu saja. Padahal dia belum selesai berbicara dia ingin menyampaikan sesuatu.


"Dimas ini kenapa coba berubahnya itu sangat cepat sekali, aku padahal mau minta sesuatu tapi dia malah seperti ini menyebalkan sekali, kenapa suamiku menjadi menyebalkan. Aku tidak suka suamiku yang sekarang, aku ingin Dimas yang awal saja, yang baik dan juga perhatian tak pernah mengacuhkan aku seperti ini "


Gea duduk dan melipat tangannya dia menyalakan televisi dan mengambil buah-buahan yang baru saja dia beli tadi, padahal Gea ingin berbicara pada Dimas kalau tadi dia bertemu dengan Helena anak Dimas yang menyebalkan juga sama seperti ayahnya.


Tapi ya sudahlah Gea masih bisa bicara nanti dengan Dimas masih ada waktu juga. Dimas juga akan pulang kan tidak mungkin dia menginap di rumah sakit, tak akan betah Dimas tidur disana tak akan ada yang memeluknya.


...----------------...


Freya yang sedang menunggu kedatangan Amar tiba-tiba dikagetkan dengan kalung yang ada di hadapannya, Freya langsung membalikkan badannya dan Amar sudah ada di sana dengan senyum manisnya seperti biasa.


Freya juga balik tersenyum dan menepuk dada Amar dengan pelan.

__ADS_1


"Kamu bikin kaget aku aja. Aku kira siapa tiba-tiba ada kalung dihadapan aku "


"Namanya juga kejutan sayang, ayo berbalik lah biar aku pakaikan. Aku memilih kalung ini sangat lama sekali, aku ingin yang terbaik untuk kamu sayang "


Freya menganggukan kepalanya dan membalikkan kembali badannya, lalu Amar memasangkan kalung cantik itu pada Freya. Freya kembali menatap Amar dan tersenyum kenapa.


"Terimakasih aku suka dengan kalung ini "sambil memegang bandul berbentuk permata yang cantik "Kenapa kamu ga bilang kalau mama kamu akan datang kemari Amar, aku begitu kaget tahu saat mama kamu tiba-tiba ada dirumah "


"Sama sama sayang, nanti aku akan belikan lagi untuk kamu. Itu adalah kejutan untuk kamu, bagaimana kamu tidak takut lagi kan dengan mamaku dia baikan tidak sesuai dengan apa yang selama ini selalu kamu pikirkan, kalau mama tidak akan suka dengan kamu. Mama itu sangat menyukai kamu Freya, mama menerima kamu jadi tak usah ada yang kamu takutkan lagi "


"Ya aku kira mama kamu tidak akan pernah suka padaku, aku kira waktu itu mama kamu tidak datang ke pertunangan kita karena dia memang tidak merestui hubungan kita. Aku sungguh-sungguh takut sekali makanya aku selalu berbicara dengan kamu kalau aku takut bertemu dengan keluarga kamu, tapi ternyata tidak sesuai dengan apa yang aku fikirkan "


Amar mengusap kepala Freya dan mencium keningnya "Sekarang tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Mamaku sudah menerima kamu, keluargaku juga semuanya sudah menerima kamu tidak perlu ada yang ditakutkan lagi, jadi kita akan dengan cepat menikah aku tidak mau menunggu lama-lama lagi sayang"


Freya hanya bisa mengganggukan kepalanya, Freya memeluk Amar dengan erat, Freya senang sekali akhirnya ada laki-laki yang mencintainya lagi. Ini untuk terakhir kalinya Freya membuka hati untuk laki-laki, jika suatu saat Amar menyakitinya Freya benar-benar tidak akan lagi membuka hati dan menutup segalanya tapi Freya yakin Amar tidak akan seperti itu


Tanpa mereka ketahui ada orang yang melihat kemesraan mereka itu yang sedang berpelukan di balkon. Orang itu langsung pergi meninggalkan tempatnya bersembunyi dengan wajah yang suram dan juga dengan raut wajah yang sudah sangat marah sekali.


"Apakah sudah sedekat. Itu hubungan mereka kenapa harus seperti ini, seharusnya tidak seperti itu mereka seharusnya tidak dekat seperti itu. Meskipun mereka sudah bertunangan apakah wajar malam-malam ada di rumah perempuan, aku tak habis fikir kenapa Freya menerima Amar. Pantesan dia tak ada dirumah sakit ternyata datang kemari "


"Aku benar-benar tidak rela dengan semua ini, aku tidak suka melihat mereka yang seperti itu kenapa harus berpelukan"


"Freya hanya boleh bahagia denganku saja, tidak dengan yang lain aku tidak rela Freya dipeluk-peluk seperti itu"


Kembali ponselnya berdering "Ada apa lagi Gea. Kenapa selalu saja menggangguku, aku sedang kesal seperti ini dia malah menelpon dan menyulut amarahku makin menjadi-jadi saja "


"Ada apa Gea jangan ganggu aku terus "


"Kamu ini kenapa sih Dimas dan kamu dimana, aku hanya ingin menanyakan di mana kamu sekarang kenapa belum pulang juga ini sudah sangat larut malam, apa kamu tidak akan pulang ke rumah. Aku begitu takut diam dirumah sendirian apa lagi aku sedang mengandung seperti ini "


"Aku tidak akan pulang ke rumah. Sudahlah jangan terus ganggu aku, aku sedang bekerja jangan terus menyulut emosiku lama-lama aku bisa meninggalkanmu Gea, aku bisa saja melakukan hal itu Gea sesuka hatiku jangan membuat aku kembali marah, jangan terus telepon aku mengerti. Berisik sekali tahu "


"Dimas kenapa kamu kasar sekali, kamu ini sudah berubah aku tak suka dengan kamu yang seperti ini"


"Masa bodo mau kasar atau apapun, aku tak peduli "

__ADS_1


Dimas langsung mematikan sambungannya Dimas memberhentikan sebuah taksi dan pergi dari dekat rumah Freya. Ingin hatiku melihat Freya yang sedang melamun di balkon malah melihat pemandangan yang lain sungguh ini semua membuatnya marah sekali.


__ADS_2