PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 83 MIRIP NADIA


__ADS_3

Mereka berangkat ke kampus beriringan. Surya naik motor sendirian, Yogi memboncengkan Sinta.


Rahma lebih senang kalau Sinta membonceng. Karena setiap kali Sinta pergi bawa motor sendiri, Rahma selalu saja was-was.


Sampai di kampus, Sinta jalan sendiri ke gedung A tempatnya kuliah. Sedangkan Surya dan Yogi yang satu fakultas, bahkan satu kelas, masuk ke gedung B.


Mestinya perkuliahan dimulai jam setengah delapan. Tapi kelihatannya dosen yang mengajar, datang terlambat.


Sampai jam delapan belum juga ada tanda-tanda dosen datang. Sebagian mahasiswa memilih meninggalkan kelas.


Surya dan Yogi masih tetap bertahan. Karena mereka bingung mau kemana.


Mereka sudah sarapan, rasanya malas juga nongkrong di kantin. Kalau kata Surya cuma buang-buang duit saja.


"Elu tuh, ya. Udah kayak orang susah aja," ucap Yogi mengatai Surya yang kadang terlalu perhitungan. Padahal orang tuanya memberi uang saku yang tak sedikit.


"Biar cepet kaya!" sahut Surya.


"Mana ada orang kaya yang pelit!"


Yogi terpaksa tetap duduk di kelasnya.


Beberapa hari terakhir ini selalu berdua dengan Surya, membuat Yogi merasa tak nyaman kalau pergi sendirian.


Pintu kelas terbuka lebar. Mata Yogi yang melihat ke luar, melihat sekilas seseorang mirip Nadia. Tapi Yogi yakin itu bukan Nadia.


"Hey, Bro. Lu liat cewek yang barusan lewat depan sono, enggak?" tanya Yogi.


Surya menggeleng. Jelas saja dia tak melihatnya. Dari tadi matanya cuma melihat buku yang tebal saja.


"Aelah. Elu mah yang diliat buku melulu? Gimana mau laku?" komentar Yogi.


"Ya, minimal aku jadi mahasiswa berprestasi," sahut Surya dengan bangga.


Sejak sekolah dulu, Surya selalu berprestasi. Hidupnya sudah biasa dengan tumpukan buku. Dan dia tak pernah bosan membacanya.


"Berprestasi tapi jadi jomblo akut!" Yogi beranjak dari duduknya. Lalu ngeloyor keluar kelas.


Surya hanya melihatnya sekilas. Lalu kembali fokus dengan bukunya lagi.


Yogi tak kemana-mana. Dia hanya nongkrong di depan kelas. Sambil sesekali mengisengi mahasiswi yang lewat.


Selalu ada saja yang Yogi isengin. Itulah kenapa Yogi lebih populer dari Surya yang kutu buku.


Surya juga cenderung jutek. Terutama pada cewek. Makanya jarang ada cewek yang naksir.


Beda dengan Yogi yang lebih frendly. Banyak teman cewek yang sering mengajaknya hangout. Sekedar nongkrong, ngopi-ngopi, merokok dan kadang minum.


Tapi sejak dekat dengan Surya, kebiasaan itu perlahan hilang. Yogi selalu menolak diajak nongkrong.


Cewek yang mirip Nadia tadi, lewat lagi. Yogi menatapnya dengan cermat.


Serupa, tapi tak sama. Batin Yogi.


"Hay," sapa Yogi.

__ADS_1


Cewek itu menoleh sekilas. Dan tanpa reaksi sama sekali, dia kembali berlalu.


Busyet! Jutek amat tuh cewek.


Yogi melihat cewek itu masuk ke kelas yang bersebelahan dengan kelas Yogi dan Surya.


"Santi!" panggil Yogi pada seorang temannya yang bernama Santi.


"Apaan!" sahut Santi.


"Lu kenal ama cewek yang barusan lewat kagak?" tanya Yogi.


"Kenapa, lu? Naksir?" Santi malah balik nanya.


"Ye...ditanya malah balik nanya. Kenal kagak?" Yogi kembali bertanya pada Santi.


Santi hanya mengangkat bahu. Lalu pergi meninggalkan Yogi.


Santi dikenal sebagai cewek yang serba tahu. Semua serba serbi kampus ataupun gosip yang sedang viral, dia pasti tahu.


Wah kayaknya cewek itu kurang populer. Makanya Santi enggak kenal. Batin Yogi.


Lalu dia kembali ke dalam kelas.


"Bro. Gue tidur, ya. Entar kalau dosennya dateng, gue dibangunin," ucap Yogi.


Surya kembali hanya melirik, lalu kembali ke lembaran bukunya.


