
Ibunya Laila mengusap rambut anaknya dengan sayang. Layla masih tidak mau menatap ibunya itu. Laila masih membuang pandangannya, fikirannya masih pusing.
"Sebenarnya yang kamu katakan itu benar atau tidak Laila, kenapa bisa seperti ini sih Laila. Ibu masih tak habis fikir saja "
"Apakah sekarang ibu tidak percaya dengan aku ? Apakah ibu meragukan segalanya makannya berbicara seperti itu"
"Bukan begitu, tapi lihatlah semua keluarganya menentang, kamu yakin laki-laki itu yang telah menghamili kamu itu dia, ibu lihat kamu tidak pernah bersama-sama dengannya jangan nanti malah kita yang salah Laila malah kita yang malu kamu harus pikirkan semua itu, kamu ga boleh gegabah kayak gini"
"Memang pada kenyataannya Irsyad kok yang melakukannya mah, untuk apa Laila berbohong. Dari dulu juga Laila ga pernah bohong "
"Iya tapi Ibu tidak pernah melihat kamu bersamanya, ibu baru pertama kali melihatnya jadi wajar kalau ibu bertanya-tanya tentang masalah ini "
"Ya karena kami berdua melakukan sebuah hubungan yang sembunyi-sembunyi Bu, makanya tidak ada yang tahu. Untuk apa sih aku berbohong pada ibu"
"Baiklah sekarang kamu istirahat sebelum nanti Ayah kamu datang kemari, dan nanti malah marah dan memukul kamu lagi seperti tadi"
Laila menggigit kukunya, dia juga sangat takut dengan ayahnya saat tadi mendengar kabar dari dokter ayahnya langsung memukulnya begitu saja. Laila takut sekali nanti kalau hal itu akan terjadi lagi.
...----------------...
Dimas pulang ke rumah dengan kepala yang pusing, dia tadi sampai mengancam ayahnya Laila untuk tidak menyebarkan hal ini kalau tidak semuanya akan dilaporkan ke kantor polisi, karena ayahnya Laila juga tidak punya bukti yang valid kan.
Dimas sampai-sampai mengancam dengan berbagai macam hal. Dimas tidak mau melepaskan orang yang akan memfitnah anaknya, Dimas akan berjuang demi anaknya Irsyad, meskipun nanti Irsyad tidak mau menerimanya yang terpenting Dimas sudah memperjuangkan segalanya untuk anaknya itu.
Bukan karena ingin Irsyad baik padanya, Dimas melakukan ini karena dirinya adalah ayahnya. Dimas harus bisa membela anaknya apapun yang terjadi. Karena Dimas yakin anaknya tak mungkin salah, anaknya tak mungkin melakukan hal semacam itu.
"Kamu pulang juga Dimas, aku kira kamu ga akan pulang lagi " ucap Gea yang keluar dari dalam kamar.
Saat tadi mendengar suara pintu terbuka Gea langsung keluar takutnya itu orang jahat, ternyata yang datang suaminya. Gea juga sedikit kaget melihat hal itu.
"iya aku pulang jangan buat aku pusing, diamlah dan duduk dengan nyaman "
"Ada apa, sepertinya sedang ada masalah"
"Ya ada masalah"
__ADS_1
"Boleh aku tahu "
Dimas menatap Gea dengan lekat, apakah perlu dia menceritakan semua masalah ini pada Gea apakah nanti Gea tidak akan membocorkan semuanya, tapi Gea kan adalah istrinya. Dimas tidak mungkin memperburuk semuanya kan.
"Duduklah di sini"
Gea dengan patuh langsung duduk berhadapan dengan suaminya, Gea sudah tidak menghubungi suaminya tidak mengganggu pekerjaan suaminya, Gea benar-benar mengikuti apa kata-kata dari mama mertuanya.
Gea sekarang sudah lebih tenang dan tak mau membuat masalah juga. Gea harus merubah sikapnya ini. Agar suaminya bisa nyaman disampingnya dan tak kemana-mana.
"Jadi apa yang terjadi. Sepertinya kamu sangat pusing sekali apa ini berurusan dengan pekerjaan kamu, apakah ada masalah di rumah sakit "
"Tidak ini berurusan dengan Irsyad"
"Irsyad ada apa dengan Irsyad"
"Dia dituduh menghamili anak seseorang, aku benar-benar pusing sekali kenapa bisa sampai dituduh seperti itu "
"Mana mungkin"
"Irsyad tidak mungkin kan melakukan itu" tanya Gea yang mulai goyah.
Takutnya Irsyad nakal, dia bersembunyi melakukan hal itu di belakang orang tuanya bisa saja kan Irsyad itu sudah dewasa bukan anak kecil lagi.
