PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)

PERAHU KERTAS (Terjebak Masa Lalu)
Bab 78 KEPINGIN MASUK SURGA


__ADS_3

Surya dan Yogi sampai di depan sebuah tempat karaoke.


"Tuh, masih tutup, Yogi!" ucap Surya dengan kesal.


"Iya. Hehehe." Yogi hanya bisa nyengir.


"Terus gimana, nih?" tanya Surya.


"Bentar. Aku tanya dulu sama penjaganya."


Kebetulan ada seorang security yang sedang membuka pintu ruko besar itu. Yogi mendekat.


"Maaf, Pak. Buka jam berapa, ya?" tanya Yogi dengan sopan.


Security itu menoleh ke arah Yogi.


"Sebentar lagi, Mas. Nunggu pemandu lagunya pada dateng," jawab security itu.


Yogi mengangguk. Lalu kembali pada Surya yang masih duduk di atas motornya.


"Sebentar lagi katanya, Bro." Yogi ikut duduk di atas motornya sendiri.


"Terus kita nungguin di sini?" tanya Surya. Dia merasa malu juga dilihatin orang-orang yang ada di sana.


"Ya, terus mau gimana lagi?" Yogi malah balik bertanya.


Surya mengangkat bahunya.


"Yog, di rumahmu ada PS enggak?" tanya Surya.


Meski Surya pernah main ke rumah Yogi, tapi tak pernah memperhatikan.


Karena Surya hanya duduk di ruang tamu. Meski Yogi memintanya masuk ke kamarnya.


"Ada. Lu mau main PS aja, di rumah gue?"


"Iya lah. Daripada nungguin di sini. Males banget," sahut Surya.


"Oke, friend. Ayo kita let's go." Yogi kembali menjawab dengan bahasa inggris campurannya. Lalu menyalakan mesin motornya.


Surya mengikutinya. Dan mereka beriringan pergi meninggalkan area ruko.


Di rumah Yogi, tak ada siapapun. Mak Yati yang biasanya menemani Yogi, hari ini lagi pamit ke rumah saudaranya.


"Sepi amat, Bro. Kayak di kuburan?" tanya Surya.


"Sekate-kate lu, kalau ngomong!" sahut Yogi.


Rumah orang tua Yogi yang cukup besar dan mewah, hanya ditempati dia dan mak Yati.


Orang kepercayaan kedua orang tua Yogi. Dan yang merawat Yogi dari kecil.


Hubungan Yogi dengan mak Yati lebih dekat daripada dengan kedua orang tuanya sendiri.


Yogi hampir tak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya, yang selalu sibuk bekerja di luar kota.

__ADS_1


"Ke kamar gue aja, Bro." Yogi mengunci kembali pintu rumahnya.


Surya menurut saja. Hari ini Surya hanya ingin melakukan hal-hal sepele. Yang penting bikin dia enjoy dan melupakan masalahnya dengan Nadia.


Surya memasuki kamar Yogi di lantai dua. Sebuah kamar yang cukup luas. Ukurannya hampir dua kali lipat kamar Surya.


Kamar Yogi terlihat rapi, karena mak Yati selalu rajin membersihkannya. Meskipun Yogi juga rajin. Rajin membuat kamarnya kotor dan berantakan.


"Bersih amat kamarmu, Yog?" komentar Surya.


"Iyalah. Gue kan rajin," jawab Yogi dengan sombongnya.


"Heleh! Paling juga mak Yati yang ngebersihin," sahut Surya.


Surya jelas tak percaya. Mana mungkin seorang kayak Yogi mau bersih-bersih kamar.


"Nah, itu tau. Pake nanya." Surya mengambil stick PS-nya yang disimpan mak Yati di laci.


"Nih! Kita tanding, siapa yang menang!" Yogi memberikan satu stick pada Surya.


"Boleh. Siapa takut?" Surya menerima tantangan Yogi.


Yogi mulai mencari tempat duduk yang nyaman. Surya juga duduk di sebelahnya.


"Gimana kalau kita taruhan?" tantang Yogi.


"Judi! Gila kamu!" sahut Surya.


"Bukan taruhan duit, Bro," jawab Yogi.


"Terus taruhan apa?" Surya mulai memilih permainan yang dikuasainya.


Dan Yogi merasa yakin akan bisa ngalahin Surya. Karena Yogi hampir tiap malam bermain PS meski sendirian.


