Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 104 Akan segera dilaksanakan


__ADS_3

Amar membelikan berbagai macam hadiah, mereka akan bertunangan Freya dan juga dirinya besok malam akan bertunangan. Amar memang cepat-cepat melaksanakan itu dia ingin membuat Freya selalu bahagia dia juga tidak mau Freya nanti berubah.


Sungguh itu akan menjadi hal terburuk dalam hidupnya kalau misalnya Freya tiba-tiba berubah. Dirinya sangat sulit sekali mendapatkan Freya jadi sekarang harus cepat-cepat diikat agar Freya tak bisa berubah fikiran lagi.


Amar sampai ke rumah, Freya sedang menyuapi Helena dengan perlahan Amar mendekati mereka berdua. Mereka benar-benar tak menyadari kalau Amar sudah datang "Halo perempuan-perempuan cantik. Lihatlah aku sudah membawa apa untuk kalian semua"


Freya langsung menatap Amar yang tersenyum padannya, memang dari tadi dia tidak melihat Amar datang karena terlalu fokus menyuapi anaknya yang berlari ke sana kemari tidak mau diam.


Memang seperti inilah kadang Helena kalau tidak mau makan, harus Freya yang mengejar-ngejar tapi tak masalah kapan lagi kan akan seperti ini. Dulu saja saat Irsyad begitu cepat tumbuhnya, tak terasa maka Freya sekarang ingin menikmati perannya sebagai ibu.


"Amar kamu datang sejak kapan, kenapa aku tidak tahu coba "


Amar mengusap kepala Freya dengan sayang "Dari tadi cuman kamu malah fokus aja mengejar Helena. Aku bahkan bolak balik masuk rumah lo, bawa barang-barang untuk kalian, ayo kita lihat apa saja yang aku bawa untuk kamu, Irsyad mama dan juga Helena "


Amar segera menarik tangan Freya, sedangkan Helena dia sudah ada di depan hadian-hadiah itu, Helena begitu antusias dengan semua barang yang ada dihadapannya ini.


"Wah Ayah membawa banyak hadiah, apakah ini untukku ayah "


"Tentu saja, di sini ada semuanya untuk kamu Helena, untuk kakak, untuk nenek dan juga untuk mama. Kalian semua sudah ayah siapkan kado "


"Boleh buka dulu untuk Helena tidak ayah, Helena sudah tak sabar. Helena ingin lihat hadiah yang ayah berikan untuk Helena "


Amar segera mencari yang punya Helena, lalu dia memberikan tasnya itu pada Helena"Di dalam sini ada beberapa yang ayah belikan untuk Helena ada pakaian, sepatu dan banyak lagi coba buka saja sama Helena dan lihat isinya "


Helena membukanya dan kaget dia tersenyum dan langsung memeluk Amar "Terima kasih Ayah aku suka dengan pakaian yang ayah belikan, pasti ini untuk pertunangan Ayah bersama mama kan aku sudah tidak sabar Ayah untuk melihat Ayah dan Mama memakai pakaian baru dan melihat ayah nanti tinggal disini juga bersama aku"


"Iya ini untuk pertunangan mama dan juga Ayah, nanti kamu harus terlihat cantik kamu harus menjadi putri di sana, coba sekarang kamu coba di kamar, apakah ada yang kurang, jika iya nanti akan ayah belikan lagi ya "


"Tentu ayah, sekali lagi terima kasih aku senang sekali dengan semua yang ayah berikan "


"Iya sayang sama-sama"


Helena segera berlari ke arah kamarnya. Freya yang melihat itu tersenyum senang Helena selalu saja senang kalau misalnya Amar membawakan sebuah hadiah untuknya, Freya sungguh berterima kasih pada Amar karena dia mau menjadi Ayahnya Helena dari dulu. Bahkan saat pertama kali Helena bisa menyebut kata ayah, ya pada Amar dia mengatakannya.


Amar pun tidak mempermasalahkan itu malah dia senang dan menyuruh Freya untuk membiarkan Helena menyebutnya ayah.

