
Helena menatap paman Dimas yang masih ada disana. Helena malah jadi takut sendiri kan kenapa paman Dimas ini tak pulang saja, kenapa dia ada disini menakutkan sekali.
"Helena ayo masuk kedalam kelas mu jangan melamun terus disana" teriak gurunya.
Helena segera melakukannya dia langsung berlari kearah kelasnya. Helena begitu takut sekali dengan ayahnya itu yang terus menatapnya.
Sedangkan Dimas sendiri senang saja melihat anaknya yang sekolah. Dimas seperti kembali seperti saat dulu mengantarkan Irsyad. Dulu dirinya sering menunggu anaknya sekolah.
Tiba-tiba saja ponselnya Dimas berdering. Dimas segera mengangkatnya.
"Iya kenapa "
"Iya baiklah aku akan kembali keruang sakit sekarang"
"Iya tak akan lama "
Dimas bergegas pergi, ternyata akan ada operasi Dimas sampai lupa akan hal itu. Dimas lupa sendiri dengan jadwalnya itu. Ada-ada saja kan dirinya ini.
...----------------...
"Freya kenapa kamu tiba-tiba ingin memutuskan pernikahan ini. Padahal Mama sudah senang Amar akan menikah dengan kamu. Kenapa sayang, katakan pada Mama nenek berbicara apa sampai-sampai kamu langsung mundur "
Inilah yang Freya ingin hindari berbicara tentang pernikahannya. Freya sedang tak mau membahasnya. Tapi mau bagaimana lagi Freya sudah terjebak dengan keluarganya Amar sekarang disini.
"Aku benar-benar binggung Ma, aku tak tahu harus melakukan apa. Nenek memberikan aku sebuah pilihan yang begitu rumit dan aku tak bisa memilihnya"
"Kamu menikah saja dengan Amar, mamah merestui kalian berdua. Tak usah takut. Kamu akan bahagia dengan Amar tanpa restu nenek sekalipun "
Freya tentu saja langsung mengelengkan kepalanya "Tidak bisa Mama. Aku mau kelurga Amar merestui aku, aku mau semuanya baik-baik saja dan kedepannya tak ada masalah. Aku tak mau menjadi masalah untuk kalian nantinya "
"Tapi keputusan nenek itu akan sulit dirubah. Kamu tak akan tinggal bersama nenek, kamu akan tinggal bersama Amar dan anak-anak Freya "
"Aku takut nanti saat hari pernikahan nenek akan marah, aku tidak mau membuat keluarga kalian malu"
__ADS_1
Mamanya Amar mendekati Freya dan memeluknya dengan sangat erat sekali. Rasannya akan sulit semua ini dilakukan.
Dirinya begitu ingin sang anak menikah dengan Freya, dengan perempuan yang baik ini. Amar juga sudah sangat mencintai Freya kan. Lalu apa lagi yang harus diragukan lagi.
Hanya karena masalah neneknya malah jadi panjang kan. Seharusnya dirinya waktu itu melarang ibunya datang kemari. Mungkin semua ini tak akan pernah terjadi.
Ibunya selalu saja mencari kesalahan orang lain. Seperti dia benar saja. Padahal dia juga salah. Ibunya selalu saja mengatur hidup anak-anaknya dan cucunya. Entah akan sampai kapan ibunya akan terus seperti itu.
"Tapi jika nenek sudah setuju kamu akan kembali pada Amar kan " sambil melepaskan pelukannya.
Freya menatap Amar yang begitu berharap padanya. Bagaimana ini apakah Freya harus kembali lagi pada Amar jika neneknya sudah merestui.
Freya kembali dibuat binggungkan. Freya benar-benar harus selalu ada diposisi seperti ini terus. Lalu Freya menatap Mamanya Amar yang begitu berharap lebih padannya.
...----------------...