Tak mungkin juga Yogi ngajak main mak Yati. Bisa-bisa hancur sticknya oleh mak Yati yang latah. Dan kalau kaget, akan melempar apapun yang dipegangnya.


"Kamu pikir wanita itu bahan taruhan?" Meski Surya memang ingin melupakan Nadia, tapi bukan karena kalah bertaruh juga.


Surya ingin melupakan Nadia, karena memang dia harus melupakannya.


Dan soal Sinta, jelas Surya tak akan rela adiknya dipacarin Yogi.


Meski Yogi sahabatnya, tapi Surya tak yakin kalau Yogi bisa menjadi pasangan yang baik untuk Sinta.


Surya takut Yogi mengecewakan Sinta nantinya. Dan pasti akan mempengaruhi hubungan persahabatan mereka.


"Ya enggak. Buat nyemangatin elu aja. Kalau elu memang benar-benar ingin melupakan Nadia, berikan kemenangan pada gue, Surya. Dan elu harus rela jadi kakak ipar gue." Yogi kembali tergelak.


Busyet. Itu mah, bukan pilihan. Tapi Yogi yang mau ngakalin. Batin Surya.


"Udah ah, enggak usah taruhan juga aku udah melupakan dia," sahut Surya.


"Oke. Bagus itu. Terus soal Sinta gimana?" Yogi menatap Surya sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Enggak ada Sinta-Sintaan. Kita main aja. Adikku bukan bahan taruhan!" Surya tak mau terpancing keinginan Yogi.

__ADS_1


"Yaelah. Pelit amat sih. Gue doain lu jadi jomblo seumur hidup!" sahut Yogi.


"Bilang aja kamu minta ditemenin jadi jomblonya!"


"Tau aja, lu!" Lalu mereka tertawa bersama.


Pada dasarnya dua cowok ganteng ini memang jomblo akut. Hanya saja kemarin-kemarin Surya kena PHP oleh dirinya sendiri.


Cewek yang dianggapnya kekasih hati, ternyata memilih cowok lain. Miris!


Dan mereka pun main PS sampai lupa waktu. Melewati waktu makan siang juga.


Menjelang maghrib, barulah mereka berhenti. Itu juga karena bunyi ponsel Surya. Sebuah panggilan dari Rahma yang mengkhawatirkan anak lelakinya.


Rahma melihat, seharian aplikasi whatsapp Surya tidak aktif. Karena khawatir, Rahma menelpon.


"Siapa, Bro?" tanya Yogi.


"Mamaku," jawab Surya lalu dia mengangkat panggilan Rahma.


"Kamu di mana, Sur?" tanya Rahma.


"Di rumah Yogi, Ma. Lagi main PS," jawab Surya.


Untungnya mereka tak jadi karaokean. Jadi Surya tak perlu berbohong.


"Ini udah mau maghrib, lo. Berhenti dulu mainnya. Sholat terus pulang. Apa mau sholat di rumah aja?" tanya Rahma.


"Iya, Ma. Surya pulang sekarang," jawab Surya. Dia berpikir, Yogi tak memiliki sarung apalagi sajadah.


"Ya udah. Ajak Yogi sekalian. Kita makan malam bareng," ucap Rahma sebelum menutup telponnya.


Sinta yang mendengarnya, bersorak gembira. Malam ini dia akan malam bersama Yogi.


"Nih! Sholat dulu!" Yogi melemparkan sarung dan peci ke arah Surya.


Surya melihat apa yang dilempar Yogi. Lalu menatap wajah Yogi penuh rasa simpatik.


"Kamu sholat juga?" tanya Surya.


Di tangan Yogi juga ada sarung dan peci.


"Iyalah. Gue kan juga kepingin masuk surga!" Lalu Yogi tertawa ngakak. Ternyata Yogi religius juga. Meskipun hanya sekali-kali.


Surya ikut tertawa.


"Oh, jadi cuma karena ķepingin masuk surga, kamu sholat?" tanya Surya sambil mengikuti Yogi berwudhu.


"Memang ada alasan lain?" tanya Yogi lagi.


"Banyak!" jawab Surya.


"Udah, enggak usah banyak-banyak. Gue cuma pingin masuk surga aja. Titik!" sahut Yogi.


"Elu tau alasan gue mau masuk surga?" tanya Yogi setelah selesai wudhu.

__ADS_1


"Apa?"


"Di sana kan banyak bidadari-bidadari cantik. Jadi gue enggak jadi jomblo terus! Hahaha!"


__ADS_2