
"Aku akan turun dulu ke bawah ya. Aku janji tidak akan lama kamu benar tidak mau ikut aku untuk bertemu dengan dokter-dokter yang lain, akan banyak makanan disana kamu bisa mengambilnya sepuasnya "bujuk Dimas lagi, karena Dimas ingin membawa sang istri.
"Kamu lihat aku tidak membawa pakaian, makanya aku ingin turun ke sana dan membeli pakaian untuk nanti aku tidur, masa aku akan terus memakai ini. Tidak enak aku tidak akan nyenyak tidurnya yang ada aku malah akan terjaga terus "
"Tidak usah memakai pakaian kalau bersama aku, itu akan lebih baik sayang. Aku akan lebih menyukainya"
"Itu sih maumu saja. Enak saja aku tidak mau ya nanti sampai masuk angin dan harus kamu kerokin. Aku tak mau sakit Dimas "
Dimas tertawa dengan renyah, Dimas mencium istrinya dan keluar dari dalam kamar hotel. Sedangkan Freya sendiri beristirahat. Freya ingin tidur terlebih dahulu. Tadi kan Freya bangun pagi-pagi sekali, jadi matanya begitu mengantuk sekali dan ingin cepat-cepat beristirahat.
Cklek
Gea yang kaget pintu kamar dibuka langsung berdiri dan mengusap air matanya "Apa saja yang kamu lakukan Gea, aku tadi menyuruhmu untuk berdandan merias wajahmu, tapi kamu masih saja menangis. Ada apa sebenarnya denganmu ini. Aku di sini mengajakmu untuk bekerja bukan untuk menangis, dari pertama datang kamu sudah seperti ini "
"Maaf aku tadi sedang tidak fokus"
"Sedang tidak fokus, kamu ini membuatku marah, lihat di sana sudah berkumpul orang-orang itu untuk mengajukan sebuah kerjasama, dengan perusahaan besar itu dan kamu masih di sini. Masih diam dengan air mata buaya mu itu yang terus mengalir. Apa kamu sudah bosan hidup hah "
Rambut Gea ditarik dengan kencang oleh Ayahnya. Lalu kepalanya itu di benturkan ke tembok, Gea memegang jidatnya yang sakit sekali saat dilihat ada darah.
"Kamu memang anak tidak berguna, kamu memang bukan anak yang harus aku pertahankan. Kamu dengar itu Gea "
Rambutnya masih ditarik oleh Ayah tirinya itu, Gea dibawa keluar kamar dan didorong begitu saja sampai-sampai tubuh Gea menabrak tembok di hadapannya. Gea ambruk kepalanya pusing sekali pintu kamar langsung ditutup dengan sangat kencang oleh Ayahnya.
Gea melihat ke sana kemari tidak ada orang. Gea kembali menangis. Gea yang tidak mau ada orang yang melihatnya segera bangkit dan mengetuk pintu "Tolong Ayah buka dulu pintunya, apakah kamu tidak kasihan dengan aku. Penampilanku sangat berantakan seperti ini tolong buka dulu pintunya, aku malu aku berantakan sekali "
Tapi tidak ada jawaban sama sekali Ayahnya bungkam. Gea terus saja mengetuk pintunya dengan keras. Tapi tetap saja tidak ada respon sama sekali atau pintu yang dibuka.
Gea berhenti mengutuk pintunya saat ada orang yang lewat. Gea menutupi wajahnya menggunakan rambutnya. Dia tidak mau sampai orang-orang melihat dan nanti menjadi masalah besar lagi kalau sampai orang-orang itu melaporkannya ke kantor polisi.
Ayahnya pasti akan memberi hukuman yang lebih dari ini. Gea harus bisa menemui Freya dulu baru Gea akan berani untuk melaporkan semuanya. Freya bisa melawannya kan satu lagi membelanya.
