Orang Ketiga Itu Sahabatku

Orang Ketiga Itu Sahabatku
Bab 184 Berteduh


__ADS_3

"Kamu yakin kan sudah membawa jas hujannya "lagi-lagi itu yang ditanyakan oleh Freya, karena Freya benar-benar takut nanti kalau hujan bagaimana. Takutnya mereka malah akan sakit nanti kalau kehujanan.


"Iya sayang aku sudah membawanya kamu tenang saja semuanya sudah aku siapkan dari jauh-jauh hari, jadi tak akan mungkin ketinggalan "


Baiklah sekarang Freya percaya, Freya juga tersenyum tadi suaminya itu mengecek segalanya bahkan dari ketebalan jaketnya saja suaminya itu mengeceknya. Apakah Freya sudah memakai jaket yang benar, helm juga dari tadi suaminya yang memakaikan pokoknya suaminya ini sangat perhatian sekali. Hal sekecil apapun akan suaminya perhatikan tidak pernah ada yang terlewat sedikitpun.


Freya sangat jarang naik motor, sekali naik motor bersama suaminya langsung, Freya merasa kikuk tapi ya Freya mencoba untuk tenang dan terlihat biasa-biasa saja.


Tadi saat tangannya tidak memeluk pinggang suaminya, Amar langsung mencari tangannya itu dan kembali membuatnya memeluk pinggangnya dengan erat.


Freya hanya bisa tersenyum jalanan juga sangat basah. Freya tidak tahu kalau semalam hujan, tadi dia baru diberitahu oleh suaminya kalau tadi malam memang hujan deras. Mungkin karena tidurnya terlalu lelap jadi Freya tidak tahu.


Saat ada lubang yang besar Freya langsung memeluk suaminya dengan erat, karena suaminya itu main terobos terobos saja jalannya juga kurang baik.


Freya menarik jaketnya untuk menutupi mulutnya, karena dia tadi lupa tak membawa masker. Sekarang Freya hanya bisa menutupi matanya saja dengan kaca helm kalau mulutnya tidak terlalu tertutup sih, seharusnya Freya tadi membawa masker untuk berjaga-jaga apalagi nanti siang pasti akan sangat banyak debu.


Mereka ada di jalan yang rusak cukup lama. Freya juga tidak tahu sebenarnya jalan pergi ke puncak itu apakah ke sini atau memang Amar sengaja lewat jalan yang rusak seperti ini.


Kakinya sudah pegal karena dia terlalu tegang, belum lagi pantatnya yang sepertinya kebas dan sakit, Freya belum pernah pergi dengan motor jauh-jauh, bahkan dulu saja bersama Dimas mungkin tidak pernah mereka selalu naik mobil kalau tidak ya naik taksi sama saja sih mobil.


Mereka sudah lepas dari jalan yang sangat menyiksa itu menurut Freya. Amar langsung menjalankan motornya dengan cukup kencang, apalagi mereka sudah mulai menanjak dan juga turun pokoknya jalannya ini mulai berbelok sana sini.


Freya benar-benar tidak menyangka akan pergi bersama suaminya bulan madu menggunakan motor, ini adalah sesuatu yang baru untuknya. Tapi cukup menyenangkan dan tak buruk juga sih.

__ADS_1


"Kalau kamu mengantuk bicara sama aku ya sayang, nanti kita bisa berhenti dulu dan beli makanan "teriak Amar takut tidak terdengar oleh istrinya.


"Iya nanti aku akan bicara sama kamu "


Sekarang Freya bisa merasakan udara yang berbeda, saat mereka sudah masuk ke jalanan yang sepertinya akan dekat ke arah puncak di sini dingin dan suasananya sangat enak sekali, Freya suka.


"Bisa berubah seperti ini ya cuacanya, di sini dingin dan sejuk sekali aku suka sekali tempat ini "


"Ya pasti berbeda sayang, tapi kita masih lama, masih ada beberapa jalan yang harus kita lewati"


Freya menatap pohon-pohon besar yang begitu indah di matanya karena tidak panas, Freya juga mulai melihat jalan yang mulai menakutkan Freya memegang jaket suaminya dengan erat, takut jatuh karena suaminya itu terus melajukan motornya dengan kecepatan yang mulai tinggi.


