
"Irsyad tunggu aku"
Irsyad memberhentikan langkahnya, tapi wajahnya masih cemberut tapi Brian tidak masalah memang dirinya punya salah pada Irsyad. Brian berlari kearah Irsyad.
"Kita bisa bicara Irsyad, ada sesuatu yang ingin sekali aku bicarakan dengan kamu "
Irsyad menganggukan kepalanya dan segera berjalan lagi, sedangkan Brian mengikutinya dari belakang mengekor. Brian juga tidak berani kalau harus berjalan disampingnya Irsyad sepertinya Irsyad juga masih marah padanya.
Mereka duduk di kantin paling ujung sekali agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka berdua, Irsyad sudah tahu arah pembicaraan mereka akan kemana nantinya.
"Maaf ya aku udah buat kamu harus terjebak dan juga harus nanggung malu, seharusnya aku nggak lakuin itu Irsyad maaf sekali lagi karena kelakuanku kamu malah harus mencari bukti lah, bayar orang apalah inilah. Aku benar-benar salah dalam segi hal apapun itu "
"Ya sudah sih semuanya juga sudah terjadi. Mau bagaimanapun aku marah padamu, semua itu sudah terjadi kan tidak akan pernah bisa diulang lagi yang terpenting kamu sudah tanggung jawab pada Laila, dan semua orang sudah tahu bahwa kamu yang menghamilinya"
Brian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan entah kenapa Brian ingin bercerita pada Irsyad tentang rumah tangganya ini yang baru saja dirinya mulai "Tapi selama kita menikah Laila benar-benar enggak anggap aku sebagai suaminya, aku benar-benar enggak dianggap sama dia. Aku juga tinggal di rumahnya dan orang tuanya sama aja, aku ke sini mau minta solusi sama kamu menurutmu apakah aku harus meneruskan pernikahan ini atau sampai Laila melahirkan saja, aku benar-benar binggung"
"Aku juga sekarang kuliah sambil kerja, ya untuk membiayai anak yang ada dalam kandungan Layla dan juga Layla sekalian. Tadinya aku ingin membawa Layla pergi dari rumah itu tapi Laila tidak mau"
"Aku sih belum menikah tapi mungkin ini sekedar saranku saja, kata mamaku kalau kita sudah menikahi seorang perempuan harus selalu patuh pada suaminya, harus selalu ikut kemanapun pergi suaminya tidak boleh membantah seperti itu"
"Ya itu juga dari orang tuaku begitu, kalau perempuan itu sudah kita nikahi berarti kita bebaskan membawanya, kemanapun mau tinggal di manapun dengan keadaan seperti apapun itu "
__ADS_1
"Ya begitulah, kalau menurutku juga tidak usah bercerai. Kamu memangnya siap kalau misalnya harus bercerai dan nanti mengurus anakmu sendirian, belum lagi kuliah belum lagi bekerja. Ya siapa tahu nanti juga Layla ke depannya akan bisa menerima kamu dan orang tuanya juga mungkin masih marah sama apa yang pernah kamu lakuin sama Laila"
"Iya tapi aku nggak nyaman aja di sana, dicuekin aku nyapa mereka diem jadi serba salah. Aku benar-benar jadi nggak enak tinggal di sana. Aku aja sama Laila nggak satu ranjang bukannya aku mau mengumbar aibku hanya saja aku bingung harus cerita sama siapa, tidak mungkin aku berbicara pada kedua orang tuaku mereka sudah terbebani dengan aku yang membuat mereka malu sekarang ditambah dengan cerita ini aku tidak mau"
"Aku kira pernikahan kalian itu baik-baik saja, coba kamu lebih dekatkan diri lagi pada kedua orang tuanya Laila siapa tahu mereka luluh"
"Sudah, aku bahkan setiap malam selalu membawakan makanan untuk mereka aku selalu bangun pagi-pagi. Tapi tetap saja semua itu tidak dihargai. Bahkan makanan yang aku bawa saja tidak mereka makan, kadang aku sakit hati dan merasa apa yang aku lakukan itu hanyalah sebuah hal yang sia-sia. Makanya aku ingin membawa Layla keluar saja dari rumah itu, tapi malah jadi bertengkar malah jadi pertengkaran saja di antara kami berdua ini '
Irsyad menepuk bahu Brian beberapa kali "Ini mungkin ujian untuk kamu, sudah ikuti saja jalannya seperti apa. Kamu juga aneh-aneh ngapain juga hamilin anak orang, padahal kamu itu masih kuliah loh tapi udah berani lakuin hal macam itu "
"Iya salah awalnya jadi kayak gini deh, pesan makan yuk. Kamu masih mau kan temenan sama aku Irsyad, aku nggak akan pernah kayak gitu lagi. Aku janji aku udah berubah kok sekarang aku benar-benar bingung semua orang jauhin aku ngomongin aku"
"Kamu udah maafin aku kan"
"Udah nggak usah bahas soal itu lagi, udah berlalu juga kan"
Brian menganggukan kepalanya sambil tersenyum, dia tahu kalau Irsyad itu baik. Jadi tidak mungkin Irsyad menjauhinya juga.
...----------------...
Gea sudah siap akan pergi berbelanja bersama suaminya yang belum datang, katanya sebentar lagi 15 menit lagi baru juga Gea melihat jam tangannya suaminya sudah datang, dia langsung saja masuk ke dalam mobil katanya agar mereka tidak masuk dulu ke rumah. Jadi Gea yang menunggu dulu di luar.
__ADS_1
"Kita mau belanja ke mana"
"Ke mall yang dekat saja, jangan jauh-jauh kadang pinggangku ini suka sakit kalau malam-malam, tapi untungnya ada Bibi yang selalu temenin aku kalau kamu lagi di rumah sakit, dan Bibi juga yang usap punggungku, bibi itu baik banget kayak orang tua buat aku"
"Syukur deh, berarti aku nggak salah cari temen buat kamu kan"
"Gak, nggak salah dia baik banget, tadi juga mama dateng kasih aku buah-buahan mama udah mulai perhatian aku seneng banget. Mama juga nggak terlalu dingin ataupun ketus sama aku, mama selalu mengingatkan hal-hal kecil sama aku seperti itu ya rasanya diperhatikan oleh seorang ibu"
Dimas menatap sekilas istrinya. Dimas senang ibunya akhirnya mau menemui Gea lagi. Iya meskipun sebenarnya buah-buahan yang ibunya bawa itu dari dirinya, ibunya hanya membelikan untuk Freya saja. Dimas lah yang memberikannya saat tadi akan pergi.
Dimas ingin selalu menyenangkan hati Gea, karena Gea memang sedang mengandung dia harus selalu senang agar anaknya yang ada dalam kandungan Gea baik-baik saja tidak terjadi apa-apa, apalagi ini adalah kehamilan pertama Gea kan.
"Apakah nanti Ibu bisa memelukku seperti Ibu memeluk Freya. Apakah bisa nanti"
"Tunggu saja semuanya kan harus berjalan dengan perlahan, tidak boleh terburu-buru nanti juga ibu akan menyayangimu seperti dia menyayangi Freya kamu hanya perlu sabar saja"
"Iya anak ini ternyata membawa berkah juga ya, membawa kedamaian juga untuk kita semuanya selama aku mengandung banyak orang yang baik padaku mereka tidak lagi memandangku sebelah mata"
"Syukurlah aku senang mendengarnya"
Lagi-lagi Dimas senang mendengar semua itu. Semoga saja Gea tak tahu kalau semua yang terjadi adalah rencana dirinya.
__ADS_1