
Nadia masuk ke kamarnya dengan kesal. Sampai pintu kamarnya pun jadi sasaran.
Susi sampai terjengit saking kagetnya. Tidak biasanya Nadia seperti itu. Tapi Susi tak mau mendekat dulu. Dia biarkan Nadia sendirian. Karena dia pasti lagi butuh waktu buat sendiri.
Nadia kembali membuka ponselnya. Dia berharap ada chat atau panggilan dari Surya. Atau minimal status whatsapp-nya.
Tapi sayangnya tak ada petunjuk apapun. Bahkan Sinta, adiknya Surya pun, hari ini tak membuat status apapun.
Kebetulan Nadia menyimpan nomor kontaknya. Kadang mereka chat sekedar berbagi informasi.
Nadia tak terlalu akrab dengan Sinta. Maklum, hari-harinya dipenuhi dengan berduaan dengan Surya. Sampai tak ada waktu untuk orang lain.
Nadia membuka akun medsosnya Surya, mungkin saja Surya mengunggah foto atau sekedar update status. Tapi Nadia harus menelan kekecewaannya lagi.
Surya bukan type orang yang suka berbagi informasi tentang dirinya di medsos. Akunnya jarang sekali aktif.
Surya akan masuk ke akunnya kalau tahu Nadia mengunggah foto atau update status. Dan Surya akan jadi komentator setianya. Meski tak selalu yang pertama.
Hingga semua teman Nadia baik di dunia nyata ataupun dunia maya, menganggap Surya adalah kekasihnya.
Nadia membiarkan saja persepsi itu. Dia tak menolak, tapi juga tak mengiyakan.
Bagi Nadia, hal itu malah membuatnya nyaman. Tak akan ada teman laki-laki yang mendekatinya. Karena mereka pikir, Nadia sudah ada yang punya.
Dan Surya pun, jangan ditanya protektifnya. Kalau ada lelaki yang komen macam-macam, maka dialah yang akan berada di garda terdepan.
Kadang Nadia hanya tertawa membacanya. Karena Surya akan membalas komentar para lelaki dengan serius. Seolah-olah mereka akan mengambil Nadia darinya.
Nadia menutup lagi ponselnya. Tak ada sedikitpun informasi tentang Surya. Kalau harus bertanya pada Sinta, Nadia merasa malu.
Lalu Nadia memilih untuk tidur. Ponselnya tak lepas dari tangannya. Berharap, Surya menghubunginya.
Baru saja memejamkan mata, mamanya sudah teriak dari bawah.
"Nad...! Ada paket buat kamu!"
Nadia tersentak. Paket? Dari siapa? Nadia merasa tidak sedang memesan barang online.
Sebelum suara mamanya yang super cempreng sampai lagi di telinganya, Nadia bergegas turun.
"Paket apaan, Ma?" tanyanya.
"Enggak tau, tuh. Dari Sinta di Jogja," jawab Susi. Dia juga belum membukanya. Karena paket itu ditujukan untuk Nadia.
__ADS_1
"Sinta? Adiknya...Surya?"
Nadia benar-benar merasa terkejut. Karena dia tak pernah meminta apapun pada Sinta.
"Iya. Siapa lagi? Udah cepetan dibuka. Jangan lupa bilang makasih ke Sinta."
Susi pun sebenarnya kepo. Karena setahunya Nadia tak pernah minta oleh-oleh.
Nadia segera membuka bungkusan paket. Dan sekali lagi dia sangat terkejut melihat isinya.
Sebuah tas rajut yang sudah lama diinginkannya. Dan beberapa kaos khas Jogja. Ada juga makanan khas kota gudeg yang sudah lama tak dimakannya.
"Kamu yang minta ini semua?" tanya Susi.
"Enggak, Ma. Darimana Sinta tau kalau Nadia kepingin banget tas ini?" Nadia memperlihatkannya pada mamanya.
Susi tersenyum mengerti. Pasti yang memesankan Surya. Meskipun Susi yakin kalau Surya belum sampai di sana. Surya bilang katanya mau naik kereta.
"Ya sudah. Bilang makasih sama Sinta. Bilangin juga makanannya enak banget," ucap Susi. Dia langsung mencomot dua bakpia kesukaannya.
Nadia yang sedari tadi mengantongi ponselnya, langsung mencari nomor Sinta.