Gea berlari ke lantai dasar. Lebih baik pergi saja daripada harus bertemu lagi dengan Ayah tirinya. Itu lebih baik kan meskipun dia tidak punya apa-apa, tidak masalah nanti dia bisa mencari alamat rumah Freya dan meminta bantuan padanya.
Sungguh satu-satunya harapan dia adalah Freya, meskipun kesalahan yang mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh Freya, tapi sekarang dia membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
Bruk
"Maaf aku tidak sengaja "ucap Gea sambil menundukkan kepalanya. Tanpa menunggu jawaban dari orang itu Gea berlari kembali, Gea tak mau ada yang melihat lukanya ini.
Dimas yang melihat keadaan perempuan itu menjadi kasihan. Dimas malah ikut berlari mengejar perempuan itu "Tunggu dulu, mau ke mana tunggu dulu kamu terluka biar aku obati, hey kembalilah"
Dimas yang memang seorang dokter dan sangat tinggi rasa empatinya tidak akan melepaskan perempuan itu. Dimas hanya ingin mengobatinya Dimas hanya khawatir dengan keadaannya yang terluka seperti itu.
"Tunggu dulu jangan pergi, apakah kamu tak mendengarkanku nona tunggu aku "
Hujan tiba-tiba saja turun dengan lebat, tapi Dimas terus saja menerobos dan mengikuti perempuan itu. Perempuan itu malah berdiri di tengah jalan sambil merentangkan tangannya, sedangkan di depannya ada mobil tronton yang siap untuk menabrak perempuan itu.
Dimas dengan langkah yang cepat menerjang tubuh perempuan itu sampai mereka terguling-guling. Mereka saling tatap, Dimas menatap perempuan itu dengan sangat lekat sekali, sampai-sampai Dimas tak bisa mengalihkan pandangannya.
Sedangkan Freya yang baru saja selesai mandi, dikagetkan dengan foto dirinya dan juga suaminya yang tiba-tiba saja jatuh yang dibawa oleh Dimas.
Freya mengambil foto itu, kacanya pecah "Ada apa ini. Apa terjadi sesuatu pada Dimas, kenapa foto ini bisa terjatuh padahal ada diatas nakas "
Freya yang sangat khawatir dengan suaminya mengeluarkan ponselnya dan menghubunginya, tapi tidak diangkat "Ke mana kamu Dimas, kenapa tidak diangkat seperti ini. Dimas angkat dong angkat "
...----------------...
"Biar aku obati dulu. Kamu ini kenapa sampai-sampai mau bunuh diri, kalau punya masalah itu selesaikan, emangnya dengan cara bunuh diri semua masalah akan selesai tidak kan. Yang ada kamu malah menambah masalah saja "
Gea tidak menjawab. Gea hanya menundukan kepalanya saja. Tapi Dimas terus mengobati luka yang ada di jidat Gea. Cukup parah sih lukanya.
"Sudah tidak usah diobati, biar nanti saja aku obati sendiri"
"Benarkah, aku ini seorang dokter maka aku tidak akan melepaskan pasienku. Aku akan mengobatinya sampai sembuh. Lihatlah lukamu bukan hanya ini saja tapi ada luka lama juga, sepertinya kamu sudah lama mendapatkan kekerasan ya"
Gea menatap Dimas lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah yang lain "Aku sering terjatuh makannya banyak luka seperti ini, baru saja aku tadi terjatuh di kamar mandi " Gea belum mau jujur pada orang lain, takutnya kalau orang ini adalah teman dari Ayah tirinya, itu bisa gawat semuanya kalau Gea membongkarnya bisa-bisa bukannya dibantu untuk melaporkan polisi, malah dia yang akan habis.
