
Freya yang sedang berdandan dikagetkan dengan kedatangan Amar yang sudah kedalam kamarnya.
"Kamu sangat cantik Freya, memang sudah dari sananya cantik mau di apapun juga "
Freya hanya tersenyum dan mendekati Amar "Sebenarnya kita mau kemana, memangnya siapa yang ingin kamu temui"
"Emm, ga tau ini aku juga belum tahu mau ketemu siapa, kamu tahu kan aku punya kerjaan yang kerja sama, sama temanku katanya dia mau temui aku sama dokter baru dirumah sakit ku itu. Katanya teman lamanya juga sih "
"Hemm, begitu ya "
Amar mengenggam kedua tangan Freya, itu membuta Freya menatap Amar lagi "Kenapa Amar "
"Kapan kamu akan membuka hati kamu buat aku Freya, kita harus segera menikah "
Freya langsung melepaskan genggaman tangan itu "Aku sudah bilangkan aku tak bisa "
"Tapi aku akan terus menunggu kamu, sampai kamu bisa buka hati kamu buat aku. Aku akan terus setia sama kamu, ini adalah sebuah rintangan buat aku dapetin kamu. Tapi aku ga akan pernah menyerah"
"Lebih baik kamu cari lagi Amar, aku tak akan bisa"
Amar langsung mengelengkan kepalanya "Tidak, aku tidak akan mencari yang lain. Yang aku cintai, sayangi dan aku inginkan adalah kamu. Maka aku akan terus berjuang buat kamu Freya "
"Ayah"
Pandangan Amar langsung terarah pada gadis kecil yang tersenyum padannya. Amar segera menggendongnya "Wah wah anak ayah ini sudah cantik saja, kamu sudah siap pergi bersama Ayah "
"Tentu aku sudah siap ayah, lihat baguskan gaun yang aku pakai "
Amar menganggukan kepalanya dengan semangat"Sangat bagus sekali "
Amar menatap Freya yang masih diam, lalu menarik tangan Freya dengan lembut. Amar mengandeng tangan Freya dan mereka segera keluar dari dalam rumah.
"Irsyad kenapa tak ikut "
"Dia sedang fokus belajar Amar"
"Anak itu benar-benar gila belajar "
"Ya mau bagaimana lagi, memang sudah seperti itu"
Amar menganggukan kepalanya dan membukakan pintu untuk Freya "Terimakasih " ucap Freya setelah masuk kedalam mobil.
Setelah semuanya masuk, barulah Amar menjalankan mobilnya, menuju restoran yang sudah temannya tentukan itu. Sekalian membawa jalan-jalan Freya dan Helena juga kan.
...----------------...
__ADS_1
Gea menatap restoran mewah itu, Gea sampai tersenyum senang dirinya dulu sering ketempat seperti ini. Tapi sekarang untuk pertama kalinya lagi.
"Dimas nanti kita akan bisa setiap hari kesini setelah kamu gajihan "bisik Gea dengan sangat antusias.
"Iya doa kan saja yang terbaik untuk hidup kita "
Dimas tersenyum pada temannya yang menatapnya "Kalian berdua belum punya anak"
"Belum, kami belum dipercaya untuk memiliki seorang anak "
Laki-laki itu menganggukan kepalanya mengerti, tak lama kemudian pandangannya langsung terarah kearah pintu masuk.
Dia langsung berdiri, Dimas dan Gea tentu saja mengikutinya. Disambutnya orang yang datang itu "Amar akhirnya kamu datang juga "
"Ya tentu, aku akan datang"
"Hai Freya "ucap laki-laki itu.
Freya yang ada dibelakang Amar langsung menatap siapa saja yang ada dimeja itu m. Saat pandangannya bertemu dengan Dimas dan Gea, tentu saja Freya kaget.
Freya langsung saja pergi begitu saja sambil membawa Helena keluar restoran.
