PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 134 NADIA PERGI


__ADS_3

Surya berlari ke kamar orang tuanya, begitu mendengar papanya berteriak.


"Mama...!" Surya pun ikut berteriak.


Toni sudah merengkuh tubuh Rahma.


"Mama kenapa, Ma?" tanya Toni dengan panik.


"Surya panggilkan dokter ya, Pa? Atau mama kita bawa ke rumah sakit aja?" tanya Surya.


"Panggilin dokter dulu aja!" jawab Toni.


Surya pun keluar menuju rumah tetangganya yang seorang dokter. Dia berharap sang dokter ada di rumahnya.


"Selamat siang. Apa pak Lucki-nya ada?" tanya Surya pada istri sang dokter.


"Oh, Mas Surya. Suami saya masih di rumah sakit. Ada apa, ya?" tanyanya.


"Mama saya pingsan, Bu," jawab Surya.


"Ya ampun, bu Rahma kenapa?" tanya bu Lucki.


"Sepertinya kecapekan, Bu," jawab Surya. Dia juga bingung mesti jawab apa.


"Bawa ke rumah sakit aja, Mas," sahutnya dengan khawatir.


"Iya, Bu. Terima kasih. Saya permisi dulu." Surya buru-buru pergi. Dia mesti segera mencari lagi pertolongan buat mamanya.


Saat Surya berjalan kembali ke rumahnya, dia bertemu dengan Susi. Mamanya Nadia.


"Surya. Kamu darimana?" tanya Susi. Dia mau ke rumah tetangga juga.


"Mm....anu, Tante. Saya dari rumah dokter Lucky. Mama saya pingsan," jawab Surya.


"Ya ampun. Kok bisa? Terus ketemu sama dokter Lucki-nya?" tanya Susi dengan khawatir.


"Enggak, Tante. Dokter Lucki-nya masih di rumah sakit. Saya permisi dulu, Tante."


Tanpa menunggu lagi, Surya buru-buru berjalan pulang.


"Pa. Kita bawa mama ke rumah sakit aja. Dokter Lucki-nya masih di rumah sakit," ucap Surya.


"Ya udah. Kamu siapin mobilnya. Terus bantu Papa mengangkat mama kamu," sahut Toni. Lalu dia memberikan kunci mobil pada Surya.


Surya pun bergegas menyiapkan mobil.


Susi melihatnya dari kejauhan. Lalu bergegas menghampiri dan membantu mereka membawa masuk Rahma ke dalam mobil.


"Terima kasih, Tante. Kita duluan."


Surya bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Tempat dokter Lucki berdinas.


Susi tak jadi ke rumah tetangganya. Niatnya mau sekedar ngobrol jadi badmood.


Susi kembali ke rumahnya. Dia naik ke lantai dua. Mau memberi kabar pada Nadia tentang Rahma yang pingsan.


"Nad. Nadia!" Susi mengetuk pintu kamar Nadia.


Tak ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


Apa tidur anak ini? tanya Susi dalam hati.


Tadi Susi sempat melihat Nadia pulang dan langsung masuk ke kamarnya, tanpa menyapa.


Susi yang tadi sedang menelpon temannya, tak begitu memperhatikan Nadia.


"Nad! Nadia!" panggil Susi lagi.


Nadia di kamarnya sedang merenung. Dia sedang tak mau diganggu siapapun, sejak pulang dari rumah Surya. Makanya dia abaikan panggilan mamanya.


Nadia masih terisak, menyesali perbuatan Surya tadi yang telah memperkosanya.


Nadia tak bisa berbuat apa-apa.


Melapor ke polisi? Pasti akan jadi berita besar. Yang akan mempermalukan keluarganya. Meskipun Surya bakalan kena hukuman. Dipenjarakan mungkin.


Dan pastinya hubungan dua keluarga ini, akan bubar. Mereka akan bermusuhan. Selamanya.


Seandainya dia mengadu ke orang tuanya sendiri, mungkin mereka tak akan melaporkan ke polisi. Tapi mereka pasti tak akan terima.


Atau mungkin malah akan menikahkannya dengan Surya.


Tidak!


Aku tak mau menikah dengan Surya! Aku masih sangat mencintai Dewa. Dan aku akan mencarinya.


Nadia mengemasi pakaian dan memasukannya ke dalam tas. Hanya tas ransel kecil. Dia tak membawa banyak pakaian. Hanya untuk beberapa hari saja.


Ya. Nadia akan mencari mendatangi sendiri kampung halaman Viona. Dia yakin kalau Dewa sedang ada di sana.


Karena tak biasanya Viona pulang kampung di luar libur kuliah.


"Nadia! Bangun dong! Mama mau bicara sebentar!" Susi masih saja memanggil-manggil Nadia sambil terus mengetuk pintu.


