
Freya yang sedang jogging melihat ada sebuah bunga mawar merah di dekat pohon besar, tapi seperti ditempel di sana ada tulisan aku mencintaimu. Freya sangat suka melihatnya apalagi ada bunga mawar merah cantik sekali.
Pasti perempuan yang akan diberi hadiah ini akan sangat bahagia sekali, Freya yakin. Freya saja yang melihatnya begitu bahagia dan suka sekali, apalagi orang yang akan diberi kejutannya.
Freya mengelilingi pohon itu dan ada namanya. Maksudnya apa ini saat melihat ada sebuah patung berdiri membelakanginya, Freya segera membalikkannya dan lucunya sekali ada topeng wajah Amar.
Benar-benar lucu sekali Freya sampai tertawa terbahak-bahak. Lihatlah ini patung yang dipakaikan pakaian lengkap dengan rapi sekali, bahkan memakai dasi tapi wajahnya wajah Amar.
Saat Freya melihat ke arah samping ternyata di sana ada Amar yang tersenyum padanya, Freya langsung menggelengkan kepalanya dan berlari meninggalkan Amar. Lucu saja kenapa harus seperti itu.
Satu lagi kenapa Freya berlari dia malu. Entah kenapa saat melihat Amar malah jadi malu sendiri. Freya juga malu untuk mengatakan terima kasih atas apa yang dia lakukan, atas apa yang Amar sudah berikan album itu yang sudah sangat membuatnya bahagia sekali.
"Aku harus bagaimana ya apakah aku harus menemui Amar lagi "tanya Freya pada dirinya sendiri. Freya sekarang duduk di dekat danau dia bingung harus melakukan apa sekarang.
"Tapi aku juga malu, tidak tidak lebih baik Amar saja ya yang mendekatiku"
Freya kembali jogging dia akan menunggu Amar saja nanti yang menemuinya. Freya bener-bener malu kalau halus mengatakan segalanya di depan Amar, tanpa Amar membuka pembicaraan dulu. Bukan apa-apa Freya begitu takut kalau misalnya Amar berubah seperti Dimas. Sangat menakutkan sekali.
Sedangkan Amar sendiri yang masih ada di sana hanya bisa menggaruk kepalanya melihat tingkah Freya yang seperti itu, tentu saja Amar bahagia baru pertama kali Amar melihat Freya yang tersenyum dengan sangat lebar seperti itu.
Ini seperti sebuah kejutan untuknya, Freya belum pernah tertawa lepas di hadapannya tapi sekarang dia tertawa dengan gembira sekali. Sesuatu kemajuan yang baguskan.
Amar segera menghubungi Dimas untuk berterima kasih atas semua ini. Ternyata rencana Dimas tidak buruk-buruk sekali hampir semuanya berhasil dan Amar yakin sebentar lagi juga Freya akan menjadi miliknya.
"Dimas aku ingin mengatakan terima kasih padamu, rencana kali ini berhasil kembali. Sepertinya kamu bisa mencalonkan diri sebagai orang yang bisa menyatukan kembali pasangan, ya siapa tahu di luar sana banyak orang-orang yang membutuhkan otakmu itu untuk memikirkan semua rencana rencana seperti ini"
"Tentu sama-sama, tidak semudah itu Amar aku lebih baik jadi dokter saja, itu lebih menyenangkan aku tidak akan memikirkan konsep dan sebagainya. Aku melakukan ini hanya untukmu dan juga Freya. Aku ingin melihat kalian berdua tersenyum bahagia dan bisa menikah seperti impian kalian berdua, satu lagi Helena juga akan bahagia saat mendapatkan ayah seperti kamu yang memang dari dulu sudah ada bersamanya"
"Baiklah nanti akan aku naikan gajimu, karena kamu sudah membantuku. Ya sudah ku matikan dulu teleponnya, aku hanya ingin berterima kasih padamu. Aku harus segera mengejar Freya"
__ADS_1
"Terima kasih ku tunggu gaji tambahan ku itu"
Dimas yang ada di seberang sana bernafas lega, akhirnya rencananya itu berhasil. Dimas sampai bergadang memikirkan konsep apa yang harus dia lakukan dan ternyata Freya senang, Freya bahagia.
Dimas juga jadi ikut bahagia kan kalau seperti ini.
"Aku sekarang tenang sekali, aku berharap Freya akan segera memutuskan segalanya agar Helena juga cepat dekat dengan Ayahnya. Aku tak suka kalau harus terus melihat wajah Helena yang murung "
Tidak pernah disangka-sangka saja Dimas akan melakukan ini, akan membantu Amar untuk mendekat lagi dengan Freya. Awalnya Dimas ingin mengambil Freya dan memisahkan mereka berdua, tapi setelah berbicara dengan Helena Dimas sadar kalau yang dibutuhkan oleh anaknya bukanlah dirinya, Amar lah yang sangat dia butuhkan.
Kalau saja tidak ada Helena di dunia ini mungkin Dimas akan merebut Freya begitu saja. Helena benar-benar sudah membuatnya sadar sesadar-sadarnya.
Kalau saja dirinya egois ingin memisahkan Amar dan juga Freya, mungkin Dimas akan menghancurkan hidup Freya untuk yang kedua kalinya. Sungguh Dimas memikirkannya saja sudah takut apalagi kalau sampai melakukannya kan.
