
Mau sekuat apapun Gea menghindar. Tapi tetap saja kalau sudah munculnya masalah datang saja ibunya Freya datang menghampirinya. Gea kira ibunya Freya tidak akan mengenalinya, tidak akan mendekatinya juga.
Tapi ternyata tebakannya salah, memang kalau suka membuat onar ya seperti ini. Gea benar-benar ingin menghilang saja dari sini.
"Waduh waduh waduh datang kemari. Kamu nggak malu ya datang ke pernikahan anak saya kamu masih punya wajah Gea ? "
Gea menatap kesana kemari mencari keberadaan suaminya, suaminya tadi katanya mau ambil minum dan juga camilan yang lain tapi belum kembali juga. Gea benar-benar tidak bisa menghadapi ibunya Freya sendirian.
Gea tidak mau tersurat emosi dan nanti berteriak di sini, sekarang moodnya itu sedang tidak baik. Saat sedang mengandung seperti ini moodnya selalu jelek dan tak terkontrol saja.
"Maaf Tante aku tidak mau bertengkar dengan siapa-siapa, aku datang kemari karena diundang. Kalau tidak diundang aku tak akan datang "
Ibunya Freya langsung menutup mulutnya "Apa kamu diundang oleh anakku, yakin Freya akan melakukan itu Freya mengundang seorang pelakor perempuan yang pernah mengambil suaminya, apa Freya itu bodoh apa dia tidak takut kalau nanti suaminya yang baru malah diambil lagi olehmu" sambil menunjuk Gea dan menekan dada Gea pula.
Gea menatap ibunya Freya dengan tatapan yang marah, kesal dan juga malas, Gea sebenarnya tidak mau bicara dengan mamanya Freya tapi mau bagaimana lagi sudah ada di hadapannya.
Ibunya Freya ini tidak akan pernah diam sebelum Gea membalas segala ucapannya. Gea sangat tahu pasti bagaimana orang tuanya Freya ini.
"Maaf Tante aku tidak mau ada pertengkaran, Tante bisa jamin kalau aku tidak akan pernah mengambil apa yang Freya punya, aku sudah punya Dimas, Dimas sudah menjadi milikku dan aku tidak akan pernah mau suami orang lain lagi"
__ADS_1
"Baguslah Freya juga sekarang sudah mendapatkan laki-laki yang lebih dari Dimas, aku tidak khawatir lagi dengan anakku itu ternyata Freya bisa mendapatkan laki-laki yang lebih mapan lagi daripada mantan suaminya yang waktu itu, dia punya rumah sakit, dia punya perusahaan dia punya segalanya berbeda dengan kamu"
"Iya aku turut senang dan bahagia sekali Freya mendapatkan laki-laki yang sudah sangat mapan sekali, Freya mendapatkan Amar yang begitu baik. Aku ikut bahagia atas kebahagiaan Freya ini, aku tak akan menganggu Freya Tante bisa tenang dan tak usah seperti ini dengan aku "
"Tentu saja kamu harus bahagia jangan iri ya dengan anakku, ini sudah nasibnya lepas dari laki-laki buaya, mendapatkan laki-laki emas memang harus seperti itu si anakku karena Freya itu punya kualitas yang bagus, tidak sepertimu tidak punya apa-apa. Kamu benar-benar tak sebanding sekali "
Gea sampai mengepalkan kedua tangannya. Gea benar-benar kesal dengan setiap ucapan yang dilontarkan oleh ibunya Freya ini, tapi Gea harus tenang Gea tidak boleh tersulut emosi dan membuat masalah di sini.
Lihat ada mama Astuti juga Gea tidak mau membuat Mama Astuti malu di hadapan teman-temannya, Gea tidak mau membuat Freya juga malu di hadapan teman-temannya dan juga keluarganya Amar.
Gea harus bisa menahan segala amarahnya ini, meskipun hatinya sakit meskipun mulutnya gatal ingin berteriak dan mengatakan kata-kata kasar tapi Gea harus menahannya, suaminya juga mana kenapa tidak datang-datang dari tadi dia menunggunya.
Gea dengan pelan melepaskan pegangan tangan dari ibunya Freya itu, masih dengan pelan tidak langsung menghempaskannya.
"Aku mau pergi ke tempat lain saja Tante, aku tidak mau kita ini malah bertengkar di hari kebahagiaan Freya sudah cukup tante menghinaku. Aku sudah sadar diri siapa aku, aku sudah sadar aku telah merebut apa yang Freya punya itu hanyalah sebuah masa lalu, Freya saja bisa memaafkanku kenapa Tante tidak, seharusnya Tante juga bisa kan "
"Aku tidak mau ada pertengkaran lagi, jika tante ingin mencari musuh silakan tapi jangan aku. Aku tidak mau bermusuhan lagi dengan siapapun aku sudah sadar, apa yang pernah terjadi itu memang salah. Permisi tante terimakasih kata-kata mutiara nya"
Gea mencari-cari keberadaan suaminya, Gea sudah melihat ke kanan ke kiri tapi suaminya tidak ada, ke mana dia benar-benar takut kalau ditinggal sendirian takutnya nanti mamanya Freya akan datang lagi padanya.
__ADS_1
Sedangkan Dimas sendiri dia ada di kamar mandi, Dimas menatap pantulan wajahnya, Dimas dari tadi terus saja mencuci wajahnya ingatan-ingatan dulu masa lalunya bersama Freya terus saja terngiang-ngiang di kepalanya.
Dimas benar-benar tidak bisa melupakan segalanya saat dirinya menikah, lahirnya Irsyad lalu kebahagiaan-kebahagiaan yang mereka lakukan semuanya muncul seperti kaset rusak.
Dimas yang kesal sampai meninju kaca, tangannya sudah berdarah tapi Dimas tidak peduli, rasa sakitnya tidak terasa yang ada hanya rasa sakit di hatinya melihat Freya menikah dengan laki-laki lain.
"Akhh kenapa harus begini kenapa, kenapa aku bodoh dulu kenapa aku melepaskan sesuatu yang seharusnya tidak aku lepaskan. Aku benar-benar kehilangan sesuatu yang berharga sekarang dan aku tak bisa mendapatkannya lagi sampai kapan pun itu"
"Bodoh bodoh bodoh bodoh "Dimas memukul-mukul kepalanya Dimas benar-benar sakit hati ternyata seperti ini ya rasanya sakit ditinggalkan oleh orang yang begitu dia cintai.
Kenapa harus baru sadar sekarang kenapa tidak sadar saat dulu dia selingkuh, saat dulu dia tertarik dengan perempuan lain kenapa hidupnya seperti permainan seperti ini, awalnya sudah merelakan tapi saat melihat langsung Freya menikah langsung sakitnya terasa sekali.
"Aku tidak bisa aku tidak bisa, aku tidak sanggup"
Dimas kembali mencuci wajahnya sampai-sampai pakaiannya sudah basah, karena Dimas terus saja melakukan itu. Dimas tak peduli dengan istrinya nanti yang bertanya.
Kalau bisa diulang Dimas akan memperbaiki segalanya, saat dulu mamahnya menyuruhnya untuk tetap dian dan membujuk Freya mungkin dia akan membujuknya dan tidak akan terjatuh ke lubang yang sama.
"Kenapa harus seperti ini, aku tidak bisa aku tidak akan pernah bisa melihat Freya bahagia dengan laki-laki lain "
__ADS_1
Dimas kembali meninju kaca yang satu lagi, tangannya sekarang sudah berdarah dua-duanya tapi tetap saja tak bisa mengalahkan sakit dihatinya.