Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 24 Pernah ada di posisiku


__ADS_3

Gea yang memang sudah mual-mual dari seminggu yang lalu sedang mengecek keadaannya takut-takut dia hamil. Gea menatap testpack yang dia celupkan ke air kencingnya. Tak butuh waktu lama Gea sudah mendapatkan hasilnya. Gea hamil testpack itu garis dua. Gea yang tidak percaya akan semua itu langsung melempar tespacknya ke sembarangan arah.


Gea mengatur nafasnya, rasannya sesak sekali saat tahu keadaan ini. Kenapa bisa sampai hamil seperti ini. Gea tak menyangka semua ini akan terjadi padanya kenapa bisa, Gea tak terima semua ini.


"Tidak, tidak mungkin tidak mungkin aku hamil kan. Aku hamil anak siapa dan aku harus minta tanggung jawab siapa. Aku aku harus bagaimana aku binggung sekali apa yang harus aku lakukan " air mata Gea sudah mengalir dia begitu bingung harus minta tanggung jawab siapa, sedangkan yang tidur dengannya bukan satu atau dua laki-laki saja tapi banyak.


Bahkan tak terhitung berapa banyak yang sudah tidur dengannya. Padahal sebelumnya tak pernah seperti ini kenapa bisa kebobolan seperti ini. Gea begitu syok dengan semua ini.


Tubuh Gea langsung lemas, tubuhnya merosot begitu saja Gea menjambak rambutnya, dia menghapus air matanya mencoba untuk tenang tapi tidak bisa. "Bagaimana, aku harus minta bertanggung jawab siapa tidak mungkin kan tanggung jawab Ayah, dia yang ada cuman akan memarahiku dia yang ada malah akan menghukumku. Aku harus bagaimana ya Tuhan kenapa hidupku begitu menyedihkan seperti ini, kenapa aku harus ada diposisi seperti ini "


Gea memeluk tubuhnya yang tiba-tiba saja merasa dingin sekali, hidupnya akan hancur kehidupannya Gea sudah seperti ini, bagaimana kalau nanti ditambah anak malah akan hancur lebih hancur lagi malahan. Akan makin sulit Gea keluar dari sini.


"Aku tidak boleh mempertahankan anak ini, kalau sampai aku mempertahankannya yang ada hidupku itu tidak akan pernah tenang. Dia tidak akan punya Ayah dan yang pasti dia malah akan sakit hati jika melihat teman-temannya nanti mempunyai seorang Ayah kan, aku tidak bisa membiarkan dia dikucilkan, aku tidak akan sanggup melihatnya apalagi nanti akan banyak pertanyaan yang akan ditanyakan oleh anak ini padaku, aku tak akan bisa menjawabnya "


Gea mencoba untuk bangkit sambil berpegangan ke sisi kamar mandi, lalu mencuci wajahnya dan menatap pantulannya dicermin "Huff aku harus merahasiakan ini dulu, aku harus mencari cara untuk bisa keluar rumah sendiri tanpa harus Ayah tiriku mengawal ku atau sampai menyuruh orang untuk mengikuti ku, aku harus pintar-pintar "


"Aku tidak mau melahirkan tanpa suami, aku tidak mau melahirkan anak ini tanpa status yang jelas. Aku tidak akan sanggup "


Gea keluar dari kamar mandi, wajahnya sudah sedikit segar. Semuanya pasti akan baik-baik saja Gea tak mau terlarut larut dalam masalah ini.


...----------------...


Pagi-pagi sekali Freya sudah menyiapkan makanan untuk keluarganya yang akan datang. Ibu dan Ayahnya serta adiknya akan datang kemari Freya begitu senang. Akhirnya bisa berkumpul bersama-sama biasannya tak bisa karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Freya langsung membukanya ternyata ibu dan ayahnya serta adik perempuannya. Ayahnya langsung memeluk Freya dengan sangat erat sekali "Ya ampun sayangku akhirnya kita bisa ketemu, maafkan Ayah ya jarang bertemu denganmu"


"Seharusnya Freya yang datang ke rumah, dia kan anak malah orang tua yang datang kemari. Ada-ada saja anak ini benar-benar bukan anak yang baik "sindir Ibunya, padahal Freya sering mampir ke rumah Mamanya ke orang tuanya, tapi ya memang Mamanya yang julid seperti ini saja.