"Dasar kutukupret. Diajak ngomong diam aja," sungut Yogi. Dia langsung menyandarkan kelapanya.


Yogi terbiasa melek malam, jadi kalau siang bawaannya ngantuk. Meskipun malamnya dia tidur lebih awal.


Sebenarnya Surya ingin mengajak Yogi ke kantin, sekedar beli minuman. Tapi Surya tak tega membangunkan Yogi.


Terpaksa Surya menunggu sampai Yogi bangun sendiri. Surya terus saja membuka lembar demi lembar bukunya.


"Oahhmm...!" Yogi menguap sambil menggeliatkan badannya.


Dilihatnya Surya masih asik membaca. Yogi juga melihat ke sekelilingnya. Tak ada manusia satupun.


"Jam berapa ini, Bro?" tanya Yogi.


Meski Yogi bisa melihat jam di ponselnya, tapi dia lebih suka ngerepotin Surya. Karena Surya tinggal lihat di pergelangan tangannya saja.


"Jam sepuluh!" jawab Surya.


"Ebusyet. Lama amat gue tidur? Kenapa lu kagak bangunin gue?" protes Yogi.


"Enggak tega. Kamu tidurnya nyenyak banget. Pake acara ngorok, mulutnya nganga. Ngiler juga," sahut Surya.


"Sembarangan! Mana ada gue tidur kayak gitu?" Yogi tak terima, tapi dia mengelap mulutnya juga. Dan benar saja, sudut bibirnya lengket.


Surya membuka ponselnya. Ternyata diam-diam Surya merekam Yogi yang lagi lelap tidur.


"Nih!" Surya memberikan hasil rekamannya.

__ADS_1


"Sialan, lu! Pake acara direkam!" Yogi merebut ponsel Surya. Lalu kembali mengulang menonton rekaman yang hanya beberapa detik itu.


"Hahaha. Gila! Jelek banget gue kalau lagi tidur!" Yogi tertawa sendiri.


"Enggak tidur juga emang jelek!" Surya segera mengemasi buku-bukunya.


"Tapi kan ceweknya banyak!" sahut Yogi dengan bangga.


Surya berdiri dan menghadap ke Yogi.


"Kalau cewekmu banyak, ngapain deketin Sinta, hah? Pingin aku kasih bogem mentah?" ucap Surya.


"Enggak...! Enggak! Ampun kakak ipar! Gue cuma becanda!" Yogi menangkupkan kedua tangannya di depan kepala.


Tanpa bicara lagi, Surya berjalan keluar kelasnya. Meninggalkan Yogi sendirian.


"Heh, Bro. Tungguin. Malah gue ditinggalin!" Yogi langsung berlari menyusul Surya.


"Jangan ngambek dong, Bro. Gue kan cuma becanda!" ucap Yogi.


"Becandamu enggak lucu!" sahut Surya dengan ketus.


Kalau orang melihatnya, pasti mengira mereka lagi berantem. Padahal memang begitu cara mereka becanda. Yang satu tukang ngeledek, yang satunya tukang ngambek.


"Gue kan bukan pelawak, Bro. Jadi enggak bisa melucu!" sahut Yogi. Dia terus mengikuti langkah Surya.


Dipikir Yogi, Surya mau ke kantin. Ternyata Surya berjalan ke smoking area. Tempat biasa para mahasiswa dan mahasiswi merokok.


Surya duduk di sebuah bangku panjang. Yogi mengikutinya.


"Mana rokokmu?" Surya menengadahkan tangannya.


"What?" Yogi tak percaya, Surya meminta rokok sebelum dia mengambilnya.


"Mana?" pinta Surya lagi.


"Iye. Sabar dong kakak ipar!" Yogi merogoh kantong tasnya.


"Nih!" Yogi memberikan bungkus rokoknya.


"Dasar orang pelit, rokok aja minta terus!" gerutu Yogi.


"Biar cepet kaya!" sahut Surya.


"Idih, amit-amit. Punya kakak ipar pelitnya minta ampun."


Yogi pun mengambil satu batang rokoknya. Dan seperti biasa, mata Yogi selalu berkeliling melihat sekitarnya.


Dan mata Yogi menatap sosok wajah mirip Nadia yang dilihatnya tadi di depan kelasnya.


"Kalau liatin cewek matanya melotot. Entar lepas tuh mata!" ucap Surya.


Yogi menepuk paha Surya, tapi matanya terus menatap cewek yang lagi duduk sendirian dengan sebatang rokok di jarinya.


"Apaan sih?" Surya melihat Yogi, lalu mengikuti arah pandangan Yogi.

__ADS_1


Mata Surya juga ikut melotot melihatnya. Malah diikuti dengan mulut nganga.


"Nadia....!"


__ADS_2