"Ya iyalah mana mungkin Irsyad melakukan itu dia itu anak baik-baik, bukan seperti aku"
"Semoga saja masalahnya cepat selesai ya. Aku mau Irsyad baik-baik saj, aku tidak mau kalau sampai dia mengakui sesuatu yang bukan salahnya. Kasian juga kalau sampai seperti itu "
"Aku pun inginnya begitu. Aku sedang meminta sebuah tes DNA pada ayahnya itu ya untungnya sih perempuan itu dirawat di rumah sakit di mana aku bekerja, jadi aku leluasa untuk mengeceknya dan nanti aku sendiri yang akan melakukan tes DNA itu agar semuanya terjawab. Aku akan memecahkan segalanya enak saja mereka menuduh begitu saja"
"Baiklah urus semuanya, aku percaya kamu bisa melakukan semuanya Dimas "
Dimas menatap perut istrinya yang makin hari makin besar "Apakah dia baik-baik saja dalam perut mu ini"
Gea mengusap perutnya dan tersenyum ke arah Dimas "Semuanya baik-baik saja, semuanya tidak ada yang terjadi dia selalu baik dan dia yang selalu menemaniku selama kamu bekerja dan tidak pulang ke rumah. Kami berdua hanya di sini berdua, kamu menghabiskan segalanya berdua"
__ADS_1
Dimas malah jadi merasa bersalah dia sudah meninggalkan Gea beberapa hari. Apalagi saat melihat wajah Gea yang sedih Dimas jadi makin serba salah sekarang ini.
"Maaf"
"Tidak masalah, aku mengerti kamu sedang bekerja kan. Jadi aku tidak akan terlalu banyak pikiran aku tidak mau nanti stress dan mempengaruhi kandunganku ini, aku ingin anakku ini lahir dengan sempurna aku ingin nanti dia yang menemaniku suatu saat nanti saat kamu pergi Dimas. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain anak yang ada dalam kandunganku ini, aku benar-benar hanya bersamanya saja "
Dimas mendekati istrinya dan memeluknya dari samping, Dimas menjadi kasihan dengan istrinya ini. Dimas sudah terlalu keras pada Gea selama ini. Padahal kan Gea itu pilihannya, tadi dia menjadi ragu sendiri aneh sekali kan.
"Akan aku usahakan untuk pulang setiap hari, aku tak akan menginap lagi dirumah sakit. Aku akan menemani kamu "
"Tidak pulang setiap hari juga tidak masalah, aku sudah nyaman kok tinggal berdua dengan anakku ini sebentar lagi hanya tinggal menghitung bulan saja anak kita akan lahir, dan aku akan segera mempunyai teman di rumah tidak masalah kalau kamu ingin selalu fokus di tempat kerja. Aku tidak akan mengganggu sebelum kamu yang menghubungiku saja, aku akan menjadi perempuan yang tenang dan tak akan marah-marah terus "
Dimas tidak menjawab. Dia hanya terus memeluk istrinya itu. Dimas masih bingung dengan semua pikirannya ini harus bagaimana nanti kedepannya.
...----------------...
"Apakah semuanya sudah selesai, apakah perempuan itu sudah mengaku anak yang ada didalam perutnya itu anak siapa "
Amar menggelengkan kepalanya "Masalah ini sepertinya akan panjang, tapi tenang saja aku akan menyelesaikannya dengan Dimas Freya, kamu tenang saja ya aku yakin kalau Irsyad itu tidak akan mungkin melakukan itu. Aku sangat percaya sekali dengan Irsyad"
Freya menghela nafasnya "Kenapa malah jadi seperti ini sih, saat kita akan bahagia ada saja cobaannya. Ada saja yang terjadi kadang-kadang aku ini sangat binggung sekali dengan jalan hidupku "
Amar langsung saja memeluk Freya dengan erat "Semuanya akan baik-baik saja, aku akan mengurusnya. Masalah akan selesai semuanya, aku yakin itu semuanya akan selesai dengan cepat "
"Baiklah aku minta tolong sama kamu ya, tolong bantu aku dan juga Irsyad "
"Tenang saja pasti aku akan bantu menyelesaikan masalah ini. Helena apa sudah tertidur "
"Iya tadi Helena sudah tidur, tadi menanyakan kamu tapi aku sudah menjelaskan semuanya dan dia mengerti"
"Baiklah aku tenang. Aku pulang dulu ya"
Freya dengan lesu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Freya benar-benar memikirkan tentang masalah anaknya ini. Freya takut kalau nanti Irsyad akan malu bukan apa-apa takut mereka ini menyebarkan hal yang tidak benar.
Kata-kata yang tidak benar, kalau semuanya salah dan sudah tersebar tetap saja nanti Irsyad yang malu, nama baik Irsyad akan tercoreng dan akan sulit juga nanti untuk kembali seperti semula.
__ADS_1
Perempuan itu ternyata datang kemari untuk membawa sebuah petaka.