Ayah Freya hanya menepuk-tepuk bahu Freya saja dan menggandengnya untuk masuk. Freya menatap adiknya yang tersenyum padanya, lalu mereka berpelukan "Bagaimana dengan pekerjaanmu baik-baik saja kan, semuanya aman kan "


"Begitulah Kak, aku sekarang sedang membuka usaha tapi rasanya aku gagal terus. Tak pernah berhasil pekerjaan ku ini. Aku kadang lelah dengan semua ini Kak "


Freya mengusap rambut adiknya dengan sayang "Nanti juga kamu akan berhasil kan, semuanya butuh proses tak bisa terburu-buru seperti itu"

__ADS_1


"Iya benar, tapi aku tidak sesukses Kakak. Aku benar-benar gagal sekali "


"Sudah jangan pikirkan itu, ayo masuk dulu saja"


Keluarga Freya langsung disambut dengan hangat. Dimas juga langsung berpelukan dengan Ibu mertuanya serta Ayah mertuanya dan sedikit berbincang-bincang dengan adik iparnya.


Irsyad juga keluar dari kamar dan menyalami nenek dan kakeknya. Irsyad senang mereka datang tapi Irsyad kadang tidak suka dengan neneknya yang selalu saja mengkritik Mamanya. Apapun yang Mamanya lakukan selalu saja di komentari tak ada yang tidak di komentari.


"Oh ya Dimas bagaimana pekerjaanmu "ucap Mama mertuanya dengan sangat antusias. Karena dari dulu Mamanya Freya suka dengan Dimas karena pekerjaannya, Dimas adalah seorang dokter maka itu sangat membanggakan sekali untuknya bisa dipamerkan juga ke teman arisannya.


Dimas menatap Freya dengan bingung. Lalu Freya segera menjawabnya "Dimas sebentar lagi akan buka klinik, doakan saja semuanya lancar ya Bu"


"Baguslah ada kemajuan, lalu untukmu Freya apa kamu akan terus bekerja dan menelantarkan rumah tanggamu itu. Kamu itu perempuan dan seharusnya kamu itu diam di rumah untuk mengurus suamimu dan juga anak. Bukannya sibuk di depan komputer"


Freya menatap semua keluarganya. Selalu saja Ibunya seperti ini, kenapa sih Ibunya ini tak pernah bisa menghargai apa yang Freya lakukan.Padahal Freya bekerja juga karena banyak kebutuhan, belum lagi kebutuhan orang tuanya sendiri dan juga adiknya.


"Oh ya aku izin dulu ke kamar ya. Ada sesuatu yang tertinggal aku sampai lupa itu "


Freya langsung saja masuk ke dalam kamar. Freya tak tahu kalau Ibunya mengikutinya dari belakang. Freya menarik nafasnya dan menenangkan hatinya tapi tiba-tiba saja Ibunya berbicara.


Freya membalikkan badannya "Kenapa Ibu selalu saja membahas itu. Ibu tahu sendiri kan kebutuhanku itu banyak sekali, kenapa aku sampai bekerja seperti itu seharusnya Ibu mengerti dengan keadaanku "


"Tapi aku mendidik mu bukan untuk menjadi anak yang seperti itu. Kamu itu terlalu fokus dalam bekerja. Jangan habiskan sisa hidupmu untuk itu bagaimana kalau suamimu nanti berselingkuh, sekarang banyak perempuan yang gatal Freya bahkan demi mendapatkan suami orang mereka bisa melakukan apa saja "


"Bu tolong jangan berpikir ke sana. Ibu tahu sendiri kan bagaimana uangku ditarik ke sana kemari, jangan terus memojokanku Bu. Aku percaya Dimas akan setia dia tak akan mungkin seperti itu "


"Kamu itu alasan saja, Ibu sampai pusing mendengarnya "


"Ada apa ini "ucapan Ayah Freya yang mendengar kegaduhan di dalam kamar.


"Ini anakmu Freya, aku hanya menginginkannya untuk diam di rumah, dia harus mengurus suami dan anaknya dengan baik. Bukannya malah terus bekerja bekerja dan bekerja, bahkan tidak ingat dengan keluarganya sendiri. Anak ini harus selalu dinasehati tak boleh didiamkan terus menerus "


"Bu jangan berkata yang tidak-tidak, Freya selalu datang ke rumah bahkan dia selalu memberi kita uang. Dan anak bungsu mu dari mana dia mendapatkan uang kalau bukan dari kakaknya. Kamu ini kenapa sih selalu saja menyudutkan Freya. Kasian dia seharusnya kita tak boleh menganggu rumah tangannya keuangannya karena dia sudah punya kehidupannya sendiri "

__ADS_1


"Sudahlah kamu diam, kamu selalu saja membelanya. Aku tahu Freya adalah anak kesayanganmu, sampai-sampai saat Freya sekolah kita menghabiskan uang, menjual tanah menjual ini itu habis semuanya hanya untuk Freya sekolah. Sedangkan adiknya sekarang dia membuka usaha sendiri dengan jerih payahnya sendiri "


