
Freya memberhentikan langkahnya saat Amar memanggilnya. Freya akan pulang kerumah, Freya menjadi gugup sendiri.
Freya menatap Amar yang begitu rapi sekali seperti biasa sih pakai jas dasi, tapi sekarang lebih lebih lagi rapi tidak berantakan seperti saat itu.
Amar juga tersenyum padanya Freya malah jadi malu sendiri, Freya membenarkan rambutnya dan menyelipkannya di belakang telinganya.
Sekarang mereka sudah berhadapan Freya berdehem dan menatap Amar. Freya tak bisa kalau harus membuka pembicaraan terlebih dahulu. Freya ingin tahu dulu apa yang akan Amar katakan.
"Jadi apakah kamu mau menerima aku lagi Freya, kamu suka kan dengan apa yang aku berikan ?"
Freya menganggukan kepalanya dengan pelan, Freya sekarang tidak bisa terus mempertahankan perasaannya ternyata setelah dipikir-pikir Freya tidak bisa kalau tanpa Amar.
Freya membutuhkannya, Freya sangat membutuhkan sosok laki-laki meskipun di rumah ada Irsyad ya tapi tetap saja berbeda. Irsyad itu anaknya, Freya butuh seseorang yang bisa membuatnya bersemangat bisa membuatnya bahagia. Iya mungkin seperti dulu saat bersama Dimas.
"Aku mau bersama kamu lagi, tapi apakah nenek kamu akan menerima semuanya apakah dia akan setuju. Aku sangat takut sekali, aku benar-benar takut malah akan mengacaukan keluargamu Amar. Aku tidak mau hal itu terjadi, aku ingin kalian semua baik-baik saja "
Amar bukannya menjawab, dia malah langsung memeluk Freya dengan sangat erat sekali rasanya bahagia sekali saat mendengar hal itu.
Freya mendorong dada Amar dengan perlahan "Amar bagaimana kalau misalnya nenek kamu tidak setuju? Aku benar-benar tak enak rasanya tak akan tenang juga nanti hidup kita tanpa restu dari nenek kamu "
Amar menangkup wajah Freya, "Tenang saja, kita hadapi berdua kita hadapi sama-sama. Kamu tahu kan nenekku pasti akan ada saatnya dia luluh kalau kita berjuang sama-sama, semuanya akan baik-baik saja aku yakin itu. Kalaupun nenekku tidak setuju aku akan tetap melaksanakan pernikahan kita. Aku akan tetap menikahi kamu, aku tak akan melepaskan kamu lagi "
Freya tersenyum dan memukul dada Amar "Kamu ini, aku serius loh, aku sedang tak bermain-main "
"Ya mau bagaimana lagi kebahagiaanku itu ada di kamu dan juga di anak-anak. Aku tidak mau berpisah dengan kalian aku sudah sangat sayang sekali dengan kalian"
__ADS_1
Freya lagi-lagi dibuat melayang oleh Amar, Amar begitu baik sekali dengannya. Amar yang akan membuatnya bahagia nanti, yang akan selalu ada di sampingnya dan tidak akan pernah menghianatinya sampai kapanpun.
"Ya sudah ayo aku antarkan pulang biar mobil kamu di sini saja. Helena yang melihat kita pulang bersama pasti akan senang, dia sudah sangat rindu sekali dengan aku tahu "
Amar langsung menggandeng tangan Freya, mereka benar-benar pulang bersama. Freya tidak banyak bicara tapi Amar senang sekali akhirnya perjuangannya sudah terlaksana, tinggal menyusun kembali pernikahan mereka.
Bahkan Amar belum membatalkan catering, gedung dan yang lainnya. Amar hanya bicara kalau pernikahannya akan diundur saja. Kalau neneknya sih tahunya sudah dibatalkan, Amar hanya tak ingin neneknya terlalu masuk lagi ikut campur dengan urusan pernikahannya ini.
Flashback on
Aku yang melihat Freya keluar dari kantornya segera menghampirinya. Semoga saja Freya tak akan menolakku kembali.