"Sayang bisa mundur sedikit, aku sudah duduk didepan ini "


Freya tadi sebelum mundur juga memegang jok belakang, ternyata dia sudah maju terlalu depan, untung saja suaminya ini mengingatkannya, salahkan jalannya kenapa harus seperti ini jadikan dirinya terus maju.


Sekarang mereka melewati jalan yang kurang baik lagi, ada banyak kerikil malahan lebih parah lagi kan, kalau salah sedikit mereka bisa terjatuh tergelincir. "Hati-hati jangan sampai kenapa-napa, pelan-pelan saja"


"Iya iya aku juga ini memelankan laju motorku kamu tenang ya, jangan takut aku sudah biasa jalan-jalan seperti ini menggunakan motor"


"Iya aku hanya takut saja pelan-pelan saja yang penting kita datang dengan selamat"


"Iya sayang ini juga pelan kok, ga kebut-kebutan kayak tadi "

__ADS_1


Bahkan Freya sampai menutup kedua bola matanya, karena mereka juga menanjak dengan jalan yang cukup tidak baik, Freya benar-benar takut saat membuka mata ternyata mereka sudah ada di jalan yang lebih bagus tidak seperti tadi.


"Apakah kita mau singgah dulu di tempat makan. Kamu lapar tidak sayang "


"Nanti sajalah, aku belum lapar terus saja melaju agar cepat sampai lihat sudah mendung juga, aku takutnya nanti hujan meskipun kita membawa jas hujan tetap saja kalau misalnya kehujanan tidak enak "


Amar hanya menganggukkan kepalanya dan sekarang mempercepat lagi laju motornya mereka juga sudah ada di jalan yang cukup bagus dan tidak seperti tadi yang banyak kerikil.


Amar begitu senang bisa membawa istrinya dengan motor, ini sesuatu yang baru untuk mereka biasanya Amar pergi sendiri ke puncak. Tapi sekarang sudah ada istrinya yang duduk di belakang dengan tenang, meskipun sesekali Amar merasakan istrinya itu tegang.


Benarkan apa yang di fikirkan oleh Freya hujan mulai turun rintik-rintik. Freya melihat ke arah langit yang mulai gelap, tapi hujan tidak terlalu besar Freya langsung menutup helmnya itu agar air hujan tidak mengenai wajahnya.


Freya juga makin mempererat pelukannya pada suaminya, tadinya Amar sudah menyarankan untuk memakai jas hujan tapi Freya tidak mau karena hujan juga belum terlalu besar hanya baru rintik-rintik saja.


Amar memegang tangan istrinya "Kamu nggak bawa sarung tangan, tadi padahal aku udah siapin loh di tempat tidur, aku kira kamu pakai tadi "


"Enggak aku lupa, tadinya mau aku bawa tapi karena tadi Helena nangis jadi nggak sempet aku bawa, aku jadi lupa deh "


Amar memberhentikan motornya ke arah tempat berteduh, karena hujan makin besar Amar juga membuka helm istrinya dan menggosok-gosok tangannya untuk menghangatkan istrinya, pasti istrinya ini sangat kedinginan.


"Dingin ya, kita di sini dulu saja hujannya juga makin besar kalau pakai jas hujan nanti takutnya tembus"


"Iya di sini dulu saja banyak orang juga kok di sini yang berteduh, jadi ada teman kita tak berdua"

__ADS_1


Amar menganggukan kepalanya, dia kembali menghangatkan istrinya. Iya dengan menggosok-gosok tangannya lalu menempelkannya ke pipi istrinya itu, memang istrinya terlihat malu-malu karena banyak orang yang melihatnya tapi Amar tidak peduli daripada istrinya kedinginan kan lebih baik seperti ini saja, toh mereka juga suami istri.


__ADS_2