"Sering terjatuh, apakah kamu anak kecil sampai-sampai bisa sering terjatuh. Tapi yang aku tahu kalau misalnya orang yang sering jatuh itu selalu mendapatkan kekerasan"
"Jangan mengada-ngada, aku akan pergi ke lantai atas dan kembali ke kamar"
__ADS_1
"Tenang saja aku hanya mengobatimu saja. Aku sudah punya istri, jadi aku tidak mungkin menyukaimu "
Gea tersenyum kecil "Tapi luka-lukaku yang sudah sembuh tidak usah terus diobati, nanti juga sembuh sendiri "
"Benarkah, luka ini kalau didiamkan akan makin dalam. Jika kamu membutuhkan bantuan maka kamu bisa hubungi aku "Dimas mengeluarkan tanda pengenalnya ke arah Gea.
Gea begitu ragu ingin mengambilnya, tapi dia butuh. Siapa tahu saja dia benar-benar orang baik, baru saja tanda pengenal itu akan Gea ambil tapi sudah ada yang mendekatinya dan menarik tangannya "Anak Ayah ini ya jalan-jalan terus. Kenapa tiba-tiba pergi begitu saja dari kamar Ayah mencarimu, Ayah begitu khawatir dengan keadaanmu "
Dimas menatap laki-laki tua itu dari atas sampai bawah "Oh kamu orang tuanya membawa anak gadis ke hotel seperti ini, dengan penuh luka seperti itu juga apa tidak salah "
"Iya ini anak gadisku, dia memang ceroboh dia selalu saja terjatuh terpeleset. Jadi banyak luka di tubuhnya anak gadisku ini benar-benar ya "
"Begitu ya, kurasa itu bukan sesuatu yang harus dikatakan ceroboh, kalau anak kecil sih bisa ditoleransi mereka ceroboh, tapi dia sudah dewasa aku yakin umurnya sudah 30 ke atas dan dia tidak akan secara gegabah untuk melukai dirinya sendiri kan"
"Ya mau bagaimana lagi, anakku memang seperti itu. Kamu tidak tahu kan bagaimana anakku ini. Kamu juga tidak tahu kesehariannya bagaimana "
"Baiklah untung saja aku tidak langsung menelpon polisi tadi, karena melihat luka-luka di tubuhnya ini. Ini itu luka yang sudah lama di tangannya, di pipinya dan luka baru serta luka lama di jidatnya pun ada"
"Untuk apa kamu melaporkan ke polisi. Ini bukan apa-apa benar kan anakku"
Gea yang tangannya digenggam erat oleh Ayah tirinya itu menganggukan kepalanya "Ya untuk apa melaporkan ke kantor polisi, tak ada yang terjadi semuanya baik-baik saja "
"Baiklah ini kartu namaku"
Ayah tiri Gea langsung menolaknya dengan perlahan "Tidak usah, untuk apa kamu ingin melamar anakku sampai-sampai memberikan kartu namamu. Fikir-fikir dulu kalau mau melamar anakku jangan langsung seperti itu ya "
"Tidak aku hanya ingin memberikan kartu namaku siapa tahu dia butuh bantuanku, toh aku sudah punya istri untuk apa aku melamar perempuan lain. Aku pun tidak mau menambah istri. Cukup satu saja, aku tak berminat juga dengan anakmu. Kalau begitu aku permisi"
Setelah Dimas pergi, Erik langsung menarik tangan anaknya "Apa yang kamu bicarakan sampai-sampai dia berbicara tentang Polisi. Apa kamu ingin melaporkan Ayahmu ini"
"Tidak aku sama sekali tidak ingin melaporkanmu, dia hanya menanyai tentang luka-luka ku saja. Kamu jika tidak percaya tanya saja padannya "
"Awas saja jika sampai ada polisi yang datang ke rumah itu adalah tanggung jawabmu, aku tak akan pernah memaafkan mu Gea. Aku akan terus mengintai mu dan kalau perlu aku akan membunuhmu"
Gea sama sekali tak meresponnya, mengikuti langkah kaki Ayahnya saja. Gea kembali terjebak seharusnya tadi dia menerima bantuan dokter itu. Mungkin sekarang Gea akan terlepas. Dasar bodoh sekali Gea ini.
__ADS_1