__ADS_1


Freya sangat banyak berhutang budi pada Amar, Amar yang sudah membuat Helena tidak kehilangan sosok Ayah, selama ini dia mendapatkan kasih sayang yang begitu banyak dari Amar. Bahkan Amar tidak keberatan mengakui Helena sebagai anaknya di depan umum ataupun di depan keluarganya sendiri.


"Sayang kenapa senyum-senyum sendiri, apa ada sesuatu yang membuat kamu tersenyum"tanya Amar sambil menarik pinggang Freya agar lebih dekat lagi dengannya.


"Aku hanya senang saja melihat Helena yang selalu saja tersenyum melihat apa yang kamu berikan. Terima kasih yang Amar karena selama ini kamu sudah menjadi orang terpenting dalam keluarga kami, kamu bahkan mau mengakui Helena sebagai anak kamu padahal nyatanya_"


"Shut , jangan bahas itu sampai kapanpun Helena akan menjadi anakku, tidak akan ada yang berubah. Aku senang ada dalam keluargamu, aku bahagia bisa bertemu denganmu Freya dan aku senang sekarang kita akan menikah, kita akan bertunangan terlebih dahulu tapi sebentar lagi stelah itu kita akan menikah, kita akan bersama-sama kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia seperti yang sudah aku bayangkan selama ini"


"Aku tak mau menunda-nunda lagi pernikahan kita Freya. Aku ingin kita segera menikah setelah bertunagan ini. Aku tidak mau sampai kamu nanti direbut oleh orang lain "


Freya memeluk Amar dan dia akan mencoba terbiasa melakukan hal ini, dia akan melupakan tentang trauma yang terjadi antara dirinya, Dimas dan juga Gea semuanya harus dilupakan. Freya harus bisa membuka lembaran baru bersama Amar dan tidak terus terbayang-bayang oleh perselingkuhan Dimas dan juga Gea


...----------------...


Freya yang sedang ada dikamar ditemui oleh Astuti, Freya tersenyum pada Astuti yang masuk sambil membawa sebuah kotak merah dan cukup besar.


Astuti duduk berhadapan dengan Freya "Mama membelikan satu set perhiasan untuk kamu, coba kamu lihat apa kamu suka sayang "


Freya mengambilnya dan membukanya, tiba-tiba dia ingat tentang pernikahan nya dengan Dimas. Bahkan Freya sampai menjatuhkan kotak perhiasan itu.


Bayang-bayang bagaimana begitu sakralnya pernikahan mereka dan juga bahagianya mereka saat itu.


Freya yang tersadar langsung menatap Mama Astuti"Maaf ma, aku minta maaf tadi aku tak sengaja"


Freya mengambil kotak perhiasan itu lagi, dan menatap perhiasannya yang begitu cantik.


"Ini nanti kamu pakai ya sayang saat kamu bertunangan dengan Amar, mamah sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari "


Freya tersenyum dan menganggukan kepalanya" Iya ma, terimakasih aku sangat suka dengan perhiasan yang Mama berikan ini"


"Sama-sama sayang, sudah mama tebak kamu akan suka sayang. Emm, bagaimana dengan ibu kamu apakah akan datang sayang "


Freya langsung mengelengkan kepalanya"Dia tak akan datang ma, ya sudah tak masalah yang terpenting aku sudah mengabarinya dan memberitahunya, jangan sampai nanti salah di akunya. Tadi aku telfon malah marah-marah jadi ya sudahlah mah kita saja nanti"


"Freya tak mungkin kan memaksa orang yang tidak mau ma, kalau berubah fikiran mau datang ya Freya bersyukur kalau tidak ya tak masalah "

__ADS_1


"Ya sudah, kan ada Mama jangan pusingkan mama kamu yang terpenting sudah diberi tahu saja "


"Iya ma benar "


"Sini mama bantu kamu untuk mencobanya "


Astuti segera memasangkan perhiasan itu pada Freya. Astuti begitu antusias dengan pertunangan ini.


...----------------...


Gea yang baru sampai dirumah menyimpan tasnya, dia begitu lelah rasannya. Tadinya sih ingin menunggu suaminya pulang tapi kalau dipikir-pikir lebih baik pulang ke rumah saja, daripada nanti bertemu dengan Jordi lagi dan akan kembali adu mulut dia tidak mau bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu dia sudah terlalu masuk dalam ke kehidupannya.