Amar tentu saja binggung, tanpa fikir panjang Amar mengejar Freya, Amar menangkap tangan Freya "Hei ada apa Freya "
Amar melihat mata Freya yang sudah berkaca-kaca" Kamu kenapa, kita belum ketemu sama orangnya kan"
"Kenapa, ada apa "
Freya menundukan kepalanya "Apa yang terjadi, hemm"
Amar mengusap pipi Freya dengan lembut, Freya menatap Amar lagi "Dia ada disini "
"Laki-laki itu ? "
Amar tentu saja langsung tertuju pada mantan suami Freya "Iya dia ada disini "
"Kamu yakin kan sudah melupakannya "
"Ya tentu saja, mana mungkin aku masih mengigat dia yang brengsek "
"Maka sekarang kamu harus menghadapi semuanya. Ada aku disamping kamu. Kamu bisa tenang ya "
Freya diam cukup lama, benar kata Amar Freya harus berani dan menghadapi Dimas serta Gea. Freya harus bisa melupakan semua masa lalunya itu. Freya harus membuktikan pada mereka, kalau Freya sudah sembuh.
"Baiklah kita kedalam dulu "
__ADS_1
Amar tersenyum, lalu mengambil alih Helena. Tak lupa mengandeng tangan Freya, Amar akan selalu menenangkan Freya dan menjadi pelindung untuk Freya juga.
"Freya disini ? " tanya Gea dengan kaget.
"Tentu apa kamu tak tahu. Perempuan yang sudah kamu sakiti itu, sekarang sudah bahagia dengan Amar dia mendapat kan pasangan yang begitu baik dan punya segalanya. Amar begitu perhatian dan menyayangi Freya serta anak-anaknya itu dan aku yakin juga Amar tak akan mungkin menyakiti Freya, Freya adalah perempuan baik-baik dan berpendidikan maka dia akan mendapatkan laki-laki yang sama juga"
Gea mendengus kesal mendengar jawaban dari orang didepannya ini. Ya dirinya tahu dirinya tak sehebat Freya tapi dirinya bisa kan mengambil suaminya, mengambil kebahagian Freya dengan waktu yang singkat.
"Maaf ya, tadi ada yang tertinggal "ucap Amar agar tak membuat mereka banyak bertanya-tanya.
"Iya tak masalah Amar, aku tahu istrimu itu memang kadang pelupa "
Amar menganggukan kepalanya setuju. Amar mendudukkan Helena dulu, lalu menarikan kursi untuk Freya duduk.
Semua orang sudah duduk dengan nyaman, hidangan pun sudah sampai.
"Inilah Amar yang ingin aku kenalkan sama kamu, dia sama pemilik dari rumah sakit yang sudah memperkerjakan kamu, satu lagi dia juga pasangannya Freya "
Dimas langsung menjabat tangan Amar, Gea juga mengikutinya. Gea begitu kesal saat melihat Freya yang terlihat bahagia sekali, lihatlah Freya juga punya bocah kecil sedangkan dirinya belum mempunyai anak sampai sekarang.
Kenapa Freya tetap bahagia, malah dirinya yang terpuruk kan.
"Hallo istri Dimas kenapa kamu menatap Freya begitu dalam"
Gea langsung mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Tidak aku baik-baik saja"
"Hemm, baiklah "
Gea tak berharap kalau Freya akan mendapatkan pasangan lagi. Seharusnya Freya terus terpuruk tak boleh bahagia seperti ini. Menyebalkan sekali deh.
"Jadi kamu dulunya bekerja dimana" tanya Amar yang ingin mencairkan suasana, karena disini sangat canggung sekali.
"Aku dulu bekerja dirumah sakit swasta dan banyak lagi, aku tak bisa menyebutkan satu satunya"
"Baiklah berarti kamu sudah sangat berpengalaman ya"
"Tentu saja aku bahkan sudah banyak mengoperasi banyak orang dan selamat "
Amar mengangguk-anggukan kepalanya. Tatapan Dimas langsung teralih dengan anak kecil yang duduk disamping Amar, entah kenapa Dimas merasa punya ikatan bantu saja dengannya.
"Aku harap kamu bisa menjadi dokter yang membuat rumah sakit kami maju "ucap Amar lagi ingin mengalihkan pandangan Dimas yang terus menatap Helena.
"Tentu, aku dulu adalah dokter yang sangat diminati"
__ADS_1
Dimas harus membuat Amar terkesan, meski dalam hati dia tak rela melihat Freya bersama laki-laki lain, rasanya sakit saja hatinya ini.