Nadia menghela nafasnya. Lalu membuka sedikit pintu kamarnya.


"Ada apa, Ma?" tanya Nadia dengan malas.


"Kamu tidur? Mama panggil-panggil kok lama banget bukain pintunya?" Susi balik bertanya. Dia menatap wajah Nadia.


"Kamu habis menangis?" tanya Susi lagi. Wajah Nadia sembab.


Nadia menggeleng.


"Enggak nangis kok wajahnya sembab begitu," ucap Susi tak percaya.


Nadia menghela nafasnya lagi. Dia berusaha menenangkan perasaannya.


"Ehem! Mama ada apa manggil-manggil Nadia?" tanya Nadia.


"Oh iya. Mama mau mengabarkan ke kamu. Barusan Mama lihat mamanya Surya pingsan. Sekarang dibawa ke rumah sakit. Tadi Mama juga ikut membantu menaikannya ke mobil," jawab Susi.


"Tante Rahma? Kenapa?" tanya Nadia. Setahunya tadi Rahma bilang mau ke kantor papanya Surya.


"Mama enggak sempat nanya. Mereka kan lagi panik. Dokter Lucki yang tadi didatangi Surya, lagi dinas di rumah sakit," jawab Susi.


"Mama mau ke sana. Kamu mau ikut?" tanya Susi.


Semalam Susi melihat Nadia pulang tengah malam, dan katanya bareng Surya. Jadi Susi berpikir, mereka sudah berbaikan lagi.

__ADS_1


Susi memang tak bisa memahami pikiran Nadia. Dan tak tahu sejauh mana hubungannya dengan Surya.


Kadang hubungan mereka baik, kemana-mana berdua. Kadang Surya tak lagi ke rumahnya.


Nadia sendiri kalau ditanya, banyak sekali alasannya.


Nadia menggeleng.


Bukan dia tak mau respek pada keadaan Rahma, tapi Nadia malas kalau harus ketemu Surya.


"Beneran kamu enggak mau ikut? Masa besuk calon mama mertua enggak mau," ledek Susi.


Nadia berdecak.


"Ck! Mama apaan, sih!" Lalu dia kembali masuk ke kamarnya.


"Ya udah, kalau enggak mau ikut. Mama ke sana sendiri," sahut Susi.


Lalu dia kembali turun dan bersiap ke rumah sakit, untuk melihat kondisi Rahma.


Nadia pun bersiap di kamarnya. Dia mandi dulu untuk membersihkan dirinya dari segala yang berbau Surya.


Nadia lagi sangat membenci Surya. Nadia juga kecewa pada Surya yang telah memperkosanya.


Tapi Nadia berusaha menyimpan semuanya sendiri. Dan dia juga akan mencari keberadaan Dewa sendirian. Tak lagi mau minta diantar Surya.


Nadia turun ke lantai bawah.


"Mbok. Mama kemana?" tanya Nadia pada mbok Nah.


"Ibu barusan ke rumah sakit, Non. Katanya mau besuk bu Rahma. Memangnya bu Rahma kenapa, Non?" tanya mbok Nah.


"Enggak tau!" jawab Nadia ketus. Lalu dia kembali ke kamarnya.


Nadia segera mengambil ponselnya. Lalu memesan taksi online dari aplikasinya.


Setelah mendapatkan driver, Nadia mengambil ranselnya. Lalu segera memakai sepatu juga.


"Mau kemana, Non?" tanya mbok Nah, setelah Nadia turun.


"Mau ke rumah teman, Mbok." Nadia duduk di sofa ruang tamu. Dia menunggu taksi pesanannya datang.


Mbok Nah, merasa ada yang enggak beres dengan Nadia. Karena tak biasanya Nadia pergi membawa tas ransel sendirian.


Biasanya tas ransel itu dibawa Nadia saat dia pergi piknik dengan keluarga. Karena biasanya mereka piknik ke pantai atau pegunungan.


Mbok Nah segera ke dapur. Diam-diam dia menelpon Susi.


"Iya, Mbok. Ada apa?" tanya Susi. Dia sedang menunggu Rahma di ruang IGD dengan Surya.


Toni sedang menyelesaikan proses administrasi. Rahma sudah siuman dan menolak untuk rawat inap.


"Non Nadia mau pergi, Bu. Dia bawa ransel juga. Kelihatannya lagi nungguin taksi online. Saya enggak tau mau kemana," jawab mbok Nah.


"Apa?" tanya Susi sangat terkejut. Tadi dia tak melihat Nadia akan pergi.


"Ada apa, Tante?" Surya memberanikan diri bertanya.


"Nadia pergi!"

__ADS_1


__ADS_2