Dan anak-anaknya malah akan makin membencinya juga, mungkin akan sangat dalam sekali membencinya semoga saja setelah Amar dan Freya berbaikan dan mereka menikah anaknya Irsyad dan juga Helena bisa menerimanya.
Bisa berkumpul dengannya, bisa melihat adiknya nanti saat Gea melahirkan Dimas begitu berharap lebih, meskipun akan mustahil sekali. Tapi semoga saja Amar nanti yang bisa membantunya.
Dimas segera keluar dari ruangannya dia akan bekerja dulu sekarang rencananya sudah berhasil. Dimas sudah tidak punya pikiran apa-apa lagi. Dimas yakin sebentar lagi Freya dan juga Amar akan memberikan kabar baik untuknya ya mungkin mereka sebentar lagi akan menikah.
...----------------...
"Mama harus pulang dulu, kamu di rumah saja sendirian nanti juga Dimas pasti pulang kalau pekerjaannya sudah selesai. Mama tidak bisa lama-lama di sini Helena juga sebentar lagi akan pulang kalau tidak ada orang di rumah pasti dia akan bingung, dan pasti akan mencari-cari aku juga"
"Suruh saja Helena pulang kemari mah, pasti akan lebih menyenangkan kalau kita berkumpul Mama juga bisa mengenalkan aku padanya, aku yakin Helena akan menerima aku jika mama mengenalkannya dengan baik-baik padaku, dan juga Helena akan tahu kalau dia sebentar lagi akan punya adik"
"Kamu tidak bisa meminta lebih seperti ini, masih untung aku mau datang ke rumahmu ini, masih untung aku mau mengobrol denganmu Gea. Rasa kesal aku benci ku, marah aku masih ada padamu. Jadi jangan terlalu melunjak denganku, aku kadang tidak bisa menahan emosiku terlalu dalam"
Mama Astuti segera bangkit setelah tadi berbincang-bincang lagi dengan Gea, banyak yang mereka bicarakan. Ya intinya kebanyakan sih tentang rumah tangga Gea dan juga Dimas.
__ADS_1
Tapi ya sudahlah Mama Astuti juga tidak mau terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga anaknya, dulu saja saat Dimas bersama Freya Mama Astuti tidak terlalu ikut campur.
Baru saja Mama Astuti akan menutup pintu Gea kembali berbicara "Tapi mama nanti akan kemari lagi kan, akan menemuiku lagi aku benar-benar butuh teman. Aku janji tak akan membuat Mama marah atau kesal padaku "
"Lihat saja nanti, apakah aku akan kembali lagi atau tidak. Aku harus pulang secepat mungkin sudah aku bilang kan cucu aku akan segera pulang l. Jadi aku tidak bisa berlama-lama di sini takutnya juga nanti jalanan macet aku permisi dulu"
Mama Astuti tanpa mau mendengarkan kembali penjelasan dari Gea langsung pergi, dan untungnya Pak sopir yang selalu saja dia suruh menjemputnya ada.
Dan sekarang Mama Astuti akan menjemput cucunya saja langsung Helena. Biar sekalian agar tidak pulang pergi juga, cape juga kalau harus pulang pergi.
Gea malah kembali melamun sekarang sudah tidak ada orang yang bisa diajak bicara, benar-benar menyedihkan hidupnya ini benar-benar hancur hidupnya ini kenapa bisa seperti ini.
Gea tidak pernah menyangka akan semenyedihkan ini kembali, dulu juga dia begitu sedih saat ayahnya terus saja menjualnya sekarang dengan tingkah suaminya juga Gea malah menjadi sedih tahulah pusing, sekarang perutnya sudah lapar dan harus diisi segera.
Gea mau bagaimana pun harus mengisi perutnya, didalam perutnya ini ada anaknya yang hidup dan perlu dipenuhi nutrisinya.
...----------------...
Pak supir menatap kearah belakang kearah majikannya. Masih tak menyangka kalau majikannya ini akan mau menemui istri dari anaknya yang sudah mengkhianati nyonya Freya.
Pak supir juga sudah tahu bagaimana kisah antara nyonya dan juga suaminya. Karena memang sudah banyak yang tahu.
Pak supir begitu kasihan dengan nasib majikanya itu, tapi lambat laun setelah kedatangan Pak Amar rasanya majikannya itu kembali bersinar kembali bisa tersenyum.
Apalagi dengan Nona Helena yang begitu bahagia mendapatkan seorang ayah. Mungkin kalau orang yang melihatnya mereka itu adalah ayah dan anak tapi pada kenyataannya bukan.
Tapi kadang Pak supir juga suka curiga dengan anak majikan yang satu lagi yang sudah dewasa itu, dia tidak pernah membawa perempuan ke rumah yang kemarin saja sampai menangis kan.
Tapi tidak tahu siapa anak perempuan itu, apa mungkin anak majikannya yang pertama itu mengalami trauma, sampai-sampai dia tidak mau mempunyai sebuah hubungan dengan seorang perempuan.
__ADS_1
Bisa saja kan, apalagi saat rumah tangga orang tuanya retak dia tahu, mengetahui segalanya. Bahkan menjadi saksinya juga. Sungguh Pak Dimas waktu itu tak punya hati sekali, memang pesona perempuan kadang tak bisa ditolak. Apalagi mereka juga sering menghabiskan waktu bersama sama kan dulunya saat belum punya hubungan apa-apa.