PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 139 BERI MEREKA KESEMPATAN


__ADS_3

Toni berbalik badan. Dia akan masuk ke dalam rumah.


"Mama...!" Toni melihat Rahma sedang berdiri berpegangan pintu sambil terisak.


"Mama kenapa?" Toni menghampiri Rahma. Lalu memapahnya ke sofa ruang tamu.


Rahma malah semakin terisak. Toni mendekapnya dengan erat.


"Mama kenapa, hhmm?" tanya Toni lagi. Dia ciumi ujung kepala Rahma dengan lembut.


Rahma bukannya diam, isakannya malah semakin menjadi.


Toni terus mendekap dengan erat. Dia ingin memberi kenyamanan buat Rahma.


Toni membiarkan Rahma menangis sepuasnya. Mumpung tak ada anak-anak juga.


Setelah puas menangis, Rahma menghapus air matanya.


"Papa ambilin air putih, ya?" Tanpa menunggu persetujuan Rahma, Toni berjalan ke dapur.


Rahma terus saja menghapus air matanya. Sambil menghilangkan sesenggukannya.


"Minumlah, Ma." Toni memberikan gelas pada Rahma.


Rahma meraih dan segera meminumnya.


"Udah lega?" tanya Toni.


Rahma mengangguk.


"Mama mau cerita sama Papa soal Surya?" tanya Toni perlahan.


Toni yakin, kalau Rahma sedang menyimpan masalah yang besar tentang Surya.


Rahma Menatap wajah Toni. Ada keraguan di hati Rahma untuk menceritakannya. Rahma takut kalau Toni akan marah pada Surya.


Rahma juga takut kalau sampai Toni menghajar Surya seperti tadi dia menghajar Surya. Atau bukan tidak mungkin Toni akan mengusir Surya.


Meskipun Rahma saat ini sedang sangat kesal pada Surya, tapi bagaimanapun, Surya tetaplah anaknya.


Sebesar apapun kesalahan Surya, Rahma selalu bisa memaafkannya.


Mungkin sekaranglah saatnya Rahma diuji oleh anaknya. Anak yang selama ini baik-baik saja. Penurut. Cerdas. Selalu berprestasi dan sangat dibanggakannya.


Toni mengangguk, berusaha meyakinkan Rahma, bahwa dia akan baik-baik saja.


"Cerita sama Papa, Ma. Biar Mama enggak menanggungnya sendiri. Mama sudah capek mengurus mereka sendiri selama ini. Sekarang saatnya Mama berbagi dengan Papa, ya" pinta Toni.


Rahma masih diam.


Ya, selama ini Rahma sering menyembunyikan persoalannya dengan anak-anak. Bukan Rahma main rahasia-rahasiaan dengan Toni. Tapi Rahma hanya tak ingin membebani pikiran Toni.

__ADS_1


Selama ini, Toni sudah lelah bekerja membanting tulang untuk kehidupan mereka. Rahma tak mau semakin membebani Toni dengan masalah anak-anak.


Rahma selalu berusaha menjaga anak-anak sebaik mungkin. Semampu dia. Meski dia harus ekstra repot dan kadang lelah juga.


"Ma...Mama percaya kan, sama Papa?" tanya Toni.


Rahma masih diam. Lalu menghela nafasnya panjang.


"Papa janji tak akan marah pada Surya?" tanya Rahma.


Toni menatap wajah Rahma.


"Hey, kenapa Papa mesti marah? Surya kan sudah dewasa. Sudah saatnya dia bertanggung jawab pada dirinya sendiri," jawab Toni.


Rahma menggenggam tangan Toni dengan erat.


"Ceritalah, Ma. Mungkin Papa bisa kasih jalan keluarnya," ucap Toni.


"Iya, Pa." Rahma menghirup oksigen banyak-banyak. Seperti orang yang takut kehabisan udara.


"Tadi pagi, setelah kita semua pergi...Surya memperkosa Nadia di kamarnya." Rahma menundukan wajahnya.


"Hhh! Memperkosa?" tanya Toni.


Rahma mengangguk. Air matanya kembali berlinang.


"Ma. Mereka berpacaran. Entah saat itu mereka sedang berantem atau tidak, tapi mereka punya hubungan spesial," ucap Toni.


Toni tetap berusaha tenang. Meskipun dalam hati sangat kecewa pada Surya. Melakukan hal yang belum sepantasnya dilakukan.


"Tapi Nadia terlihat menangis waktu keluar dari kamar Surya, Pa. Mama melihatnya sendiri," ucap Rahma.


"Bisa saja dia menyesal setelah melakukannya! Itu wajar saja, kan? Karena dalam hal ini, pihak wanita yang merasa kehilangan. Dia kehilangan kesucian yang telah dijaganya selama ini," sahut Toni.