Aku sudah sangat berharap lebih dengan hubungan ini. Aku ingin semuanya seperti semula lagi.
Aku berjalan dengan langkah yang lebar untuk menemui perempuan idamanku, aku juga melihat Freya seperti malu-malu.
Hatiku ini sudah mantap, Freya harus dapat sekarang juga. Tak boleh sampai Freya kabur lagi. Aku makin melangkah dengan cepat dan akhirnya kami berdua saling pandang.
Aku kembali terpesona dengan kecantikan Freya untuk yang kesekian kalinya. Aku benar-benar tak bisa lepas dari perempuan yang ada dihadapan ku ini.
Doakan saja semuanya agar berjalan dengan lancar, dan kami berdua bisa menikah.
flashback of
...----------------...
__ADS_1
Irsyad yang baru saja sampai di rumah sudah ditelepon oleh temannya Laila, entah ada apa lagi. Irsyad benar-benar sangat muak sekali. Rasanya ingin membanting ponselnya ini sampai pecah dan tak mau mendengar suara deringnya lagi.
Tapi Irsyad tak bisa melakukannya, ini adalah ponsel kado dari paman Amar, Irsyad tak mungkin menghancurkannya, ini sangat berharga sekali.
Dengan ogah-ogahan Irsyad mengangkatnya "Ada apa sih, baru juga sampai rumah udah ditelepon aja"
"Gawat gawat banget datang di ke rumah sakit ada info nih. Layla benar-benar gawat dan hanya kamu aja yang bisa nenangin dia. Dateng ya sekarang juga, jangan lama pokoknya langsung meluncur aja Irsyad"
"Di situ kan banyak temennya, kenapa harus aku telepon aja orang tuanya. Udahlah jangan ganggu aku, udah tahu kan aku nggak pernah tertarik dengan Laila. Aku tak mau berurusan dengan perempuan seperti Laila aku sudah lelah "
"Tapi kalau nanti kamu kehilangannya pasti kamu akan menyesal, lebih baik datang dulu saja ke sini untuk terakhir kalinya Irsyad "
"Terakhir kalinya, memangnya dia akan mati" jawab Irsyad dengan frontal.
"Hus ah gak boleh gitu bicaranya Irsyad, udah datang aja ke rumah sakit apa susahnya sih cuman ngeliatin Laila aja, ga akan lama juga "
"Enak ngomong cuman lihatin aja, tapi nggak tahu kan gimana tertekannya aku saat ada di sana. Udahlah urusin aja sama kalian mau apapun yang terjadi dengan Laila aku tidak peduli. Mau dia kenapa pun aku tidak peduli. Sudahlah urus aja oleh kalian. Aku sibuk dengan urusanku sendiri aku juga tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan orang lain"
Irsyad begitu saja mematikan sambungannya, Irsyad tidak mau berurusan lagi dengan mereka. Sudah cukup.
Sudah lelah rasanya, sudah enak-enak hidupnya ini tanpa Laila seharian malah ditelepon terus oleh temannya, kalau terjadi apa-apa itu bukan masalahnya kan lagian bukan salahnya juga Laila menjadi seperti itu.
Kemarin malam juga tidak ada yang terjadi Bahkan dia diantarkan sampai rumahnya kan, dengan keadaan baik-baik saja tak ada yang terjadi sama sekali.
Jika sampai teman-temanya ini masih menghubunginya Irsyad akan memblokir mereka semua, tak peduli Irsyad tak punya teman yang terpenting apa, hidupnya tenang tanpa gangguan siapa-siapa.
__ADS_1
Irsyad langsung memejamkan kedua bola matanya, Irsyad ingin tidur dan mengistirahatkan kepalanya yang sudah mumet seharian di kampus. Ini adalah waktu yang tepat untuk istirahat.
Tapi lagi-lagi ponselnya berdering, tapi Irsyad sekarang membiarkannya saja tak akan Irsyad angkat.