Makasih ya, Sin. Malah jadi ngerepotin. Ketik Nadia di chatnya pada Sinta.
Surya? Nadia mengernyitkan dahinya. Jadi dia yang memesankannya pada Sinta?
Dengan ragu dan menyimpan gengsinya, Nadia menanyakan apa Surya sudah sampai ke Jogja.
Kak Surya belum sampai. Mungkin sore nanti. Katanya dia naik kereta. Ponselnya off. Jawab Sinta.
Naik kereta ke Jogja? Itu Nadia yang menginginkannya. Ah, andai saja dia tak pakai acara marah pada Surya, pastinya dia juga akan ke sana naik kereta.
Ya sudah. Mamaku juga ngucapin makasih. Katanya makanannya enak banget. Salam buat tante dan om. Balas Nadia.
"Gimana? Surya udah sampai?" tanya Susi sambil terus mengunyah bakpia.
"Belum, Ma. Dia naik kereta katanya," jawab Nadia.
"Iya. Tadi pagi Surya telpon Mama....Ups." Susi menutup mulutnya yang keceplosan ngomong.
"Jadi Mama udah tau kalau Surya ke Jogja?" tanya Nadia dengan tatapan geram.
Dia yang dari tadi uring-uringan, ternyata mamanya sudah tahu semuanya.
__ADS_1
Susi tersenyum. Lalu meninggalkan Nadia yang masih penasaran.
"Ma...! Jelasin dulu ke Nadia!" teriak Nadia dengan nada cemprengnya.
Susi hanya menoleh sambil menjulurkan lidahnya. Dan buru-buru masuk ke kamarnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Iih....Mama ngeselin!" seru Nadia. Tapi sudah tak terdengar oleh mamanya.
Nadia segera membawa tas dan kaosnya ke kamar. Dia ingin mencoba kaos dan tas yang dipesan oleh Surya.
"Sur. Makasih ya. Maafkan aku yang udah marah-marah sama kamu," gumam Nadia sambil berlenggak lenggok di depan kaca.
Nadia membuka ponselnya lagi. Dia buka chat Surya. Nomornya sudah aktif lagi. Tapi Surya tetap tak menghubunginya.
Apa harus aku yang menghubunginya duluan? Kan dia yang salah. Nadia bimbang.
Setelah melepas tas dan kaosnya, Nadia memfoto barang-barang itu untuk dijadikannya status whatsapp. Dia berharap Surya melihatnya.
Dan benar saja. Tak sampai lima menit, Surya sudah melihat status Nadia yang ditambahi caption thanks to all. Lalu emot love.
Surya yang melihatnya hanya tersenyum. Adiknya memang bisa diandalkan. Baru kemarin dia pesan, langsung dibelikan dan dikirim.
Tapi Surya hanya melihat status itu tanpa berniat mengomentarinya. Dia takut kalau Nadia masih marah padanya.
Surya mengaktifkan ponselnya karena dia akan pesan taksi online menuju rumah eyangnya.
Dan dia melihat banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari Nadia juga mama dan adiknya.
Nadia pun tersenyum senang, karena Surya sudah melihat status whatsappnya. Meskipun Nadia berharap Surya mengomentarinya dan memulai lagi percakapan dengannya.
Tak lama, Surya mengunggah foto bagian depan stasiun, dan menjadikannya status whatsapp. Tanpa caption. Karena Surya malas mengetiknya.
Dan sesaat kemudian, Nadia melihatnya. Dia bersyukur, Surya sudah sampai dengan selamat.
Ingin sekali jarinya mengetik, menanyakan sesuatu. Tapi kembali rasa gengsinya berkuasa.
Sur, ayo dong chat aku. Aku....kangen kamu, Surya. Enggak ada kamu, dunia serasa hampa.
Aku udah kehilangan Dewa, jangan sampai aku juga kehilangan kamu, Surya. Batin Nadia.
Dia mondar mandir di kamarnya. Perasaannya sangat kacau. Hatinya sangat hampa.
Biasanya sepulang kuliah, Surya akan seharian di rumahnya sekedar bermain PS milik kakaknya. Atau mengerjakan tugas-tugas kampusnya Nadia.
__ADS_1
Nadia merebahkan tubuhnya setelah lelah mondar mandir. Sur...aku kangen kamu. Ucap Nadia sebelum akhirnya dia tertidur.