Toni menilai mereka masih terlalu lugu. Tapi nekat melakukannya. Dan setelahnya, saling menyesali.


"Surya mengakuinya, Pa. Mengaku kalau dia telah memperkosa Nadia," ucap Rahma lagi.


Rahma masih tetap menilai Surya memperkosa Nadia. Sesuai dengan pengakuan Surya padanya.


"Bukan, Ma. Itu bukan pemerkosaan. Mungkin Surya hanya terlalu memaksakan kemauannya saja," sahut Toni.


"Papa membela Surya?" tanya Rahma.


Toni menggeleng.


"Papa tidak pernah membela perbuatan seperti itu. Apalagi membenarkan. Surya salah! Tapi bukan berarti kita langsung menghakimi Surya. Mereka sudah dewasa, Ma. Dan mereka saling mencinta. Meski, menurut Papa kisah cinta mereka...aneh!" sahut Toni.


"Iya. Mama juga sering mengingatkan Surya untuk tidak lagi dekat-dekat dengan Nadia. Karena Nadia masih....mengharapkan lelaki lain," ucap Rahma.


"Oh ya? Darimana Mama tau?" tanya Toni.

__ADS_1


"Seperti yang dulu pernah Mama ceritakan. Sepertinya Nadia masih terus mengharapkan Dewa," sahut Rahma.


"Dan karena kesal, lalu Surya memaksa Nadia melakukannya. Untuk bisa dia mengikat Nadia. Tak tik yang bagus. Tapi salah jalan!" ucap Toni.


"Terus bagaimana ini, Pa? Bagaimana kalau sampai orang tua Nadia tau, dan tidak terima. Lalu melaporkan Surya ke polisi?" Rahma terlihat panik dan takut.


"Lapor ke polisi?" tanya Toni.


Rahma mengangguk. Dia genggam tangan Toni lebih erat.


"Ma. Polisi juga bakal menanyakan ada hubungan apa antara mereka. Lalu dijawab pacaran. Lalu polisi akan menjebloskan Surya ke penjara, begitu?" tanya Toni.


Rahma hanya terdiam.


"Ma. Di luar sana, banyak kejadian anak-anak kecil menikah akibat hamil duluan. Apa orang tua mereka saling melaporkan sebagai kasus pemerkosaan?" tanya Toni.


Rahma masih terdiam.


"Enggak, Ma. Begitu tau anak gadisnya hamil, mereka hanya perlu bicara. Untuk menikahkan anak-anak mereka. Bukan melaporkan ke polisi. Membuka aib sendiri itu namanya!" ucap Toni.


"Yang bisa masuk pada kasus pemerkosaan itu, kalau Surya memperkosa wanita yang tak dikenalnya! Kalau saling kenal, itu namanya suka sama suka!" lanjut Toni.


"Jadi menurut Papa, mereka dinikahkan saja?" tanya Rahma.


"Ya...itu tergantung mereka. Terutama Nadia. Kalau dia tidak terima dan menuntut pertanggung jawaban Surya, ya nikahkan saja. Mau diapain memangnya? Ditambal lagi? Enggak bisa kan?" tanya Toni.


"Papa itu, ada-ada aja. Memangnya ban bocor, bisa ditambal?" sahut Rahma.


"Nah itu tau. Kalau memang Nadia mau dinikahi, ya sudah. Mau bagaimana lagi?" ucap Toni.


"Memalukan sekali, menikah karena hamil duluan," gumam Rahma.


"Biarkan saja, Ma. Jangan jadikan beban buat Mama. Mereka sudah dewasa. Biar mereka yang tanggung akibatnya sendiri," sahut Toni.


"Maafkan Mama ya, Pa. Mama sudah gagal jadi orang tua yang baik. Mama gagal menjaga Surya," ucap Rahma sambil menunduk.


"Mama tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Itu bukan salah Mama. Mama adalah seorang ibu yang hebat. Bisa membuat anak-anak bahagia, sehat, cerdas. Kalau kemudian mereka salah jalan, itu bukan salah Mama."


Toni mengangkat dagu Rahma.


"Jangan salahkan diri sendiri, ya? Mereka sudah dewasa. Biar mereka bertanggung jawab dengan perbuatan mereka," ucap Toni.


Rahma mengangguk.


"Sekarang, Mama tenangkan pikiran. Jangan khawatirkan mereka. Beri kesempatan mereka menyelesaikan masalahnya," lanjut Toni.


Rahma kembali mengangguk.


Lalu Toni berdiri, mengunci pintu rumah dan mengajak Rahma ke kamar.


"Papa mau ngapain?" tanya Rahma. Dia sudah didorong oleh Toni, hingga terjatuh di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Sekali-kali, Papa mau juga memperkosa Mama!"


__ADS_2