"Jangan berbicara seperti itu, jangan menghilangkan sesuatu yang seharusnya ada. Freya yang telah membiayai anak bungsu mu itu, kamu tidak ingat dengan sekolahnya Andini dia sekolah uang Freya, sampai lulus dan sampai kuliah Freya yang menyekolahkannya, bahkan sampai sekarang dia membuka usaha Freya yang membiayainya. Memangnya dia mengeluarkan uang tidak kan dia itu seharusnya bersyukur punya kakak seperti ini dan kamu juga harusnya bersyukur mempunyai anak yang begitu mengerti dan mau menolong keluarganya "


"Kamu ini ya selalu saja membela anakmu ini, tidak pernah membela aku ataupun Andini. Seharusnya kamu itu adil sebagai Ayah jangan berat sebelah seperti ini dong "


"Aku selalu adil aku sangat adil sekali menjadi seorang Ayah. Jangan terus seperti ini kita baru saja berkumpul. Freya sudah menghabiskan uangnya untuk adiknya, seharusnya adiknya itu bekerja saja seperti Freya pasti semuanya akan baik-baik saja dia tidak akan menghabiskan uang kakaknya"


"Tidak anak bungsuku memakai uangnya sendiri, jerih payahnya sendiri tidak meminta uang pada siapapun. Freya ini memang tidak tahu diri dari dulu, dia itu memang bisanya menghabiskan uang orang tua, sampai-sampai kita harus kehabisan segalanya"


"Nenek kenapa kamu selalu saja menyudutkan Mamaku, apa sebenarnya salah Mamaku, setiap kalian bertemu selalu saja Mamaku dimarahi. Mama ku padahal baik "tiba-tiba saja Irsyad masuk dan menyela kata-kata neneknya.


"Lihat anaknya saja tidak sopan padaku. Padahal aku sedang bicara tapi dia menyela aku begitu saja. Didikanmu memang kurang Freya, didikan kamu memang jelek, sudah aku bilangkan jangan fokus bekerja tapi urus anak dan juga suamimu itu "


Ibu Freya langsung keluar begitu saja, Ayahnya memeluk Freya dengan erat sekali "Sudah jangan dengarkan kata-kata Ibumu. Kamu tahu sendiri kan Ibumu memang suka seperti itu jadi jangan dimasukkan ke dalam hati ya sayangku "


Freya hanya bisa mengganggukan kepalanya, meskipun hatinya sakit dengan kata-kata Ibunya. Kenapa Freya begitu bahagia tinggal bersama Ibu mertuanya karena Ibu mertuanya menyayanginya lebih dari Ibu kandungnya sendiri.


Irsyad langsung memeluk Mamanya "Mama jangan nangis ya Irsyad pasti akan selalu bela Mama. Irsyad ga akan biarin siapapun untuk sakitin Mama "


Freya yang mendengar itu malah jadi menangis dan memeluk erat anaknya" Mama ga apa-apa. Kenapa Irsyad cari Mama ada apa sayang "


"Ga Irsyad cuman takut aja Mama disakitin nenek. Pasti kalau nenek ikutin Mama ujung-ujungnya Mama bakal disakitin kayak tadi, Irsyad ga suka Ma. Irsyad sakit hati melihat Mama diperlakukan seperti itu. Padahal disini nenek Astuti selalu membuat Mama senang dan tersenyum lebar "


Freya mencoba untuk kuat di hadapan anaknya. Freya menghapus air matanya dan tersenyum ke arah anaknya "Lihat Mama baik-baik saja kan, semuanya baik-baik saja ayo kita berkumpul pasti Ayah bertanya-tanya ke mana kita, pasti dia akan kebingungan sayang mencari kita"


Dengan lesu Irsyad menganggukan kepalanya, mereka keluar dari kamar itu Dimas langsung menghampiri istrinya "Sayang ada apa kenapa wajahmu murung sekali, ada yang terjadi yang aku tidak tahu "


Freya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, Freya tidak mau dalam acara keluarga ini malah nanti akhirnya bertengkar. Karena Freya tahu Dimas akan membelanya habis-habisan Freya tidak mau keluarganya malah jadi bermusuhan gara-gara dirinya.


"Lebih baik ayo sekarang makan, makanan sudah disajikan nanti kalau dingin tidak enak" Freya mengalihkan pembicaraan dan membuat dirinya terlihat sibuk di dekat suaminya.


Mereka segera berkumpul. Dimas masih khawatir dengan keadaan istrinya Dimas terus saja menatap wajah istrinya. Saat makan juga Dimas menyuapi Freya. Sebenarnya Freya ingin menangis tapi dia terus saja menahannya dengan memalingkan wajahnya dan menghapus air mata yang akan turun.

__ADS_1


Mungkin kalian pernah ada di posisiku, tidak dihargai oleh orang tua sendiri, tapi mencoba untuk selalu tegar dan terlihat baik-baik saja. Apakah pernah ada yang merasakan sepertiku.


__ADS_2