Jordi itu mulutnya seperti perempuan cerewet dan sangat pedas sekali. Gea baru pertama kali bertemu dengan laki-laki seperti Jordi ini. Biasanya pada laki-laki akan memuji dan memujanya tapi ini berbeda malah sebaliknya.


Sepertinya Gea juga harus menjauhi Jordi karena dia terlalu menyakiti hatinya, Jordi selalu saja membuatnya sakit. Dia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Gea saat mengatakan hal-hal yang menyebalkan itu.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu rumahnya, Gea segera bergegas membuka pintu ternyata orang yang akan menagih hutangnya lagi Gea lalu menatapnya "Nanti ya Bu suami saya lagi kerja, nanti setelah dia gajian saya langsung bayar kok sama ibu, saya sendiri yang akan datang kerumah ibu, jadi ibu tak usah datang-datang lagi kerumah ini takutnya nanti saya sudah pindah Bu "


"Tapi saya mau semuanya, nggak mau dicicil-cicil lagi kayak dulu, minggu lalu saja kalian tidak membayar 2 juta seperti perjanjian, hanya setengahnya saja maka akan saya tambah bungannya karena kalian sudah ingkar "


"Iya Bu yang sekarang tidak akan dicicil-cicil, suami saya sudah menjadi dokter lagi. Jadi Ibu tenang saja hutang-hutang akan dibayar semuanya dengan lunas tidak usah khawatir Bu, suami saya pasti gajinya besar sekali dan bisa menyumpal mulut ibu itu yang cerewet yang terus saja menagih, saya juga akan bayar dengan bunga-buangan semuanya akan dibayar lunas ya Bu"


"Hei saya sudah memberikan kamu keringanan tapi ini balasan yang saya terima ha, kamu ini jangan menjadi angkuh baru saja suami kamu kerja, bagaimana kalau tiba-tiba dia dipecat, aku sih berdoa begitu agar kamu tak angkuh seperti ini "


"Yang terpenting saya bayarkan Bu, kenapa jadi ribet banget nanti juga saya bayar ibu nggak usah banyak protes. Segala doa-doain suami saya, cukup doa dari istri juga bu, ibu ga usah takut lagi nanti saya bayar semuanya "


"Awas aja kalau nanti kamu butuh uang lagi saya tidak akan pernah meminjamkannya, saya tidak akan pernah mau meminjamkan kepada orang sombong seperti kamu, dulu saja sebelum suami kamu bekerja kamu mengemis pada saya untuk meminjamkan uang, tapi sekarang baru saja suami kamu bekerja lagi sudah seperti di atas langit saja aku doakan semoga suamimu nanti tidak bekerja lagi"


"Jangan seperti itu Bu, Ibu ini kalau bicara jangan mengada-ngada jangan mendoakan apa apa pada suami saya tidak baik bu, sudahlah Bu kalau tak ada yang perlu dibicarakan lagi lebih baik ibu pulang saja, saya mau istirahat saya sangat lelah sekali "


"Makanya jadi orang itu jangan sombong, mentang-mentang suaminya udah kerja lagi sesuai profesinya sekarang malah kayak gini menyebalkan sekali. Dari awal memang seharusnya aku tak kasian sama kamu Gea, kamu itu tak pantas untuk dikasihani"


"Biarin aja, ibu iri ya sampai-sampai berbicara seperti itu"


Penagih itu pergi meninggalkan Gea, dia tidak mau ada pertengkaran di antara mereka berdua. Bukan apa-apa nanti kalau misalnya dia tidak mau bayar bagaimana, sudahlah jangan terlalu diperpanjang juga yang terpenting nanti dia bayar dirinya akan membesarkan bunganya lihat saja.

__ADS_1


Enak saja Gea sudah berani berbicara seperti itu maka dia harus terima akibatnya.


Selama ini dirinya sudah terlalu baik memberikan waktu jangka yang terlalu panjang untuk anak itu, sampai dia sombong sekarang saat suaminya sudah punya kerja, saat itu saja minta ampun-ampun untuk diberi keringanan sekarang malah sombong.


__ADS_2