"Mama kenapa ada disini, apakah mama sedang sakit sampai-sampai ada dirumah sakit "
Mama Astuti menatap anaknya, lalu mengelengkan kepalanya "Tidak mama baik-baik saja Dimas. Amar katanya mengalami kecelakaan dan Mama ingin melihat keadaannya Mama begitu khawatir dengan keadaannya itu"
"Tentu saja Freya ada disini, tolong jangan datangi mereka. Pasti akan ada keluarganya Amar. Jangan buat Freya lagi ada dalam masalah Dimas. Mama minta tolong sama kamu ya "
Dimas hanya diam saja. Mamanya begitu peduli dengan Freya dan juga Amar. Mamanya begitu menyayangi mereka.
"Baik Ma, aku tak akan menemui Freya, bahkan aku tak akan muncul sebelum mereka pulang. Oh ya mah, mamah bisa nanti menemui Gea "
"Apa menemui Gea untuk apa, kamu gila Dimas mama tidak mau bertemu dengan perempuan itu. Mama benar-benar tak sudi kalau harus bertemu lagi dengannya "
"Gea sedang hamil dan dia butuh seorang ibu seperti Mama, bisakah Mama datang dan mengajaknya berbicara dan jalan-jalan dia tak punya teman "
"Ya mana ada orang yang mau menemani orang ketiga seperti dia, tak akan Dimas. Gea itu wajah polos tapi kelakuan seperti setan "
"Ma mau bagaimana pun dia adalah istriku. Dia sedang mengandung Ma. Apakah Mama tak akan pernah memaafkan Gea sampai kapan pun "
__ADS_1
"Tak akan pernah bisa Dimas. Mungkin aku bisa menerima anakmu nanti bersama Gea tapi kalau ibunya aku tak akan pernah bisa menerimanya. Aku tidak mau dia masuk kembali pada keluarga ku. Aku tak mau membuat luka Freya terbuka lagi "
"Bukannya Freya sudah melupakan segalanya, lalu kenapa dia masih terluka "
"Kamu rasakan saja kalau misalnya diselingkuhi, memang sudah sembuh tapi kalau melihat orangnya ada didepan mu pasti akan terasa lagi sakitnya. Sudahlah Dimas kamu hanya akan membuat Mama marah saja "
"Iya maafkan aku ma, maaf aku sungguh tak bermaksud membuat Mama marah seperti ini "
"Apakah ada yang mau kamu bicarakan lagi Dimas, mama tak punya banyak waktu. Kamu juga sepertinya harus menemui pasien kan "
"Ma jawab dulu, mau ya mama temui Gea. Beri dia semangat, entah kenapa Gea jadi cenggeng mah "
"Memang sudah seperti itu dia, cenggeng tak ada berubahnya. Sudahlah Mama menolak untuk menemuinya dari pada Mama nanti akan menyakitinya dengan kata-kata pedas mama ini. Kamu tahu sendirikan sebelum dia merebut kamu dari Freya, mama sudah tak suka dengannya"
"Kenapa Ma apa alasannya "
"Sudah ah aku tak mau membahasnya kenapa kamu ini malah membahas Gea, mamah mau menemui Amar"
Mama Astuti langsung berjalan, tapi Dimas kembali bersuara.
"Apa Mama menyayangi aku "
Mama Astuti berhenti, dan masih tak menatap anaknya.
"Meskipun kamu sudah membuat Mama kecewa Dimas, tapi seorang ibu akan sulit untuk membenci anaknya sendiri. Mama begitu marah dengan apa yang kamu lakukan pada Freya, tapi didalam hati Mama tetap mama menyayangi kamu, mama kecewa dengan kamu Dimas, tapi Mama tetap peduli dengan kamu"
"Maka datanglah temui Gea ma, dia adalah istriku sekarang. Dia ingin bertemu dengan Mama "
"Baiklah jika dia ingin bertemu dengan Mama, jika nanti mama menyakitinya kamu jangan marah pada Mama Dimas. Kamu jangan menyesal "
"Ya temui saja dulu Ma, aku yakin Mama tak akan seperti itu "
"Mungkin itu pun "
__ADS_1
Mama Astuti segera melangkah meninggalkan anaknya ini. Mama Astuti entah kenapa tak mau menemui Gea sampai kapan pun. Rasannya berat saja untuknya.
Yang ada dirinya malah akan emosi terus kalau bertemu dengan Gea. Mamah Astuti benar-benar tak suka melihat wajahnya yang polos tapi nyatanya itu hanya topong saja.