Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 179 Sangat melelahkan


__ADS_3

"Cape ? udah kamu duduk aja mereka juga bakal ngerti kok "Amar melihat Freya yang pasti sangat kecapean apalagi dia memakai sepatu hak tinggi, kakinya pasti akan sangat pegal sekali.


Freya menggelengkan kepalanya, dia tidak mau seperti itu ini kan sekali seumur hidup. Ya meskipun ini untuk dua kalinya lagi Freya melakukan ini tetap saja Freya harus menyambut para tamu dengan sopan, tidak mungkin kan Amar bersalaman sendiri sedangkan Freya duduk tidak enak saja.


"Ga apa-apa kok Amar, aku baik-baik aja sebentar lagi juga selesai kan. Kapan lagi kita kayak gini, ini seumur hidup lo Amar nggak apa-apa aku baik-baik aja"balas Freya sambil tersenyum ke arah suaminya.


Agar suaminya itu percaya dan membiarkannya untuk bersalaman lagi bersama tamu, memang dari tadi tamunya ini tidak henti-hentinya selalu saja banyak sekali, bahkan tadi makan pun Freya saat didandani kembali saat ganti pakaian.


Waktu tak terasa, sudah sore hari saja, mereka sebentar lagi akan istirahat Freya dan juga Amar pasti akan menginap di hotel dulu. Freya juga bersama Amar belum membicarakan akan tinggal di mana mereka ini nantinya.


Saat yang terakhir Dimas yang naik bersama Gea, Freya melihat tangan Dimas yang diperban tapi Freya tidak mau ikut campur. Mungkin dia terjatuh atau apapun itu Freya tidak mau memikirkannya, itu urusan Dimas bukan urusannya lagi.


Dimas dan juga Gea langsung menyalami mereka berdua, Gea menata Freya dengan bahagia tidak lupa dengan senyumnya "Selamat ya Freya aku berdoa untuk kebahagiaanmu, aku senang sekali melihat kamu menikah dengan Amar laki-laki yang memang cocok dengan kamu. Aku sangat bahagia sekali "


"Terima kasih karena sudah datang kemari, aku doakan juga kamu nanti lahiran dengan lancar ya, anak kamu sehat dan tak ada masalah apapun "


"Iya sama-sama, aku senang sekali melihat kamu seperti ini. Tidak menyangka ya aku akan melihat pernikahan kamu yang begitu bagus, aku dan Dimas ikut senang sekali dengan pernikahan kalian berdua"


Freya tersenyum mereka berbicara cukup lama dari tadi Dimas hanya diam, dia menunggu istrinya untuk selesai berbicara dengan Freya beberapa menit kemudian Dimas dan juga Gea turun dari pelaminan dan mereka pamit pulang juga.

__ADS_1


Amar yang memang dari tadi memperhatikan Dimas langsung berbicara pada sang istri "Kayaknya ada yang berbeda deh sama Dimas, dia kayak sedang menyembunyikan sesuatu gitu kamu rasain nggak sayang, soalnya terlihat banget tahu "


Freya langsung menggelengkan kepalanya "Ga tahu, kayaknya biasa-biasa aja nggak ada yang aneh kok"


"Ada sayang, ada yang aneh, Dimas jadi pendiam dia seperti sedang memikirkan sesuatu dan tangannya juga kenapa diperban kayak gitu. Dua dua nya lagi "


Freya memicingkan matanya "Kenapa kamu tiba-tiba jadi ingin tahu kamu punya hubungan apa sama Dimas, ayo ngaku sama aku "


"Hei sayang jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya aneh saja dengannya kenapa tangannya sampai di perban seperti itu aneh sekali kan. Aku tak mungkin punya hubungan dengan Dimas kamu ini ya"


"Ya mungkin dia jatuh atau apalah aku tidak tahu dan memang tak ingin tahu juga "


"Hemm benar juga ya"


"Amar malu turunkan aku, lihatlah masih banyak keluarga kamu dan juga ada Helena serta Irsyad, mereka akan berpikir yang tidak-tidak turunkan aku, aku malu cepat turunkan "


"Kenapa kita ini kan suami istri. Jadi tidak usah malu lagi, aku tahu kamu kelelahan kakimu ini pegal dan gaunmu ini sangat berat, jadi aku akan membawamu ke kamar. Tidak usah malu mereka juga mengerti kita ini pengantin baru"


"Tapi kita tidak seharusnya seperti ini banyak anak-anak juga, nanti kalau sampai ditiru bagaimana mereka itu masih kecil"

__ADS_1


"Diam sayang semuanya akan baik-baik saja, mereka tidak akan protes mereka akan senang melihat kita yang seperti ini. Ini adalah hari bahagia kita maka kita harus selalu tersenyum bahagia dan jangan ada kata malu, mereka akan mengerti, sudahlah sayang "


Freya hanya memukul dada suaminya itu, Freya benar-benar malu dengan anaknya. Helena hanya terkikik di ujung sana menatap dirinya yang dibawa seperti ini oleh Amar.


Freya menyembunyikan kepalanya di dada suaminya, saat mereka masuk ke arah lorong juga banyak yang menatap nya, tamu-tamu yang baru saja pulang dan tersenyum ke arah mereka.


Freya sudah ada di dalam kamar, Amar langsung mendudukkan Freya di atas tempat tidur dengan sangat perlahan sekali.


"Aku mau buka gaun ya ini sangat berat dan pegal sekali tahu, kamu Amar kenapa memilih pakaian yang begitu berat sekali, aku sampai lelah "


Amar hanya tersenyum memang dia sengaja memilihkan pakaian ini, gaun yang akan selalu mereka simpan sampai nanti tua, gaun ini seperti gaun princess yang sangat besar dan mempunyai ekor yang sangat panjang. Amar sangat suka jika melihat istrinya memakai gaun besar seperti ini seperti putri kerajaan cantik.


Amar langsung membantu Freya untuk kembali bangkit dan membuka resletingnya, Amar membukanya dengan sangat perlahan sekali, jantung Amar sudah tidak bisa diam saat melihat punggung putih mulus Freya yang terpampang nyata di hadapannya.


Untuk pertama kalinya dia melihat hal seperti ini dengan nyata dan akan bisa menyentuhnya, sebentar lagi Amar akan bisa menyentuhnya, tak akan ada yang Amar lewatkan.


Amar sampai menelan ludahnya, rasanya ingin segera menerjang istrinya, tapi Amar tahu situasi istrinya ini lelah kecapean habis berdiri hampir seharian. Amar seharusnya membiarkan istrinya rileks dulu, Amar harus sabar nanti malam juga mereka bisa langsung kan sampai pagi.


Amar langsung membuka koper yang Freya bawa, Amar mengeluarkan pakaian tidur dan juga dalaman. Freya kaget saat Amar melakukan itu mau merebutnya tapi Amar sudah memberikannya dan di depan matanya "Tidak usah malu aku ini suamimu mau ganti di hadapanku juga tak masalah sayang"

__ADS_1


Freya langsung menggelengkan kepalanya, dia berjalan dengan susah payah ke arah kamar mandi Freya belum siap saja. Rasanya aneh kalau misalnya berganti pakaian di hadapan Amar.


Freya juga harus menahan degup jantungnya yang terus saja dari tadi tak bisa diam, apalagi saat tadi Amar membawanya ke dalam kamar dan mendudukkannya langsung di tempat tidur yang penuh dengan kelopak bunga dan juga hiasan yang lainnya.


__ADS_2